Melanggar Wewenang, Merusak Tatanan

Kemaren sore waktu mau ke warung Mbok Darmi saya ketemu sama Pak Yono, satpam yang biasa jaga malem di komplek saya, sedang klebas-klebus ngisep rokok kretek di pos kamling dekat rumahnya Pak Darmo. Dari ujung jalan saya liat dia berkali-kali menarik nafas panjang sambil ngliat ke langit. Saya jadi ikut-ikutan liat ke langit, tapi perasaan ndak ada apa-apa di atas.

“Ada apa tho Pak, mumet mikir tanggal tuwa po piye?” Sapa saya sambil duduk di sebelahnya.

Pak Yono cuma mesem getir, “Ndak kok mas, bukan soal tanggal tua. Saya habis diomeli sama Pak Darmo.”

Lhadalah!

“Ada masalah apa sampeyan diomeli Pak Darmo?” Tanya saya.

Perlu sampeyan ketahui bahwa Pak Darmo ini salah satu tokoh yang konon terhormat di tempat saya. Beliau dulu pernah jadi ketua RW sebelum akhirnya lengser gara-gara tersangkut masalah penyunatan dana BLT. Walaupun begitu beliau masih tetep seorang tokoh masyarakat yang suaranya sering didengar.

“Ini gara-gara maling di komplek sebelah yang ketangkep kemaren. Saya pikir saya dipanggil Pak Darmo mau dikasih ucapan terima kasih, ndak taunya malah diomeli.” Pak Yono lagi-lagi tersenyum getir.

Jadi ceritanya di komplek sebelah itu sering kemalingan, beberapa kali warga kehilangan, mulai dari jemuran, sandal, sepeda pancal, sampe henpon dan speaker yang terpasang di mushola. Pak RT menginstruksikan kepada Pak Yono yang dikenal punya jaringan luas untuk nyari tau siapa oknum yang melakukan pencurian di komplek sebelah, walaupun sebenarnya ada satpam lain yang sudah menjaga komplek tersebut.

Beberapa waktu kemudian Pak Yono berhasil memperoleh informasi siapa oknum yang melakukan pencurian. Oleh Pak Yono informasi tersebut disampaikan kepada satpam komplek sebelah, yang kemudian berhasil menangkap basah si pencuri saat sedang beraksi di rumah paling ujung. Seharusnya Pak Yono layak mendapat ucapan terima kasih, warga bisa lebih tenang, ndak perlu was-was ninggal sandal di luar.

“Yang saya ndak tau mas, ternyata si maling ini keponakannya Pak Darmo.” Ujar Pak Yono sambil menghisap rokoknya dalam-dalam.

Oalah…

Hal itulah yang membuat Pak Darmo sedikit murka dan memanggil Pak Yono ke rumahnya. Konon Pak Darmo berkata seperti ini, “Pak Yono, tolong sebutkan sampeyan itu satpam komplek mana? Dasar hukum apa yang sampeyan pake untuk bisa membenarkan tindakan sampeyan ikut mengamankan komplek sebelah? Kita boleh menegakkan hukum, tapi harus sesuai koridor masing-masing. Kalo job description sampeyan mengamankan kompek ini ya cukup amankan komplek ini saja, ndak usah mengobrak-abrik komplek sebelah. Jangan merusak tatanan!

Byuh!

Saya mendadak teringat keriuhan yang terjadi di DPR waktu para anggota dewan yang terhormat itu mencecar Anwar Supriyadi, ketua Komite Pengawas Perpajakan, gara-gara beberapa waktu sebelumnya komite tersebut melaporkan adanya penyelundupan di pelabuhan Tanjung Priok. Sama seperti yang dilakukan Pak Darmo, mereka mempertanyakan kewenangan KPP untuk mengawasi Bea Cukai.

Mungkin bedanya kalo yang ditanyakan Pak Darmo sekedar selembar kertas berisi tata tertib satpam yang tertempel di pos kamling, sedangkan yang dipertanyakan para anggota dewan yang terhormat adalah Peraturan Menteri Keuangan nomer 133 tahun 2010. PMK tersebut sebenarnya cuma mengatur struktur organisasi Komite Pengawas Perpajakan yang dibentuk dengan PMK nomer 54 tahun 2008. Menurut anggota komisi XI PMK 133 tersebut bertentangan dengan Undang-undang, karena bea cukai diatur dengan undang-undang tersendiri, bukan Undang-undang KUP.

Mbulet?

Memang sedikit mbulet kalo sudah ngomong aturan. Jadi Pasal 36C Undang-undang KUP memberi kewenangan kepada menteri keuangan untuk membentuk Komite Pengawas Perpajakan. Menkeu kemudian membentuk KPP yang kewenangannya adalah mengawasi tugas instansi perpajakan baik yang ada di pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Instansi perpajakan sendiri menurut PMK 54 adalah instansi yang berwenang melakukan pemungutan pajak berdasarkan undang-undang.

Yang jadi pertanyaan adalah apakah bea dan cukai juga termasuk pajak?

Kalo sampeyan pernah belajar ilmu pajak yang paling dasar, jawabannya adalah iya. Karena definisi pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang  (sehingga dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat balas jasa secara langsung.

Tapi bolehkah Komite Pengawas Perpajakan yang dibentuk berdasarkan UU KUP ikut mengawasi kinerja bea dan cukai, yang notabene diatur dalam undang-undang tersendiri?

Mbuh, otak buruh pabrik saya ndak njangkau ke situ. Tapi yang jelas menteri keuangan yang semula sempet kukuh bertahan bahwa KPP berhak mengawasi bea cukai pun akhirnya tunduk dengan kemauan DPR agar PMK 133 dirubah dengan menghilangkan kewenangan Komite Pengawas Perpajakan mengawasi bea cukai.

“Ndak usah terlalu dipikirkan Pak, anggep saja sampeyan lagi apes, sudah nasib jadi orang kecil kayak kita ini.” Kata saya berusaha menghibur Pak Yono.

“Ngomong-ngomong sampeyan besok ikut kerja bakti di komplek sebelah tho?” Tanya saya.

“Ndak mas, nanti saya disalahkan lagi, dianggap melanggar wewenang, merusak tatanan…”

Oalah, mutung.

Jiyan!

Iklan

2 comments on “Melanggar Wewenang, Merusak Tatanan

  1. nDaru berkata:

    wong saya itu mikir kok negara yang saya tinggali ini suwe2 aneh kok, gara2 pajak dan cukai ini juga nanti saya mingsih mikir mau nonton film robot dimana,Lha untung sewan kertas nggambar saya itu omzetnya endak lebih dari 200rebu sebulan, tempat kongko para fakir benwit yang saya kelola ya omzetnya endak sampek milyaran..kalok endak lak ya saya musti melobi orang DPR

  2. ardhinugros berkata:

    kalo saya mbaca di LKPP yang saya susun tiap bulan, di laporan pendapatan negara dan hibah, akun untuk penerimaan bea dan cukai adalah 41xxxx, berarti termasuk kelompok penerimaan perpajakan :mrgreen:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s