Ladang Coffee Malang

Setinggi-tinggi bangau terbang, akhirnya ke ladang juga. Demikian kata pepatah. Mungkin sampeyan pernah mendengarnya dalam versi yang lain. Tak perlu terlalu diambil hati. Kalau istilah kopitiam dan open mic saja bisa dipatenkan, apalah susahnya mengganti sebuah kata dalam pepatah?

Di Malang, sampeyan boleh saja sudah cangkruk di Java Dancer, kafe legendaris yang sudah menjual kopi beneran saat yang lain masih nyeduh kopi sachet-an. Atau Vosco Coffee yang parkirannya ndak pernah kosong. Atau mungkin Starbucks, tempat orang rela antri untuk minum kopi dengan gelas plastik. Namun sampeyan belum benar-benar ngopi sebelum sampeyan leyeh-leyeh di sini, Ladang Coffee.

Baca lebih lanjut

Travelmie, Makan Sambil Camping di Tengah Kota

Sebagai orang yang cukup rewel dalam hal makanan, saya sebenarnya ndak begitu suka mencoba tempat baru. Kalau boleh memilih, saya lebih suka makan di rumah. Kalau pun harus makan di luar, saya lebih suka makan di tempat yang saya tahu betul menunya.

Bukan berarti saya ndak pernah nyoba tempat baru. Misalnya sekarang, saya mau mencoba tempat baru yang bernama Travelmie. Istri saya yang ngajak, sudah pasti. Sebagai petualang kuliner, dia yang lebih tahu update tempat-tempat terbaru. Konon katanya, “Tempatnya lucu, tapi gak tau makanannya gimana.”

Dan tempatnya memang lucu, instagrammable kalau kata anak-anak sekarang. Beralamat di Jl.Simpang Ijen Blok B-39, Kelurahan Gading Asri, Kecamatan Klojen, persis di sebelah Java Dancer. Di sini selain meja dan kursi, sampeyan akan menemukan tenda berjejer-jejer, lengkap dengan pramusaji berseragam ranger gunung.

Baca lebih lanjut

Yang Penting Pantas

“Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F° adalah ketiadaan panas sama sekali. Semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”

Mungkin sampeyan sudah cukup akrab dengan kutipan di atas. Salah satu cerita yang ada dalam buku “100 Kisah Motivasi yang Paling Banyak Tersebar di Grup Whatsapp.” Bukunya belum ada, sih. Siapa tahu sampeyan berminat membuatnya. Namun saya ndak janji bakal beli. Soale saya paling males membaca kisah-kisah hasil forward dari grup sebelah macam itu. Masa-masa menggebet perempuan dengan bermodal kata bijak sudah lewat. Mario Teguh saja prei, mosok sampeyan ndak?

Kebetulan dulu saya anak IPS. Jadi sah-sah saja kalau saya ndak ikut hukum fisika. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dingin itu ada. Kalau ndak ada mosok dicantumkan di daftar kata?

Dingin menurut KBBI artinya bersuhu rendah apabila dibandingkan dengan suhu tubuh manusia; tidak panas. Persis seperti suhu udara di Malang beberapa hari terakhir ini. Dinginnya jiyan gak santai. Konon kalau pagi menjelang bisa mencapai 14°C.

Dengan suhu udara sedingin itu, hanya butuh waktu beberapa menit sebelum kopi di warung Mbok Darmi yang sebelumnya kemebul menjadi benar-benar dingin. Untungnya, saya bareng Kang Noyo, teman yang selalu memanaskan suasana. Maksudnya, kalau sampeyan di deket Kang Noyo bawaaannya itu panas terus. Baca lebih lanjut

Dream Theater di Jogjarockarta

Dalam beberapa hal, saya termasuk orang yang konservatif. Tipikal pemain aman yang membosankan. Termasuk dalam hal musik. Saya adalah penggemar dangdut.

Mungkin lantas sampeyan ada yang nanya, memangnya dangdut itu konservatif? Hooh, paling ndak menurut saya. Di jenis musik apalagi sampeyan bisa memainkan banyak lagu cukup dengan modal chord Am, F, dan G? Sudah chord-nya begitu-begitu saja, ketukannya juga konstan.

Setelah berkenalan dengan dangdut, saya juga suka dengan lagu-lagu Malaysia. Lha mereka memang mirip, kok. Chord-nya standard, nada-nadanya pun mirip dangdut. Kalau ndak percaya, silakan sampeyan cari lagu Malaysia versi dangdut, pasti banyak. Eh, tapi dangdut memang musik omnivora sih, dari The Final Countdown sampai Despacito pun diembat sama mereka.

Lalu suatu saat datanglah temen saya, membawa kaset Yngwie Malmsteen, The Seventh Sign. Saya langsung terkagum-kagum, jelas salah satunya karena kecepatan main gitarnya yang blukutuk-blukutuk itu. Namun yang lebih menyenangkan lagi adalah, jenis musik yang baru saya dengar itu bisa langsung masuk ke kuping saya, karena dia mirip, errr, dangdut! Baca lebih lanjut

Pilihan yang Diwajibkan

Sebut saja namanya Ngadiman. Lelaki umur tigapuluhan yang menghabiskan masa kecilnya di sebuah dusun kecil pelosok Jawa Tengah. Tempat di mana Ngadiman kecil terbiasa berangkat sekolah sambil menenteng sepatu. Melewati pematang sawah yang hampir mustahil dilalui kendaraan saat musim hujan, sekelas sepeda pancal sekalipun. Di sana, malam-malam dihabiskan tanpa penerangan listrik. Dan tak ada jaringan telepon juga, tentu saja.

Sekian tahun berlalu. Dusun itu sekarang telah menikmati percik peradaban. Anak-anak berangkat sekolah tanpa harus menenteng sepatu. Walaupun jalan yang dilewati masih berupa campuran pasir dan batu yang berhias kubangan lumpur saat musim hujan. Televisi dan kulkas pun sudah jadi barang yang jamak semenjak listrik mengalir di sana. Namun tetap belum ada satu pun tiang telepon tertanam. Jaringan selular yang masih berada di tingkat 2G juga sering timbul tenggelam.

Namun lupakan sejenak dusun itu. Sekarang Ngadiman sudah jadi orang kota. Sekolahnya gak tinggi-tinggi amat, tapi lumayan. Penghasilannya pun tak tinggi-tinggi amat, tapi cukupan. Satu hal yang jelas membedakan dengan orang-orang di dusun asalnya: akses online untuk banyak hal yang dia butuhkan. Baca lebih lanjut

Klakson

Konon katanya, salah satu perbuatan yang diharamkan saat berada di jalan adalah mengklakson angkot. Bukan apa-apa, berbeda dengan kebanyakan orang yang akan bereaksi saat diklakson, sopir angkot seakan sedang berada pada ruang dan waktu yang berbeda. Mereka seperti tak mendengar apapun, dengan mata tetap fokus mencari penumpang. Sungguh, mengklakson angkot adalah perbuatan sia-sia, mubazir. Dan sampeyan tau, mubazir itu temannya setan.

Jalanan adalah pabrik kesia-siaan yang luar biasa produktifnya. Misalnya, saat ada kendaraan dari arah berlawanan sedang menyalip, sampeyan akan langsung reflek ngedim atau minimal menyalakan sein kanan. Walaupun jaraknya masih aman. Atau saat motor di depan sampeyan tau-tau belok kiri dan berhenti, sampeyan akan mengklakson. Sekadar untuk meluapkan kekesalan. Kadang sampeyan juga mbengok, “Wooo!” sambil mulut mecucu setengah meter saat ada perilaku yang sampeyan anggap ngawur. Masalahnya, sampeyan mecucu di dalam mobil yang tertutup rapat dengan kaca film 80%.

Makanya, sampeyan jangan terlalu bangga kalo baru sampai pada level berhasil menjauhkan tangan dari klakson saat berada di belakang sopir angkot. Masih terlalu banyak kesia-siaan yang mungkin sampeyan buat di jalanan sana.

Baca lebih lanjut

Aku Berlindung dari Godaan …

Itu adalah Ramadan masa kecil, ketika di malam-malam harinya, aku mau berangkat mengaji dan ketakutan karena harus melewati sawah dan kuburan. Orang-orang bilang, “Ndak usah takut. Sekarang bulan puasa. Setan lagi pada dirantai, ndak bisa ke mana-mana.”

Aku bisa sedikit tenang. Dalam bayanganku waktu itu, segala jenis jin, setan, demit, prewangan sedang meratap dalam pasungan kayu. Kenapa pasungan kayu? Harap maklum, aku menghabiskan masa kecil di dusun yang juga kecil. Seberapa kecil? Jika kau pernah membaca Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari, kira-kira begitulah. Hanya ada enam puluh lima kepala keluarga di kampung kami yang bersahaja. Dan satu-satunya contoh manusia terbelenggu di kampong yang kutahu adalah Mbah Bodo. Ia dipasung dengan kayu karena sering mengamuk. Aku tak mengenal bentuk belenggu-belenggu yang lain.

Boleh-boleh saja jika pasungan kayu itu membuatmu ingin ceramah soal Hak Asasi Manusia, aku akan dengan senang hati mendengarkan. Kau bisa bercerita sambil kutraktir kopi hitam dan gorengan ubi, sembari melihat-lihat keluguan kampung kami. Barangkali kau akan berkenan memberi pencerahan kepada warganya bahwa pasungan kayu tidaklah manusiawi. Yang jelas, gambaranan pasungan kayu benar-benar membantuku saat itu. Aku tidak takut lagi melewati pojok kuburan yang jauh dari rumah penduduk. Aku tak lagi takut sesosok pocong atau kuntilanak akan muncul tiba-tiba seperti di film-film horor bikinan Raam Punjabi.

Beranjak remaja, pemahamanku sedikit berubah. Ternyata jin, setan, demit, dan prewangan itu banyak ragamnya. Dan tak semua dibelenggu di bulan puasa. Konon, cuma iblis kelas berat dan anak turunnya saja karena mereka suka menggoda manusia untuk berbuat dosa. Mereka dibelenggu supaya tak mengganggu umat Islam dalam berpuasa. Apesnya, itu juga berarti aku harus kembali waspada. Kembali terbuka kemungkinan setiap kali jalan sendiri malam-malam, aku bertemu mbak-mbak berambut panjang, berbaju putih dengan punggung berdarah, dan tertawa ngikik di bawah rumpun bambu.
Baca lebih lanjut