Patah Hati

After all you’ve said to me

You broke my confidence

Took it all. Why can’t you see?

It makes no difference to you, it seems

What happens to me

Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan patah hati sebagai ‘kecewa karena putus percintaan; kecewa karena harapannya gagal’. Sementara dalam buku The Tattoo Encyclopedia: A Guide to Choosing Your Tattoo, Teresa Green membuat visualisasinya dalam bentuk hati yang terbelah di tengah.

Tak penting lagi untuk dibahas bahwa simbol yang terlanjur populer tersebut menurut sebagian besar pendapat sebenarnya berasal dari bentuk jantung. Patah hati adalah suatu metafora yang digunakan untuk menjelaskan sakit emosional yang dirasakan seseorang setelah kehilangan orang yang dicintai. Atau bagi beberapa orang: kehilangan seseorang yang bahkan belum pernah dimiliki.

Sebagian orang mungkin akan mengatakan bahwa patah hati sebenarnya tak lebih dari sekadar omong kosong. Sebagaimana romantis adalah bagian dari romantika, sedih dan gembira pun hanyalah tentang kemampuan dalam mengolah rasa. Semua itu sebenarnya hanya ada di dalam kepala.

Benar kah demikian? Baca lebih lanjut

Iklan

Menulis dengan Gawai

Pernah di suatu masa, saya ingin sekali memiliki gawai dengan layar sentuh. Yang terbayang waktu itu, layarnya lebar sehingga memudahkan saya untuk menulis komentar di blog teman-teman. Maklum lah, jaman itu blog masih berjaya. Jaman orang masih belum percaya bahwa makhluk bernama twitter, instagram dan kawan-kawannya akan mampu menenggelamkan tulisan-tulisan panjang.

Sempat terbayang juga, dengan gawai yang papan kuncinya berbentuk qwerty, saya bisa menulis di mana saja. Tanpa harus terpaku di depan komputer. Waktu itu senjata andalan saya “cuma” Sony Ericsson K810 yang baterainya sudah menggembung dan sebuah komputer rakitan dengan prosesor Celeron, hasil kredit pula.

Namun, sesuatu memang akan selalu terlihat indah saat berada di luar jangkauan. Setelah android menggurita dan hampir semua gawai yang beredar di pasaran menggunakan layar sentuh, dua hal yang dulu saya bayangkan hampir tak pernah terjadi.

Saat ini saya menggunakan gawai keluaran Oppo, sebuah merk yang beberapa die hard fans-nya sering meledek Xiaomi. Mungkin mereka sedang membayangkan iphone dengan penggemar setia yang rela tidur di tenda demi mendapat antrian pertama saat sebuah produk baru dirilis. Jangan tanya apa kelebihannya, ini iphone, cukup itu saja. Dan Oppo sekilas memang terlihat seperti Iphone wannabe, bukan?

Apakah dengan gawai berlayar sentuh lantas menjadikan saya rajin menyambangi blog untuk kemudian meninggalkan jejak di sana? Tidak. Sama halnya dengan tingkat kerajinan menulis saya yang sama sekali tak bertambah. Sekali lagi, sesuatu akan terlihat lebih indah saat berada di luar jangkauan.

Bahkan kalau pun gawai yang saya miliki adalah Samsung Galaxy Note yang harganya setara (bahkan lebih mahal) komputer jinjing, saya tak yakin produktivitas menulis akan meningkat. Saya bukanlah Puthut EA, kepala suku Mojok, yang menghasilkan beberapa buah buku dari gawainya. Terlalu jauh kalau saya melihat ke sana. Sekadar status facebook atau cuitan twitter yang bermutu saja, saya tak mampu membuatnya.

Tulisan ini memang tak jelas jeluntrungannya. Ini lantaran Bang Pay, yang dalam seminggu ini mengunggah dua buah tulisan. Keduanya ditulis dengan gawai. Saya penasaran ingin mencoba, sudah, itu saja.

Ladang Coffee Malang

Setinggi-tinggi bangau terbang, akhirnya ke ladang juga. Demikian kata pepatah. Mungkin sampeyan pernah mendengarnya dalam versi yang lain. Tak perlu terlalu diambil hati. Kalau istilah kopitiam dan open mic saja bisa dipatenkan, apalah susahnya mengganti sebuah kata dalam pepatah?

Di Malang, sampeyan boleh saja sudah cangkruk di Java Dancer, kafe legendaris yang sudah menjual kopi beneran saat yang lain masih nyeduh kopi sachet-an. Atau Vosco Coffee yang parkirannya ndak pernah kosong. Atau mungkin Starbucks, tempat orang rela antri untuk minum kopi dengan gelas plastik. Namun sampeyan belum benar-benar ngopi sebelum sampeyan leyeh-leyeh di sini, Ladang Coffee.

Baca lebih lanjut

Travelmie, Makan Sambil Camping di Tengah Kota

Sebagai orang yang cukup rewel dalam hal makanan, saya sebenarnya ndak begitu suka mencoba tempat baru. Kalau boleh memilih, saya lebih suka makan di rumah. Kalau pun harus makan di luar, saya lebih suka makan di tempat yang saya tahu betul menunya.

Bukan berarti saya ndak pernah nyoba tempat baru. Misalnya sekarang, saya mau mencoba tempat baru yang bernama Travelmie. Istri saya yang ngajak, sudah pasti. Sebagai petualang kuliner, dia yang lebih tahu update tempat-tempat terbaru. Konon katanya, “Tempatnya lucu, tapi gak tau makanannya gimana.”

Dan tempatnya memang lucu, instagrammable kalau kata anak-anak sekarang. Beralamat di Jl.Simpang Ijen Blok B-39, Kelurahan Gading Asri, Kecamatan Klojen, persis di sebelah Java Dancer. Di sini selain meja dan kursi, sampeyan akan menemukan tenda berjejer-jejer, lengkap dengan pramusaji berseragam ranger gunung.

Baca lebih lanjut

Yang Penting Pantas

“Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F° adalah ketiadaan panas sama sekali. Semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas.”

Mungkin sampeyan sudah cukup akrab dengan kutipan di atas. Salah satu cerita yang ada dalam buku “100 Kisah Motivasi yang Paling Banyak Tersebar di Grup Whatsapp.” Bukunya belum ada, sih. Siapa tahu sampeyan berminat membuatnya. Namun saya ndak janji bakal beli. Soale saya paling males membaca kisah-kisah hasil forward dari grup sebelah macam itu. Masa-masa menggebet perempuan dengan bermodal kata bijak sudah lewat. Mario Teguh saja prei, mosok sampeyan ndak?

Kebetulan dulu saya anak IPS. Jadi sah-sah saja kalau saya ndak ikut hukum fisika. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, dingin itu ada. Kalau ndak ada mosok dicantumkan di daftar kata?

Dingin menurut KBBI artinya bersuhu rendah apabila dibandingkan dengan suhu tubuh manusia; tidak panas. Persis seperti suhu udara di Malang beberapa hari terakhir ini. Dinginnya jiyan gak santai. Konon kalau pagi menjelang bisa mencapai 14°C.

Dengan suhu udara sedingin itu, hanya butuh waktu beberapa menit sebelum kopi di warung Mbok Darmi yang sebelumnya kemebul menjadi benar-benar dingin. Untungnya, saya bareng Kang Noyo, teman yang selalu memanaskan suasana. Maksudnya, kalau sampeyan di deket Kang Noyo bawaaannya itu panas terus. Baca lebih lanjut

Dream Theater di Jogjarockarta

Dalam beberapa hal, saya termasuk orang yang konservatif. Tipikal pemain aman yang membosankan. Termasuk dalam hal musik. Saya adalah penggemar dangdut.

Mungkin lantas sampeyan ada yang nanya, memangnya dangdut itu konservatif? Hooh, paling ndak menurut saya. Di jenis musik apalagi sampeyan bisa memainkan banyak lagu cukup dengan modal chord Am, F, dan G? Sudah chord-nya begitu-begitu saja, ketukannya juga konstan.

Setelah berkenalan dengan dangdut, saya juga suka dengan lagu-lagu Malaysia. Lha mereka memang mirip, kok. Chord-nya standard, nada-nadanya pun mirip dangdut. Kalau ndak percaya, silakan sampeyan cari lagu Malaysia versi dangdut, pasti banyak. Eh, tapi dangdut memang musik omnivora sih, dari The Final Countdown sampai Despacito pun diembat sama mereka.

Lalu suatu saat datanglah temen saya, membawa kaset Yngwie Malmsteen, The Seventh Sign. Saya langsung terkagum-kagum, jelas salah satunya karena kecepatan main gitarnya yang blukutuk-blukutuk itu. Namun yang lebih menyenangkan lagi adalah, jenis musik yang baru saya dengar itu bisa langsung masuk ke kuping saya, karena dia mirip, errr, dangdut! Baca lebih lanjut

Pilihan yang Diwajibkan

Sebut saja namanya Ngadiman. Lelaki umur tigapuluhan yang menghabiskan masa kecilnya di sebuah dusun kecil pelosok Jawa Tengah. Tempat di mana Ngadiman kecil terbiasa berangkat sekolah sambil menenteng sepatu. Melewati pematang sawah yang hampir mustahil dilalui kendaraan saat musim hujan, sekelas sepeda pancal sekalipun. Di sana, malam-malam dihabiskan tanpa penerangan listrik. Dan tak ada jaringan telepon juga, tentu saja.

Sekian tahun berlalu. Dusun itu sekarang telah menikmati percik peradaban. Anak-anak berangkat sekolah tanpa harus menenteng sepatu. Walaupun jalan yang dilewati masih berupa campuran pasir dan batu yang berhias kubangan lumpur saat musim hujan. Televisi dan kulkas pun sudah jadi barang yang jamak semenjak listrik mengalir di sana. Namun tetap belum ada satu pun tiang telepon tertanam. Jaringan selular yang masih berada di tingkat 2G juga sering timbul tenggelam.

Namun lupakan sejenak dusun itu. Sekarang Ngadiman sudah jadi orang kota. Sekolahnya gak tinggi-tinggi amat, tapi lumayan. Penghasilannya pun tak tinggi-tinggi amat, tapi cukupan. Satu hal yang jelas membedakan dengan orang-orang di dusun asalnya: akses online untuk banyak hal yang dia butuhkan. Baca lebih lanjut