Hanya Mengeluh

Jika sampeyan bukan bagian dari solusi, maka sampeyan adalah bagian dari masalah.

Syahdan, suatu saat beberapa tahun yang lalu, saya yang kebetulan didapuk menjadi ketua perkumpulan buruh-buruh bagian diakon (konon katanya singkatan dari diawasi dan dikongkon), sedang dalam tahap setengah jalan menuju konslet. Gara-garanya sudah dua kali temen-temen itu saya ajak kumpul-kumpul tapi ndak juga nemu keputusan. Mungkin saya juga yang salah, harusnya kan diajak rapat, bukan kumpul-kumpul. Tapi karena rapat itu menurut saya sudah levelnya staf sampai manajemen, maka saya memaksa acaranya untuk tetap bertajuk kumpul-kumpul, sambil ngopi tentu saja.

Waktu kumpul semuanya iyas-iyes, manggut-manggut sambil ngangkat jempol, oke katanya. Tapi begitu di luar satu dua orang mengeluhkan hasilnya, terus ngadu ke mandornya, yang kemudian menyampaikan ke saya agar diadakan acara kumpul-kumpul lagi.

Akhirnya pada kali ketiga, dengan agak muntab saya bilang, ”Ini adalah kumpul-kumpul yang terakhir kalinya. Setelah ini saya ndak mau denger lagi ada yang mengeluh di luar. Kalo di antara sampeyan ada yang mau disampaikan, silakan sampaikan di sini. Tapi ingat, yang mau mengeluhkan masalah harus lengkap sama usulan solusinya, saya ndak mau sampeyan cuma jadi sumber masalah.”

Alhasil, setelah satu dua orang memberi pendapat, kumpul-kumpul itu akhirnya menghasilkan keputusan. Entah karena keputusan yang diambil sudah pas, atau hanya karena ndak mau dianggap sebagai sumber masalah.

Saya percaya bahwa seorang pemimpin harus memiliki konsep, Baca lebih lanjut

Menulis Itu…

Beberapa waktu yang lalu ada yang nanya sama saya, “Mas, gimana sih caranya bikin tulisan yang bagus dan enak dibaca?”

Lalu dengan entengnya saya bilang, ”Menulislah dari hati, ndak usah mikir yang muluk-muluk, anggap saja sampeyan lagi cerita sama saya tentang sesuatu, lalu tulis.”

Untuk ukuran blogger abal-abal yang sudah semi pensiun macem saya, jawaban yang saya berikan sungguh patut dipertanyakan kebenarannya. Kalo memang benar menulis segampang itu, kenapa sudah lewat setengah jam dan saya masih memandangi halaman kosong? Bener-bener ndak punya bayangan kata apa yang mau ditulis.

Kalo bagi saya, itu adalah salah satu pertanda bahwa nulisnya ndak dari hati. Sudah ndak murni “cerita”, tapi mulai mengandung kepentingan lain, misalnya bagus ndak temanya, susunan kalimatnya gimana, pilihan katanya seperti apa, nanti yang baca pada suka apa ndak. Wis mulai berpikir komersil.

Salahkah? Baca lebih lanjut

Mengingatkan, Bukan Menjatuhkan

Harga diri adalah pandangan keseluruhan dari individu tenang dirinya sendiri.[1] Penghargaan diri juga kadang dinamakan martabat diri atau gambaran diri.[1] Misalnya, anak dengan penghargaan diri yang tinggi mungkin tidak hanya memandang dirinya sebagai seseorang, tetapi juga sebagai seseorang yang baik.[1]

Paragraf di atas adalah kalimat yang saya kutip dari wikipedia. Keren, seperti biasanya, karena yang nulis di situ pastilah orang-orang kredibel dengan tingkat pendidikan serta kecerdasan di atas rata-rata. Yang cilokonya malah membuat satu masalah mendasar.

Apa itu?

“Karena kamu orangnya ndak kredibel, dengan tingkat pendidikan serta kecerdasan yang di bawah rata-rata, yang membuat frekuensimu ndak sama dengan para penulis di situ. Sehingga sudah dapat dipastikan kamu ndak paham!”

Mak jleb sekali! Kang Noyo mengucapkannya dengan nada datar, namun ndak tau kenapa hawa kemaki-nya malah makin sangit terasa. Kapan-kapan saya harus belajar sama dia, begaimana caranya menampilkan nuansa sombong tapi kesannya ringan. Menjengkelkan tapi ndak sampai mbikin orang ngeplak.

Memang itu masalahnya, saya ndak mudheng sama yang ditulis di wikipedia. Sungguh, suatu saat saya harus meralat deskripsi blog yang menampilkan seolah-olah saya ini seseorang yang memiliki intelektual yang tinggi namun selalu rendah hati. Baca lebih lanjut

Hanya Merasa

Kawanku dulu bilang, jadilah orang yang berguna, karena orang yang berguna selalu dibutuhkan. Di kali lain kutanya dia, mau jadi apa kau? Dia bilang ingin menjadi orang yang sedikit berguna. Sedikit, kata takzim yang kupikir hanya sebuah bentuk lain kesombongan.

Dia, kawanku itu, merasa berguna, tapi tidak, menurutku dia tidak berguna. Kau termakan logikamu sendiri kawan. Kau bilang orang yang berguna selalu dibutuhkan. Kau tahu, dibutuhkan adalah gelar mahal yang terujikan saat kau hilang.

Menunduklah kawan, tak ada yang mencarimu, kau tak berguna.

Konon Katanya…

Konon katanya saya ini termasuk orang yang males berdebat. Pertama karena saya kuatir perdebatan itu akan membakar habis sumbu saya yang pendek, dan kedua karena ilmu saya yang cetek. Seperti yang mungkin sampeyan tau, ilmu yang cetek hanya akan membuat perdebatan yang ndak konstruktif dengan berujung pada kata pokoknya[tm].

Itulah sebabnya ada dua kata keramat yang hampir selalu ada di tulisan saya. Kata pertama adalah “konon”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, konon berarti kata orang; kabarnya; katanya. Sesuatu yang asalnya dari orang lain tapi tanpa sanad yang jelas. Sehingga saat seseorang hendak membantai tulisan saya, saya bisa ngeles, wong cuma konon kok. Kesannya memang seperti ndak bertanggung jawab, karena menyatakan sesuatu dengan bersiap menyalahkan pihak ketiga yang ndak jelas wujudnya. Tapi memang begitu adanya, maksudnya saya memang ndak bertanggung jawab.

Kata kedua adalah “menurut saya”, suatu isyarat tertulis yang mengatakan dengan sejelas-jelasnya bahwa yang saya utarakan adalah pendapat subjektif. Kalo ternyata yang saya tulis ndak sesuai dengan kaidah-kaidah tertentu ya mohon maaf, tapi ndak usah didebat, wong itu menurut saya kok, kalo menurut sampeyan lain ya ndak papa.

Untungnya dari awal saya memang ndak pernah mengklaim bahwa blog jelek ini adalah blog yang inspiratif nan penuh ilmu. Sampeyan bayangkan saja seseorang yang cenderung sinis dan skeptis, ngopi di pojokan sendiri sambil nulis, jadilah blog ini.
Baca lebih lanjut

Serisau Malam

road_at_night-wallpaper-1280x960

“Kau yakin mau melakukan ini?” Tanyaku sambil terus menatap jalan.

“Entahlah, tapi laki-laki harus melakukan apa yang seharusnya dilakukan.” Aku melirik sekilas, matanya resah tapi wajahnya sekeras batu.

“Sudah berapa lama kau tahu?” Tanyaku lagi, dengan tangan sedikit gemetar memegang kemudi.

Dia melihat kaca samping dengan sedikit tersenyum getir, “Sudahlah, yang jelas aku tahu.”

“Aku masih mencintainya, jadi tolong lakukan untukku.” Tangannya membuka dashboard mobil, pistol itu ada di sana, entah darimana dia mendapatkannya. Aku menarik nafas dalam, malam ini benar-benar jahanam.

“Dan lakukan dengan cepat, aku tak mau Dinda menderita.” Tegasnya.

Rumahnya sudah terlihat, dan gelisahku makin menggeliat. Dinda, istrinya yang ayu itu membukakan pintu. Hatiku bergolak, tapi laki-laki harus melakukan apa yang seharusnya dilakukan.

Satu tembakan dan dia terkapar, tanpa penderitaan, sesuai pesannya.

Aku kembali menatap jalan. Sejenak teralih dari kemudi, sms masuk, dari Dinda.

“Terima kasih sayang, sekarang kita tak perlu sembunyi-sembunyi lagi.”

Gambar: http://kikiandtea.com/wp-content/uploads/road_at_night-wallpaper-1280×960.jpg

Cuma Pengen Main

Suatu saat saya pernah ngobrol sama temen di pabrik tentang alam lain. Jadi ceritanya temen saya ini konon bisa melihat makhluk halus, bukan yang halusnya macem Raline Shah atau Pevita Pearce, tapi bangsa dedemit semacam Genderuwo, Kuntilanak, dan kawan-kawannya. Suatu kemampuan yang bisa dianggap anugerah bagi sebagian orang, dan kutukan bagi beberapa yang lain.

Temen saya ini bilang, “Mereka itu bukan makhluk yang menakutkan. Sama seperti kamu lihat sapi yang kakinya empat dan punya tanduk, atau kelinci yang punya telinga panjang dengan dua gigi tonggos, biasa saja.”

“Kalo makhluk ini ternyata hanya punya satu mata di tengah, atau punggungnya bolong, atau terbungkus kain pocong, bukan berarti mereka menakutkan, bentuknya memang seperti itu, jadi ya biasa saja.”

Biasa saja kan?

Iya, biasa saja. Kata-kata yang selalu saya ulang-ulang dalam hati setiap kali tengah malem terbangun, entah karena haus atau kebelet pipis. Seperti sekarang ini, tadi kecapekan, pulang dari pabrik langsung tepar. Mbuh jam berapa ini, kalo lihat sepinya sih mungkin jam 1 atau jam 2, haus bener. Mau mbangunin ibunya yang lagi tidur di kamar anak-anak kok ya malu, mosok cuma ke dapur minta temenin.

Sedikit gelap, sebelum tidur lampu rumah memang selalu dimatikan, atas nama pengiritan. Tapi ndak masalah, masih ada remang-remang sinar dari lampu luar, lagian rumah cuma seemprit ini, sudah apal jalan dari kamar ke kulkas di pojokan dapur. Buka kulkas, jongkok, ambil botol yang di rak bawah, rutinitas biasa.

Mungkin cuma perasaan saya, maklum nyawa masih separo, tapi rasanya ada yang njawil pundak. Saya noleh belakang, ndak ada siapa-siapa. Selesai minum, masih dengan separo nyawa, saya balik lagi ke kamar.

Dan baru dapet dua langkah saya langsung hidup sehidup-hidupnya
Baca lebih lanjut