Saya Ikut Amnesti, Supaya Halal

periode III amnesti pajak

Kadang saya pikir kebablasan juga orang-orang yang lagi promo amnesti pajak, nyaris di mana-mana saya ketemu sama logo burung kertas berwarna emas ini. Oke lah, kalo misalnya saya liat di mesin ATM, di mal, atau cafe yang memang isinya orang-orang berduit, atau minimal berusaha kelihatan berduit. Lha ini, di dinding warungnya Mbok Darmi, tempat kami kaum jelata berusaha memelihara pergaulan sosial bermodal selembar duit bergambar pahlawan asal Papua pun ndak luput dari tempelan amnesti pajak.

Kalopun ada pengunjung warung ini yang layak mikir ikut amnesti pajak apa ndak, paling cuma Mbah Suto, juragan kampung saya yang sugihnya ndak kira-kira itu. Dan panjang umur, baru saja saya mbatin, ternyata beliau sudah duduk di pojokan warung, melambaikan tangan memanggil saya. Dan tentu saja saya langsung merapat, rejeki memang ndak bakal kemana, malem ini saya ndak bakal keluar duit, sedikit memanjangkan nafas di tanggal tua.

“Lho Mbah, sampeyan tho yang nempel amnesti pajak di depan itu?” Curiga saya, lha di sebelah gelas kopinya ada beberapa lembar leaflet amnesti pajak.

Beliau terkekeh, “Biar orang-orang kayak kamu juga tahu, amnesti pajak tinggal tiga bulan lagi.”

Welhah, ngece Mbah Suto ini, biarpun level saya masih tetep buruh, ndak naik-naik sejak jaman kolobendu, tapi kalo soal amnesti pajak boleh lah kami diadu. Sekedar tau lho ya, kalo soal ikut ya lain lagi ceritanya.

Baca lebih lanjut

Tentang Hujan

Hujan adalah titik-titik air yang berjatuhan dari udara, sering membuat genangan, kadang juga membawa kenangan. Konon pula, ada rindu di setiap tetes hujan. Kalimat-kalimat sendu yang lantas dibalas dengan, ”Aneh dengan orang jaman sekarang, pas hujan yang diingat kenangan, bukan jemuran.” Atau kalimat ngenes beraroma dengki semacam, ”Hujan, suatu hal yang diharapkan para jomblo di setiap malam minggu.”

Cak Nun mengajak kita hujan-hujanan dalam buku Secangkir Kopi Jon Pakir. Sohachi Yamaoka mengisahkan Oda Nobunaga menyembunyikan air matanya dalam hujan. Sampeyan mungkin pernah dengar lagu Have You Ever Seen The Rain, liat video klip November Rain, atau kalo yang itu terlalu lawas mungkin sampeyan pernah dengar Hujan-nya Utopia. Banyak kisah tersimpan dalam tiap derainya. Mungkin sampeyan pun punya cerita sendiri tentang hujan.

Menurut wikipedia, hujan adalah proses kondensasi uap air di atmosfer menjadi air yang cukup berat untuk jatuh dan biasanya tiba di daratan. Tentu penjelasan di wikipedia ndak sependek itu, tapi kalo semuanya saya salin di sini, niscaya ndak akan tersisa ruang bagi saya untuk sekedar nyampah, setelah sekian lama blog hina ini terabaikan.

Yang jelas, sore ini saya terjebak di pabrik. Setelah dari siang langit menjanjikan perjalanan pulang yang menyenangkan, mendadak hujan turun, deras sederas-derasnya umat. Sampeyan jangan lantas menodong saya, ”Umat yang mana?” Kuatirnya nanti berlanjut, Sunni apa Syiah? Ngaji pondok apa ngaji google? Mendukung imam besar apa ndak? Percaya bumi bulat apa datar? Ruwet, dan kebetulan saya termasuk yang percaya bahwa hidup sudah terlalu ruwet tanpa kita meributkan hal-hal semacam itu.

Baca lebih lanjut

Kenapa Bukan Ex Mekanik?

Ada sebuah satu siklus rutin yang terjadi di pabrik tempat saya mburuh setiap menjelang akhir tahun seperti sekarang ini: lembur. Maksudnya lembur di sini adalah bekerja melebihi waktu yang telah ditentukan, dengan tanpa mendapat tambahan uang lembur.

Hebat? Berjiwa patriotis dilambari semangat bhineka tunggal ika demi mewujudkan semangat nawacita?

Yo ndak sih, kalo bagi saya pribadi, lembur adalah bukti ketidakmampuan saya mengatur taktik serta menjaga ritme kerja yang benar serta terarah dari awal tahun. Ini adalah harga yang harus saya bayar karena memelihara semangat kerja sakmadya, serta konsisten memegang teguh prinsip jangan sampai kerja mengganggu waktu ngopimu.

Triwulan terakhir adalah kerja dengan mumet yang tak berkesudahan. Bukan berarti saya mengeluh, sampeyan jangan salah paham. Hari-hari penuh mikir yang salah satu efeknya membuat Senin terasa sangat cepat ketemu Jumat ini selalu saya penuhi dengan khayalan tingkat tinggi bahwa saya memang pekerja keras. Delusi akut yang kadang membuat saya terharu melihat bayangan sendiri. Baca lebih lanjut

Hargailah Sebuah Nama

Orang kulon kali sana pernah bilang, ”We only see what we wanted to see.” Kita hanya melihat apa yang ingin kita lihat, karena konon katanya melihat sebenarnya lebih merupakan pekerjaan otak. Mata hanya berfungsi untuk menangkap gambar, sedangkan yang memaknai gambar tersebut adalah otak. Dalam proses pemaknaan tadi hasil yang diperoleh akan sangat dipengaruhi oleh pengalaman dan pengetahuan. Maka sangat mungkin terjadi, sesuatu yang sama bisa terlihat sama sekali berbeda, tergantung pengalaman dan tingkat pengetahuan.

”Kesambet opo kowe Le?” Jujur, saya ndak pernah menyangka saya bisa kangen suara itu, salah satu orang paling skeptis dan nyinyir sekaligus perokok yang paling memberatkan teman yang pernah saya kenal, Kang Noyo.

Jadi ceritanya, setelah sekian lama akhirnya saya berhasil menyelesaikan buku profil pabrik yang ditugaskan juragan ke saya. Buku yang ndak selesai-selesai karena saya selalu mikir apa yang harus ditulis dan bagaimana cara menulisnya, padahal buku takkan pernah selesai dengan dipikir, harus ditulis. Dengan selesainya buku itu, saya berharap bisa seperti dulu, menghabiskan waktu ndlahom sambil menyesap nuansa di warung Mbok Darmi. Baca lebih lanjut

Pembayar Pajak Adalah Manusia Terbaik

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Sepenggal hadits itu dulu selalu diucapkan oleh guru saya sebelum beliau mulai mengajar, setiap hari, kecuali malem Jumat yang merupakan hari libur ngaji.

Sekarang setelah bertahun-tahun kemudian, hadits yang sama sering saya ucapkan setiap kali melakukan penyuluhan tentang pajak. Tentunya bukan tanpa sebab, “Sampeyan, para pembayar pajak, adalah manusia terbaik, karena di negara ini, sampeyan lah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.”

Pajak adalah urunan sampeyan semua, seluruh rakyat Indonesia, yang hasilnya juga akan dinikmati seluruh rakyat Indonesia, termasuk sampeyan sendiri tentunya.

Ndak percaya? Monggo sampeyan lihat gambar di bawah

grafik APBN 2015

Pada tahun 2015, di antara rencana penerimaan negara sebesar Rp 1.793 triliun, pajak diharapkan menyumbang sebesar Rp 1.201 triliun, atau sekitar 67%. Dengan porsi penerimaan sebesar itu, lha mbok yakin, negara ini ndak akan jalan tanpa pajak. Sampeyan bayangkan jadi buruh, trus bayaran sampeyan dipotong 70%, kurang lebih seperti itulah negara tanpa pajak, mumet level juara. Baca lebih lanjut

Bukan Tentang Gitar dan Piano

Kalo dalam beberapa tulisan saya kadang mengaku ndeso, itu bukan karena saya pengen menerapkan prinsip merendahkan diri meninggikan mutu, sok-sok marjinal biar orang memandang dengan melas dan mengharu biru, yang kemudian ditutup dengan sedikit drama, “Wow, ternyata walaupun ndeso tapi bisa begitu ya…” Bukan semacam itu.

Saya memang ndeso dari sananya. Jalan di kampung bapak saya sampai detik ini masih makadam, tanah berlapis batu ditutup pasir yang kalo musim hujan selalu ambles. Yang secara aneh malah membawa berkah, paling ndak setiap tahun warga kampung harus kerja bakti lagi, melupakan sejenak remah-remah pertengkaran antar tetangga demi punya jalan yang bisa dilewati minimal pick up pengangkut gabah.

Mungkin bapak kasian liat saya yang tiap kali diajak ke jalan raya sudah berasa tamasya, duduk ndepipis sambil terkagum-kagum liat banyak bis lewat, sehingga tiap kali liburan kenaikan kelas SD saya dikirim ke Jogja, Kalasan tepatnya, ke tempat bulik saya. Selain biar lebih akrab sama sepupu-sepupu, juga minimal saya merasakan yang namanya listrik, iya listrik, keajaiban yang belum ada di kampung saya jaman itu.

Percaya ndak percaya, dulu tiap kali orang ngomong menyalakan lampu, saya pikir bohlam listrik itu dibakar pake korek sekian detik supaya nyala. Waktu mbakyu saya bilang, “Enak ya kalo ada listrik, nanti tak suruh kipas angin ngipasi terus, biar ndak panas.” Dan yang terbayang di benak saya adalah kipas ala tukang sate yang ngipas-ngipas sendiri mengikuti kemanapun saya pergi. Bukan karena saya berkhayal sihir ala Harry Potter, itu adalah bayangan ilmiah maksimal saya, dan lagi waktu itu belum ada Harry Potter. Dan masih teringat waktu dengan sombongnya saya cerita ke temen-temen di kampung, “Di Jogja itu ndak perlu nimba, tinggal muter keran, airnya langsung mancur…”

Kebetulan suaminya bulik saya itu seorang PNS yang juga merangkap musisi keroncong. Baca lebih lanjut

Tentang Amnesti Pajak

Amnesti-Pajak-Slide-1“Ternyata gitu tho Mas, tak pikir amnesti pajak itu cuma buat orang kaya.” Kata Pak Darmo, mantan RW yang sugihnya level medioker itu waktu ketemu saya di warung Mbok Darmi kemarin sore.

Tax amnesty, alias amnesti pajak, alias pengampunan pajak memang lagi rame-ramenya diberitakan. Dengan target yang bunyinya ribuan triliun, terlebih lagi di media masa selalu dikaitkan dengan banyaknya duit orang-orang disembunyikan di luar negeri, ndak salah kalo kebanyakan orang, termasuk Pak Darmo, mengira amnesti pajak ini hanya ditujukan bagi orang kaya, orang-orang yang punya dana sekian triliun di bawah bantal, dan bantalnya di luar negeri.

Judulnya saja pengampunan. Yang namanya pengampunan itu di mana-mana bukan ditujukan untuk orang kaya, tapi untuk orang yang errr… punya salah.

Misalnya sampeyan baru mulai usaha, keliling berpanas-panas menawarkan dagangan pake motor Astrea Prima. Ndak bakal sampeyan mikir pajak. Wong untuk sekedar menjaga jangan sampe telat mbayar kulakan saja susah. Setelah usaha sampeyan berkembang, kelilingnya sekarang pake Daihatsu Hijet, mungkin juga masih belum mikir pajak. Pikir sampeyan, nanti saja lah, tunggu usahanya agak gede.

Sampai kemudian mobil sampeyan ganti jadi kijang kotak, trus Avanza, Innova, tiap kali kepikiran pajak selalu sampeyan bilang nanti-nanti saja. Hingga suatu saat pas mobil sampeyan sudah Fortuner, dan tiba-tiba datanglah sepucuk surat cinta dari kantor pajak.

“Yth. Bapak anu, kenapa bapak ndak pernah mbayar pajak selama lima tahun terakhir? Padahal tiap hari bapak lewat jalan yang dibangun dengan uang pajak? Mbok ya malu pak, ndak ikut urunan kok ikut makan.” Baca lebih lanjut