Kenapa Bukan Ex Mekanik?

Ada sebuah satu siklus rutin yang terjadi di pabrik tempat saya mburuh setiap menjelang akhir tahun seperti sekarang ini: lembur. Maksudnya lembur di sini adalah bekerja melebihi waktu yang telah ditentukan, dengan tanpa mendapat tambahan uang lembur.

Hebat? Berjiwa patriotis dilambari semangat bhineka tunggal ika demi mewujudkan semangat nawacita?

Yo ndak sih, kalo bagi saya pribadi, lembur adalah bukti ketidakmampuan saya mengatur taktik serta menjaga ritme kerja yang benar serta terarah dari awal tahun. Ini adalah harga yang harus saya bayar karena memelihara semangat kerja sakmadya, serta konsisten memegang teguh prinsip jangan sampai kerja mengganggu waktu ngopimu.

Triwulan terakhir adalah kerja dengan mumet yang tak berkesudahan. Bukan berarti saya mengeluh, sampeyan jangan salah paham. Hari-hari penuh mikir yang salah satu efeknya membuat Senin terasa sangat cepat ketemu Jumat ini selalu saya penuhi dengan khayalan tingkat tinggi bahwa saya memang pekerja keras. Delusi akut yang kadang membuat saya terharu melihat bayangan sendiri. Baca lebih lanjut

Hargailah Sebuah Nama

Orang kulon kali sana pernah bilang, ”We only see what we wanted to see.” Kita hanya melihat apa yang ingin kita lihat, karena konon katanya melihat sebenarnya lebih merupakan pekerjaan otak. Mata hanya berfungsi untuk menangkap gambar, sedangkan yang memaknai gambar tersebut adalah otak. Dalam proses pemaknaan tadi hasil yang diperoleh akan sangat dipengaruhi oleh pengalaman dan pengetahuan. Maka sangat mungkin terjadi, sesuatu yang sama bisa terlihat sama sekali berbeda, tergantung pengalaman dan tingkat pengetahuan.

”Kesambet opo kowe Le?” Jujur, saya ndak pernah menyangka saya bisa kangen suara itu, salah satu orang paling skeptis dan nyinyir sekaligus perokok yang paling memberatkan teman yang pernah saya kenal, Kang Noyo.

Jadi ceritanya, setelah sekian lama akhirnya saya berhasil menyelesaikan buku profil pabrik yang ditugaskan juragan ke saya. Buku yang ndak selesai-selesai karena saya selalu mikir apa yang harus ditulis dan bagaimana cara menulisnya, padahal buku takkan pernah selesai dengan dipikir, harus ditulis. Dengan selesainya buku itu, saya berharap bisa seperti dulu, menghabiskan waktu ndlahom sambil menyesap nuansa di warung Mbok Darmi. Baca lebih lanjut

Pembayar Pajak Adalah Manusia Terbaik

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.

Sepenggal hadits itu dulu selalu diucapkan oleh guru saya sebelum beliau mulai mengajar, setiap hari, kecuali malem Jumat yang merupakan hari libur ngaji.

Sekarang setelah bertahun-tahun kemudian, hadits yang sama sering saya ucapkan setiap kali melakukan penyuluhan tentang pajak. Tentunya bukan tanpa sebab, “Sampeyan, para pembayar pajak, adalah manusia terbaik, karena di negara ini, sampeyan lah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain.”

Pajak adalah urunan sampeyan semua, seluruh rakyat Indonesia, yang hasilnya juga akan dinikmati seluruh rakyat Indonesia, termasuk sampeyan sendiri tentunya.

Ndak percaya? Monggo sampeyan lihat gambar di bawah

grafik APBN 2015

Pada tahun 2015, di antara rencana penerimaan negara sebesar Rp 1.793 triliun, pajak diharapkan menyumbang sebesar Rp 1.201 triliun, atau sekitar 67%. Dengan porsi penerimaan sebesar itu, lha mbok yakin, negara ini ndak akan jalan tanpa pajak. Sampeyan bayangkan jadi buruh, trus bayaran sampeyan dipotong 70%, kurang lebih seperti itulah negara tanpa pajak, mumet level juara. Baca lebih lanjut

Bukan Tentang Gitar dan Piano

Kalo dalam beberapa tulisan saya kadang mengaku ndeso, itu bukan karena saya pengen menerapkan prinsip merendahkan diri meninggikan mutu, sok-sok marjinal biar orang memandang dengan melas dan mengharu biru, yang kemudian ditutup dengan sedikit drama, “Wow, ternyata walaupun ndeso tapi bisa begitu ya…” Bukan semacam itu.

Saya memang ndeso dari sananya. Jalan di kampung bapak saya sampai detik ini masih makadam, tanah berlapis batu ditutup pasir yang kalo musim hujan selalu ambles. Yang secara aneh malah membawa berkah, paling ndak setiap tahun warga kampung harus kerja bakti lagi, melupakan sejenak remah-remah pertengkaran antar tetangga demi punya jalan yang bisa dilewati minimal pick up pengangkut gabah.

Mungkin bapak kasian liat saya yang tiap kali diajak ke jalan raya sudah berasa tamasya, duduk ndepipis sambil terkagum-kagum liat banyak bis lewat, sehingga tiap kali liburan kenaikan kelas SD saya dikirim ke Jogja, Kalasan tepatnya, ke tempat bulik saya. Selain biar lebih akrab sama sepupu-sepupu, juga minimal saya merasakan yang namanya listrik, iya listrik, keajaiban yang belum ada di kampung saya jaman itu.

Percaya ndak percaya, dulu tiap kali orang ngomong menyalakan lampu, saya pikir bohlam listrik itu dibakar pake korek sekian detik supaya nyala. Waktu mbakyu saya bilang, “Enak ya kalo ada listrik, nanti tak suruh kipas angin ngipasi terus, biar ndak panas.” Dan yang terbayang di benak saya adalah kipas ala tukang sate yang ngipas-ngipas sendiri mengikuti kemanapun saya pergi. Bukan karena saya berkhayal sihir ala Harry Potter, itu adalah bayangan ilmiah maksimal saya, dan lagi waktu itu belum ada Harry Potter. Dan masih teringat waktu dengan sombongnya saya cerita ke temen-temen di kampung, “Di Jogja itu ndak perlu nimba, tinggal muter keran, airnya langsung mancur…”

Kebetulan suaminya bulik saya itu seorang PNS yang juga merangkap musisi keroncong. Baca lebih lanjut

Tentang Amnesti Pajak

Amnesti-Pajak-Slide-1“Ternyata gitu tho Mas, tak pikir amnesti pajak itu cuma buat orang kaya.” Kata Pak Darmo, mantan RW yang sugihnya level medioker itu waktu ketemu saya di warung Mbok Darmi kemarin sore.

Tax amnesty, alias amnesti pajak, alias pengampunan pajak memang lagi rame-ramenya diberitakan. Dengan target yang bunyinya ribuan triliun, terlebih lagi di media masa selalu dikaitkan dengan banyaknya duit orang-orang disembunyikan di luar negeri, ndak salah kalo kebanyakan orang, termasuk Pak Darmo, mengira amnesti pajak ini hanya ditujukan bagi orang kaya, orang-orang yang punya dana sekian triliun di bawah bantal, dan bantalnya di luar negeri.

Judulnya saja pengampunan. Yang namanya pengampunan itu di mana-mana bukan ditujukan untuk orang kaya, tapi untuk orang yang errr… punya salah.

Misalnya sampeyan baru mulai usaha, keliling berpanas-panas menawarkan dagangan pake motor Astrea Prima. Ndak bakal sampeyan mikir pajak. Wong untuk sekedar menjaga jangan sampe telat mbayar kulakan saja susah. Setelah usaha sampeyan berkembang, kelilingnya sekarang pake Daihatsu Hijet, mungkin juga masih belum mikir pajak. Pikir sampeyan, nanti saja lah, tunggu usahanya agak gede.

Sampai kemudian mobil sampeyan ganti jadi kijang kotak, trus Avanza, Innova, tiap kali kepikiran pajak selalu sampeyan bilang nanti-nanti saja. Hingga suatu saat pas mobil sampeyan sudah Fortuner, dan tiba-tiba datanglah sepucuk surat cinta dari kantor pajak.

“Yth. Bapak anu, kenapa bapak ndak pernah mbayar pajak selama lima tahun terakhir? Padahal tiap hari bapak lewat jalan yang dibangun dengan uang pajak? Mbok ya malu pak, ndak ikut urunan kok ikut makan.” Baca lebih lanjut

Hanya Mengeluh

Jika sampeyan bukan bagian dari solusi, maka sampeyan adalah bagian dari masalah.

Syahdan, suatu saat beberapa tahun yang lalu, saya yang kebetulan didapuk menjadi ketua perkumpulan buruh-buruh bagian diakon (konon katanya singkatan dari diawasi dan dikongkon), sedang dalam tahap setengah jalan menuju konslet. Gara-garanya sudah dua kali temen-temen itu saya ajak kumpul-kumpul tapi ndak juga nemu keputusan. Mungkin saya juga yang salah, harusnya kan diajak rapat, bukan kumpul-kumpul. Tapi karena rapat itu menurut saya sudah levelnya staf sampai manajemen, maka saya memaksa acaranya untuk tetap bertajuk kumpul-kumpul, sambil ngopi tentu saja.

Waktu kumpul semuanya iyas-iyes, manggut-manggut sambil ngangkat jempol, oke katanya. Tapi begitu di luar satu dua orang mengeluhkan hasilnya, terus ngadu ke mandornya, yang kemudian menyampaikan ke saya agar diadakan acara kumpul-kumpul lagi.

Akhirnya pada kali ketiga, dengan agak muntab saya bilang, ”Ini adalah kumpul-kumpul yang terakhir kalinya. Setelah ini saya ndak mau denger lagi ada yang mengeluh di luar. Kalo di antara sampeyan ada yang mau disampaikan, silakan sampaikan di sini. Tapi ingat, yang mau mengeluhkan masalah harus lengkap sama usulan solusinya, saya ndak mau sampeyan cuma jadi sumber masalah.”

Alhasil, setelah satu dua orang memberi pendapat, kumpul-kumpul itu akhirnya menghasilkan keputusan. Entah karena keputusan yang diambil sudah pas, atau hanya karena ndak mau dianggap sebagai sumber masalah.

Saya percaya bahwa seorang pemimpin harus memiliki konsep, Baca lebih lanjut

Menulis Itu…

Beberapa waktu yang lalu ada yang nanya sama saya, “Mas, gimana sih caranya bikin tulisan yang bagus dan enak dibaca?”

Lalu dengan entengnya saya bilang, ”Menulislah dari hati, ndak usah mikir yang muluk-muluk, anggap saja sampeyan lagi cerita sama saya tentang sesuatu, lalu tulis.”

Untuk ukuran blogger abal-abal yang sudah semi pensiun macem saya, jawaban yang saya berikan sungguh patut dipertanyakan kebenarannya. Kalo memang benar menulis segampang itu, kenapa sudah lewat setengah jam dan saya masih memandangi halaman kosong? Bener-bener ndak punya bayangan kata apa yang mau ditulis.

Kalo bagi saya, itu adalah salah satu pertanda bahwa nulisnya ndak dari hati. Sudah ndak murni “cerita”, tapi mulai mengandung kepentingan lain, misalnya bagus ndak temanya, susunan kalimatnya gimana, pilihan katanya seperti apa, nanti yang baca pada suka apa ndak. Wis mulai berpikir komersil.

Salahkah? Baca lebih lanjut