Undang-undang Zakat, Efektifkah?

X : Permisi Pak, kami dari yayasan ABC, pengelola zakat infak sedekah. Yayasan kami siap menampung zakat profesi bapak tiap bulan, kami juga siap jemput bola apabila diperlukan.
Y : Maap Pak, zakat saya sudah saya salurkan ke yayasan nganu
X : Mungkin Bapak mau nambah zakatnya?
Y : ….
X : Kami juga siap menampung infak dan sedekah, mungkin Bapak berniat untuk sedekah rutin setiap bulan?
Y : Maap Pak, sedekah saya kirim ke kampung, banyak orang susah di sana
X : Kami juga punya program anak asuh, mungkin Bapak berminat menjadi orang tua asuh?
Y : Kebetulan saya nanggung sekolah keponakan
X : Kami juga menerima sumbangan insidentil, silakan isi formulir ini kalo bapak bersedia menyumbang
Y :

Beberapa hari yang lalu ada seseorang datang ke rumah saya, memberikan proposal kegiatan yang akan dilakukan yayasan X pada bulan puasa mendatang. Saya masih ingat, yayasan ini tahun kemaren datang ke rumah tapi saya ndak ngasih sumbangan, alasan saya sudah ada beberapa yayasan yang datang sebelum dia, sedangkan kemampuan ekonomis seorang buruh pabrik macem saya ini terbatas.

Cerdas, belajar dari kesalahan, jangan sampe keduluan yang lain.

Tolong saya jangan divonis kafir dulu

Saya cuma merasa agak aneh saja, saat seseorang datang meminta zakat infak sedekah ke tempat saya, apalagi dengan label yayasan yang resmi berbadan hukum misalnya, kadang saya merasa dipojokkan, dipaksa memilih antara menyumbang atau menyematkan label pelit pada diri sendiri.

Mungkin bisa saja disiasati, karena yakin di bulan puasa akan banyak permintaan zakat infak dan sedekah, saya memberikan sekian ribu rupiah untuk setiap proposal yang datang. Tapi opo yo pantes? Dengan proposal yang nyebut angka berjuta-juta, kok rasanya agak gimana kalo saya ngasih ala kadarnya.

“Yang penting kan ikhlas.” Kata Kang Noyo waktu ketemu di warung Mbok Darmi suatu sore.

Ikhlas memang penting, tapi kadang saya berpikir ikhlas saja ndak cukup. Saat sebuah keluarga kelaparan dan butuh bantuan, ndak logis misalnya sampeyan cuma ngasih Rp 10.000. Mungkin sampeyan ikhlas, tapi sayangnya keikhlasan itu ndak cukup untuk bisa jadi solusi. Ada saat-saat di mana saya harus yakin bahwa apa yang saya keluarkan bukan saja harus ikhlas, tapi juga memberi kontribusi yang signifikan bagi  sebuah solusi.

Di sinilah ruwetnya, saat pemerintah ternyata ndak mampu menangani semua masalah sosial, bermunculanlah yayasan-yayasan bentukan masyarakat. Tanpa sumber dana yang memadai, akhirnya mereka berlomba mengumpulkan dana zakat, infak, dan sedekah. Tanpa pemetaan yang jelas, tanpa koordinasi satu sama lain. Salah satu efeknya adalah seperti yang saya alami, memendam rasa bersalah karena ndak mampu ngasih sumbangan.

Mungkin fenomena yang saya alami tersebut adalah satu di antara sekian banyak hal yang melatarbelakangi munculnya Undang-undang Nomor 23 tentang Pengelolaan Zakat. Undang-undang ini menyebut pengelolaan zakat harus berasaskan syariat Islam, amanah, kemanfaatan, keadilan, kepastian hukum, terintegrasi, dan akuntabilitas.

Undang-undang ini juga mengamanatkan kepada pemerintah untuk membentuk Badan Amil Zakat Nasional sebagai pengelola zakat. Untuk membantu BAZNAS dalam pelaksanaan pengumpulan, pendistribusian, dan pendayagunaan zakat, masyarakat dapat membentuk Lembaga Amil Zakat, lembaga yang dibentuk ini harus mendapat ijin Menteri Agama dan memenuhi syarat sebagai berikut:

  • terdaftar sebagai organisasi kemasyarakatan Islam yang mengelola bidang pendidikan, dakwah, dan sosial;
  • berbentuk lembaga berbadan hukum;
  • mendapat rekomendasi dari BAZNAS;
  • memiliki pengawas syariat;
  • memiliki kemampuan teknis, administratif, dan keuangan untuk melaksanakan kegiatannya;
  • bersifat nirlaba;
  • memiliki program untuk mendayagunakan zakat bagi kesejahteraan umat; dan
  • bersedia diaudit syariat dan keuangan secara berkala.

“Berarti wis beres tho?” Sela Kang Noyo.

Beres apanya?

Yang jadi pertanyaan adalah: apakah pengelolaan zakat memang benar bisa dilaksanakan secara terpusat, oleh lembaga-lembaga tertentu saja, dan dengan tingkat akuntabilitas yang tinggi?

Apakah tetangga saya di dusun pelosok sana mau membayar zakat di BAZNAS?

Atau mungkin lebih pas kalo saya nanya begini: adakah perwakilan BAZNAS atau LAZ yang resmi di dusun saya?

Biasanya orang-orang mengumpulkan zakat di rumah bapak saya, nanti pengurus mushola akan membagi zakat yang sudah terkumpul kepada warga. Tapi sepertinya Ramadhan ini bapak saya sudah ndak boleh lagi mengumpulkan  zakat, karena Pasal 41 Undang-undang Zakat menyatakan bahwa orang yang bertindak menjadi amil zakat tanpa ijin bisa dipidana kurungan 5 tahun dan atau denda Rp 500 juta.

Saya pulang dari warung Mbok Darmi dengan pikiran yang masih semrawut, mau dibikin seperti apa pengelolaan zakat infak sedekah di negeri ini?

Besoknya ada dua orang mbak-mbak dengan penampilan fisik di atas rata-rata datang ke pabrik, saya sudah bisa menebak tujuan kedatangan mereka.

X : Permisi Pak, kami dari asuransi ABC, bisa minta waktu sebentar, kami ada program asuransi jiwa tapi dengan keuntungan bla bla bla
Y : Maap Mbak, saya sudah punya asuransi
X : Yang ini bukan cuma asuransi jiwa pak, tapi juga ada fasilitas perawatan kesehatan
Y : Saya juga sudah punya asuransi kesehatan
X : Mungkin bapak mau nambah? Jadi nanti bisa saling melengkapi, apa yang belum dicover oleh asuransi Bapak bisa kami cover
Y : Matur nuwun Mbak, sepertinya asuransi saya yang sekarang sudah cukup
X : Kami juga punya produk lain Pak, demi masa depan anak-anak Bapak mungkin berminat dengan asuransi pendidikan?
Y : Ora Mbak!
X : Mungkin anak-anak Bapak butuh asuransi juga?
Y :

Rasanya seperti deja vu.

Jiyan!

9 comments on “Undang-undang Zakat, Efektifkah?

  1. putrimeneng mengatakan:

    curcol mas
    di proyek kemarin sempat agak bersitegang dengan salah seorang utusan dari yayasan zakat tertentu yang datang dan menawarkan berbagai macam “produk” untuk bisa diikuti proyek kami, karena sudah ada program penyaluran resmi dr kantor kami tolak, ndilalah dia mendapat nomer telp saya dr mbuh ndak tau siapa, lha kok ben byar di telp dan di sms
    jadi saya merasa dejavu juga dengan agen asuransi, MLM daaaan KTA yang nelpon dan sms udah kayak orang pdkt aja, mungkin wajah saya ini wajah wong potensial golek utang😐

  2. warm mengatakan:

    masalah zakat itu yg jelas wajib,
    kalo sedekah, itu bener kata kang Noyo, tergantung satu kata itu : ikhlas

    kalau emang ga niat ngasi, ya udahlah ga usah ngasih, tak perlu logika kalo duit sisa sedikit atau gimana, atau pikiran lain apapun, karena toh gusti Allah ora sare, ga ada sedekah yg ga sia2

    demikianlah, mas
    kata kang Noyo *halagh*:mrgreen:

  3. Shigids Argo mengatakan:

    (Membayangkan….) Tahun 2014 pemerintah merombak dan menetapkan Direktorat Jenderal Perpajakan menjadi Direktorat Jenderal PerZakatan. Pegawainya masih formasi lama….dengan remunerasi yg sama -tentunya- *ngarep

  4. Maulidi mengatakan:

    Dulu aku nyalurin lewat amil zakit, tapi tahun lalu nyoba belusukan sekitar kampungku, ternyata mereka yg lebih membutuhkan, akhirnya aku salurin ke sekitar rumahku.
    Setahuku porsi pengelola amil zakat 1/8(12,5%) diluar biaya operational, hmmm, “komisi” yg menggiurkan sih *plak ditabok map merah

    • Ahmad Fat-han Fauza mengatakan:

      kalo memberikan uang langsung kepada orang, itu namanya shodaqoh bukan zakat. dan secara hukum islam, berarti zakatnya tidak sah (dianggap belum dibayar/ditunaikan, karena yg dibayarkan itu dianggap shodaqoh).

      jadi kalo mau membantu masyarakat secara langsung, tentu sangat baik. tapi itu dalam islam dianggap shodaqoh, bukan zakat.

      zakat harus diberikan kepada amil zakat.

  5. Emanuel Setio Dewo mengatakan:

    Karyawan yayasan BC/X itu dapat gaji dari mana ya? Apakah mengambil bagian dari zakat?

  6. ciwir mengatakan:

    Menurutku, zakat infaq shadaqoh lebih pas dan lebih bermanfaat jika yg menyalurkan adalah diri kita sendiri langsung pada yg berhak.

    Bukankah rasul muhammad saw mengajarkan bahwa berzakat berinfaq atau shadaqoh dimulai dari yg terdekat dari kita. Jika masih ada kerabat yg membutuhkan itu lebih pas dan kita tahu betul itu akan bermanfaat daripada disalurkan melalui “orang lain” yg kita tidak tahu betul apakah tersalur benar atau tidak.

    • Ahmad Fat-han Fauza mengatakan:

      zakat itu sangat beda dengan shodaqoh.

      zakat hukumnya wajib, shodaqoh hukumnya sunnah.

      zakat mau nggak mau harus bayar, shodaqoh bisa seikhlasnya (walaupun shodaqoh yg terpaksa juga tetap akan mendapat pahala).

      zakat HARUS disalurkan melalui amil, kalo shodaqoh bisa disalurkan langsung kepada siapa saja yg kita inginkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s