Kenapa Harus Sama?

Konon katanya kuda balap yang baik akan berlari sekuat yang dia mampu, tanpa melihat seberapa cepat kuda yang lain berlari. Kata-kata tersebut dalam konteks yang lain membuat saya ndak setuju dengan ungkapan “lihatlah ke atas agar semangatmu terpacu, dan lihatlah ke bawah agar kamu bersyukur”. Saya cenderung berpendapat bahwa karena tiap manusia memiliki keunikan dan jalan hidup masing-masing maka seharusnya pembanding yang tepat adalah dirinya sendiri.

Mbah saya dulu pernah bilang, orang yang pada hari ini lebih baik dari kemarin adalah orang yang beruntung, yang hari ini kondisinya sama saja dengan kemarin adalah orang yang rugi, sedangkan yang hari ini lebih buruk dari kemarin adalah orang yang celaka. Lebih baiknya saya dengan lebih baiknya sampeyan tentu ndak sama. Masing-masing orang punya standard kewajaran sendiri dan masing-masing orang pula yang lebih tau apakah dia sudah lebih baik, atau apakah dia sudah melakukan yang terbaik.

“Bener begitu tho Kang?” Tanya saya tadi sore waktu ngopi bareng Kang Noyo di warungnya Mbok Darmi.

Kang Noyo cuma termenung, mungkin masih mencerna kata-kata saya. Beberapa saat kemudian dia baru membuka mulut, “Rokokmu mana?”

Ealah!

Diajak ngomong serius malah nanya rokok, temen saya ini bener-bener ndak modal dalam taraf yang kronis. Tinggal di kampung yang sama, kerja di pabrik yang sama, level dan gaya hidup ndak jauh beda, tapi sekedar rokok saja selalu minta. Kadang saya mikir kok ya ada orang sepelit ini.

Saya keluarkan rokok, Kang Noyo mengambil sebatang lalu menyalakannya. Setelah klebas-klebus dengan nikmat sambil nyeruput kopinya Kang Noyo nanya, “Ono opo tho Le? Biasanya kalo kamu mulai nggedabrus ndak jelas seperti ini pasti ada apa-apa.”

Memang, setelah sekian lama hidup bertetangga di rumah dan di pabrik, ditambah dengan seringnya kita ngobrol ngalor-ngidul di warung Mbok Darmi, sedikit banyak Kang Noyo bisa menebak jalan pikiran saya.

Jadi ceritanya kemaren saya itu nelpon Simbok di kampung, biasalah cerita macem-macem, mulai dari soal hujan yang di Malang ndak mau berhenti tapi di kampung Simbok malah susah air, soal panen yang gagal gara-gara Ph tanah yang katanya terlalu asam (ediyan! Kok bisa Simbok tau soal Ph tanah??), sampe yang terakhir ngobrol soal perkembangan anak saya.

Sebagai orang tua wajar tho dengan bangga saya cerita anak saya yang nomer dua sudah bisa lari-larian, sudah bisa bilang “ayah” dengan lafadz yang jelas. Saya tentu berharap Simbok sebagai Mbahnya juga bangga. Tapi harapan itu langsung musnah.

“Si anu, anaknya si ono, lebih muda dari anakmu malah sudah bisa naik sepeda kemana-mana, dan dia sudah bisa bilang kalo mau pipis, jadi ndak ngompol lagi.” Cerita simbok dengan entengnya tanpa menyadari bahwa saya langsung kehilangan antusias.

Saya jadi teringat anak pertama saya, dulu dia membuat saya terkagum-kagum waktu malem-malem lewat jalan Sukarno Hatta, Malang, merengek minta bubur dengan suaranya yang belum jelas. Saya kagum karena sebelumnya saya ngajak dia makan bubur ayam waktu siang, dan dia masih bisa mengenali jalan tersebut di waktu malam. Anak saya juga pernah membuat tetangga terheran-heran karena dia ndak mau jalan di tanah kalo ndak make sandal, di saat anak-anak yang lain susahnya setengah hidup disuruh make sandal.

Beberapa tahun kemudian anak saya membuat jengkel, gara-gara waktu di sekolahnya ada outbond dia ndak mau mencoba permainan apapun. Disuruh ini ndak mau, disuruh itu ndak mau, dipaksa malah nangis ndak mau berhenti. Saya sempet ngomel panjang lebar sebelum akhirnya ingat bahwa di banyak kesempatan dia telah membuat saya bangga.

Kenapa saya harus marah karena menginginkan dia memiliki yang dimiliki anak lain, dengan mengabaikan kenyataan bahwa dia memiliki hal-hal yang ndak dimiliki oleh yang lain?

Saya pikir akan lebih adil bagi anak saya kalo saya bangga karena dia melakukan hal-hal lebih baik dari saat sebelumnya, bukan melulu karena dia melakukan lebih baik dari teman sebayanya. Makanya saya agak mangkel waktu mbahnya membanding-bandingkan dengan anak lain.

“Kalo orang seperti aku ini wajar ndak Le?” Mendadak Kang Noyo bertanya sambil menyalakan rokok ketiganya, dengan mengambil rokok saya tentunya.

“Lha kok…?” Saya agak mikir.

“Siapa tau kamu mikir kalo aku ini ndak wajar, rokok selalu minta misalnya. Padahal kalo kamu bilang tiap orang punya standard masing-masing berarti aku ini sudah lebih baik. Minggu kemaren waktu kita ngopi aku minta rokokmu empat batang, sekarang cuma tiga batang. Berarti aku sudah lebih baik tho?”

Kang Noyo mesam-mesem.

Jiyan!

11 comments on “Kenapa Harus Sama?

  1. Dee mengatakan:

    Kang Noyo ki cen keren kok

  2. alfakurnia mengatakan:

    Setuju mas… Tiap orang itu unik. Nggak perlu membandingkan dgn orang lain.

  3. baburinix! mengatakan:

    berkunjung…..hehehehehe….

  4. ndaru mengatakan:

    lha ya itu..makane saya itu juga endak setuju anak sekolah pakek seragam itu..mbok biar mengekspresikan diri semenjak dini

  5. chocoVanilla mengatakan:

    Tulisan ini membuat hatiku bak disayat sembilu😥 Pas banget! Jadi ingat Si Cantik ulangan matematika mendapat nilai 80 dan saya protes karena teman dekatnya dapat nilai 100. Sekarang aku baru sadar, karena waktu ulangan Cantik ndak belajar babar blaz! Disuruh belajar malah mewek. Mungkin temannya yang nilainya 100 itu belajar ampek jontor ya? (menghibur diri)

    Ato Si Guanteng yang tulisannya kayak ukiran Jepara, sering aku marah-marahi. Padahal dia itu bisa ngapal CD key games yang lebih dari 10 digit, padahal kombinasi huruf dan angka.

    Aku jadi merasa bersalah, menjadi ibu yang penuntut, membandingkan dengan teman-temannya. Hiks…hiks…😥

  6. chocoVanilla mengatakan:

    Lhadalah, iku komen po curcol? Puanjangee rek:mrgreen:

  7. mawi wijna mengatakan:

    saya adalah saya! hidup saya!!! (lho!?)

  8. devieriana mengatakan:

    yah itulah ya namanya manusia (baca : orangtua) kadang saking pengennya terlihat bangga, tanpa sadar memaksakan anaknya harus begini, begitu. Padahal namanya anak kan juga punya kapasitas, kelebihan dan kekurangan masing-masing ya..🙂

    *kemeruh*

  9. Emanuel Setio Dewo mengatakan:

    Eh, ini sudut pandang yg berbeda dari tulisannya Prima ya? Tapiii… kedua sudut pandang tersebut baik kok. Bisa dikombinasikan untuk saling melengkapi.

    Salam

  10. RhoMayda mengatakan:

    hahahahhaaa …
    maaf, baru sekali ini datang ke sini, baru kali ini ikutan baca blog ini, langsung ketawa hahaha ….
    anaknya temenku 3 tahun sudah les (baca: dileskan) bahasa inggris. anaknya orang lain, usia 3 tahun masih ngedot. ya gimana ya ….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s