Jambu Air Kali Tempur

Simbah selalu melarangku bermain di sana, pohon jambu air yang tumbuh di pinggir kali tempur, di ujung desa kami. Katanya pohon itu wingit, Simbah bilang tempat itu banyak dihuni hantu pocong dan gundul pringis, sejenis hantu berbentuk kepala yang akan menggelinding mendekati kita lalu meringis. Kadang aku juga sedikit takut, tapi kata Parji itu cuma akal-akalan Simbah biar aku ndak main jauh-jauh dari rumah.

“Dimana-mana yang banyak setannya itu pohon beringin, atau pohon meh besar yang ada di kuburan kampung sana. Mana ada setan di pohon jambu!” Ujar Parji sambil ngakak.

Tiap hari aku main sama Parji, bukan apa-apa, cuma dia yang menganggap aku ndak merepotkan. Kata Simbah dulu waktu aku kecil pernah kena demam tinggi, tidak berobat ke dokter tentu saja, karena dokter hanya ada di kota kecamatan, 7 kilometer jalan kaki. Selain jauh penghasilan simbah dari jualan tikar pandan yang dibuatnya juga cuma pas-pasan untuk makan sehari-hari. Konon gara-gara itulah kakiku yang sebelah kiri lumpuh, membuatku terpaksa jalan dengan bantuan tongkat. Dengan kondisi seperti itu aku gak bisa main perang-perangan, petak umpet, betengan. Aku merasa ndak nyaman bermain bersama teman-teman sebaya, dan kupikir mereka juga merasakan hal yang sama.

Dulu aku kadang bertanya pada Simbah, kenapa teman-teman punya bapak, punya simbok, tapi aku ndak punya. Simbah bilang aku juga punya, tapi mereka pergi waktu aku masih bayi, katanya mau merantau ke Ambon.

“Di sana ada perkebunan baru dibuka, butuh banyak buruh. Jangan takut, nanti mereka akan pulang, bawa duit buanyak.” Kata Simbah suatu saat.

Entah Simbah jujur atau cuma mau menghibur, toh akhirnya setelah bertahun-tahun berlalu aku ndak peduli lagi. Aku punya Simbah yang bisa ngasih makan, juga menyekolahkan aku sampai kelas 3 SD. Ndak masalah sekolahku melarang aku masuk lagi karena sampai kelas 3 aku belum juga punya seragam, sekolah juga tidak menyenangkan, aku muak dengan pandangan kasian dari guru-guru, aku juga bosan dengan perasaan tidak nyaman yang kurasakan tiap bermain bersama teman-teman. Kasian juga sama Simbah, usianya makin tua, tikarnya juga makin lama makin ndak laku.

Dan di sinilah aku, di bawah pohon jambu, menunggu Parji datang. Biasanya nanti dia akan manjat dan mengambil beberapa buah jambu air yang sudah masak, setelah itu kita akan ngobrol di pinggir kali. Dia akan cerita apa yang hari ini dia lakukan di sekolah, tertawa-tawa sampai sore menjelang. Sebelum matahari terbenam kita harus sudah pulang, kata Simbah waktu bedug maghrib segala jenis hantu akan keluar dari rumahnya di pohon jambu itu. Aku sebenarnya ndak terlalu percaya, tapi ndak pernah berani untuk mencoba mengetahui kebenarannya.

Hari ini entah kenapa Parji lama sekali datangnya, aku mulai bosan menunggu. Sambil menunggu aku berjalan di sepanjang pinggir sungai, memandang air kecoklatan sisa banjir kemaren. Sebenarnya dari dulu aku penasaran, ingin sekali bisa berenang, kadang iri liat Parji begitu enaknya mengapung di air, mungkin kalo di situ aku bisa merasakan berjalan tanpa tongkat, di dalam air semua jadi lebih ringan tho?

Kupikir ndak papa kalo cuma nyemplung di pinggir, dengan perasaan sedikit takut aku melepas baju dan masuk ke sungai. Tapi ternyata bagian sungai yang ini ndak landai, di pinggir pun airnya dalam, aku gelagapan, panik, meronta sia-sia, nafasku habis, aku mulai menelan air, semua gelap, mungkin aku bakal mati di sini, sekarang.

“No… Warno! Tolong… tolong…!!” sekilas sepertinya aku mendengar suara Parji.

………………………………………………………………………………..

Susah payah aku keluar dari air, ternyata hari sudah gelap. Sedikit bergidik aku saat melihat pohon jambu air di depan sana, ternyata Simbah benar, hampir bersamaan dengan bedug maghrib kulihat sesosok putih dengan ikatan di ujung kepalanya sedang berdiri menatapku, bukan cuma satu, tapi dua, tiga, tidak, paling tidak ada lima pocong di sana.

Pocong-pocong itu mendatangiku, aku takut, aku ingin pulang, aku ingin lari tapi entah di mana tongkatku. Bau kembang ini begitu menyengat, pocong-pocong itu merubungiku. Aku ndak mau, aku takut, aku mau Simbah! Aku mau Simbah..!!

………………………………………………………………………………..

Senja menjelang saat dua orang tergesa-gesa melewati jalan di ujung kampung, “Cepetan jalannya, seram kalo malem di sini suka ada suara anak kecil menjerit-jerit, katanya itu arwah gentayangan cucunya Mbah Suminah…”

*kali tempur : pertemuan dua aliran sungai

Iklan

14 comments on “Jambu Air Kali Tempur

  1. Ceritaeka berkata:

    Ini kisah nyata bukan mas’e?
    Kalo iyaaa, weleh ada dot yang tak terkoneksi

  2. […] This post was mentioned on Twitter by Tobagus Manshor, Tobagus Manshor. Tobagus Manshor said: Jambu Air Kali Tempur: http://wp.me/ppZ5c-yP […]

  3. walahhhh serem dehhh ceritanya, saya paling males deh denger cerita horor 😦

  4. zee berkata:

    Astagaaa…!!!
    Saya protesss..!!!
    Serem kali ini ceritanyaa…! Aih makkk bisa terotak ini…

  5. Chic berkata:

    meh! kok mendadak ada cerita serem di sini? 😈
    *sambit mas stein pake jambu*

  6. Asop berkata:

    Fotonya aja udah serem….
    Apalagi ceritanya… 😐

  7. mawi wijna berkata:

    saya seperti sedang baca rubrik Jagading Lelembut di majalah Penyebar Semangat Kang…

  8. chocoVanilla berkata:

    Aaaaaarrhhhhh, sereeeeeemmmmm!!! Mbok ya gak usah pasang gambarnya to, Mas!! Nyesel aku ngintip sini 😥

  9. mandor tempe berkata:

    menyesal saya berkunjung ke sini, syerem banget.
    Lha trus, setelah sekolah kelas tiga gimana ceritanya bisa sampai ke sekolahan khusus kaum dhuafa

  10. Gun berkata:

    Cerita seperti ini, secara langsung atau tidak langsung mempunyai peran terhadap pencitraan mahluk gaib, yang pada ujung2nya berdampak negatif.
    Sebagian besar bangsa kita masih percaya terhadap mahluk2 gaib dan tidak sedikit yang mengikutinya bak penuntun hidup menuju kebahagiaan, padahal semuanya mudarat semata.
    Mbo yao…. gitu…. yang begini2 tuh di hentikan saja. Lebih baik rasional membangun lingkungan yang lebih produktif gt lho…….

  11. wewep berkata:

    YACH LUMAYAN DARIPADA CERITA YANG LAIN LAIN ANGGAP SAJA INI SEBUAH HIBURAN ……. ATEUH….!!!!!!!

  12. Aan berkata:

    lumayan dah dari pada denger cerita tentang pemerintahan kita yg rakusss…..

  13. Laura berkata:

    Daripada cerita dewasa, kan? hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s