Serisau Malam

road_at_night-wallpaper-1280x960

“Kau yakin mau melakukan ini?” Tanyaku sambil terus menatap jalan.

“Entahlah, tapi laki-laki harus melakukan apa yang seharusnya dilakukan.” Aku melirik sekilas, matanya resah tapi wajahnya sekeras batu.

“Sudah berapa lama kau tahu?” Tanyaku lagi, dengan tangan sedikit gemetar memegang kemudi.

Dia melihat kaca samping dengan sedikit tersenyum getir, “Sudahlah, yang jelas aku tahu.”

“Aku masih mencintainya, jadi tolong lakukan untukku.” Tangannya membuka dashboard mobil, pistol itu ada di sana, entah darimana dia mendapatkannya. Aku menarik nafas dalam, malam ini benar-benar jahanam.

“Dan lakukan dengan cepat, aku tak mau Dinda menderita.” Tegasnya.

Rumahnya sudah terlihat, dan gelisahku makin menggeliat. Dinda, istrinya yang ayu itu membukakan pintu. Hatiku bergolak, tapi laki-laki harus melakukan apa yang seharusnya dilakukan.

Satu tembakan dan dia terkapar, tanpa penderitaan, sesuai pesannya.

Aku kembali menatap jalan. Sejenak teralih dari kemudi, sms masuk, dari Dinda.

“Terima kasih, Sayang. Sekarang kita tak perlu sembunyi-sembunyi lagi.”

Gambar: http://kikiandtea.com/wp-content/uploads/road_at_night-wallpaper-1280×960.jpg

Cuma Pengen Main

Suatu saat saya pernah ngobrol sama temen di pabrik tentang alam lain. Jadi ceritanya temen saya ini konon bisa melihat makhluk halus.  Bukan yang halusnya macem Raline Shah atau Pevita Pearce, tapi bangsa dedemit semacam Genderuwo, Kuntilanak, dan kawan-kawannya. Suatu kemampuan yang bisa dianggap anugerah bagi sebagian orang, dan kutukan bagi beberapa yang lain.

Temen saya ini bilang, “Mereka itu bukan makhluk yang menakutkan. Sama seperti kamu lihat sapi yang kakinya empat dan punya tanduk, atau kelinci yang punya telinga panjang dengan dua gigi tonggos, biasa saja.”

“Kalo makhluk ini ternyata hanya punya satu mata di tengah, atau punggungnya bolong, atau terbungkus kain pocong, bukan berarti mereka menakutkan. Bentuknya memang seperti itu, jadi ya biasa saja.”

Biasa saja kan?

Iya, biasa saja. Kata-kata yang selalu saya ulang-ulang dalam hati setiap kali tengah malem terbangun, entah karena haus atau kebelet pipis. Seperti sekarang ini.  Tadi kecapekan, pulang dari pabrik langsung tepar. Mbuh jam berapa ini.  Kalo lihat sepinya sih mungkin jam 1 atau jam 2.  Haus bener. Mau mbangunin istri yang lagi tidur di kamar anak-anak kok ya malu, mosok cuma ke dapur minta temenin.

Sedikit gelap, sebelum tidur lampu rumah memang selalu dimatikan, atas nama pengiritan. Tapi ndak masalah, masih ada remang-remang sinar dari lampu luar.  Lagian rumah cuma seemprit ini, sudah apal jalan dari kamar ke kulkas di pojokan dapur. Buka kulkas, jongkok, ambil botol yang di rak bawah, rutinitas biasa.

Mungkin cuma perasaan saya, maklum nyawa masih separo, tapi rasanya ada yang njawil pundak. Saya noleh belakang, ndak ada siapa-siapa. Selesai minum, masih dengan separo nyawa, saya balik lagi ke kamar.

Dan baru dapet dua langkah saya langsung hidup sehidup-hidupnya. Itu di pojokan deket kompor, sesosok anak perempuan dengan baju putih dan rambut panjang terurai, duduk melihat saya. Walaupun sedikit remang-remang, saya tau persis dia tersenyum ke arah saya, meringis dengan gigi-gigi hitamnya.

Tersentak, saya bangun dan langsung duduk. Diamput… saya mengutuk dalam hati.  Sampe keringetan dingin, ternyata cuma mimpi. Tapi jujur, rasanya tadi terlalu nyata untuk sebuah mimpi.

Dan yang kampret banget adalah, saya jadi haus…

Jadi bingung, mau ke dapur takut yang tadi di mimpi kejadian beneran.  Tapi kalo ndak minum saya ndak yakin bakal bisa tidur lagi.

Sebenarnya setelah saya pikir-pikir ndak ada jaminan juga setelah minum saya bisa tidur. Siapa tau gara-gara jalan ke dapur jadi seger, trus ndak bisa tidur. Dan siapa bisa menjamin bahwa yang tadi nongol di mimpi ndak bakal menampakkan diri di kamar? Dari dapur ke kamar kan cuma beberapa langkah. Hadah, makin ruwet.

Jadi gimana?

Bismillah… Yang di mimpi tetaplah dalam mimpi, saya minum dulu.  Tapi, sebelumnya saya nyalain lampu dapur…

Balik ke tempat tidur ternyata ngantuk saya belum sepenuhnya hilang. Langsung saja saya terombang-ambing antara alam sadar dan alam mimpi. Sensasi seperti tergoyang di awang-awang yang terjadi menjelang tidur ini selalu saya nikmati. Paling tidak sebelum saya sadar bahwa tempat tidur saya memang bergoyang, dalam arti sebenarnya.

Oalah gusti…

Sosok anak perempuan yang sama, berbaju putih dengan rambut panjangnya, melihat saya sambil meringis, sedang berdiri sambil mendorong-dorong ujung tempat tidur.

Kembali tersentak, saya gelagapan sambil melihat ke penjuru kamar. Mimpi dua kali ketemu sosok yang sama? Sumpah, sepertinya ada yang salah di sini.

Dan sekarang yang kampret kuadrat adalah mendadak saya sakit perut. Walaupun yakin ndak ada Soleh di kamar mandi saya, tapi dua kali mimpi ketemu sosok tadi mau ndak mau membuat saya mikir dua kali untuk ke kamar mandi.

Akhirnya tetep saja saya harus ke kamar mandi. Lha piye, kalo pipis mungkin masih bisa ditahan, yang satu ini kan susah. Tanpa acara melihat cermin saya langsung duduk manis di kloset.

Terdengar ketukan perlahan di pintu kamar mandi.

“Siapa?” Tanya saya. Ndak ada jawaban.

“Hihihihi….” Suara gema tawa anak perempuan di langit-langit langsung membuyarkan minat saya untuk buang air.

Asyu tenan… Saya ngambil rokok, keluar rumah menuju pos satpam. Pak Udin yang lagi enak-enaknya tidur saya bangunin, satpam kok kerjanya tidur thok. Pokoknya temenin saya ngobrol sampe orang-orang bangun mau subuh ke mesjid!

Besoknya saya ajak temen pabrik yang katanya bisa lihat makhluk halus itu ke rumah. Dia tolah-toleh, lihat ke dapur, lihat kamar, keluar lihat pojokan rumah, trus nanya, “Kamu kapan terakhir kali lewat kuburan kembar yang di jalan tembusan Sukarno Hatta?”

Saya mengingat-ingat, “Yo yang kemarin itu, malem-malem waktu abis ngopi sama sampeyan.”

Temen saya cengengesan, “Ndak papa kok, dia cuma lagi pengen maen. Nanti malem kamu anterin anak itu balik ke sana.”

Bajingan, enteng bener ngomongnya. Setelah itu saya garuk-garuk, “Caranya gimana?”

“Biasa saja, kamu anter pake mobil ke sana, ke kuburan kembar itu. Soalnya waktu ke sini dia juga numpang mobilmu.” Kata temen saya.

Saya makin garuk-garuk, “Lha taunya dia sudah naik mobil saya atau belum gimana?”

“Tenang saja, kamu pasti tau kok.” Temen saya kembali cengengesan.

Sekarang di sinilah saya, tengah malem nyalain mobil, sambil menunggu pertanda sosok anak perempuan berbaju putih itu sudah naik. Pertanda yang kata temen saya akan terlihat sangat jelas.

Dan pertanda itu memang sangat jelas, dari spion tengah saya bisa melihatnya, berambut panjang, duduk di kursi belakang, meringis dengan gigi-gigi hitamnya.

Nadia

“Nadia.” Jawabnya singkat, dengan sekilas tatapan yang ndak berani saya balas.

Hahaha… goblok! Berhari-hari mengkhayalkan beberapa pertanyaan, membuat skrip beberapa percakapan, dan ternyata yang berani saya tanyakan cuma nama. Setelah itu rutinitas kembali seperti biasa, saya melihat ke jalanan di belakang, sambil sesekali melirik si mbak yang di depan saya ini.

Jadi ceritanya sebagai anak kost yang miskin hiburan, terlantar di sebuah kota yang agak jauh dari peradaban, membuat saya lebih sering pulang telat dari kantor. Bukan acara lembur juga sebenarnya, tapi saya lebih menikmati waktu di kantor selepas jam kerja. Kapan lagi bisa ngadep komputer dengan segelas kopi dan sebungkus rokok, klebas-klebus tanpa kuatir ada yang terganggu?

Biasanya saya pulang menjelang jam sembilan, bukan apa-apa, setelah jam itu sudah ndak ada angkot yang lewat. Tempat duduk favorit saya di pojok belakang, biar ndak usah berbasa-basi sama sopirnya, karena saya termasuk orang yang ndak bakat ngobrol.

Ndilalah, sudah berapa hari ini tiap kali saya naik, di pojokan sana sudah ada mbak-mbak ini, lumayan bening dengan rambut lurus sebahu. Dan mendadak ngopi sambil klebas-klebus di kantor jadi kurang menyenangkan, rasanya lama bener nunggu jam sembilan, menunggu angkot yang sama, duduk di tempat yang sama, lalu ngobrol panjang lebar sambil ketawa-ketawa sama mbak-mbak ini.

Walaupun ngobrolnya cuma dalam khayalan… Baca lebih lanjut

Di Kantor Itu Ada Soleh

during_the_day_i_dont_believe_in_ghosts_at_night_im_a_little_more_open_minded__2013-07-07

Sebenarnya saya termasuk orang yang menganut prinsip “kerja kuwi sakmadya wae“, alias kerja itu ndak usah ngoyo, dikerjakan sebisanya saja. Kalo disuruh masuk jam 07.30 ya masuk jam 07.30, pulang jam 17.00 ya pulang jam 17.00. Ndak ada acara mengorbankan waktu makan siang juga. Kerja yang biasa-biasa saja. Dengan prinsip “jangan sampai pekerjaan mengganggu waktu ngopimu”, saya memang bukan tipikal pegawai yang berbakat untuk jadi favoritnya boss.

Tapi status buruh, apalagi buruh kroco paling junior, mau ndak mau kadang mempersempit pilihan. Seperti sekarang ini, dua hari menjelang evaluasi dari kantor wiayah. Karena boss gede saya termasuk orang yang konservatif tingkat dewa, alias pengen semua disiapkan selengkap-lengkapnya dan seaman-amannya, sementara yang menyiapkan adalah orang-orang yang kerjanya sakmadya, terpaksa saya harus melanggar prinsip. Malam ini saya lembur!

“Mas, daerah Kejayan sampai Purwosari kalo malem rawan lho. Apalagi sampeyan naik motor. Mending nginep saja sekalian.” Kata seorang pegawai senior.

Lengkap sudah, lembur, dan nginep. Kurang hebat apa saya ini?

Kantor saya sebenarnya termasuk bangunan baru, bukan gedung lama warisan jaman Belanda bercat putih dengan nuansa wingit yang sering jadi tempat shooting acara dunia lain. Letaknya juga di tepi jalan utama, di tengah Kota Pasuruan, tapi konon…

“Kalo malem saya ndak pernah berani tidur di dalem Mas, mending di pos.” Tutur seorang satpam.

Baca lebih lanjut

Cerita Si Penagih Utang

Konon suatu hari ada seorang penagih utang dateng ke rumah seorang debitur yang sudah lama nunggak utangnya. Si penagih utang berusaha menjelaskan panjang lebar maksud kedatangannya, mulai dari sebab munculnya tagihan sampe segala macem usaha yang sudah dilakukan untuk menagih utang tersebut.

“Jadi Pak, maksud kedatangan saya kesini adalah untuk mengingatkan bahwa sampeyan masih punya kewajiban ngelunasi utang sebesar tiga juta rupiah. Silakan sampeyan datang ke kantor untuk menyelesaikan kewajiban tersebut. Kalo misalnya merasa keberatan melunasi sekaligus sampeyan bisa bicarakan dulu mekanismenya, mungkin nanti sampeyan bisa mencicil.” Kata si penagih utang.

Si tuan rumah yang sudah mumet mikir bayaran anak sekolah, utang ke tukang sayur, tunggakan arisan RT, mertua yang lagi sakit, dan puluhan beban dunia lainnya tersebut seakan ndak mendengar perkataan si penagih utang, bahkan mempersilakan duduk pun ndak. Dia masih tenang duduk anteng di pojokan teras rumah sambil meneruskan kegiatannya.

Dengan logat daerah yang cukup kental akhirnya sang tuan rumah berkata, “Saya lagi ngasah arit Dik, makin lama sampeyan di sini makin lama juga saya ngasah aritnya. Dan kalo sampeyan belom tau, arit ini makin lama diasah akan makin tajam!” Baca lebih lanjut

Tidak

Tidak katamu, dan aku masih termangu. Sembilan kali dentang bunyi jam mungkin bisa membantu, tapi yang menempel di ruang tamu bukan jenis yang itu. Kamu salah tingkah, mungkin kamu sangka aku sedang menahan sedih, atau mungkin marah. Bukan, bukan itu, aku sedang berusaha menghilangkan canggung. Setelah berbulan-bulan kita terlihat dekat, selalu berjalan beriringan, aku tak mau kata tidakmu membuat jurang.

Aku bilang kalau sekarang aku pulang meninggalkan suasana canggung maka nuansa itulah yang akan selalu menghinggapi tiap pertemuan. Bisa jadi besok berani memanggilmu pun akan menjadi sebuah keajaiban. Tolong beri waktu sejenak, biarkan aku menetralkan rasa. Aku sedang berusaha menyamakan penolakanmu dengan kata tidak yang kamu lontarkan saat aku menawarkan jaket waktu gerimis turun saat itu. Tidak akan pernah sama rasanya, aku tahu, tapi paling tidak biarkan aku mencoba menurunkan derajat kekeramatan kalimatmu. Baca lebih lanjut

Menunggu di Janti

jembatan layang janti

Dingin, aku merapatkan jaketku. Entah sudah berapa batang rokok yang kuhabiskan menunggu bis sialan ini. Kulihat jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 12 malam. Mataku sampai bosan melihat ke arah jembatan layang Janti. Sudah hampir dua jam aku menunggu di sini, bener-bener brengsek, tak satupun bis yang mau berhenti. Mana sendirian pula, jadi agak-agak merinding, campuran antara takut ada preman kesasar sama aroma mistis malem Jumat Kliwon yang dikenal orang Jawa sebagai malam keramat.

Dari arah barat kulihat sepeda motor melambat, nampaknya dia mau nunggu bis juga. Yang dibonceng seorang pemuda gondrong dengan jaket bergambar lambang salah satu perguruan tinggi di ringroad utara, dia turun sambil melepaskan helmnya.

“Ati-ati dab!” Si pengendara motor muter balik sambil melambaikan tangannya.

Lumayan, ada barengan di sini, minimal kalo sampe ada yang mau malak bisa kabur ke arah berlainan biar premannya bingung mau ngejar yang mana.

Ndak usah ketawa, aku males berantem sama orang ndak mikir masa depan macem preman jalanan, sedikit trauma juga gara-gara dulu waktu ribut sama preman mereka seenaknya ngeluarin pisau. Lha siapapun yang kena kan pasti berurusan sama polisi, dia mungkin mikirnya masuk tahanan ndak masalah, bisa makan gratis. Kalo aku? Bisa digebuki bapakku! Baca lebih lanjut