Pendidik, Penglulus, dan Pengatrol Nilai

ujian nasional

ujian kok dipoto, ngrusak konsentrasi...

Waktu saya kelas 6 SD dulu, sebelum diadakan Ujian Nasional yang waktu itu berjudul Ebtanas alias Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional, ada ujian percobaan yang bernama Pra-Ebta. Menjelang ujian boong-boongan itu Guru wali kelas saya yang orangnya rada galak mem-briefing di depan kelas, yang intinya adalah demi kebaikan sekolah, jangan pelit untuk berbagi jawaban, semua harus saling membantu.

Waktu Pra-Ebta berlangsung semua teman di ruangan berharap jawaban dari saya, wajar, karena saya ini paling pinter di SD. Maap bukannya sombong, ini kenyataan. *dirajam* :mrgreen:

Setelah Pra-Ebta selesai, wali kelas saya mengevaluasi dan mem-briefing lagi, katanya ruang ujian saya paling rusuh, contek-contekan sangat jelas terlihat. Guru saya mengatakan bahwa saling membantu itu wajib, tapi haruslah dengan cara yang cantik. Jangan terlalu mencolok.

Mungkin Depdikbud yang sekarang berubah nama menjadi Diknas sudah mencium adanya praktik ndak sehat ini, maka dibuatlah aturan bahwa guru ndak boleh jadi pengawas di sekolah sendiri.

Efektifkah?

Malah lebih seru lagi ceritanya. Di tempat saya waktu itu ada istilah sekolah kawan dan sekolah lawan. Misalnya SD Sukamaju I sampe SD Sukamaju X, biasanya berkawan, kalo ternyata tuker-tukeran pengawas dapet mereka, beruntunglah siswa, ndak cuma pengawasan agak longgar, bahkan kalo perlu siswa dibantu. Yang ndak enak kalo ternyata dapet pengawas dari SD saingan, misalnya SD Sukaminggir III, siswa bisa mati kutu.

Mungkin inilah bibit-bibit semangat korps yang salah ditanamkan, bukan berani karena benar, tapi berani karena demi kepentingan bersama. Entah kepentingan bersama yang mana yang dimaksud. Makanya jangan heran kalo ada polisi tembak-tembakan sama tentara, ada tentara tawuran sama warga kampung. Lha wong dari kecil memang sudah diajarkan kalo demi kepentingan bersama ndak papa berbuat salah.

Saya ngerti kalo ada siswa yang ndak lulus atau nilai rata-rata jeblok akan menjadi beban mental buat sekolah, dalam hal ini para guru. Tapi mbok coba dipikir lagi, sejak kapan guru berubah status dari seorang pendidik menjadi penglulus, atau pengatrol nilai?

Seorang pendidik menurut Ki Hajar Dewantoro haruslah bisa menjadi teladan yang bisa dicontoh, bisa membangun semangat swakarsa dan mandiri, serta mampu memberi dorongan pada anak didik. Seorang pendidik juga harus sadar bahwa ada tiga proses yang dilakukan dalam belajar, mengamati, menirukan, dan menyempurnakan.

Kalo urusan contek mencontek saja ndak dilarang, bahkan dianjurkan, gimana kira-kira pemahaman murid tentang kerja keras dan kejujuran? Agak muluk tho kalo sampeyan disuruh berbuat curang tapi setelah itu sampeyan dituntut punya integritas moral.

Eh, tapi itu sekolah saya jaman dulu ding. Sekolah sekarang tentunya berbeda, semoga.

*gambar diambil tanpa ijin dari sini

14 comments on “Pendidik, Penglulus, dan Pengatrol Nilai

  1. yimz mengatakan:

    pertamax..
    tumben ga nyinggung jaman sma kang, ๐Ÿ˜€

    #stein:
    kowe ngerti dhewe cak, jaman SMA aku paling bodo :mrgreen:

    • yimz mengatakan:

      haiyah.. merendahkan diri meningkatkan mutu nih ceritanya. wakakakaka.. kalo ak pengalaman dikumpulkan di dpn sekolah oleh Dr. Akula yg bicara ttg solidaritas itu adalah pengalaman pertamaku selama sekolah dan menghadapi ujian. sempat merasa aneh dan tidak nyaman dg kontradiksinya. tp lagi2 ini hanya berbeda cara memandangnya saja..

      #stein:
      gak merendah cak, begitulah adanya. soal kerjasama ini aku rodo ndak beruntung jaman SMA, njaluk jawaban ditolak terus, sampe saking jengkelnya kertas ujian tak remes-remes trus tak lempar ke kepala salah satu temen sambil misuh. akhirnya Bismillah modal ngitung kancing :mrgreen:

  2. deeedeee mengatakan:

    aamiin.. moga ga gitu lagi.. lakukan hal baik dengan cara yang baik ๐Ÿ˜‰

    #stein:
    setuju mbak, niat saja ndak cukup, rukunnya juga harus bener ๐Ÿ™‚

  3. big sugeng mengatakan:

    itu koalisi juga seperti itu, pinginnya salah bener harus ndukung ya….

    #stein:
    kalo sudah masuk ladang politik memang aneh om, sepertinya logika buruh macem saya ndak njangkau logika politik ๐Ÿ˜€

  4. luluk niswatin mengatakan:

    jadi guru memang dilematis, terutama dalam menghadapi masa-masa ujian seperti sekarang ini. duh, rasanya deg-deg an ga karuan. idealnya memang seperti itu, klo kita ngajar di tempat yang muridnya “oke”. tapi klo muridnya “ga oke”? trus ga lulus smua jadi beban moral juga. ups, kok curhat ya??seharusnya ujian nasional ga jadi penentu utama kelulusan, seperti saat aku sekolah dulu, mungkin kejujuran seperti yang kita harapkan bisa terwujud. amin…

    #stein:
    betul, saya pikir juga ndak fair hasil belajar bertahun-tahun cuma ditentukan dalam waktu tiga hari. sepertinya masih ada yang ndak pas

  5. arsumba mengatakan:

    “kalo demi kepentingan bersama ndak papa berbuat salah”
    la ini.. yang sampek sekarang tetep diamalkan.. hehehe..

    #stein:
    banyak contohnya tho mas, mulai dari level kroco sampe elit ๐Ÿ˜€

  6. warm mengatakan:

    Unas sekarang membuat orang lebih mikir yg penting lulus dengan cara apapun, walau ya nggak bisa digeneralisir,

    ah masih mumet saya soal unas ini, sistemnya lebih bagus ebtanas kali ya

    eh kalo soal pengawas dari guru sekolah lain, perasaan dulu waktu SD sudah diterapkan gitu di kampung saya

    #stein:
    memang bedanya opo tho om, sistem unas sama ebtanas?

  7. prasetyandaru mengatakan:

    Tau gitu saya pindah ke sekolah sampeyan pak lek…saya dulu ujian SD ditungguin suster orang belanda..di jidatnya itu seperti ada radar yang bisa ndeteksi orang nyontek..mata kita nglirik kanan ato kiri sedikit aja gitu dy langsung tau..jiyaaan.

    #stein:
    wew, manteb tho, brarti sampeyan diajari jujur dari dulu ๐Ÿ˜€

  8. chocovanilla mengatakan:

    Ebtanas dan praebta? Hehehe… rasa-rasanya kita seangkatan nih ๐Ÿ˜€

    Tapi dulu di sekolahku gak diajarin kerjasama kerjain ulangan tuh, Mas?

    #stein:
    saya juga ndak diajarin sih mbak, cuma dianjurkan ๐Ÿ˜†

  9. macangadungan mengatakan:

    Waktu saya UAN SMA juga seperti itu, disuruh gurunya untuk jangan pelit kasih contekan sama temen dengan alasan “Kan lebih enak kalau kita semua bisa lulus bareng temen-temen.”

    #stein:
    bersama kita bisa! :mrgreen:

  10. darnia mengatakan:

    lha, bukannya “pendidikan” jaman sekarang lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas?

    #stein:
    apa maksudnya?

    • darnia mengatakan:

      sekolah yang dianggep unggul adalah sekolah yang mampu meluluskan banyak siswa entah dengan kemampuan kayak apa daripada sedikit siswa yang benar-benar mampu kan?

      #stein:
      bener banget, kalo sudah begini orang liatnya statistik saja ๐Ÿ˜†

      • yimz mengatakan:

        kualitas jg bisa diukur dg statistik lo cak..:)

        #stein:
        ampun cak, lali nek awakmu rojo matematika ๐Ÿ˜†

  11. BeINSTORE mengatakan:

    Salut untuk semua posting2 yang menarik. visit back 06:31

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s