Memasyarakatkan Kemewahan

Tadi pagi acara ngopi di warung sebelah pabrik diwarnai percakapan tentang sidak yang dilakukan Satgas Pemberantasan Mafia Hukum di Rumah Tahanan Pondok Bambu. Wajar, soale yang terbayang selama ini yang namanya rumah tahanan selalu identik dengan kumuh, pengap, dan bernuansa bengis.

“Rumahku kalah bagus dibanding ruang tahanannya si Ayin.” Kata Kang Noyo sambil nyeruput kopi.

Saya juga sempat terkagum-kagum waktu liat ruangan Artalyta Suryani yang berisi perabotan mewah, malah saya sempat berpikir waktu disidak itu Ayin lagi berada di klinik perawatan yang ada di luar penjara. Memang pernah saya dengar desas-desus kalo segala pelayanan di penjara bisa dibeli, tapi ndak nyangka kalo bukan sekedar pelayanan yang disediakan, kemewahan pun dijual.

Money talk! Di sini kalo kamu punya duit apa sih yang ndak bisa dibeli?” Welhah! Kang Noyo sekarang sok-sok keminggris.

“Yang saya sesalkan kenapa semua fasilitas itu ada di rumah tahanan.” Kata saya.

“Memang kadang keterlaluan orang-orang ini, mentang-mentang punya duit lantas semua dibeli. Tololnya lagi yang ngelola penjara kok ya manut saja.” Kang Noyo menggerutu.

Saya ngakak, “Bukan itu maksud saya Kang. Mestinya fasilitas aneh-aneh itu jangan ada di rumah tahanan, tapi ditaruh di lembaga pemasyarakatan.”

Kang Noyo melihat saya dengan ekspresi aneh, “Maksudmu piye?”

“Maksud saya Kang, yang namanya rumah tahanan kan berfungsi untuk menahan. Menahan itu lawan kata dari mengumbar, lha kalo semua fasilitas dikasih seperti itu kan namanya mengumbar, makanya saya bilang itu salah. Beda lagi kalo di lembaga pemasyarakatan, dari namanya kita tau kalo fungsi dari lembaga ini adalah melatih orang yang di penjara agar nantinya bisa hidup selayaknya orang lain, ndak kaget waktu kembali ke masyarakat.” Ujar saya.

“Dulu pernah saya diajak ke tempat karaoke, canggung, wong seumur-umur saya ndak pernah masuk ke tempat karaoke. Untuk mencegah orang-orang yang sekarang lagi dipenjara bernasib sama seperti saya, keliatan ndeso waktu pertama kali masuk tempat karaoke maka di lembaga pemasyarakatan perlu disediakan ruang karaoke seperti yang dimiliki Liem Marita alias Aling, terpidana kasus narkoba yang divonis seumur hidup sama Mahkamah Agung. Ini bukan kemewahan lho Kang, semata-mata agar orang yang dipenjara nanti ndak canggung waktu kembali ke masyarakat.”

“Soal spring bed, tipi layar datar, atau AC, juga seharusnya disediakan di lembaga pemasyarakatan. Biar mereka yang menghuni penjara ndak kaget nanti waktu kembali ke masyarakat. Memalukan tho kalo suatu saat mereka masuk ruangan AC trus bingung kenapa udaranya dingin sekali trus bersin-bersin hanya gara-gara seumur hidup mereka belum pernah ngrasain AC.”

“Maksudmu semua fasilitas yang ditemukan sama Satgas Pemberantasan Mafia Hukum itu ndak aneh?” Tanya Kang Noyo dengan nada bingung.

“Siapa bilang ndak aneh Kang? Aneh tho, wong rumah tahanan kok segitu mewahnya. Harusnya yang mewah itu lembaga pemasyarakatan. Sampeyan sering baca iklan tentang perawatan kulit dengan laser tho? Dan saya berani taruhan sampeyan ndak tau perawatan itu prosesnya seperti apa. Makanya saya salut sama Artalyta yang memiliki fasilitas seperti itu di penjara. Cuma sayangnya kok ya di rumah tahanan, coba kalo di lembaga pemasyarakatan, orang yang dipenjara bisa mencoba, jadi nanti waktu kembali ke masyarakat ndak sendeso sampeyan.”

“Halah! Denger omonganmu nanti lama-lama aku ikut edan!” Kang Noyo pergi sambil misuh-misuh.

9 comments on “Memasyarakatkan Kemewahan

  1. Chic mengatakan:

    woooogh ya fasilitas-fasilitas itu emang sudah menjadi rahasia umum kok… lah saya sendiri ini saksi matanya bagaimana sel-sel koruptor-koruptor itu demikian mewah, dan semua ya serba duit. mau bawa tipi, duit. mau bawa henpon, keluar duit lagi buat petugas penjara. Pokoknya selama mampu bayar, punya kamar layaknya hotel bintang lima ga mustahil di penjara mah.

    ga cuma itu, kita yang dateng menjenguk pun harus pegang duit banyak. dateng ke penjara, ninggalin katepe ke petugas, harus ninggalin duit minimal 20rb. sampe ruang tunggu, begitu tahanan yang kita jenguk dateng, kasih duit lagi ke petugas. bawa makanan, kasih duit lagi.

    ya begitulah pengalaman saya bolak balik cipinang dulu buat ngurus klien yang ditahan.

    kemana duitnya? masuk kantong petugas. emang ada gitu laporan keuangan penjara, atau tiket resmi dari pemerintah? ya ga ada laaaah… 😆

  2. ruliandri mengatakan:

    terus apa gunanya rumah tahanan kalau semewah itu ya?
    apa supaya tahanannya gampang dicari aja, tapi toh tetep ada yang bisa keluar dari rumah tahanan sekedar untuk main asalkan bisa bayar petugasnya. @_@

  3. arfathah mengatakan:

    hahaha lucu juga kaya acara radio cilacap yang namanya apa itu lupa dah delapan tahun yg lalu dengernya kalo ga salah yang bawa si klewer sama si klowor kkkkk :d
    wah cocok nih si kangmas blognya jadi pembawa acara komedi.

  4. desty mengatakan:

    semalam nonton tv, dimana menhumkam ditanyain, membayar petugas untuk mendapat fasilitas seperti itu termasuk pelanggaran nggak. and he didn’t answer it directly…

  5. Mawi Wijna mengatakan:

    menurut saya mas, selama uang masih bisa “ditegakkan” di dalam rumah tahanan, yang namanya hukum dan keadilan pasti kalah tegak.

  6. novee mengatakan:

    istilahnya ada uang abang sayang, ga ada uang abang kelaparan..hehhe..ga usah cuma kemewahan, la wong narkoba & ruangan khusus untuk melampiaskan seks bisa di sediakan di dalam penjara, & bisa dengan sangat mudah didapatkan..selama sampeyan punya duit..uedan tenan!

  7. deady mengatakan:

    kira” kamarnya Ayin dikosin ga ya?
    heheu

    salam kenal ya mas

  8. kucingusil mengatakan:

    nyinyirnya berasa pas banget di artikel ini, mas 😆

    penjara kok ya pake wallpaper bunga-bunga *geleng-geleng kepala*

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s