Khusus 18 Tahun Ke Atas

Kang Noyo lagi mumet, gara-garanya dia mendengar kalo seseorang yang mempekerjakan pembantu rumah tangga di bawah usia 18 tahun terancam denda 500 juta dan penjara 5 tahun. Padahal si Parmi, pembantu yang dia impor dari Gunung Kidul itu baru berumur 16 tahun.

“Iki piye tho Le, mosok aku jadi penjahat cuma gara-gara punya pembantu umur 16 tahun?” Tanya Kang Noyo gundah.

Jadi ceritanya Kang Noyo ini seorang buruh dengan dobel gardan, yang artinya selain Kang Noyo sebagai penopang utama ekonomi keluarga, istrinya juga mburuh. Otomatis butuh pembantu, selain untuk beres-beres rumah juga yang paling utama untuk njaga anaknya yang masih balita.

Setelah sempet agak susah payah nyari, akhirnya dapet dari Gunung Kidul, masih terhitung sodara jauh. Orang tua si Parmi ndak sanggup mbiayai anaknya untuk meneruskan ke SMA, daripada di rumah ndak ada yang bisa dikerjakan selain mbantu di sawah yang hasilnya ndak seberapa, akhirnya si Parmi disuruh ikut Kang Noyo jadi pembantu.

“Aku ini kurang opo tho Le? Semua keperluan si Parmi dari mulai alat mandi sampe bedak tak kasih, bayarannya utuh, lebaran ada THR, jatah pulang 2 kali setahun diongkosi. Kerjaan yo ndak berat, wong kamu tau sendiri rumahku cuma sauplek gitu. Kriminalku itu sebelah mana?” Tanya Kang Noyo lagi.

Saya mesam-mesem, memang saya pernah dengar si Parmi cerita kalo duit bayaran yang dia terima dari Kang Noyo sekarang sudah jadi beberapa ekor kambing di Gunung Kidul sana, rencananya kalo sudah banyak nanti mau dijual trus dituker sapi.

“Sik tho Kang, yang bilang sampeyan mau dipenjara itu siapa?” Tanya saya.

“Lha itu katanya ada undang-undang soal pembantu rumah tangga, kalo pembantu di bawah 18 tahun majikannya kena 5 tahun penjara sama denda 500 juta. Ediyan po? Wong itu rumahku sama isinya kalo dijual ndak nyampe 500 juta.” Ujar Kang Noyo.

“Tenang dulu tho Kang, itu masih dibahas, belum jadi undang-undang.” Kata saya.

Konon memang saat ini di DPR memang lagi dibahas rancangan undang-undang tentang pembantu rumah tangga. Salah satu pasal di situ menyebutkan kalo pelanggaran batas usia minimal PRT diancam hukuman minimal 2 tahun dan maksimal 5 tahun, atau denda minimal 200 juta dan maksimal 500 juta.

Terlepas dari pro kontra soal sanksi pidana yang menurut beberapa pihak dirasa terlalu berat, saya bisa memahami semangat yang melatarbelakangi pengusung rancangan undang-undang ini.

Tapi sebenarnya perlu ndak sih mengatur pembatasan umur lewat undang-undang PRT?

Di pasal 68 Undang-undang No 13 Tahun 2003 tentang ketenagakerjaan ada ketentuan dilarang mempekerjakan anak, tapi di pasal berikutnya disebutkan kalo ada pengecualian bagi anak umur 13-15 tahun. Mereka bisa dipekerjakan untuk pekerjaan ringan dengan syarat ada ijin dari orang tua, waktu kerja maksimal 3 jam sehari, serta dilakukan pada siang hari dan tidak mengganggu jam sekolah.

“Lha kalo yang umur 16-18 piye Le? Trus yang sudah ndak sekolah?” Tanya Kang Noyo.

“Mbuh Kang.” Jawab saya.

Yang jelas memang ada ancaman sanksinya, penjara minimal 1 tahun dan maksimal 4 tahun, atau denda minimal 100 juta dan maksimal 400 juta.

Di pasal 13 ayat 1 huruf b Undang-undang Nomor 23 tahun 2002 tentang Perlindungan Anak juga menyebutkan bahwa anak berhak mendapat perlindungan dari eksploitasi secara ekonomi. Ancaman pidananya penjara maksimal 10 tahun dan/atau denda paling banyak 200 juta.

“Waduh! Berarti aku memang kriminil yo Le?” Kang Noyo makin mumet.

Saya sendiri agak bingung, pemerintah maunya apa. Anak-anak ndak boleh kerja tapi di sisi lain hak anak-anak yang juga diatur dalam undang-undang, misalnya seperti yang tercantum dalam pasal 9 undang-undang Perlindungan Anak, setiap anak berhak memperoleh pendidikan dan pengajaran dalam rangka pengembangan pribadinya dan tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat dan bakatnya, ndak diurusi.

Senengnya mbikin aturan, pura-pura ndak tau kadang aturannya tumpang tindih, kadang ndak liat kalo konsep yang dibikin suka ndak nyambung sama kenyataan di lapangan.

Kalo memang pemerintah bisa menyejahterakan petani kecil kayak orang tuanya si Parmi di Gunung Kidul sana, dan juga menyekolahkan si Parmi dengan biaya terjangkau, sukur-sukur gratis minimal sampe SMA, mbok yakin dia juga sekarang ndak sedang jadi pembantu rumah tangga.

Jiyan!

25 comments on “Khusus 18 Tahun Ke Atas

  1. ragil kuning mengatakan:

    Benar juga mas, kadang keputusan pemerintah tu seperti dilema bagi masyarakat kecil. Katanya wajib belajar 9 tahun, tapi sekarang lulusan sarjana saja banyak yang nganggur. Padahal mereka sudah sekolah bertahun2, tidak hanya 9 tahun. Apalagi yang hanya lulusan SMP??

    Mereka sudah memenuhi wajib belajar 9 tahun, tapi tetap saja tak banyak lowongan yang mempekerjakan anak lulusan SMP, bahkan cenderung tak ada.. Lalu bagaimana nasib mereka?

    #stein:
    kata Ebiet coba tanya pada rumput yang bergoyang

  2. Vicky Laurentina mengatakan:

    Dulu keluarga saya mempekerjakan PRT berumur 12 tahun. Menurut saya sih, kami menggajinya dengan memadai. Tapi sekarang dia sudah berhenti.

    Sebenarnya dia berhak saja menolak pekerjaan itu. Tapi kan dia yang mau?

    Saya setuju kalau PRT dilarang berumur 15 tahun ke bawah. Tapi nanggung, sekalian aja sampek umur 18, supaya dia (harus) bersekolah. Tapi ya mesti ada pengawasnya, sanksinya buat yang melanggar, gitu lho.

    #stein:
    itu memang sampe 18 taun kok mbak, sanksinya pidana, tapi kalo itu bener dilaksanakan apa ya pemerintah mau nanggung yang selama ini kerja?

  3. chocoVanilla mengatakan:

    Walah, pemerintah mang senenge ngeceh-ceh pikiran! Klo gak boleh kerja ya mbok dibiayai sekolahnya. Hobby kok bikin undang-undang. Klo mang gak isa nerusin sekolah trus mesti bantu ekonomi keluarga ya mbok biarin aja jadi PRT, wong gaji utuh, semua kebutuhan dicukupi. Paling gak usia 16 dah bolehlah.
    Pemerintah tuh gak mikir wong jaman sekarang cari pembantu tuh susahnya minta ampun! Huh!

    (emak-emak ngomel nih!)

    #stein:
    hooh mbak, susah tenan ki, pada milih jadi TKI :mrgreen:

  4. soewoeng mengatakan:

    nuynggu sampe sampean jadi menteri sosial kayaknya baru terwujud wakakakaka

    #stein:
    halah

  5. koplak mengatakan:

    maju kena mundur kena

  6. soewoeng mengatakan:

    nunggu mas stein jadi menteri sosial baru terlaksana kali ya?

  7. devieriana mengatakan:

    terus jadinya piye? nggak boleh mempekerjakan yang usia dibawah 18 tahun ya? baby sitter-nya keponakanku kayanya masih piyik itu. Tapi telaten & sabar banget nagsuh keponakan2ku.. Mosok mau dipulangkan? Kasian.. 😦
    Kasian keponakanku & dianya juga tentu..

    #stein:
    malah sebenernya yang masih piyik itu enak ngaturnya, blom punya pikiran macem-macem

  8. Ceritaeka mengatakan:

    Misuhanmu itu lho mas…
    Khas banget…

    barti untunglah gue selamat. tdk memperkerjakan asisten rumah tangga dibawah umur 🙂

    #stein:
    ini gaya remaja labil mbak, masih bingung nyari bentuk 😆

  9. Dewa Bantal mengatakan:

    kalau disini, dibawah 18 taon itu cuman gak boleh jadi bintang filem porno 😆

    Kalo sekedar kerja sih, bukan dilarang tapi dibatasi. Ada aturannya, kayak seminggu gak boleh lebih dari 20 jam, mulai kerja gak boleh diluar jam 7 pagi – 5 sore (aturan setiap propinsi berbeda).

    Tapi itu RUU cuman buat PRT doang ya? Memang ada apa sih dengan PRT? Jadi mending memperkejakan anak2 sebagai pengamen? daripada dikasih atap untuk berteduh dari hujan, dan bantal untuk tidur?

    #stein:
    brarti sampeyan sudah bisa jadi bintang porno? *eh*

  10. prasetyandaru mengatakan:

    kan 1 UU para anggota ndapet bonus paklek..kayak pabrik sampeyan yang kejar target itu..kalok target masuk, ndapet bonus to..hanya skala dan jenis kerjaannya yang beda

    #stein:
    uang rapatnya lumayan yo mbak 😆

  11. Asop mengatakan:

    Duuuuh kaget saya. 😀
    Dulu waktu masih di SUrabaya dan saya masih SD sampe SMP, pembantu di rumah saya ada yang di bawah 18 tahun. Ana loro se, sijine remaja, sijine maneh wis 20 tahunan. DUh duh… 😦

    #stein:
    tunggu saja realisasinya gimana

  12. mawi wijna mengatakan:

    ngene ae Kang, bocah e kuwi sisan dididik les privat opo keterampilan ngono lah, yen ngono kan ra enek alasan yen bocah e kuwi mung dadi pembantu thok…iyo tow..

    #stein:
    sekarang katanya lagi ada di perumahan saya proyek LSM untuk ngasih pendidikan tambahan buat pembantu di bawah umur, yang mau sekolah bisa ikut kejar paket C, kalo yang ndak mau bisa ikut kursus ketrampilan. sayangnya ada juga majikan yang ndak mbolehin

  13. budiono mengatakan:

    inilah indonesia raya…

    #stein:
    negara kita!

  14. edratna mengatakan:

    Yang diatur sebenarnya bukan umur, juga bukan gaji, karena dalam istilah Jawa ada yang ngenger….nggak apa-apa nggak digaji tapi disekolahkan, dapat makanan dan tempat tidur, serta dibiayai kalau sakit.

    Kalau diatur layaknya perusahaan pakai UMR, malah nanti kasihan yang tak dapat meneruskan sekolah (soalnya pembantuku disekolahkan semua…kalau yang udah nggak mau, kursus ketrampilan seperti menjahit dsb nya)

    #stein:
    beruntung sekali pembantu dapet majikan seperti sampeyan bu

  15. mercuryfalling mengatakan:

    Judulnya nyerempet eh hehe

    Jadi kalo doi umur 17 and blm boleh dikerjain, bakal dpt tunjangan dari pemerintah gak?

    Alah ntar palingan pada malusin KTP jdnya. Atau, statusnya berubah jd “sodara” tp ya kerjanya kayak pembantu.

    #stein:
    semua bisa diatur :mrgreen:

  16. Rindu mengatakan:

    yang bikin UU pasti gak pernah ngerasain tinggal dikampung yang sekolah itu sulit banget

    #stein:
    saya pikir juga begitu mbak, kebijakan yang kurang membumi

  17. Billy Koesoemadinata mengatakan:

    yang ngusulin UU cuman tinggal di kota sih.. dan, ga pernah ngerasain sulit sekolah di umur2 sebelum 18 taun..

    kalo mau, bikin dulu UU yang ngatur musti wajib sekolah gratis sampe umur 18 taun kali ya..

    #stein;
    sepakat!

  18. hitamputih mengatakan:

    wong cari duit halal kok dilarang..

    #stein:
    maksudnya sih baik, sayangnya kondisi ideal yang (mungkin) dijadikan asumsi, yakni semua anak yang ndak kerja berarti lagi sekolah ndak terjadi

  19. Chic mengatakan:

    waduh, mbak-nya anak ku umurnya baru 15 thn. Pengen kerja gara-gara pengen punya sawah sendiri. Ogah di kampung katanya cuma nggarapi sawah orang. Males. Enakan kerja di tempat saya sekarang. Tinggal gratis, makan gratis, mau butuh apa-apa tinggal bilang, gaji utuh.

    Ha piye? saya kan ndak menyiksa ART saya kayak di koran-koran itu. Lah mosok trus saya jadi kriminal. Pemerintah ga konsisten banget sih huuuuuuu 😈

    #stein:
    sabar mbak. hehehe 😆

  20. macangadungan mengatakan:

    errr, pemerintah itu seperti semacam bikin aturan tapi untuk negara dan rakyat di awang2 kepalanya dia aja. karena ndak tahu kenyataannya gimana di bawah sini…

    #stein:
    saya sih berharap ini ndak jadi peraturan, minimal dimodif dulu lah

  21. […] Read more from the original source: Khusus 18 Tahun Ke Atas « Mas Stein […]

  22. […] Original post:  Khusus 18 Tahun Ke Atas « Mas Stein […]

  23. […] Here is the original post: Khusus 18 Tahun Ke Atas « Mas Stein […]

  24. […] Go here to see the original: Khusus 18 Tahun Ke Atas « Mas Stein […]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s