Sedikit Toleransi

Hidup di komplek kecil kayak saya ini gampang-gampang susah, gampangnya karena isinya cuma sedikit jadi kalo mau koordinasi gampang, susahnya juga karena cuma sedikit kalo ada masalah semua warga bakal tau.

Beberapa hari yang lalu Kang Noyo cerita sama saya kalo Pak Dibyo yang istrinya beda agama itu ribut sama Pak Karto yang rumahnya di pojokan. Saya tanya masalahnya apa, Kang Noyo bilang gara-gara istrinya Pak Dibyo ngadain acara nyanyi-nyanyi di rumahnya. “Kebaktian maksud sampeyan?” Tanya saya.

“Mungkin, yang jelas abis itu Pak Karto keluar sambil marah-marah, katanya kalo mau bikin acara jangan di sini, nanti warga kampung bisa marah.” Ujar Kang Noyo.

Doh! Ini masalah sensitip yang berbau SARA, kenapa yang kayak gini bisa terjadi di komplek saya? Saya bener-bener ndak tau kejadiannya, wong kalo sampe rumah biasanya saya langsung angkrem di rumah, kalo ndak ya bablas di warungnya Mbok Darmi sama Kang Noyo. Jadi agak kaget juga ndenger beritanya.

Saya ndak tau apa yang ada di benak Pak Karto waktu marah-marah, pun saya ndak tau ritual apa yang dijalankan istrinya Pak Dibyo saat itu, yang saya lebih ndak ngerti lagi, kenapa harus ribut?

Agama saya ndak mengajarkan ribut-ribut, apalagi mengganggu ritual agama lain. Dalam sejarah bahkan diceritakan pernah waktu Nabi Muhammad menerima tamu 60 orang kristiani dan tiba waktu melaksanakan kebaktian mereka dipersilakan melaksanakan kebaktian di dalam masjid. Begitu tolerannya Nabi Muhammad, wajar tho saya sedih kalo ada sodara muslim saya yang bersikap keras yang menimbulkan kesan kalo Islam itu agama yang kaku dan ndak menyisakan ruang buat toleransi.

Saya pikir tiap agama berhak untuk melaksanakan ritualnya, di mana pun selama ndak ngganggu kepentingan umum. “Lha kalo nyanyi-nyanyi gitu apa ndak ngganggu Le?” Tanya Kang Noyo.

“Sedikit gangguan kan wajar Kang, makanya ada yang disebut toleransi. Lagian kalo sampeyan lagi ngaji atau sholawatan di masjid make pengeras suara kan sebenernya berisik juga, toh orang memaklumi. Mosok ya kita ndak mau toleran?” Kata saya.

Pernah ada kejadian lucu waktu jaman saya masih ngontrak dulu. Kebetulan di depan rumah saya ada dua rumah berhadap-hadapan, yang satu kristen, yang satu muslim. Suatu malem mereka ngadain acara, kok ya ndilalah bareng, yang satu kebaktian make speaker, yang satu pengajian make speaker juga. Karena bukan suatu kesengajaan ya mereka biasa saja, ndak terus lempar-lemparan speaker.

Kata orang pelajaran terbaik diberikan dalam contoh perbuatan, saya jadi ingat kata-kata Kyai Haji Musthofa Bisri, “Bagaimana bisa kalian menyebut diri rahmatan lil alamin, rahmat untuk seluruh alam, sambil menebarkan ketakutan di muka bumi?”

Iklan

10 comments on “Sedikit Toleransi

  1. christin berkata:

    Saya ndak percaya tau kapan hal kayak begini ini bisa berakhir mas… 😦

  2. Nur 'jiwo' Adi berkata:

    Komplekmu brapa rmh to? -OOT-

  3. desty berkata:

    nggak tahu ya di kompleks sampeyan mas, tapi di kompleks saya harus pake “ijin keributan” kalo sampai masang speaker2 segala.
    tapi ya…sejauh ini toleransi masih terjaga

  4. wongiseng berkata:

    Yang paling males kalau selain marah-marah pak Kartonya mengajak tetangga lain yang tadinya memaklumi untuk ikut marah. Runyam.

  5. mawi wijna berkata:

    kalau perkara agama, kadang orang merasa dirinya paling benar kang…itu yang bikin repot…

  6. budiono berkata:

    saling menghargai saling menghormati..

  7. yim berkata:

    karena tanpa disadari bagi sebagian orang agama spt kerajaan atas kuasa kebenaran

  8. yuduto berkata:

    kutipan dari KH Musthofa Bisri mantabs…

  9. novee berkata:

    *saya siap nampung speakernya…hehehe

  10. yustha tt berkata:

    saya suka postingan ini.. 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s