Rindu Demonstrasi yang Membumi

tolak kenaikan harga pupuk

demo imajinasi saya

Bulan-bulan seperti ini orang di kampung saya sudah mulai menanam padi, tanaman pokok untuk petani yang punya sawah di dataran rendah. Malem kemaren saya sama Kang Noyo meresapi nuansa, berteman kopi legendaris Mbok Darmi dan sebungkus rokok (punya saya tentunya), ngobrol soal petani. Kebetulan kami berdua berasal dari kampung dan punya orang tua yang berprofesi sebagai petani.

“Paklikku nelpon kemaren, katanya pupuk di kampung lagi langka.” Kata Kang Noyo mengawali pembicaraan.

“Bapakku ndak cerita apa-apa sih Kang, tapi biasanya yo sama saja, musim-musim kayak gini pupuk dan obat-obatan selalu susah dicari. Giliran nemu harganya mahal.” Ujar saya menimpali.

“Memang, paklikku bilang harga satu sak urea 75 ribu, padahal konon katanya harga eceran tertinggi cuma 62 ribu.” Keluh Kang Noyo.

“Masih mending Kang, taun kemaren bapakku cerita kalo harganya hampir dua kali lipat.” Kata saya.

“Dan nanti giliran panen tiba harganya jatuh, kejadian yang selalu berulang.” Kang Noyo tersenyum miris.

“Dan kayaknya pemerintah yo masih ndak mampu ngatasi juga. Pemerintah baru panik kalo harga beras tinggi, giliran harga beras jatuh ndak ada tindakan. Mungkin karena birokrat yang di atas ndak ada yang nanam padi yo Kang?” Tanya saya asal njeplak.

“Yang aku heran, kok ndak pernah aku denger mahasiswa demo soal ini. Mbikin long march sambil mbawa spanduk tulisan gede-gede NAIKKAN HARGA GABAH, atau BERANTAS MAFIA PUPUK.” Sindir Kang Noyo.

Saya ngakak, “Jadi inget guru saya jaman sekolah dulu Kang, beliau bilang kalo mahasiswa demonya di awang-awang. Nyaris ndak menyentuh persoalan rakyat kecil. Mungkin karena memang bukan levelnya Kang. Mahasiswa kan lebih banyak bermain di tataran konsep, jadi ya topik-topiknya yang di atas langit saja. Mungkin lupa kalo rakyat di kampung ndak peduli siapa itu Bibit Candra, ndak kenal siapa itu Prita, Susno Duadji, ndak ngerti gimana bentuknya Camry.”

“Atau mungkin mereka memang ndak pernah tau.” Potong Kang Noyo dengan nada anyel.

“Miris tho Kang, sebagai generasi pembawa angin perubahan, yang kelak akan menggantikan orang-orang yang sekarang mereka demo tapi ndak pernah membawa suara rakyat kecil. Kadang saya sampe bosen liat demo mereka, ya itu-itu saja topiknya. Pengen sekali-kali liat mahasiswa demo untuk para pedagang kaki lima, nelayan, sopir angkot, petani.” Kata saya.

Kang Noyo hanya meringis.

Saya kadang berpikir, apakah tema-tema permasalahan yang membelit petani, atau nelayan, ndak layak diangkat jadi bahan demo, kurang elit? Ataukah mahasiswa memang berada di kelas yang berbeda, sehingga ndak pernah tau masalahnya? Mungkinkah suatu saat mahasiswa berdemo untuk petani, menggelar demonstrasi yang membumi?

*foto diambil secara semena-mena dari detikfinance

7 comments on “Rindu Demonstrasi yang Membumi

  1. budiono mengatakan:

    aksi yang digelar kawan aktifis dan mahasiswa itu kebanyakan kan memang untuk melawan kasus yang populer, sedangkan petani dan masalahnya mungkin tidak adakan mendapat sorotan media..

    gak boleh dipungkiri bahwa sorotan media kerap dijadikan salah satu tolok ukur kesuksesan demo

  2. novee mengatakan:

    turunkan harga beras, gula, ikan & teman2nya!!! huhuhu..*jeritan hati ibu RT yang bertanggung jawab atas urusan dapur.

  3. Vicky Laurentina mengatakan:

    Kalau mau lebih afdol, dalam tiap demo mahasiswa bawa aja pihak yang mereka bela. Misalnya kalau mau demo anti kenaikan harga, bawa aja petani atau pedagang kaki lima buat ikutan demo. Dengan begitu mereka menyampaikan aspirasi berdasarkan bukti penguat, bukan cuman sekedar teriak-teriak di awang-awang.

  4. ulan mengatakan:

    bukan kurang elit mungkin mas, saya jadi kurang simpatik dengan demo, karena cenderung banyak yang menunggangi, tapi entah lah..

  5. Mawi Wijna mengatakan:

    Saya ingin mahasiswa berdemo perihal pembatasan kendaraan bermotor. Tapi mahasiswa kan identik dengan motor? Kalau gini mana bisa Jogja kembali jadi kota sepeda? weleh2…

  6. lina mengatakan:

    sepakat sama Kang Noyo.
    tapi saya pernah kok baca atau dengar ya, atau lihat ya, berita tentang demo mahasiswa untuk masalah pupuk ini. tapi, mungkin karena kasusnya nggak populer, demonya juga nggak populer. hehe. tapi kan masalah pupuk menyangkut hajat hidup orang banyak ya…

  7. SAUT BOANGMANALU mengatakan:

    Terimakasih informasinya. Kunjungi juga semua tentang Pakpak di GETA_PAKPAK.COM http://boeangsaoet.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s