Rindu Demonstrasi yang Membumi

tolak kenaikan harga pupuk

demo imajinasi saya

Bulan-bulan seperti ini orang di kampung saya sudah mulai menanam padi, tanaman pokok untuk petani yang punya sawah di dataran rendah. Malem kemaren saya sama Kang Noyo meresapi nuansa, berteman kopi legendaris Mbok Darmi dan sebungkus rokok (punya saya tentunya), ngobrol soal petani. Kebetulan kami berdua berasal dari kampung dan punya orang tua yang berprofesi sebagai petani.

“Paklikku nelpon kemaren, katanya pupuk di kampung lagi langka.” Kata Kang Noyo mengawali pembicaraan.

“Bapakku ndak cerita apa-apa sih Kang, tapi biasanya yo sama saja, musim-musim kayak gini pupuk dan obat-obatan selalu susah dicari. Giliran nemu harganya mahal.” Ujar saya menimpali.

“Memang, paklikku bilang harga satu sak urea 75 ribu, padahal konon katanya harga eceran tertinggi cuma 62 ribu.” Keluh Kang Noyo.

“Masih mending Kang, taun kemaren bapakku cerita kalo harganya hampir dua kali lipat.” Kata saya.

“Dan nanti giliran panen tiba harganya jatuh, kejadian yang selalu berulang.” Kang Noyo tersenyum miris. Baca lebih lanjut