The God Must Be Crazy

Sampeyan pernah nonton pilem komedi jadul The God Must Be Crazy? Waktu saya nulis ini lagi diputer di Global TV, cerita tentang keluguan suku terasing di Afrika. Saking lugunya jadi kelihatan lucu, agak tragis memang, kepolosan jadi objek tertawaan.

Di awal cerita ada sebuah narasi tentang manusia modern. Dikatakan kalo manusia modern tidak berusaha untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, tapi memaksa lingkungan untuk menyesuaikan dengan mereka.

Maka terciptalah berbagai macam alat dan berkembang berbagai ilmu pengetahuan. Celakanya (atau untungnya?) seperti orang minum air laut yang makin banyak minum makin haus, semakin orang berusaha mengatasi kerepotan mereka dengan ilmu dan berbagai macam peralatan, semakin repot juga mereka dibuatnya.

Karena semakin repot maka ilmu dan peralatan yang dibikin makin buanyak, dan kerepotan pun makin bertambah. Sampeyan pasti mafhum lah, sifat serakah penasaran manusia akan mengadakan yang belum ada dan menyempurnakan yang sudah ada. Semakin disempurnakan suatu hal maka semakin ruwet pula masalah yang ditemukan, ini yang membuat dunia berkembang.

Jadi kalo misalnya ada diantara sampeyan yang merasa dirinya minoritas dan terpinggirkan, cobalah konsisten dengan tidak berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan. Siapa tau nantinya berkat sampeyan lingkungan bisa berubah, siapa tau…

Ada satu lagi yang dinarasikan di awal pilem, tentang sebuah suku di Afrika yang guyub rukun, ndak ada rasa iri dengki karena ndak ada nafsu untuk memiliki, lebih tepatnya ndak ada satu benda pun yang layak untuk dimiliki dan diperebutkan. Sampai akhirnya suatu saat ada pilot iseng yang mbuang sampah sembarangan, sebuah botol Coca-cola dilempar dari jendela pesawat dan diambil oleh salah seorang anggota suku. Karena jatuh dari langit maka dia pikir benda itu adalah benda yang dikirim oleh dewa.

Oleh penduduk suku benda itu dipake untuk berbagai macem kegiatan, mulai dari penyembuhan jari (dengan cara memasukkan jari ke lubang botol) sampe menghaluskan kulit ular. Benda serba guna, dan hanya ada satu-satunya. Tiba-tiba semua orang merasa butuh, dan karena hanya ada satu timbullah hasrat untuk menguasai, mereka pun mulai kenal yang namanya rebutan! Kehidupan yang harmonis mendadak jadi kacau karena benda kiriman dewa. Wajar kalo ada yang berpikir, the God must be crazy.

Sampeyan mungkin berpikir apa berharganya sebuah botol? Saya pun begitu, sungguh ndak mutu barang cuma begitu bikin repot semua orang, wagu dan lucu. Tapi kalo kita liat yang terjadi , mereka sendiri yang menobatkan sang botol menjadi suatu kebutuhan dan mereka juga yang jadi kelimpungan karenanya, maka kehidupan kita pun banyak lucunya.

9 comments on “The God Must Be Crazy

  1. det mengatakan:

    belum nonton filmnya sih om.. tapi kayaknya seru dan lucu!


    stein:
    sampeyan iku cepet eram nyaute 😆

  2. ebook bisnis mengatakan:

    cerita yang bagus…

  3. Mawi Wijna mengatakan:

    Emang God Must Be Crazy karena kini manusia hidup butuh uang dan bukan butuh alam 😦

    stein:
    nanti baru terasa kalo duit sudah ndak ada artinya

  4. Wempi mengatakan:

    Kocak bener pilm nya :lol:, apa ada ya nyatanya seperti itu?

    stein:
    ndak ada yang ndak mungkin tho? 😆

  5. zefka mengatakan:

    hahaha.. lebih dari 3x nonton film ini.
    memang film ini menyindir kita telak banget, kepolosandan keluguan mengalahkan sesuatu yg dibilang udah modern 🙂

    stein:
    lucu banget waktu adegan si tokoh utama ditodong pistol, ndak takut blas wong ndak pahan 😛

  6. […] botol ini ada di pilem The God Must Be Crazy, saat sebuah botol yang jatuh di perkampungan suku terasing Afrika dijadikan alat serba guna oleh […]

  7. om.tegoll mengatakan:

    mereka sendiri yang menobatkan (sang botol/sesuatu) menjadi suatu kebutuhan dan mereka juga yang jadi kelimpungan karenanya

    mathuk mas bro!

  8. Ridwan mengatakan:

    Dijelaskan dg baik di prolog filmnya.

  9. jhosep george mengatakan:

    waktu perang dikebun pisang lucu bnget

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s