Hargailah Sebuah Nama

Orang kulon kali sana pernah bilang, ”We only see what we wanted to see.” Kita hanya melihat apa yang ingin kita lihat, karena konon katanya melihat sebenarnya lebih merupakan pekerjaan otak. Mata hanya berfungsi untuk menangkap gambar, sedangkan yang memaknai gambar tersebut adalah otak. Dalam proses pemaknaan tadi hasil yang diperoleh akan sangat dipengaruhi oleh pengalaman dan pengetahuan. Maka sangat mungkin terjadi, sesuatu yang sama bisa terlihat sama sekali berbeda, tergantung pengalaman dan tingkat pengetahuan.

”Kesambet opo kowe Le?” Jujur, saya ndak pernah menyangka saya bisa kangen suara itu, salah satu orang paling skeptis dan nyinyir sekaligus perokok yang paling memberatkan teman yang pernah saya kenal, Kang Noyo.

Jadi ceritanya, setelah sekian lama akhirnya saya berhasil menyelesaikan buku profil pabrik yang ditugaskan juragan ke saya. Buku yang ndak selesai-selesai karena saya selalu mikir apa yang harus ditulis dan bagaimana cara menulisnya, padahal buku takkan pernah selesai dengan dipikir, harus ditulis. Dengan selesainya buku itu, saya berharap bisa seperti dulu, menghabiskan waktu ndlahom sambil menyesap nuansa di warung Mbok Darmi. Baca lebih lanjut

Membingkai Sensasi dalam Secangkir Kopi

Rasanya sudah lama sekali saya ndak mengunjungi warung ini, tempat saya biasa menikmati kopi seribuan yang pekat aroma jagungnya, sambil pelan-pelan mengunyah pisang yang baru diangkat dari wajan berisi minyak jelantah mendidih dengan level kekeruhan tingkat dewa. *saya lebay, memang…

Kangen, saya rindu menyesap nuansa, kangen dengan kemakinya Kang Noyo, kangen dengan bualan Pak Darmo, kangen dengan cerita-cerita Mbah Suto, kangen juga dengan keluguan Mbok Darmi.

“Mas, kopinya sekarang naik lho, jadi dua ribu!” Sambut Mbok Darmi dengan kejam, eh maksudnya bukan kejam, tapi mbok yao, saya kan sudah lama ndak ke sini, ada basa-basinya sedikit gitu lho…

“Lah Mbok, kalo jadi dua kali lipat itu namanya bukan naik, tapi ganti harga…”

Ngomong-ngomong ada alasan kenapa saya lama ndak ke warung Mbok Darmi. Salahkan temen saya dari Jakarta, yang dengan semena-mena sudah mengirimkan kopi luwak kemasan satu kilogram, dua kali. Dan kalo sampeyan mau tahu harga satu kilonya, Rp 3.400.000! Baca lebih lanjut

Hear Nothing See Nothing

Beberapa hari ini saya merasa anyel tenan, kalo kata orang Inggris sana saya lagi ndongkol, sebel yang berlangsung terus-menerus dalam waktu tertentu. Untungnya (lha ini, saya bersukur karena konon dalam kondisi apapun orang Jawa itu selalu untung) rasa anyel itu hanya berlangsung pada waktu tertentu, walaupun secara berlanjut.

“Ngomong kok pasti mbulet. Kamu sebel itu kenapa?” Tanya Kang Noyo kemaren sore, waktu lagi ngobrol nggedabrus di warung kopinya Mbok Darmi.

“Itu lho Kang, saya anyel liat kelakuannya si Paimo!” Kata saya agak bersungut-sungut.

Jadi ceritanya di pabrik itu ada anak baru masuk, namanya Paimo, baru lulus sekolah kemaren. Yang mbikin saya sebel kelakuannya itu lho, namanya anak baru mbok ya ada hormat-hormatnya sedikit sama yang lebih lama macul di pabrik, lha ini sama yang lebih tua sikapnya kayak ndak punya sopan santun.

Sudah gitu orangnya suka mepet-mepet sama Pak Mandor, tipikal oportunis nan penjilat. Belum lagi tiap ada masalah riwilnya setengah hidup, bukannya dipelajari dulu di mana letak masalah dan kemungkinan penyelesaiannya langsung nyerocos nanya kiri kanan atas bawah, hal sepele sekalipun. Pendek kata, dia ndak perlu ngomong, mukanya itu sudah jumotos alias muka minta dijotos. Baca lebih lanjut

Mudik, Saat Pengakuan

Menjelang puasa seperti ini saya jadi inget jaman kecil dulu. Biasanya sekitar pertengahan puasa sampe menjelang lebaran saya dan temen-temen suka nongkrong di prapatan deket kantor pos, kalo ndak di stasiun, menunggu makhluk-makhluk ajaib yang bernama kaum ngapain dateng dari kota.

Saya ndak tau siapa yang memulai penyebutan nama itu, kaum ngapain, maklumlah di kampung saya nan ndeso waktu itu percakapan selalu make bahasa Jawa dengan dialek yang kasar khas daerah gunung kapur. Jadi beberapa orang yang datang dengan baju yang modis, make up tebal, dan bahasa lain cenderung menarik perhatian. Sebenernya mereka sama saja, tetangga-tetangga juga dulunya, tapi karena sudah lama hidup di kota (baca: Jakarta) maka dalam percakapan mereka sudah banyak memakai kata-kata berakhiran –in, salah satunya ya itu, ngapain.

Dalam beberapa kesempatan mereka ini memang kadang keliatan seperti makhluk asing, sesuatu yang tidak ditempatkan sesuai tempatnya. Misalnya suatu saat saya terbengong-bengong melihat mbak-mbak dengan dandanan heboh, dari atas ke bawah pokoknya cling-cling, ndak beda jauh sama artis telenovela. Yang mbikin ndak pas adalah waktu itu saya lagi duduk beralas koran di kereta sapi tanpa tempat duduk yang biasanya dioperasikan menjelang lebaran berjuluk kereta api sapujagat. Baca lebih lanjut

Menolong pun Perlu Hati-hati

Simbah Putri dulu pernah bilang sama saya, “Menolong itu perbuatan mulia, tapi kadang menolong bisa jadi perbuatan konyol. Misalnya ada ular kejepit lalu kamu membantunya lepas dari jepitan, yang jelas ular ndak mungkin ngomong terima kasih, salah-salah kalo ndak ati-ati kamu bakal digigit.”

Sekarang setelah bertahun-tahun berlalu saya baru ngerti arti omongan Simbah. Di antara bermacam watak manusia kadang ada juga yang menyerupai ular, licin, ndak ngerti berterima kasih, dan tentu saja kadang menggigit.

Cerita seorang kawan di bawah ini sebagai pelajaran bagi saya, dan mungkin juga berguna untuk sampeyan untuk lebih berhati-hati sebelum mengundang orang luar untuk masuk ke lingkungan keluarga kita, juga mengajari saya untuk ndak sombong, karena sesungguhnya manusia ndak bisa menolong siapapun tanpa ijin Allah Yang Maha Kuasa.

“Tumben omonganmu serius tenan tho Le. Maksudmu piye ndak bisa nolong kalo ndak diijinkan sama Allah?” Tanya Kang Noyo sambil nyedot rokoknya (yang minta dari saya tentunya).

“Kadang kita merasa sombong karena sudah merasa membantu seseorang, padahal belum tentu bantuan kita benar-benar membantunya. Bisa jadi malah membuatnya makin terperosok, atau mungkin juga ndak berarti apa-apa.” Jawab saya.

“Tapi kan yang penting niatnya mbantu sudah bener, yang penting tulus tho?” Ujar Kang Noyo.

“Itulah Kang, kadang niat dan ketulusan saja ndak cukup Baca lebih lanjut

Bantu Mereka untuk Tetap Sekolah

Hari Kamis malem kemaren saya pulang kampung, mumpung ada liburan tiga hari. Sudah lama saya ndak nengok orang tua di kampung halaman yang walaupun terpencil dan panasnya minta ampun tapi tetep selalu ngangeni, terbayang waktu jaman kecil dulu main-main di sawah, nangkep kepiting sambil bikin suling dari batang padi, berangkat sekolah lewat pematang sawah, berenang di kali sambil nyari ikan. Kalo kata orang kulon kali sana, there’s no place like home.

Perjalanan dari Malang ke Blora memakan waktu sekitar 5-6 jam dalam kondisi normal, seharusnya bisa lebih cepat lagi kalo saja jalan dari Bojonegoro sampe Randublatung ndak bergelombang dan bolong-bolong yang membuat kita seperti sedang naik perahu, goyang sana goyang sini. Tapi apa mau dikata, walaupun di situ banyak ladang minyak tapi predikat daerah minus masih bertahan sampe sekarang, sehingga mungkin pemerintah merasa keberatan untuk mbikin jalan beton beraspal sebagai salah satu alternatif mengingat kondisi tanahnya yang labil.

Selain nengok orang tua dan kangen-kangenan sama orang-orang kampung, saya juga menyempatkan diri untuk ngobrol-ngobrol sama seorang ponakan yang selama ini saya biayai sekolahnya. Sebagai informasi buat sampeyan, di kampung saya ini 99% warganya hidup dari bertani, sayangnya ndak semua punya lahan yang cukup untuk biaya hidup. Ada yang bener-bener cuma jadi buruh tani, ada yang selain jadi buruh tani juga punya sawah sendiri tapi hasilnya ndak cukup, selain tentunya orang-orang yang punya predikat sebagai juragan sawah. Baca lebih lanjut

Harga Diri dan Mbak Seksi

Sabtu kemaren saya menemani Kang Noyo yang mau mengganti karpet dasar mobil barunya. Kang Noyo bilang kalo karpet asli bawaan pabrik memang bagus, tapi bahannya yang mirip beludru itu susah untuk dibersihkan kecuali dengan vakum kliner. Teman saya ini bermaksud menggantinya dengan bahan semi kulit yang lebih mudah untuk dibersihkan.

“Lha mbok beli vakum kliner tho Kang, mosok bisa beli mobil ndak mampu beli vakum kliner?” Kata saya.

“Vakum kliner yang bagus itu mahal Le, tur listriknya gede. Nanti bisa njeglak njeglek listrik di rumah. Lagian ngganti karpet ini gratis, bonus dari salesnya, sayang kalo ndak dipake.” Ujar Kang Noyo.

Berangkatlah kami ke sebuah bengkel di tengah kota Malang yang ditunjuk sama sales mobilnya Kang Noyo. Walaupun masih jam 8 pagi tapi mobil yang ngantri di situ sudah banyak, sekilas pandang memang sepertinya ini bengkel yang profesional.

“Uediyan!” Batin saya melihat mbak-mbak yang jaga di kantor bengkelnya.

Saya jadi agak-agak minder, lha yang saya bayangkan namanya bengkel kan kotor, berurusannya sama mekanik dengan baju kumal penuh bekas oli dan segala macemnya. Ternyata di sini yang jaga di dalem mbak-mbak cantik dan sekseh nan wangi dengan bawahan rok mini, atasannya tanktop yang dirancang untuk pamer udel ditutup dengan baju putih tipis di luarnya Baca lebih lanjut

Bukan Manusia Biasa

Sampeyan pernah denger nama Billy Sheehan? Seorang pemain bass yang dulu pernah bergabung dalam David Lee Roth Band bersama gitaris Steve Vai sebelum akhirnya melejit dengan band bernama Mr Big. Mungkin ada baiknya sampeyan mendengarkan lagu Addicted to That Rush sebelum meneruskan mbaca dobosan ini.

Seorang pemain bass mempunyai posisi yang vital dalam sebuah band, karena bersama drummer dia bertugas menjaga ritme permainan. Karena tugasnya menjaga ritme, biasanya permainan bass ndak terlalu menonjol dan cenderung statis, hal yang wajar karena permainan bass bisa diibaratkan pondasi dalam bangunan, ndak perlu indah, yang penting kuat.

Tapi teori seperti itu ndak berlaku buat Billy Sheehan. Ndak puas cuma jadi sekedar penjaga ritme, Billy mencoba memasukkan teknik yang biasanya cuma dilakukan para gitaris ke dalam permainan bassnya. Dari mulai bermain mengandalkan kecepatan, sampe teknik bending, tapping, bahkan pinched harmonic.

Sampeyan mungkin pernah mendengar nama Mike Portnoy, drummer band Dream Theater. Baca lebih lanjut

Wawasan, Persiapan, dan Jangkauan

Di kampung saya ada satu profesi yang sepertinya jadi dambaan banyak orang, tentara. Saya ndak tau persis alasannya, tapi mungkin karena selain keliatan gagah juga dapet gaji bulanan dan setelah purna tugas masih dapet uang pensiun. Jadi tentara berarti kebanggaan keluarga, hal ini dapat dilihat dari foto berseragam yang pasti dipajang di ruang tamu, baik foto bareng seangkatan maupun foto sendirian.

Saya liat anak-anak sekolah di kampung saya itu seperti niat ndak niat sekolahnya, banyak yang sudah dibelikan motor waktu SMA (ironis, karena kadang buat mbayar sekolah saja susah, wong bapaknya rata-rata cuma petani kecil), kerjaannya nongkrong-nongkrong di prapatan, nunggu saat lulus saja. Pernah suatu saat saya iseng nanya, “Abis SMA mau ke mana?”

Dan mereka menjawab dengan mantab, “Ndaptar tentara!”

“Trus berapa orang tentara di kampungmu sekarang?” Tanya Kang Noyo waktu ngobrol sama saya di warung Mbok Darmi tadi sore abis maghrib.

Saya njawab malu-malu, “Cuma satu Kang…” Baca lebih lanjut

Bayaran, Kontribusi dan Prestasi

Sebagai buruh yang sudah agak lama kerja di pabrik saya kadang mikir, bayaran yang saya terima kok segitu-gitu aja. Maksud saya dibanding dengan anak-anak yang baru saja masuk pabrik selisihnya ndak jauh. Mosok ya boleh begitu? Seharusnya masa kerja juga diperhitungkan, jadi ada bedanya bayaran senior sama junior.

“Bener gitu tho Kang?” Tanya saya tadi sore waktu ketemu Kang Noyo di warung Mbok Darmi.

Temen saya yang lebih senior di pabrik itu mesem, dengan gerakan perlahan tapi pasti meraih rokok saya, mengambil sebatang dan menyulutnya. Dasar kelakuan, sudah tanggal tuwek gini yo masih tega ngembat rokok saya.

“Jadi maumu gimana?” Kang Noyo nanya balik sambil nyebul asap rokoknya.

Welhadalah! “Yo jelas tho Kang, harusnya ada tambahan bayaran untuk senior dengan memperhitungkan masa kerja kita yang lebih lama.” Jawab saya.

“Alasannya?” Tanya Kang Noyo lagi.

“Kontribusi! Dibanding sama anak-anak baru itu kontribusi kita ke pabrik jelas lebih banyak tho Kang, mosok ya ndak ada itungannya?” Ujar saya dengan nada seperempat oktaf lebih tinggi.

“Ah, alesanmu ndak kuat Le. Kontribusimu kan sudah dibayar.” Kata Kang Noyo kalem. Baca lebih lanjut