Gambar Kamu Kurang Bagus

Beberapa hari ini sebenarnya nongkrong di warung Mbok Darmi kurang begitu menenangkan, yang berarti kehadiran saya di situ jadi sedikit keluar dari konsep awal, saya ngopi adalah dalam rangka mencari nuansa. Menyesap kopi sambil mencoba mengecap apa yang mungkin masih terserak di hati. *halah!*

Sebab utama tentu karena akhir bulan adalah tanggal tua, saat tiap receh yang tersisa harus diperhitungkan secara cermat demi mempertahankan asap dapur. Penyebab lainnya adalah angin kencang yang beberapa hari terakhir makin menggila, kadang saya agak kuatir warung Mbok Darmi yang banyak make bahan dari bambu ini bakal ambruk.

Tapi ngopi di warung Mbok Darmi buat saya adalah sebuah ritual, rasanya ada yang hilang kalo ndak saya jalankan. Walaupun resikonya tanggal tua jadi makin terasa tua berkat bantuan Kang Noyo yang masih rajin menjarah batang demi batang rokok saya.

“Piye Le? Menang kemaren?” Tanya Kang Noyo sambil dengan santainya mengambil batang kedua dari bungkus rokok saya.

“Menang opo Kang?” Saya agak bingung.

“Itu, yang lomba hari bapak.”

Ooh, yang itu. Jadi ceritanya saya dapet surat dari TK-nya si Barra, bilang kalo hari Sabtu di sekolah akan diadakan lomba finger painting dalam rangka memperingati Father’s Day, Baca lebih lanjut

Jorok Itu Setan

Beberapa waktu yang lalu anak saya sendawa, atau lebih tepatnya menyendawakan diri, wong sendawanya disengaja dan diulang berkali-kali. Mungkin dia merasa itu keren, maklum anak TK. Ibunya yang mengetahui kelakuan anak saya pun menegur, “Mas Barra jorok ah, mosok sendawa disengaja.”

Jawaban anak saya lumayan mengejutkan, “Ibu, tidak boleh berkata jorok. Karena jorok itu kata-katanya setan.”

Lhadalah!

“Kata siapa?” Tanya istri saya.

“Kata Bu Guru.” Jawab anak saya mantab.

Saya langsung mesam-mesem. Terbayang waktu si guru bermaksud menyampaikan kepada anak-anak bahwa ndak boleh menggunakan kosakata yang jorok dalam percakapan, sedangkan pesan yang diterima anak-anak adalah ndak boleh menggunakan kata jorok. Mungkin juga ditambah imajinasi dua sosok makhluk berwarna merah dengan ekor dan dua tanduk di kepala sedang bercakap-cakap menggunakan kata jorok.

Saya jadi kuatir nanti bakal ada somasi dari setan kepada Bu Guru, dengan alasan telah terjadi upaya pembunuhan karakter. Sayangnya saya belum sempat ketemu sama guru yang bersangkutan, kalo ketemu ada satu hal yang ingin saya tanyakan, “Bu Guru, memang sampeyan liat di mana waktu setan ngobrol dengan kata-kata jorok?” Baca lebih lanjut

[Tips] Menghadapi Kebohongan Anak

Sampeyan pernah ketemu sama orang yang defensif? Selalu berlindung di balik cangkang, susah menerima masukan, cenderung melakukan penyangkalan, menempatkan diri di zona yang ndak bisa disentuh orang? Lebih celaka lagi untuk melestarikan kenyamanan itu dia melakukan berbagai macam kebohongan. Saya pernah, dia seorang perantauan usia belasan, berasal dari keluarga broken home yang kerja jadi pembantu (atau yang sekarang sering disebut asisten rumah tangga) di rumah temen.

Sebagai seorang mantan calon psikolog gagal (dulu saya ini ndaptar di fakultas psikologi UGM, tapi sayang otak pas-pasan) saya berusaha menganalisa perilaku tersebut. Sesungguhnya tulisan ini ndak perlu dibaca lebih lanjut karena dasarnya cuma ilmu kemeruh yang sudah mencapai taraf kronis, tapi apabila ternyata sampeyan sedang mengalami sindrom galaundakpunyagaweanis mungkin tulisan ini bisa berguna untuk membunuh waktu.

Menurut sebuah artikel yang saya kutip dari okezone, seorang anak mulai berbohong pada umur 3 tahun. Arnold Goldberg, seorang psikolog dari Rush Medical College, Chicago, mengatakan berbohong merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perkembangan kemampuan dalam upaya mengidentifikasi kenyataan sekitarnya. Sedangkan Paul Ekman dalam bukunya yang berjudul Why Kids Lie, menyatakan keberanian berbohong merupakan pertanda munculnya keberanian menafsirkan kenyataan yang ada di sekitarnya, dan merupakan awal kemandirian.

Lain psikolog, lain lagi kata psikiater. Baca lebih lanjut

Belajar Tanggung Jawab

Barra & Haidar

Barra (belakang), Haidar (depan)

Pagi ini di rumah saya terjadi ritual seperti biasa, semua terlihat sibuk. Saya bersiap mburuh, istri saya juga, precil saya yang kedua lagi disuapi sama Mbahnya. Kecuali satu orang, precil saya yang pertama masih tiduran di depan tipi, kombinasi antara terkantuk-kantuk dan menikmati pilem kartun.

“Mas, ayo mandi. Kamu kan sekolah.” Terdengar suara istri saya.

Precil saya cuma ngulet, “Aku gak mau sekolah.”

Welhah! Lha kok enak?

Tapi berhubung katanya hubungan orang tua dan anak ndak boleh otoriter dan harus ada komunikasi dua arah, istri saya nanya, “Kenapa ndak mau sekolah?”

“Aku gak mau mandi! Gak mau sekolah!” Precil saya mulai cemberut sambil mengeluarkan nada tinggi.

Saya menduga istri saya bakal mulai ngomel, tapi ternyata ndak. Baca lebih lanjut

Belajar Terus, Terus Muntah

Dulu saya sempet ngalami sekolah berasrama, waktu jaman SMA. Kegiatan dimulai jam 4 pagi, waktu penjaga-penjaga berwajah bengis dan nenteng pentungan satpam mulai mbangunin siswa. Biasanya mereka muter tiga kali, puteran pertama mbangunin dengan gedoran halus, puteran kedua gedoran keras, pada puteran ketiga ndak nggedor lagi, langsung nggebuk!

“Kok sadis tenan?” Tanya Kang Noyo.

Guyon Kang!

Kegiatan sekolah dimulai dengan apel pagi jam 06.20 dan ditutup apel sore jam 17.00, setelah itu ada kegiatan asrama sampe sekitar jam tujuh malem, selanjutnya kegiatan kenakalan remaja sampe secapeknya.

“Ndak capek tiap hari begitu?” Tanya Kang Noyo lagi.

Ya capek! Makanya kalo di kelas ada satu kegiatan favorit saya, tidur. Biasanya ini saya lakukan di jam istirahat, dan jam pelajaran yang dipegang sama guru cenderung santai.

“Ndak marah gurunya?” Tanya Kang Noyo.

Saya inget waktu itu ada beberapa guru yang rasan-rasan sama murid. Intinya beliau-beliau ini bilang bahwa jam yang dipake kegiatan belajar mengajar terlalu panjang, memforsir murid, dan cenderung ndak efektif. Sebagai wujud pengertiannya mereka ndak marah kalo ada murid ketiduran di kelas.

Ada satu ucapan dari salah satu guru yang saya inget, “Kalo murid mampu nampungnya cuma segelas, biar dituang air seteko juga percuma, sisanya akan tumpah.” Baca lebih lanjut

Semua Berawal dari Keluarga

Saya agak terheran-heran dengan fenomena anak yang lari dari rumah demi teman baru yang dikenal lewat pesbuk. Kalo yang umur 14 tahun masih agak masuk akal, umur segitu mungkin pikirannya masih polos, rawan bujuk rayu. Tapi ada juga yang sudah anak kuliahan menghilangkan diri dengan sukarela demi orang dari negeri antah berantah.

Ada apa ini?

Menurut ilmu kemeruh saya ada beberapa hal yang bisa jadi penyebabnya.

Bapak saya pernah bilang kalo kesalahan mendasar yang membuat jarak antara orang tua dan anak adalah orang tua ndak ngerti keinginan anak, dan anak juga ndak tau keinginan orang tua. Karena sebab-sebab tertentu orang tua lebih memilih untuk mengeluh tentang anaknya di belakang, dan anak juga memilih untuk menutup diri dari orang tua.

Poin pertama, kurangnya keterbukaan. Baca lebih lanjut

[Tips] Menenangkan Anak

Anak saya setelah masuk playgroup makin pinter saja, salah satunya sekarang kalo tidur selalu minta lampu dimatikan, padahal dulu dia pasti nangis kalo lampu mati. Yang masih tetep dia ndak mau tidur di kamarnya sendiri, masih setia mengganggu jam kerja malam simbok dan bapaknya.

Kemaren waktu ibunya lagi nyiapin makan sahur tiba-tiba dia bangun, minta dibikinin susu. Saya langsung keluar sambil mbawa botolnya, plus nutup pintu karena kuatir nyamuk pada mau ikutan tidur di kamar. Lha kok anak saya nangis kenceng, “pintunya ndak usah ditutup!!”

Saya buru-buru masuk kamar lagi, “Kenapa Mas Barra?”

Anak saya sesenggukan, “Aku ndak mau pintunya ditutup, aku kan nyari ayah.”

“Lha ini ayah sudah di sini, ayo tidur lagi”

Eh, dia masih ngamuk, “Aku ndak mau pintunya ditutup!”

“Ndak papa, ini kan sudah sama ayah…”

“Aku ndak mau pintunya ditutup!!” Nangisnya tambah kenceng.

Istri saya masuk kamar, meluk dia trus ngomong, “Tadi Mas Barra bangun ya? Trus pintunya ditutup, jadi Mas Barra takut karena gak ada temennya ya?”

“Iya…” Nangisnya mulai reda.

“Sekarang kan sudah ada ayah sama ibu, sekarang Mas Barra tidur lagi ya”, kata istri saya sambil nidurin dia.

Baca lebih lanjut