Monumen Abadi Umat

Beberapa waktu yang lalu ada sebuah brosur dikirim ke rumah saya, di situ tertulis dengan jelas nama dan alamat saya. Brosur yang dicetak dengan kertas mengkilat itu berisi permintaan sumbangan untuk sebuah yayasan sosial keagamaan di Malang, sebuah yayasan yang diketuai seorang dosen Universitas Brawijaya, bertujuan membina dan membiayai sekolah anak-anak ndak mampu di daerah Bareng, Malang.

Beberapa hari kemudian dateng seorang pengurusnya, lelaki muda yang bekerja freelance sebagai arsitek bangunan. Saya ngobrol sebentar dengan si pemuda ini tentang kegiatan yang mereka lakukan, berapa anak yang mampu mereka biayai dan kendala dana yang menjadi masalah klasik setiap yayasan semacam ini.

Tiap bulan selembar kertas berisi laporan penggunaan dana juga saya terima di pabrik, berasal dari sebuah yayasan amil zakat tempat saya nyetor zakat profesi tiap bulan. Tanpa bermaksud sombong, saya sadar sepenuhnya bahwa dalam bayaran ndak seberapa yang tiap bulan saya terima dari pabrik itu terdapat hak orang lain. Baca lebih lanjut