Bukan Kronologi Susno Duadji

“Pak Susno kali ini bener-bener menyajikan paket komplit lho Le, manteb tenan,” Kata Mbah Suto tadi pagi waktu leyeh-leyeh di warungnya Mbok Darmi. Sungguh beruntung saya kali ini, saat menjelang tanggal tua ketemu sama juragan, minimal kopi saya dibayari.

“Paket komplit gimana Mbah?” Tanya saya.

Seperti lagi ramai diberitakan di media, mantan Kabareskrim Komjen (Pol) Susno Duadji menuding ada beberapa perwira tinggi di kepolisian yang berperan dalam praktik makelar kasus penggelapan pajak. Terlepas dari tudingan miring bahwa ini merupakan ekspresi sakit hati yang berlebihan, yang jelas memang banyak fakta menarik di sini.

Kasus ini diawali dengan adanya laporan dari Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) kepada Kabareskrim waktu itu, Susno Duadji, bahwa ada aliran dana mencurigakan sejumlah 25 milyar ke rekening milik seorang pegawai pajak berinisial GT. PPATK mencurigai ada praktik pencucian uang, karena tidak wajar seorang PNS golongan III memiliki uang sebesar itu. Polisi pun menyelidiki kasus tersebut dan meminta bank untuk memblokir rekening. Baca lebih lanjut

Antara SBY dan Susno Duadji

“Sepertinya teknik pencitraan diri Pak SBY makin lama makin kurang sip yo Kang.” Kata saya waktu makan siang sama Kang Noyo barusan.

“Eh, mosok? Sik, mana rokokmu?” Kang Noyo ngambil satu rokok saya.

“Mungkin juga, lama-lama aku yo gemes kok lihat omongan beliau yang ngalor-ngidul ndak jelas, mbok sekali-kali jadi presiden itu yang tegas, tunjukkan kalo presiden itu memang dikasih kekuasaan sama rakyat. Mau apa-apa kok serba ragu-ragu.” Kata Kang Noyo sambil menghembuskan asap rokoknya.

“Ini lho Kang, saya mbaca pernyataan beliau waktu mbuka rapat kerja nasional, beliau pesen supaya aparat penegak hukum ndak asal main tangkap kepala daerah yang tersangkut masalah hukum, takutnya nanti pemerintahan ndak jalan.” Ujar saya, “Kok sepertinya ndak sejalan sama semangat penegakan hukum.” Baca lebih lanjut

Susno Duadji Dikorbankan?

Sampeyan mungkin sudah tahu kalo salah satu yang membuat korupsi sulit diberantas adalah karena hal itu berjalan secara sistematis, buruh korupsi karena harus nyetor ke mandor, mandor minta upeti karena harus nyetor ke atasnya lagi, atasan mandor juga rutin minta jatah karena level di atasnya harus ngasih jatah piaraannya. Sepintas mirip seperti rantai makanan. Ndak usah mimpi korupsi bisa berhenti kalo level pimpinan ndak punya integritas.

Di kepolisian pernah ada selintas mimpi untuk lepas dari pungli saat salah seorang Kapolda mengumpulkan para perwira Satuan Lalu Lintas yang menjadi bawahannya dan meminta agar budaya pungli serta upeti ditiadakan, mereka diberi waktu tujuh hari untuk berbenah dengan ancaman copot jabatan bagi yang masih main-main. Saya ndak menutup mata bahwa pungli terbesar di kepolisian sebenarnya bukan di Satuan Lalu Lintas, tapi gebrakan seperti itu patut mendapat acungan jempol.

Sampeyan tau siapa Kapolda yang saya maksud? Dialah Susno Duadji, yang waktu itu berpangkat Irjen dan menjabat Kapolda Jawa Barat.

Baca lebih lanjut

Sini Negara Polri, Situ Negara KPK

kpk

Saya sebenarnya ndak gitu intens mengikuti perkembangan konflik yang terjadi antara KPK dan Polri, tapi berita di Okezone ini mau ndak mau mbikin saya ketawa miris.

Di satu berita ada keterangan dari Kadiv Binkum Mabes Polri Irjen Pol Aryanto Sutadi bahwa perbuatan Kabareskrim Susno Duadji menemui tersangka korupsi Anggoro Widjojo di Singapura bukanlah merupakan pelanggaran kode etik. Alasannya waktu itu polisi tidak tau posisi Anggoro adalah tersangka, “Masa saksi enggak boleh ditemui, bagaimana memeriksanya?”

Yang lucu adalah pernyataan Aryanto berikutnya, yang menyatakan bahwa kalopun status Anggoro adalah tersangka tetap saja Kabareskrim tidak melanggar kode etik, Baca lebih lanjut