Jangan Ngebut, Nanti Bisa Miskin

Dulu waktu awal-awal mburuh di Pasuruan saya sempat wira-wiri selama 2,5 tahun naik motor dari rumah ke pabrik, kebetulan jarak yang harus ditempuh juga ndak terlalu jauh, sekitar 50km sekali jalan. Enak sebenarnya, ndak terpatok pada jadwal angkutan umum, ndak perlu menyesuaikan dengan jadwal orang lain juga, yang jelas bisa berangkat lebih siang karena motor relatif ndak banyak terhambat oleh padatnya jalanan.

Selama rentang waktu itu saya ndak pernah mengalami insiden yang berarti. Dengan perlengkapan keamanan yang nyaris kumplit dari mulai helm full face sampai sepatu touring, juga perilaku mengendara yang sepertinya memenuhi standard safety riding, saya nyaris jumawa, saya ndak terkalahkan di jalan.

Sampai akhirnya saya mengalami kecelakaan saat bulan puasa tahun 2009 di Purwosari, Pasuruan. Di depan PT M3 ada seorang karyawan yang mau nyeberang pake motor dari arah kiri. Sepi, nyaris gak ada kendaraan lewat, dia menoleh ke arah kiri sedangkan saya datang dari arah kanan dengan kecepatan sekitar 90km perjam. Semua berlangsung sangat cepat, saya pikir dia bakal berhenti dulu untuk memastikan ndak ada kendaraan lewat, tapi bukan itu yang terjadi, dia jalan terus, waktu dia noleh ke arah kanan jarak saya mungkin tinggal sekitar 1 meter. Ndak sempet mengucap takbir, atau istighfar, atau bahkan untuk sekedar misuh. Baca lebih lanjut

Waktu Itu Sampeyan Pakai Sabuk Pengaman?

Salah satu kemampuan yang membuat saya merasa berguna di pabrik tempat saya mburuh adalah saya bisa nyupir. Kenapa bukan nyetir? Kesannya lebih elit. Nyupir, nyetir, sama saja tho substansinya. Dan sebagai orang yang dididik dengan konsep substance over form, saya lebih suka dengan kata nyupir, mungkin karena lebih terasa ndeso, sebagai pengingat bahwa saya memang aslinya ndeso.

“Ndeso bangga…” Cibir Kang Noyo.

Kang Noyo, akhirnya saya punya waktu juga untuk bisa ngopi bareng lagi di warung Mbok Darmi. Rutinitas nyaris bernuansa ritual yang akhir-akhir ini sempat terlupakan karena kesibukan yang bertubi-tubi, tumpukan peran yang membuat saya edan.

“Ini bukan masalah kebanggaan Kang, lebih seperti lonceng yang mengingatkan saya agar jangan lupa untuk selalu menginjak daratan.” *saya tau, ini lebay* Baca lebih lanjut

Kendaraan yang Berhak Didahulukan

Kalo misalnya ditanya, siapakah orang di jalan raya yang paling ndak tau diri? Saya akan bilang para pejabat kampung lokal yang lewat dengan mobil dikawal voorijder.

Kok bisa?

Sederhana saja, kalo sampeyan ditraktir mestinya tau diri, bukannya malah memanfaatkan kesempatan, mumpung gratis trus sampeyan pesen makanan dan minuman yang paling mahal, dengan porsi dobel, dan saat pulang sampeyan masih pesen lagi buat dibungkus.

“Hubungannya sama mobil pejabat tadi apa Le?” Tanya Kang Noyo.

“Kelakuannya sama.” Ujar saya.

Misal suatu saat sampeyan lihat mobil bupati lewat, paling depan ada mobil polisi dengan sirine menyala, trus mobil bupati yang sejelek-jeleknya Toyota Camry, trus disusul dengan para punggawa kabupaten yang naik mobil plat merah, ditutup dengan mobil satpol PP atau DLLAJ yang juga bersirine.

“Sekarang saya tanya, yang mbayari bensin mereka itu siapa?”

“Memangnya siapa?” Kang Noyo balik nanya.

Jelas bukan dana pribadi bupati, uang bensin ngambil dari APBD, hasil urunannya rakyat.

“Yang beli mobilnya siapa?” Baca lebih lanjut

Nyenggol

“kalopun sampeyan tak ingin selamat,biarkanlah orang lain selamat dari perilaku berkendara sampeyan”

Secuplik kalimat di atas saya dapet dari blognya Lekdjie yang dulu berisi foto-foto candid dari jalanan tapi terakhir saya berkunjung sudah berganti jadi mbahas soal motor-motor. Kalimat tersebut pernah saya dapat dalam bentuk yang lain, “Berhati-hatilah kamu di jalan, karena kesalahan yang kamu lakukan di jalan mungkin bukan hanya kamu yang akan menanggung akibatnya, orang lain juga bisa kena getahnya.”

Kalo orang ngomong soal safety riding mungkin pikiran sampeyan akan langsung membayangkan soal kemungkinan tabrakan, serempetan, atau kejadian-kejadian yang berhubungan dengan adu fisik lainnya, padahal yang bisa terjadi gara-gara perilaku sembrono di jalan bukan cuma itu. Ini kejadian yang saya alami sendiri beberapa hari lalu, monggo disimak.

Disimak lho ya! Awas kalo ndak…

Beneran disimak lho!

Dan hadirin pun mulai bubar… Baca lebih lanjut

Touring, Kepalan Tangan Simbol Mengancam?

Sampeyan mungkin sudah baca berita soal iring-iringan motor gede yang konon melecehkan Gubernur Bali yang juga seorang pensiunan jenderal polisi I Made Mangku Pastika. Apa yang tergambar di benak sampeyan waktu membaca berita itu? Jengkel mungkin? Soalnya itu yang ada di kepala saya. saya inget waktu ketemu konvoi sebuah klub motor gede di jalan antara Malang-Batu, ada tiga hal yang mbikin saya anyel:

  1. Mereka pake motor gede, harganya mahal, yang berarti saya ndak mampu beli! *lha*
  2. Mereka pake pengawalan aparat, yang mengindikasikan bahwa mereka biker manja, wong acara seneng-seneng kok minta bantuan aparat negara.
  3. Ini yang menurut saya keterlaluan perlakuannya, yang mengawal mereka adalah polisi militer!

Sampeyan bayangkan, kumpulan orang-orang kaya nan manja lagi berkumpul trus minta prioritas di jalan karena ndak biasa ngantri. Ditambah dengan teori kemeruh saya yang mengatakan saat individu-individu berkumpul maka secara psikologis mereka kehilangan rasa tanggung jawab pribadi, apapun yang dilakukan seolah-olah menjadi tanggung jawab kelompok, yang menjadikan mereka lebih beringas dari biasanya.

Manteb banget tho untuk memupuk kejengkelan? 😈

Lebih parah lagi saat membaca berita bahwa banyak motor gede yang bodong alias ndak dilengkapi dengan surat-surat resmi, yang berarti juga mereka ndak mbayar pajek. Kadang kalo ketemu bis yang ugal-ugalan di jalan saya berusaha meredam panasnya hati dengan mbatin, “Wajar mereka berlaku kurang ajar di jalan, wong mbayar pajeknya gede.”

ducati monster

contoh ducati tanpa plat nomer yang saya liat di Batu, Malang

Lha ini si kumpulan motor gede, sudah ndak mbayar pajek masih ndak punya sopan santun di jalan?? Baca lebih lanjut

Standard Itu Bernama Aturan

pertigaan deket pabrik

pertigaan deket pabrik

Gambar di atas adalah pertigaan deket pabrik tempat saya mburuh, lurus ke arah Malang, sedangkan belok kanan ke arah Surabaya. Ada tulisan di tiang lampu lampu lalu lintas, Lurus Ikuti Isyarat Lampu. Tiap kali lewat situ dan lampu sedang nyala kuning atau merah, sebelum berhenti saya selalu liat spion kiri kanan, takut ada motor yang nekat bablas.

“Memang harusnya lurus jalan terus tho Le, ndak papa wong aman kok. Kecuali kalo kamu mau belok kanan, beresiko ditabrak kendaraan dari arah sebaliknya.” Kata Kang Noyo.

“Ya pikiran kayak Sampeyan ini yang mbikin negara ndak maju-maju.” Sahut saya.

Lha piye, wong aturan sudah dibikin, sudah jelas ditulis kalo kita mau jalan lurus tetep harus ngikut isyarat lampu, kok ya masih mbikin aturan sendiri berdasarkan logika masing-masing.

Kalo memang merasa ndak cocok sama aturannya mbok ya jangan langsung mengabaikan aturan, protes saja sama DLLAJ atau lapor ke pos lalu lintas yang ada di pojokan situ. Siapa tau nanti tulisannya diganti dengan Lurus Jalan Terus.

“Tapi memang aturannya yang ndak mutu kok Le, wong kalo jalan terus juga aman kok, kenapa harus disuruh berhenti dulu?” Kang Noyo masih ngeyel.

“Itu kan pikiran Sampeyan Kang, orang lain belum tentu sama. Bisa ruwet kalo semua orang dibebaskan menuruti logikanya sendiri-sendiri, makanya demi kepentingan bersama dibuat aturan, biar ada keseragaman, ndak semrawut.” Kata saya.

Sampeyan bayangkan kalo semua orang make standardnya sendiri-sendiri. Baca lebih lanjut

Tiga Alasan Melanggar Aturan

pertigaan purwosari

berhenti di zebra cross

“Hati-hati dalam bertindak Le, jangan sampe kamu jadi orang yang dzolim.” Kata Mbah Suto tempo hari pada saya.

Saya bingung, “Dzolim piye Mbah? Wong saya ini buruh pabrik yang nyaris ndak punya kuasa apa-apa, mau dzolim sama siapa?”

Mbah Suto mesem, “Dzolim itu ndak butuh kuasa kok Le, menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya juga termasuk perbuatan dzolim.”

Kebetulan hari ini saya melihat contoh dari perkataan Mbah Suto. Tadi pagi di lampu merah pertigaan Purwosari kebetulan saya dapet baris paling depan waktu lampu nyala merah, saya sebagai penyemplak motor yang baik tentu saja berhenti sebelum garis zebra cross. Tapi ada dua orang pengendara motor lainnya yang berhenti tepat di zebra cross. Baca lebih lanjut