Pasien Harusnya Berhak Milih

Hari ini waktunya precil saya yang nomer dua imunisasi DPT sama polio. Jadwal dokternya jam 12 siang, jadi paginya masih sempet ke bengkel, ngganti seal sama oli shockbreaker depan yang bocornya sudah dalam taraf memprihatinkan setelah dua tahun saya pake wira-wiri ke pabrik, menyusuri 50km jalan yang ndak begitu mulus dari Malang ke Pasuruan.

Dalam perjalanan ke rumah sakit istri saya bilang, “Nanti kalo ditawarin vaksin yang dianjurkan ndak usah dulu ya.”

Saya agak bingung, “Maksudnya piye tho vaksin yang dianjurkan?”

Istri saya lalu menjelaskan kalo di negara Indonesia tercinta ini vaksinasi itu terbagi dalam dua macem, vaksin yang masuk Program Pengembangan Imunisasi alias diwajibkan, meliputi BCG, Hepatitis B, Polio, DPT, serta Campak. Dan imunisasi yang non-PPI, yang ini cuma dianjurkan, meliputi Hib, Pneumokokus (PVC), Influenza, MMR, Tifoid, Hepatitis A, dan Varisela.

“Imunisasi yang dianjurkan ini harganya muahal, jadi nanti saja vaksinasinya kalo kita lagi ada duit lebihan, jangan sekarang.” Kata istri saya.

Sebagai buruh pabrik dengan bayaran seadanya saya memang harus pinter-pinter mengatur pengeluaran. Untuk sekedar ongkos mbetulin shockbreaker saja saya terpaksa bohong sama Kang Noyo, ngeles dari mbayar utang. Ah, istri saya memang pengertian. Baca lebih lanjut