Belajar Gitar dengan JamBox dan Chordbot

Untuk sampeyan yang belajar alat musik bernada, belajar scale ndak akan maksimal kalo ndak sering dipraktekkan, kalo istilah yang sering saya dengar dulu namanya nge-jam, kita ngisi melodi secara ngawur bebas, belajar mengeksplorasi nada. Misalnya sampeyan mau belajar scale A Pentatonic Blues, sampeyan bisa mencari seorang kawan untuk memainkan chord Am7 dan Dm7 sampai mati bosen sementara sampeyan ngisi melodinya dengan penuh kegalauan kengawuran.

Susahnya adalah ndak gampang nyari orang yang mau memainkan chord sampai mati bosen, belum lagi kadang ada kendala kita grogi kalo harus belajar di depan orang yang lebih hebat dari kita. Kadang takut salah, walaupun sebenarnya kepleset nada bisa ditutupi dengan ekspresi yang sok yes dan dalih improvisasi.

Alternatifnya sampeyan bisa mengisi melodi dengan iringan lagu yang sudah ada, misalnya sampeyan saingan sama Slash di akhir lagu Sweet Child O’mine dengan memainkan scale E Pentatonic Minor. Tapi kadang lagu yang sudah ada ndak sesuai dengan yang kita inginkan, mungkin chord-nya, atau untuk orang kurang bakat macem saya ini, temponya.

Untungnya jaman makin canggih, sekarang ini untuk sampeyan pengguna android ada beberapa aplikasi yang bisa membantu. Baca lebih lanjut

Audisi Calon Drummer Dream Theater

Bagi saya, salah satu band terbaik saat ini adalah Dream Theater, yang dibentuk tahun 1985 dengan nama awal Majesty oleh John Petrucci, John Myung, dan Mike Portnoy. Menurut ilmu kemeruh saya, band ini seperti jazz-nya musik metal, para personelnya sudah paham di luar kepala teori-teori musik, dan saat bermain mereka melupakan semua teorinya. Misalnya diibaratkan musik pop adalah jalan santai, musik speed metal lari sprint, maka musik progressif metal ala Dream Theater adalah lari kesandung-sandung, jalan santai, tiba-tiba sprint, lalu jatuh gelundungan, sulit ditebak, dan yang jelas sulit dimainkan.

Semua personel Dream Theater hebat, kecuali mungkin vokalisnya yang kadang agak keteteran , tapi salah satu nyawa utamanya terletak pada sang drummer, Mike Portnoy. Kalo sampeyan pernah mendengar permainan bass Billy Sheehan yang ndak puas cuma jadi penjaga ritme, demikian halnya dengan Mike Portnoy, hingga ada semacam olok-olokan kalo beliau ini ndak sekedar drummer tapi lead drum. Kadang dalam sebuah lagu yang menjadi penjaga ritme justru gitarisnya, John Petrucci, sementara si Portnoy ngedrumnya pecicilan kemana-mana.

Makanya cukup mengagetkan waktu Portnoy menyatakan diri keluar dari Dream Theater, setelah sekitar 25 tahun membesarkan band ini. Susah membayangkan Dream Theater tanpa Mike Portnoy, seperti membayangkan Dewa 19 tanpa Ahmad Dani, atau Metallica tanpa James Hetfield, dangdut tanpa Nita Talia, atau industri porno Jepang tanpa Maria Ozawa. *woi! fokus woi! fokus!!*

Tapi memang itulah yang terjadi, pada 8 September 2010 Mike Portnoy mengumumkan bahwa dia resmi meninggalkan Dream Theater Baca lebih lanjut

Klentingan Saya

Peringatan: Ini postingan ndak jelas, ndak mutu, dan cenderung narsis

Semalem saya mbuka-mbuka file lama di komputer, ternyata ada satu folder isinya potongan-potongan lagu ndak jelas. Lagu-lagu ini saya rekam dengan peralatan seadanya di kamar mes pabrik jaman saya masih mburuh di Probolinggo. Saya pasang di sini tapi saya cukup tau diri untuk ndak berharap sampeyan bisa menikmati.

Baca lebih lanjut

Anak Durhaka

Saya ini wong ndeso, ndeso dalam arti sebenarnya karena saya memang lahir dan besar di sebuah kampung terpencil di pelosok Jawa Tengah. Sampe sekarang pun depan dan belakang rumah bapak saya di sana masih sawah, jauh dari jalan beraspal, pokoknya ndeso.

“Ndeso kok bangga.” Sergah Kang Noyo.

“Bukan bangga Kang, saya cuma mendadak teringat kenangan masa lalu gara-gara tadi di pabrik ada orang nyetel lagu dari masa kecil yang selama ini saya cari.” Kata saya.

Waktu itu setelah dengan susah payah akhirnya listrik bisa masuk ke kampung saya, bapak saya membeli radio tape. Walah, senengnya bukan main, karena selama ini hiburan saya cuma radio kotak segede gaban, tenaganya make aki waktu setrumnya sudah ndak kuat buat nyalain tipi item putih, salah satu aset bapak saya yang lain.

Setelah bapak mbeli radio tape itu beliau nanya, “Kamu mau kaset apa?”

Sebagai anak kelas dua SD yang kemeruh saya njawab dengan mantab, “Kaset rock!” Baca lebih lanjut

EliaBintang – Give Me a Chance

Mendengar lagu ini yang terbayang di kepala saya adalah sore-sore duduk di teras menikmati sepi di sela rintik hujan. Tanpa bermaksud mbikin besar kepala yang punya lagu, saya bilang lagunya memang enak didengar, nadanya syahdu tanpa harus mendayu.

Eh, saya belum bilang lagunya siapa ya?

Tadi pagi waktu mbuka twitter, saya liat mas eliabintang ngasih link ke blognya. Berhubung kayaknya beliau ini senior, saya manut saja waktu disuruh ndonlot dan mereview lagunya. Baca lebih lanjut

Santri Bergitar

Saya beberapa kali menyinggung band-band metal macem dream theater, metallica, helloween, dan konco-konconya. Mungkin sampeyan ada yang mikir sebenernya saya bisa main musik gak?

Dengan sedikit jumawa saya umumkan bahwa saya adalah santria bergitar sodara-sodara. *halah! Niru-niru satria bergitar*

Gambar di bawah diambil sekitar tahun 2003 atau 2004 dengan hape Nokia 3650 milik seorang senior.

guitarer

Dan ini adalah contoh rekaman saya pada waktu masih bertapa di kaki gunung bromo, dengan bantuan komputer kreditan, tape polytron yang harganya ndak sampe 300 ribu, gitar listrik merk rockwell harga 800 ribu, plus software adobe audition bajakan.

Mas Stein – Song for My Wife.mp3

Sayangnya WP terlalu pelit untuk ngasih kesempatan saya masang langsung lagunya di sini, jadi terpaksa ya aplot di 4shared.

Metal VS Dangdut

Mungkin temen-temen di ruangan saya heran dengan musik yang saya puter hari ini di komputer buat nemenin kerja. Pagi tadi saya nyetel MP3 band metal asal Spanyol (kalo ndak salah), Dark Moor, lanjut dengan seling-seling Hammerfall, Dream Theater, Helloween, Avantasia, saya mau nyetel Sepultura ndak enak, takut pada ikut batuk-batuk. Pas rada siangan boss saya ikut mbantuin entry data SPT Tahunan, beliau bilang, “kupingku gatel denger lagu sampeyan, mbok ganti dangdut saja”. Sebagai anak ndeso tentu saja saya juga punya koleksi ndangdut, mengalunlah goyangan pantat suara Nita Talia.

goyang-hebohDapet dua lagu boss saya ngomong, “ini standard! Saya sukanya yang konser dangdut di kampung-kampung.” Maksudnya kayak di VCD-VCD bajakan yang banyak dijual di kaki lima itu. Hohoho! Ini yang orang-orang di ruangan saya pada ndak tau, selain kumpulan MP3 band metal yang namanya aneh-aneh itu saya juga punya koleksi donlotan video dangdut dari youtube dengan nama penyanyi yang lebih aneh lagi, macem Mery Geboy, Mela Barby, Lia Ledysta, Irma Permatasari, dan nama-nama ajaib lainnya yang kadang saya ndak tega nyetel videonya, lha kalo di atas panggung bukannya nyanyi malah mendesah-desah! 😯  Maka dimulailah konser dangdut itu sampe sore! 😆

Saya jadi mikir apa metal sama ndangdut itu masih sodaraan ya? Soalnya saya ini suka metal, juga suka ndangdut, sementara yang ngepop, ngejazz biasa saja. Atau karena saya ini Cuma liat goyangan penyanyinya? :mrgreen:

Cukup ah nyolong waktunya, mbalik ke kerjaan. *ngliat tumpukan berkas sambil ngelirik jam*