Wisata Tour Jeep Lava Merapi

Keluarga besar ibu saya yang berasal dari Jogja, ditambah dengan mbakyu yang tinggal di Sleman, dan bapak saya yang tinggal di sana juga, membuat saya sering wira-wiri ke Jogja. Namun, jarang sekali saya menikmati wisata di Jogja. Ke Jogja berarti pindah tidur ke tempat saudara, selalu seperti itu. Libur lebaran kali ini saya juga mudik ke Jogja, yang berbeda adalah istri saya sudah memiliki rencana: Lava Tour Merapi.

Awalnya saya sempat ragu karena Merapi dikabarkan beberapa kali meletus saat Ramadan kemarin. Namun, setelah nanya-nanya ke Mbak Google (catet, ya, berdasarkan suaranya Google ini Mbak, bukan Mbah), ternyata Merapi tetap aman dikunjungi sampai jarak tiga kilometer dari puncak. Lalu kami pun berburu info lewat instagram. Karena itu, ketahuilah wahai orang-orang yang percaya, sesungguhnya telah merugi orang-orang yang berjualan namun tak eksis di instagram.

Saya lalu mengontak 86 MJTC yang juga punya situs jeepmerapi86.com. Saya kuatir jumlah pengunjung di saat libur lebaran membludak sehingga ndak kebagian tempat. Kekawatiran yang kemudian ndak terbukti. Jebul di sepanjang jalan menuju Umbulharjo, Cangkringan, jasa wisata jip ini ombyokan, buanyak banget! Ngomong-ngomong, kalau pengelola Jeep Merapi 86 baca tulisan ini, tolong bio yang di instagram diedit, ya. Situs yang tertulis di situ ndak bisa diakses.

Sehari sebelum lebaran saya berangkat menuju basecamp 86 MJTC. Perjalanan dari rumah mbakyu saya di sekitaran lapangan Denggung, Sleman, menuju Umbulharjo, Cangkringan ditempuh sekitar 45 menit. Saya mengajak bapak dan empat keponakan, sehingga total ada tiga orang dewasa dan enam anak-anak. Saya sudah janjian sama mbak di 86 MJTC untuk memakai dua mobil jip. Baca lebih lanjut

Iklan

Berhenti Ngrusuhi, Mari Bantu Merapi

Semalem Malang hujan deres, dari siang sampe malem ndak berhenti. Sambil menyesap kopi pelan-pelan di warung Mbok Darmi saya berdoa dalam hati, semoga di tempat pengungsian warga yang sedang kena bencana cuacanya ndak seperti ini. Mbakyu saya yang berdomisili di Denggung, Sleman, cerita kalo hujan jalanan jadi licin karena debu yang menumpuk berubah jadi lumpur. Saya bayangkan betapa ngenesnya di pengungsian kalo dalam kondisi yang serba terbatas masih harus bermandi lumpur.

Merapi memang masih anget, seanget kecemasan saya akan kondisi mbakyu yang tiap hari harus menitipkan tiga anaknya ke mertua karena suami istri harus bekerja untuk membuat asap dapur terus ngebul. Saya miris waktu nelpon mbakyu saya Sabtu kemaren, di saat Merapi mengamuk mbakyu saya ndak bisa nengok anak-anaknya karena pabrik tempat dia mburuh ndak memperbolehkan.

“Memang tempat mbakyumu berapa kilo dari Merapi?” Tanya Kang Noyo.

Kemaren saya sempet ngitung make aplikasi yang ada di internet, jarak rumah mbakyu saya sekitar 21,5 km dari merapi.

“Ndak perlu cemas kalo gitu, jarak amannya kan 20 kilometer.” Ujar Kang Noyo.

Mbakyu saya juga bilang sepertinya keadaan masih baik-baik saja, tapi melihat dalam berita televisi kondisi sebuah kampung yang luluh lantak oleh wedhus gembel padahal jaraknya sekitar 17 km dari Merapi mau ndak mau saya merasa was-was juga.

Dan seperti biasa, setiap hal yang menjadi pusat perhatian selalu mengundang banyak pihak yang ingin jadi free rider alias penumpang gelap. Baca lebih lanjut