Julia Perez Calon Bupati Pacitan

Dunia politik di Indonesia ini kadang memang seperti dagelan, ndak cuma anggota DPR yang kadang suka ngecap sana-sini padahal ndak menguasai persoalan, para bintang (baca: selebriti) pun banyak diburu sekedar untuk mendulang suara.

Tanpa menutup mata bahwa memang ada sebagian selebriti kita yang punya kapabilitas sebagai politisi, sampeyan pasti juga mengakui bahwa sebagian yang lain punya muka tembok untuk mempermalukan diri sendiri. Misalnya Mbak Rachel Maryam yang waktu ditanya beda DPR dan DPD menjawab dengan terbata-bata bahwa DPR itu yang membuat Undang-undang, sedangkan DPD adalah perpanjangan tangan DPR. Atau Patrio yang di saat temen-temen artisnya wadul soal pajak ternyata dia ndak ngerti pajak blas.

Tapi politisi kan ndak cuma di DPR, kaum seleb boleh berbangga dengan Dede Jusuf dan Rano Karno yang keliatan intelek dan berhasil memenangi pilkada. Bangga juga dengan Marissa Haque yang walaupun kalah tapi tetep keliatan elegan.

“Memangnya kalo sama Saiful Jamil ndak bangga Le?” Tanya Kang Noyo.

Saya ngakak, teringat Saiful Jamil yang sempat dicalonkan jadi bakal calon wakil walikota Serang. Lha piye, Mas Saiful itu nyanyi saja sudah malu-maluin je, gimana kalo nanti jadi wakil walikota? Baca lebih lanjut

Fordis Pintu Lemari

lemari hotel tempat saya nginep kemaren

Mungkin benar kalo kemewahan itu relatif, mewah untuk sebagian orang mungkin kumuh untuk sebagian orang yang lain. Misalnya sampeyan liat poto lemari di atas, itu adalah poto hotel tempat saya reunian kemaren. Saya pikir hotelnya standard, ndak buruk, juga ndak mewah. Tapi ternyata ada juga yang berpikir itu hotel mewah. 🙄

mungkin sampeyan merasa sama dengan saya. ada yang aneh dalam tulisan ini...

Saya pernah mbaca di sebuah majalah, untuk meninggalkan kesan di suatu tempat tempelkanlah sebuah stiker yang sangat kecil di tempat yang tak terlihat. Baca lebih lanjut

Sini Komplek, Situ Kampung

49-AMBALAT-02Sedikit banyak saya bisa merasakan apa yang dirasakan warga Ambalat, pihak sini meng-klaim, pihak sana juga meng-klaim juga. Jadi rebutan 2 pihak tapi ndak ngerti apa manfaatnya kalo ikut salah satu. Ndak gitu ngerti juga apa manfaat yang diperebutkan dari kampungnya.

Bukan, rumah saya ndak terletak di perbatasan wilayah negara yang berisi tentara grudak gruduk saling mengarahkan moncong bedil. Rumah saya ada di pinggiran kota Malang, Jawa Timur, di pinggir kali yang kalo pagi dan sore masih banyak orang mandi.

Lha trus?

Inilah lucunya. Rumah saya merupakan perumahan baru yang cuma terdiri dari duapuluhan rumah. Letaknya tepat di perbatasan antara “kampung” yang mayoritas merupakan penduduk asli, dan “komplek” yang kebanyakan berisi pendatang. Saya ndak tau awal mulanya, pada saat perumahan sudah berdiri tiba-tiba dua ketua RW, RW V dan RW VI, sama-sama mengklaim kalo perumahan saya masuk wilayah mereka. 😯

Baca lebih lanjut

Nikmatnya Tidur

Menurut sampeyan apakah tidur itu suatu kenikmatan?

Saya inget dulu waktu masih mbambung di Jogja, waktu malem-malem udad udud di UGM, temen saya nanya pertanyaan itu. Saya bilang nikmat karena dengan tidur maka rasa capek bisa ilang.

Kata teman saya, “itu kan nikmatnya bangun tidur.”

Saya bilang nikmat lagi karena sensasi yang terasa menjelang kita amblas ndak sadar menuju negeri antah berantah.

Kata temen saya lagi, “itu nikmat menjelang tidur.”

Dan kembali temen saya nanya pertanyaan bodoh itu, “jadi tidur itu nikmat ndak?”

*********

Kejadian Menegangkan di Perjalanan

Kejadian Pertama

Yang ini mungkin lebih tepatnya menegangkan di awal perjalanan.

Suatu saat di masa lalu, waktu saya masih sekolah di sebuah sekolah berasrama, saya bermaksud kabur untuk sekedar menikmati suasana di luar pagar. Waktu yang saya pilih selepas maghrib sebelum isya di saat penjagaan sedang dalam kondisi paling longgar. Tempat yang saya pilih untuk kabur adalah tembok deket kantin, di situ ada tempat untuk manjat keluar. Pelan-pelan saya mengendap-endap, liat sekeliling, nyari pijakan, dan dengan sedikit usaha saya berhasil melompati pagar.

Jlep! (bener gak sih suaranya?) saya mendarat dengan mulus di luar tembok asrama, dan jantung saya langsung berhenti sekejap, sekitar 15 meter dari tempat saya turun ada seorang penjaga lagi berdiri membelakangi saya!

Baca lebih lanjut

Reaksi Atas Kejahatan

Dari pengalaman melihat, membaca, dan ngobrol sama orang-orang yang pernah berinteraksi dengan kejahatan, ternyata reaksinya macem-macem. Berikut ini macem-macem reaksi orang yang pernah saya jumpai :

  • Mengikhlaskan

Jangan sampeyan pikir semua orang takut dimaling, saya pernah menjumpai seorang pengusaha di Probolinggo yang mengatakan tidak takut menjadi korban kejahatan. Beliau bilang sama saya, “kalo misalnya orang nyolong harta saya berarti itu maling yang benar, karena saya orang kaya.”

Manteb tho kata-katanya. *berharap suatu saat bisa ngomong kayak dia*

  • Melarikan diri

Ada seorang tetangga saya di kampung waktu malem-malem ditodong orang dengan celurit, diminta menyerahkan motornya. Tetangga saya ini takut tapi ndak mau menyerah begitu saja, dia memacu motornya sekencang mungkin, kejar-kejaran sama di penodong. Untungnya tak berapa lama kemudian dateng mobil, si penodong takut trus kabur. *butuh nyali ekstra untuk melakukan ini* Baca lebih lanjut