Kekerasan yang Lembut

Kalo misalnya di rumah tetangga sampeyan ada suara suami istri lagi berantem, adu kenceng teriak lantas ditutup dengan suara banting-bantingan piring, besoknya sampeyan liat mata kiri sang istri biru lebam, apa yang akan sampeyan lakukan?

“Pura-pura ndak liat Le, mosok ya aku nglabrak suaminya. Itu kan urusan rumah tangga orang.” Kata Kang Noyo sambil klecap-klecep nyruput kopi seribuannya Mbok Darmi. Sore tadi saya sengaja ndak mbawa rokok, jengkel sama temen saya yang ndak pernah mau ngerti, rokok selalu saja ndak modal. Kalo tanggal muda sih ndak papa, lha sekarang sudah tanggal tua renta bau tanah.

“Kalo misalnya kejadian itu berlanjut piye Kang? Tiap hari perang terus? Opo ndak terusik pikiran Sampeyan?” Tanya saya.

“Yo paling lapor Pak RT.” Ujar Kang Noyo.

Masalah seperti ini memang repot, kekerasan dalam rumah tangga seringkali berlangsung terus menerus tanpa ada pihak yang bisa menengahi. Tetangga mau cawe-cawe ya ndak enak wong itu urusan dalam negeri, bahkan kadang korban KDRT juga seperti ndak rela kalo ada orang yang ikut campur.

“Mosok tho Le?” Tanya Kang Noyo ndak percaya. Baca lebih lanjut

Ibu yang Sempurna

ibu dan anak

Aku gak akan pernah bisa jadi ibu yang baik, itu yang selalu dibilang sama Mas Darmo, suamiku. Tiap kali aku bertanya kemana dia pergi sampe harus pulang pagi, dia akan bilang panjang lebar tentang beratnya beban yang harus dia pikul, tentang lembur yang harus dijalani dan kurang bersyukurnya aku sebagai istri.

Dia akan ngomel panjang lebar tentang anak-anak kami yang makin bengal, gak hormat dan patuh, yang berisik waktu dia tidur di akhir pekan, yang nilai sekolahnya gak juga membaik, dan yang lain-lain, dan yang lain lagi. Dia selalu bilang bahwa tanggung jawabnya adalah mencari nafkah di luar, dan mendidik anak-anak adalah tanggung jawabku.

Kebutuhan rumah tangga kami tercukupi, berarti tanggung jawabnya sudah dilakukan dengan baik. Anak-anak kami kurang terdidik, berarti aku memang gak bisa mengemban tanggung jawab.

Suamiku selalu benar, gak mungkin dia salah. Tetangga-tetangga kami bilang kalo suamiku selalu jadi yang terbaik dari kecil, di sekolah selalu ranking pertama, biaya pendidikan selalu didapat dari beasiswa, setelah lulus pun langsung ditawari kerja dan karirnya gak pernah redup.

Sedangkan aku, dari kecil orang tuaku selalu bilang kalo aku anak sial. Baca lebih lanjut