Kartel Fuel Surcharge

Setiap kali mendengar nama kartel yang ada dalam bayangan saya adalah adegan tembak-tembakan mafia obat bius Kolombia, maklumlah selain karena saya ini suka pilem-pilem berlatar belakang cerita mafia, juga karena pengetahuan soal ilmu ekonomi seorang buruh pabrik macem saya ini terbatas. Daripada mbaca teori ekonomi yang mbulet-mbulet saya lebih tertarik dengan judul semacam Tentara Pemerintah Menewaskan Gembong Kartel Obat Bius.

“Memang dasarnya level bacaanmu itu level koran ecek-ecek, paling yang kamu cari di koran cuma berita kriminal sama iklan pijet esek-esek.” Sindir Kang Noyo.

Asyem!

Tapi saya ndak salah tho? Wong kadang mikir hidup sehari-hari saja sudah ruwet, mosok tinggal mbaca koran saja ya nyari yang mbikin mumet?

Konon katanya definisi kartel adalah kelompok produsen yang bertujuan menetapkan harga, untuk membatasi suplai dan kompetisi. Kelompok seperti ini biasanya timbul dalam kondisi oligopoli alias hanya terdapat sedikit pemain. Karena sudah ada kesepakatan dari kelompok produsen akhirnya konsumen ndak dapet keuntungan yang biasanya muncul dari sebuah persaingan murni, yakni harga termurah. Baca lebih lanjut