Mengukur Ketidakpantasan

“Jiyan! Mungkin sekarang beneran sudah jaman edan yo Le, sing ora edan ora keduman.” Kata Kang Noyo tadi sore waktu ngopi bareng saya di warung Mbok Darmi.

Opo maneh iki? Kok tiba-tiba ngomong jaman edan, yang ndak edan ndak kebagian.

“Ada apa tho Kang?” Tanya saya.

“Soal Pilkada ini lho, Julia Perez katanya mau nyalon bupati Pacitan, Maria Eva bupati Sidoarjo, berikutnya siapa lagi?” Ujar Kang Noyo dengan nada sinis.

“Sampeyan kok nyinyir gitu tho Kang, lha mbok ben mereka mau nyalon wong negara demokrasi kok. Soal kepilih atau ndak kan tergantung rakyatnya.” Kata saya.

“Yo ndak bisa gitu tho Le. Sekarang ambil yang paling sederhana saja, kamu mau nglamar kerja, apa ya mungkin tanpa punya dasar kemampuan apa-apa kamu berani ngincer posisi tertentu? Ndak mungkin tho nanti kamu ditanya punya kemampuan apa trus kamu njawab saya memang ndak punya dasar kemampuan apa-apa tapi saya yakin saya mampu megang posisi itu.” Ujar Kang Noyo panjang lebar.

“Trus yang lucu lagi waktu Pak Menteri bilang mau mbikin aturan pezina dilarang jadi kepala daerah, si Jupe bilang kalo aturan itu sengaja dibuat untuk menjegal dirinya. Lho memangnya ada yang pernah bilang kalo Jupe pezina?” Lanjut Kang Noyo.

Welhadalah! Pertanyaan Kang Noyo berbau penggiringan opini publik bahwa si anu secara ndak langsung mengakui bahwa dirinya adalah seorang penganu. Bisa kena pasal pencemaran nama baik ini. Baca lebih lanjut

Julia Perez Calon Bupati Pacitan

Dunia politik di Indonesia ini kadang memang seperti dagelan, ndak cuma anggota DPR yang kadang suka ngecap sana-sini padahal ndak menguasai persoalan, para bintang (baca: selebriti) pun banyak diburu sekedar untuk mendulang suara.

Tanpa menutup mata bahwa memang ada sebagian selebriti kita yang punya kapabilitas sebagai politisi, sampeyan pasti juga mengakui bahwa sebagian yang lain punya muka tembok untuk mempermalukan diri sendiri. Misalnya Mbak Rachel Maryam yang waktu ditanya beda DPR dan DPD menjawab dengan terbata-bata bahwa DPR itu yang membuat Undang-undang, sedangkan DPD adalah perpanjangan tangan DPR. Atau Patrio yang di saat temen-temen artisnya wadul soal pajak ternyata dia ndak ngerti pajak blas.

Tapi politisi kan ndak cuma di DPR, kaum seleb boleh berbangga dengan Dede Jusuf dan Rano Karno yang keliatan intelek dan berhasil memenangi pilkada. Bangga juga dengan Marissa Haque yang walaupun kalah tapi tetep keliatan elegan.

“Memangnya kalo sama Saiful Jamil ndak bangga Le?” Tanya Kang Noyo.

Saya ngakak, teringat Saiful Jamil yang sempat dicalonkan jadi bakal calon wakil walikota Serang. Lha piye, Mas Saiful itu nyanyi saja sudah malu-maluin je, gimana kalo nanti jadi wakil walikota? Baca lebih lanjut

Baju Julia Perez Melorot

Gara-gara baca berita di harian Surya hari ini 14 Juli 2009 saya jadi penasaran, pengen liat gimana adegan waktu bajunya mbak Yuli Rahmawati a.k.a Julia Perez melorot. *dasar otak mesum!*

Saya patut curiga tho, bener gak adegan itu ndak disengaja, jangan-jangan aslinya memang diatur biar melorot, soale kalo berita yang beginian pasti banyak dicari, ujung-ujungnya popularitas naik. *tetep saja dasarnya otakmu mesum!*

Dan rupanya bener saja, dengan mengetikkan keyword “julia perez melorot” pada mbah gugel langsung berderet link yang nongol, mulai dari foto sampe video. *tuh kan memang dasarnya mesum*

Ngomong-ngomong sampeyan tau tho siapa Julia Perez?

*Postingan ndak mutu ini dibuat dengan sebenar-benarnya dan sesungguh-sungguhnya untuk ngetes berapa banyak pengunjung sesat berotak mesum kayak saya yang gentayangan di dunia maya. :mrgreen: