Bukan Sekedar Pengharaman

Lagi-lagi haram, begitu mungkin yang terlintas di benak banyak orang. Diikuti dengan beberapa pertanyaan yang lain semisal, apa ndak ada hal yang lebih penting buat diurusin? Apa yang bikin fatwa haram sudah melihat berbagai aspek yang mungkin bakal terpengaruh dengan keluarnya fatwa tersebut? Dan mungkin apakah-apakah yang lain, tergantung dari siapa pertanyaan dilontarkan.

Mohon maap, saya ndak pengen nambah-nambahi pertanyaan itu, sudah cukup pertanyaan dan pernyataan yang saya baca di berbagai media. Saya mau mencoba untuk melihat dari sisi yang berbeda.

Saya pernah membaca tips memotret, di situ disebutkan bahwa untuk bisa memperoleh gambar natural dalam kondisi cahaya yang kurang kita harus make kecepatan rendah. Tapi resiko mengambil gambar dengan kecepatan rendah adalah gambarnya cenderung blur alias ndak tajem karena posisi tangan kita ndak stabil, untuk mengatasinya bisa menggunakan tripod.

Saya bilang itu tips yang lumayan membantu, tapi kata Kang Noyo temen saya di pabrik, itu tips yang mengada-ada, wong mau motret saja kok repot. Dengan mode auto kan tinggal nyalain kamera trus jepret, jadi potonya.

Mungkin memang ndak bisa disandingkan apple to apple antara tips memotret dengan keluarnya sebuah fatwa haram, tapi ada satu kesamaan yang bisa diambil, keduanya ditulis berdasarkan ilmu. Baca lebih lanjut

Infotainment Diharamkan?

Selama libur empat hari kemaren saya nyaris ndak online blas, hanya sesekali mbuka twitter di sela-sela ngurusi bapak dan simbok saya yang dateng dari kampung, juga mbakyu dari Jogja yang baru sekali ini sempat dolan ke Malang.

Ada yang agak ngganjel di pikiran saya waktu beberapa orang di twitter mengomentari pendapat menteri agama yang mendukung fatwa haram NU atas infotainment yang bersifat Ghibah.

Awalnya ada memberi link berita di Tempo Interaktif dan bilang, “Kenapa jadi seperti ini?”

Mungkin yang bersangkutan menyesalkan kenapa ribut-ribut Luna Maya dan beberapa wartawan infotainment jadi melebar sampai harus keluar fatwa haram. Baca lebih lanjut