Hikmah yang Bijaksana

Konon katanya kampung sebelah saya adalah salah satu desa dengan sistem demokrasi terbaik di negeri ini. Kalo orang kulon kali sana bilang kampung sebelah itu adalah desa prototype, sebuah model desa yang nantinya akan diterapkan di seluruh Indonesia, bahkan mungkin di seluruh dunia, dengan catatan dunia itu juga terdiri atas desa-desa. Sebab kalo dunianya bukan terdiri atas desa-desa, mana mungkin prototype itu bisa diaplikasikan, kan prototype-nya desa?

Mbulet, seperti biasanya, karena ciri blog jelek ini memang begitu. Membuat hal yang seharusnya mudah jadi terlihat sulit, sehingga tulisan yang aslinya ecek-ecek pun beraroma canggih nan intelek. Dengan tujuan yang sangat jelas tentunya, membuat pemiliknya terlihat cerdas…

Walaupun tanpa sadar hal-hal seperti itu ternyata makin mengentalkan kesan ndeso dan ndak terpelajarnya sang empunya blog.

“Trus sampe kapan kamu mau ngelantur Le?” Tanya Kang Noyo menyadarkan saya.

Wasyem…!

Jadi ceritanya beberapa waktu yang lalu saya ketemu Pak Darmo, iya Pak Darmo yang itu, mantan RW yang gagal waktu nyalon di pilihan legislatif. Sebenarnya yo rada kasian, tapi dalam hati saya sebenarnya agak bersyukur, lha wong dia gagal paham waktu ditanya soal konsep akuntabilitas kepada konstituen.

Walaupun gagal dalam pileg, ternyata dia sekarang juga seorang wakil rakyat.

Kok bisa?

“Aku ini sekarang anggota BPD Le, Badan Permusyawaratan Desa.” Kata Pak Darmo dengan senyum palsu khas politisi sembari sedikit membusungkan dada.

“Jangan kamu anggap remeh ya, di kampung sebelah itu anggota BPD dipilih melalui pemilihan langsung. Jadi aku ini benar-benar mewakili rakyat. Bukan sekedar politisi karbitan yang ditunjuk dari atas lalu berpura-pura seakan semua yang dia lakukan adalah wujud keinginan rakyat.” Lanjutnya, masih dengan senyum mengembang. Baca lebih lanjut

Kapasitas dan Urgensi di Level Warung Kopi

Peringatan: judul di atas menipu!

Sebenarnya saya males ngomong soal pilpres dan anak turunnya. Bukan apa-apa, yang pertama karena masalah itu berada di luar kapabilitas saya sebagai buruh pabrik yang lingkungan pergaulan paling jauhnya cuma warung Mbok Darmi, yang kedua males ribut. Bahkan pernah sebuah guyonan yang saya lempar tanpa mikir tentang pilpres pun ditanggapi serius, yang membuat saya akhirnya jadi ikut mikir, padahal ndak mampu!

Ciloko tenan…

Kalo sampeyan nanya apakah saya kemarin ikut nyoblos? Iya, saya nyoblos. Tapi saya nyoblos bukan karena alasan nasionalis yang mengharu biru, demi menegakkan syariat, atau karena berharap perubahan yang dahsyat, atau hal-hal lain yang butuh kontemplasi tingkat tinggi, ndak. Secangkir kopi di warung Mbok Darmi ndak cukup untuk membuat saya mampu berpikir sedahsyat itu. Saya nyoblos karena memang waktunya nyoblos. Seperti halnya misal di pabrik ada sebuah acara yang sudah disiapkan dengan susah payah oleh kawan-kawan, trus saya ndak dateng, ndak sopan itu namanya. Tinggal datang saja lho, susah bener. Dan ini pun sama, tinggal nyoblos saja kok, ruwet tenan.

Bahwa Indonesia butuh perubahan, iya, Indonesia harus menjadi lebih baik, saya setuju. Tapi saya ndak terlalu berharap keajaiban itu akan datang hanya karena seorang presiden. Saya lebih percaya bahwa Indonesia akan berubah saat sampeyan saya mulai menyimpan sampah di kantong baju sampai nemu tempat sampah, saat sampeyan saya ndak melempar puntung rokok ke jalanan, saat sampeyan saya naik motor pilih muter jalan agak jauh dibanding mlipir di kanan jalan, saat sampeyan saya walaupun dengan setengah gak ikhlas tapi jujur mbayar pajak…

Sesudah pilpres nanti kita akan tetap ngopi tiap pagi, setelah itu yang sekarang macul juga akan tetap macul, yang sekarang nguli akan balik nguli. jadi semoga yang sekarang ini sedang sibuk membela dan mencaci hanya semata karena mencari selingan di antara rutinitas ngopi, macul, dan nguli…

Baca lebih lanjut

Belum Jadi Kok Sudah Nyampah

Setiap menjelang pemilu seperti sekarang ini saya selalu bimbang, dilema. Galau kalo kata anak-anak sekarang. Teringat jaman masih sekolah dulu, tahun 1999, waktu pertama kali saya mempunyai hak pilih, saya diwanti-wanti Bapak untuk pulang kampung, “Lumayan Le, nambah-nambah satu suara untuk PKB.”

Saya pulang?

Tentu ndak, wong cuma urusan coblos mencoblos gitu aja, ndak penting pikir saya. Pun dalam dua pemilu sesudahnya, saya tetep ndak nyoblos.

Masih tetep berpikir urusan coblos mencoblos itu ndak penting?

Ndak juga, lebih tepatnya saya ndak mikir blas…

Bukan berarti saya belum pernah nyoblos pemilu. Saya ikut nyoblos, maksud saya nyontreng, waktu SBY terpilih sebagai presiden. Saya juga ikut milih waktu Abah Anton menang pilwali Kota Malang. Tapi kalo sudah ngomong soal pemilu legislatif ya balik lagi ke situ, bimbang, dilema, dan galau…

Kok? Baca lebih lanjut

Wahai Para Caleg, Beranikah Menerapkan Konsep Akuntabilitas Kepada Konstituen?

Dulu saya ndak pernah berpikir kalo suatu saat nongkrong di Warung Mbok Darmi akan menjadi sebuah kemewahan. Diliat dari sudut manapun memang susah untuk melihat nongkrong di Warung Mbok Darmi sebagai sebuah kemewahan, tempatnya ndak elit, harganya murah, yang dateng juga bukan golongan wah, trus apanya yang mau dibilang mewah?

Lha itu, saya juga bingung…

Warung Mbok Darmi bagi saya adalah tempat menyesap nuansa, sebuah istilah yang secara semena-mena saya buat sendiri dengan ilmu kemeruh dan kemaki tingkat tinggi. Dan karena saya yang mengistilahkan sendiri, sah-sah saja saat saya bilang kegiatan itu paling ndak membutuhkan dua hal : waktu dan suasana. Kok ya kebetulan dua hal tersebut akhir-akhir ini susah saya dapatkan. Dan saat dua hal tersebut datang rasanya saya nyaris bisa merasakan aroma kepongahan, ngopi di Warung Mbok Darmi belum pernah semewah ini.

“Halah, wong tinggal nyeruput kopi saja lho. Buruh pabrik yo buruh pabrik saja, ndak usah sok-sokan bergaya macem Plato atau Socrates.” Cetus Kang Noyo, yang seperti biasa dengan tiga unsur pertempuran jarak dekat ala militernya sudah sukses merampok rokok saya. Mengejutkan, cepat, dan kejam…

Kurang mengejutkan apa bungkus rokok masih di kantong baju langsung diambil, juga cepat wong dua batang langsung diambil sebelum bungkusnya saya rebut kembali, dan jelas kejam karena di bungkus itu isinya tinggal tiga batang.

Untungnya rebutan rokok itu ndak berlangsung lama, karena mendadak dua bungkus rokok diletakkan di depan kami, disertai senyum nyaris tulus di seberang meja, mantan RW di komplek saya, Pak Darmo. Baca lebih lanjut

Asu Gede Menang Kerahe

Masih anget dalam ingatan saat sebuah panggung didirikan di senayan, lalu satu per satu pemain beradu teriak layaknya sinetron khas teve lokal. Pertunjukan reality show ala gank senayan kala itu menyoroti soal kebijakan yang diambil pemerintah, wabil khususon menteri keuangan, Sri Mulyani. Sungguh pertunjukan yang kumplit karena mulai penyelidikan, penuntutan, sampai penghakiman dihadirkan di satu tempat, dan lebih istimewa lagi karena dipertontonkan secara live!

Cerita berakhir anti klimaks karena para pemain kelas atas tersebut sepertinya sepakat bahwa membuka semua kartu yang dimiliki hanya akan membawa kehancuran untuk semua pihak yang bersengketa. Tetep harus ada yang dikorbankan, tapi pelan-pelan kartu yang sudah siap dilempar kembali ditutup, dan ritme pun kembali normal. Yang sidang ya sidang, yang nglencer ya nglencer, yang nganu ya nganu.

“Nganu ya nganu opo maksudmu?” Tanya Kang Noyo penuh selidik.

“Nganu itu yo nganu Kang.” Kata saya sambil nyeruput kopi yang rasanya makin hari sepertinya makin sepo di warung Mbok Darmi.

Nganu adalah saat kita memberi kesempatan seluas-luasnya kepada tiap orang untuk berimajinasi, menginterpretasikan sesuai apa yang dia mau. Nganu juga bisa berarti saya ndak tau kata apa yang bisa secara tepat untuk mendeskripsikan yang saya maksud. Nganu adalah kata kerja yang sifatnya universal, saat terlalu banyak yang harus disebutkan, sampeyan cukup mewakilkan pada satu kata, nganu! Baca lebih lanjut

Melanggar Wewenang, Merusak Tatanan

Kemaren sore waktu mau ke warung Mbok Darmi saya ketemu sama Pak Yono, satpam yang biasa jaga malem di komplek saya, sedang klebas-klebus ngisep rokok kretek di pos kamling dekat rumahnya Pak Darmo. Dari ujung jalan saya liat dia berkali-kali menarik nafas panjang sambil ngliat ke langit. Saya jadi ikut-ikutan liat ke langit, tapi perasaan ndak ada apa-apa di atas.

“Ada apa tho Pak, mumet mikir tanggal tuwa po piye?” Sapa saya sambil duduk di sebelahnya.

Pak Yono cuma mesem getir, “Ndak kok mas, bukan soal tanggal tua. Saya habis diomeli sama Pak Darmo.”

Lhadalah!

“Ada masalah apa sampeyan diomeli Pak Darmo?” Tanya saya.

Perlu sampeyan ketahui bahwa Pak Darmo ini salah satu tokoh yang konon terhormat di tempat saya. Beliau dulu pernah jadi ketua RW sebelum akhirnya lengser gara-gara tersangkut masalah penyunatan dana BLT. Walaupun begitu beliau masih tetep seorang tokoh masyarakat yang suaranya sering didengar.

“Ini gara-gara maling di komplek sebelah yang ketangkep kemaren. Saya pikir saya dipanggil Pak Darmo mau dikasih ucapan terima kasih, ndak taunya malah diomeli.” Baca lebih lanjut

Menarik Garis Tegas

Dulu Gus Dur pernah bilang kalo DPR seperti anak TK, mungkin sekarang ungkapan itu sudah ndak pas, lebih tepat kalo dikatakan DPR sekarang seperti anak TK yang kebanyakan nonton sinetron lokal. Lebay kata anak sekarang, duit rakyat dihambur-hamburkan untuk membuat sinetron di senayan. Dua kali KPK diundang Rapat Dengar Pendapat dengan Komisi III, dua kali pula mereka membuat drama dengan tema Bibit-Chandra.

Monggo sampeyan simak yang dikatakan Gayus Luumbun, “Kedua orang ini statusnya tetap sebagai yang diduga melanggar hukum, Saya ingin kita semua melihat bagaimana kelayakan dua orang yang diduga bersalah ini sebagai pimpinan lembaga yang akan rapat dengan kita hari ini di sini.”

Lupa bahwa beberapa waktu sebelumnya dia mati-matian membela orang-orang yang sampai harus dijemput paksa KPK.  Lucu, mempersoalkan deponering bukan kepada Kejaksaan Agung yang mengeluarkan kebijakan, tetapi kepada Bibit-Chandra yang ndak punya kuasa untuk menerima atau menolak deponering. Baca lebih lanjut