Saya Ikut Amnesti, Supaya Halal

periode III amnesti pajak

Kadang saya pikir kebablasan juga orang-orang yang lagi promo amnesti pajak, nyaris di mana-mana saya ketemu sama logo burung kertas berwarna emas ini. Oke lah, kalo misalnya saya liat di mesin ATM, di mal, atau cafe yang memang isinya orang-orang berduit, atau minimal berusaha kelihatan berduit. Lha ini, di dinding warungnya Mbok Darmi, tempat kami kaum jelata berusaha memelihara pergaulan sosial bermodal selembar duit bergambar pahlawan asal Papua pun ndak luput dari tempelan amnesti pajak.

Kalopun ada pengunjung warung ini yang layak mikir ikut amnesti pajak apa ndak, paling cuma Mbah Suto, juragan kampung saya yang sugihnya ndak kira-kira itu. Dan panjang umur, baru saja saya mbatin, ternyata beliau sudah duduk di pojokan warung, melambaikan tangan memanggil saya. Dan tentu saja saya langsung merapat, rejeki memang ndak bakal kemana, malem ini saya ndak bakal keluar duit, sedikit memanjangkan nafas di tanggal tua.

“Lho Mbah, sampeyan tho yang nempel amnesti pajak di depan itu?” Curiga saya, lha di sebelah gelas kopinya ada beberapa lembar leaflet amnesti pajak.

Beliau terkekeh, “Biar orang-orang kayak kamu juga tahu, amnesti pajak tinggal tiga bulan lagi.”

Welhah, ngece Mbah Suto ini, biarpun level saya masih tetep buruh, ndak naik-naik sejak jaman kolobendu, tapi kalo soal amnesti pajak boleh lah kami diadu. Sekedar tau lho ya, kalo soal ikut ya lain lagi ceritanya.

Baca lebih lanjut

Iklan

Tentang Amnesti Pajak

Amnesti-Pajak-Slide-1“Ternyata gitu tho Mas, tak pikir amnesti pajak itu cuma buat orang kaya.” Kata Pak Darmo, mantan RW yang sugihnya level medioker itu waktu ketemu saya di warung Mbok Darmi kemarin sore.

Tax amnesty, alias amnesti pajak, alias pengampunan pajak memang lagi rame-ramenya diberitakan. Dengan target yang bunyinya ribuan triliun, terlebih lagi di media masa selalu dikaitkan dengan banyaknya duit orang-orang disembunyikan di luar negeri, ndak salah kalo kebanyakan orang, termasuk Pak Darmo, mengira amnesti pajak ini hanya ditujukan bagi orang kaya, orang-orang yang punya dana sekian triliun di bawah bantal, dan bantalnya di luar negeri.

Judulnya saja pengampunan. Yang namanya pengampunan itu di mana-mana bukan ditujukan untuk orang kaya, tapi untuk orang yang errr… punya salah.

Misalnya sampeyan baru mulai usaha, keliling berpanas-panas menawarkan dagangan pake motor Astrea Prima. Ndak bakal sampeyan mikir pajak. Wong untuk sekedar menjaga jangan sampe telat mbayar kulakan saja susah. Setelah usaha sampeyan berkembang, kelilingnya sekarang pake Daihatsu Hijet, mungkin juga masih belum mikir pajak. Pikir sampeyan, nanti saja lah, tunggu usahanya agak gede.

Sampai kemudian mobil sampeyan ganti jadi kijang kotak, trus Avanza, Innova, tiap kali kepikiran pajak selalu sampeyan bilang nanti-nanti saja. Hingga suatu saat pas mobil sampeyan sudah Fortuner, dan tiba-tiba datanglah sepucuk surat cinta dari kantor pajak.

“Yth. Bapak anu, kenapa bapak ndak pernah mbayar pajak selama lima tahun terakhir? Padahal tiap hari bapak lewat jalan yang dibangun dengan uang pajak? Mbok ya malu pak, ndak ikut urunan kok ikut makan.” Baca lebih lanjut