Dream Theater di Jogjarockarta

Dalam beberapa hal, saya termasuk orang yang konservatif. Tipikal pemain aman yang membosankan. Termasuk dalam hal musik. Saya adalah penggemar dangdut.

Mungkin lantas sampeyan ada yang nanya, memangnya dangdut itu konservatif? Hooh, paling ndak menurut saya. Di jenis musik apalagi sampeyan bisa memainkan banyak lagu cukup dengan modal chord Am, F, dan G? Sudah chord-nya begitu-begitu saja, ketukannya juga konstan.

Setelah berkenalan dengan dangdut, saya juga suka dengan lagu-lagu Malaysia. Lha mereka memang mirip, kok. Chord-nya standard, nada-nadanya pun mirip dangdut. Kalau ndak percaya, silakan sampeyan cari lagu Malaysia versi dangdut, pasti banyak. Eh, tapi dangdut memang musik omnivora sih, dari The Final Countdown sampai Despacito pun diembat sama mereka.

Lalu suatu saat datanglah temen saya, membawa kaset Yngwie Malmsteen, The Seventh Sign. Saya langsung terkagum-kagum, jelas salah satunya karena kecepatan main gitarnya yang blukutuk-blukutuk itu. Namun yang lebih menyenangkan lagi adalah, jenis musik yang baru saya dengar itu bisa langsung masuk ke kuping saya, karena dia mirip, errr, dangdut! Baca lebih lanjut

Iklan

Pilihan yang Diwajibkan

Sebut saja namanya Ngadiman. Lelaki umur tigapuluhan yang menghabiskan masa kecilnya di sebuah dusun kecil pelosok Jawa Tengah. Tempat di mana Ngadiman kecil terbiasa berangkat sekolah sambil menenteng sepatu. Melewati pematang sawah yang hampir mustahil dilalui kendaraan saat musim hujan, sekelas sepeda pancal sekalipun. Di sana, malam-malam dihabiskan tanpa penerangan listrik. Dan tak ada jaringan telepon juga, tentu saja.

Sekian tahun berlalu. Dusun itu sekarang telah menikmati percik peradaban. Anak-anak berangkat sekolah tanpa harus menenteng sepatu. Walaupun jalan yang dilewati masih berupa campuran pasir dan batu yang berhias kubangan lumpur saat musim hujan. Televisi dan kulkas pun sudah jadi barang yang jamak semenjak listrik mengalir di sana. Namun tetap belum ada satu pun tiang telepon tertanam. Jaringan selular yang masih berada di tingkat 2G juga sering timbul tenggelam.

Namun lupakan sejenak dusun itu. Sekarang Ngadiman sudah jadi orang kota. Sekolahnya gak tinggi-tinggi amat, tapi lumayan. Penghasilannya pun tak tinggi-tinggi amat, tapi cukupan. Satu hal yang jelas membedakan dengan orang-orang di dusun asalnya: akses online untuk banyak hal yang dia butuhkan. Baca lebih lanjut

Klakson

Konon katanya, salah satu perbuatan yang diharamkan saat berada di jalan adalah mengklakson angkot. Bukan apa-apa, berbeda dengan kebanyakan orang yang akan bereaksi saat diklakson, sopir angkot seakan sedang berada pada ruang dan waktu yang berbeda. Mereka seperti tak mendengar apapun, dengan mata tetap fokus mencari penumpang. Sungguh, mengklakson angkot adalah perbuatan sia-sia, mubazir. Dan sampeyan tau, mubazir itu temannya setan.

Jalanan adalah pabrik kesia-siaan yang luar biasa produktifnya. Misalnya, saat ada kendaraan dari arah berlawanan sedang menyalip, sampeyan akan langsung reflek ngedim atau minimal menyalakan sein kanan. Walaupun jaraknya masih aman. Atau saat motor di depan sampeyan tau-tau belok kiri dan berhenti, sampeyan akan mengklakson. Sekadar untuk meluapkan kekesalan. Kadang sampeyan juga mbengok, “Wooo!” sambil mulut mecucu setengah meter saat ada perilaku yang sampeyan anggap ngawur. Masalahnya, sampeyan mecucu di dalam mobil yang tertutup rapat dengan kaca film 80%.

Makanya, sampeyan jangan terlalu bangga kalo baru sampai pada level berhasil menjauhkan tangan dari klakson saat berada di belakang sopir angkot. Masih terlalu banyak kesia-siaan yang mungkin sampeyan buat di jalanan sana.

Baca lebih lanjut

Aku Berlindung dari Godaan …

Itu adalah Ramadan masa kecil, ketika di malam-malam harinya, aku mau berangkat mengaji dan ketakutan karena harus melewati sawah dan kuburan. Orang-orang bilang, “Ndak usah takut. Sekarang bulan puasa. Setan lagi pada dirantai, ndak bisa ke mana-mana.”

Aku bisa sedikit tenang. Dalam bayanganku waktu itu, segala jenis jin, setan, demit, prewangan sedang meratap dalam pasungan kayu. Kenapa pasungan kayu? Harap maklum, aku menghabiskan masa kecil di dusun yang juga kecil. Seberapa kecil? Jika kau pernah membaca Ronggeng Dukuh Paruk-nya Ahmad Tohari, kira-kira begitulah. Hanya ada enam puluh lima kepala keluarga di kampung kami yang bersahaja. Dan satu-satunya contoh manusia terbelenggu di kampong yang kutahu adalah Mbah Bodo. Ia dipasung dengan kayu karena sering mengamuk. Aku tak mengenal bentuk belenggu-belenggu yang lain.

Boleh-boleh saja jika pasungan kayu itu membuatmu ingin ceramah soal Hak Asasi Manusia, aku akan dengan senang hati mendengarkan. Kau bisa bercerita sambil kutraktir kopi hitam dan gorengan ubi, sembari melihat-lihat keluguan kampung kami. Barangkali kau akan berkenan memberi pencerahan kepada warganya bahwa pasungan kayu tidaklah manusiawi. Yang jelas, gambaranan pasungan kayu benar-benar membantuku saat itu. Aku tidak takut lagi melewati pojok kuburan yang jauh dari rumah penduduk. Aku tak lagi takut sesosok pocong atau kuntilanak akan muncul tiba-tiba seperti di film-film horor bikinan Raam Punjabi.

Beranjak remaja, pemahamanku sedikit berubah. Ternyata jin, setan, demit, dan prewangan itu banyak ragamnya. Dan tak semua dibelenggu di bulan puasa. Konon, cuma iblis kelas berat dan anak turunnya saja karena mereka suka menggoda manusia untuk berbuat dosa. Mereka dibelenggu supaya tak mengganggu umat Islam dalam berpuasa. Apesnya, itu juga berarti aku harus kembali waspada. Kembali terbuka kemungkinan setiap kali jalan sendiri malam-malam, aku bertemu mbak-mbak berambut panjang, berbaju putih dengan punggung berdarah, dan tertawa ngikik di bawah rumpun bambu.
Baca lebih lanjut

Tentang Jalan Paving dan 60 Lampu

Konon katanya, pemerintah merencanakan membangun jalan tol sepanjang 1.000 kilometer dalam lima tahun ke depan. Dari total tersebut, sepanjang 392 kilometer akan diselesaikan di tahun 2017. Penambahan ruas tol tersebut bertujuan untuk meningkatkan konektivitas dan mendorong pemerataan pembangunan di daerah.

Secara umum, jalan tol memang lebih nyaman untuk dilewati. Makanya agak janggal semisal ada orang yang memprotes kehadiran jalan tol, kecuali para makelar tanah yang sedang mencoba menggoreng harga tentunya. Namun sampeyan boleh percaya boleh ndak, hal semacam itu pernah terjadi.

Jaman saya kecil dulu, sekitar awal sembilanpuluhan, bapak sering membawa pulang majalah bekas dari rumah paklik saya di Jogja. Di salah satu majalah tersebut -kalo saya ndak salah, majalah Tempo- ditulis tentang protes sekelompok orang di Malaysia atas pembukaan jalan tol di salah satu daerah. Setelah ditelisik, penyebab kemarahan tersebut ternyata karena selain membuka jalan tol, pemerintah setempat juga menutup jalan arteri yang selama ini digunakan warga. Meskipun lebih nyaman dan tarifnya murah menurut klaim pemerintah, warga protes karena hilangnya jalur alternatif.

Baca lebih lanjut

Panjangin dikit Mas, buat…

“…, pada sahihnya kerja kita belumlah tamam.”

Potongan kalimat itu saya cuplik dari majalah internal pabrik tempat saya mburuh. Barangkali terdengar biasa saja bagi sampeyan. Boleh jadi satu-dua orang saja yang menyempatkan diri menengok Kamus Besar Bahasa Indonesia, sebelum bergumam bahwa akan lebih mudah dipahami jika ditulis “sebenarnya kerja kita belum selesai”.

Dalam tulisan, pilihan kata yang tepat dan selaras sangat penting demi mendapat efek tertentu yang diharapkan. Penulis tentu sudah menggambar aura yang ia ingini, yang akan hadir di benak pembacanya. Seperti kenapa memilih “sahih” ketimbang “benar”, atau “tamam” alih-alih “selesai”.

Tak semua tulisan bagus memakai kata-kata tidak jamak – saya pribadi lebih suka menyebutnya eksotis – semacam itu. Sebagaimana tidak semua yang memakai kata-kata ajaib, lantas berujung menjadi tulisan bagus. Pilihan kata saja tentu tak cukup. Selain kata yang cermat, perlu kemampuan tersendiri untuk menyusunnya dalam kalimat yang tertata apik. Baca lebih lanjut

Tulisan untuk Abang

Konon katanya, pemimpin itu cuma satu, sedangkan anak buah itu banyak. Sehingga, pemimpin bisa mengerti anak buah itu sunnah, sedangkan anak buah mampu menyesuaikan diri dengan pimpinan adalah wajib. Silakan berargumen bahwa pemimpin haruslah bisa mengayomi semua anak buah, yang masing-masing mengandung keunikan individu. Tapi, sampeyan akui atau ndak, setiap pemimpin, yang juga merupakan individu unik, bakal lebih menuntut untuk diikuti jalan pikirannya, dan ini wajar, inilah yang membuat mereka disebut pemimpin.

Jadi ceritanya, pabrik tempat saya mburuh kedatangan juragan baru, laki-laki, Batak, dan masih muda. Sempat rada kecewa sebenarnya, karena saya sempat berharap yang datang Batak perempuan, semacam Nadya Hutagalung, Atiqah Hasiholan, Astrid Tiar, atau sukur-sukur mirip Raline Shah. Oke, abaikan nama terakhir, Raline Shah memang bukan Batak. Tapi, menyebut kata Batak, di pikiran saya mau ndak mau terlintas kata Medan, dan memikirkan Medan, sungguh berdosa bagi lelaki pecinta keindahan seperti saya kalo ndak nyebut nama Raline Shah.

Waktu ketemu pertama kali dengan juragan baru ini, sebut saja si Abang, saya ndak terkesan. Beliau menyampaikan sambutan di depan kami, anak buahnya, dengan suara pelan, nyaris ndak terdengar oleh saya yang duduk di baris belakang. Batak asli lho, masih muda pula, seharusnya minimal volume suaranya ndak kalah sama Indro Warkop, yang cuma bergaya Batak. Harapan saya akan pemimpin yang berani dan tegas jadi agak menurun, lha wong di depan anak buah saja begini, gimana di depan orang lain? Baca lebih lanjut