BBM Untuk Android ARMV6 (Samsung Galaxy Gio, Ace, Mini)

Jika sampeyan termasuk para pengguna android lawas yang penasaran dengan blackberry messenger alias BBM, dan senang ngoprek-ngoprek hp dengan kemampuan seadanya seperti saya, pasti sampeyan sudah beberapa kali tertipu dengan artikel di beberapa blog tentang bbm armv6, atau bbm for galaxy young, galaxy gio, galaxy ace dan semacamnya.

Atau jangan-jangan yang ketipu cuma saya?

Yang saya tahu versi resmi dari bbm memang membutuhkan android device dengan spesifikasi minimal armv7 dan versi android ICS.

Tapi setelah beberapa waktu menunggu akhirnya ada juga yang berhasil mengoprek bbm supaya bisa diinstall di android device armv6, kayaknya sih orang Bontang, Kalimantan Timur (ini hasil terawangan super kemeruh saya).

Biar rada etis saya ndak ngasih link downloadnya di sini, monggo sampeyan berkunjung ke forum xda-developer. Sampai tulisan ini dibuat BBM hasil oprekan yang sudah dirilis adalah versi 1.0.3.87. Baca lebih lanjut

Istri Lapor SPT Sendiri, Bagaimana Caranya?

Musim SPT Tahunan PPh Orang Pribadi memang sudah berakhir pada tanggal 31 Maret 2013, tapi ternyata pertanyaan tentang cara pengisian SPT Tahunan tersebut belum berhenti. Kemaren sore di warung Mbok Darmi yang sudah lama ndak saya kunjungi ada Kang Noyo, dengan kertas dan pulpen di tangan, memasang muka bingung, yang membuat saya bingung.

Bukan muka bingungnya yang membuat saya bingung, tapi auranya, saya terheran-heran ada orang yang walaupun mukanya bingung tapi aura kemakinya tetep ndak ilang. Biar bingung asal sombong, sunggguh prinsip hidup yang membingungkan, konsisten, tapi tetep saja membingungkan.

“Ono opo tho Kang?” Tanya saya, dengan nada rendah tentunya.

“Susah ini Le, kamu juga ndak bakal ngerti.” Cetus Kang Noyo, dengan nada kemaki pastinya.

“Ini soal PPh terutang yang diitung secara proporsional karena istri mau melaksanakan kewajiban perpajakannya sendiri. Paham ora?” Hawa kemaki makin sangit tercium.

Oalah, jadi ceritanya istri Kang Noyo itu punya NPWP dan mau laporan pajak sendiri, ndak masuk SPT-nya Kang Noyo. Kebetulan istrinya Kang Noyo itu punya usaha toko kelontong yang lumayan berhasil. Kang Noyo sudah konsultasi sama AR di KPP Pasuruan, katanya si istri harus melaporkan SPT dengan metode penghitungan PPh secara proporsional.

Makhluk opo itu? Penghitungan PPh secara proporsional? Baca lebih lanjut

Billing System, Bayar Pajak via ATM dan Internet Banking

Jaman sekarang ini konon banyak manusia yang hidup di dua alam, alam nyata dan alam ghoib maya. Sebagian waktu mungkin sampeyan habiskan untuk nongkrong di poskamling atau warung Mbok Darmi, tapi sebagian waktu yang lain bisa jadi sampeyan habiskan untuk nggedabrus di dunia antah berantah, entah itu dalam wujud update status facebook, ngoceh di twitter, atau mungkin nggambleh di forum-forum semacam kaskus dan kawan-kawannya.

Salah satu konsekuensinya, setiap organisasi atau entitas yang berorientasi pada pelayanan publik, baik yang mengharap laba maupun nirlaba harus bisa menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut. Menyesuaikan diri atau mati. *bahasanya ketinggian, saya tahu*

Salah satu yang bisa sampeyan lihat adalah metode pembayaran. Jaman saya sekolah dulu antrian di loket Koperasi Unit Desa setiap menjelang tanggal 20 adalah pemandangan lumrah.

Ngapain?

Mbayar listrik, atau bahasa kerennya membayar tagihan PLN. Belum ada istilah membayar tagihan PLN pasca bayar karena jaman itu memang belum ada listrik pra bayar.

Memangnya sekarang sudah ndak ada antrian?

Lha mbuh, mungkin masih ada, tapi bagi sebagian orang sudah ada pilihan yang lebih nyaman untuk mbayar listrik, juga untuk mbayar tagihan-tagihan yang lain, dari mulai mbayar PDAM sampai mbayar zakat, semua bisa dilakukan tanpa antri dan ndak perlu pindah-pindah loket. Paling ndak ada tiga pilihan cara, lewat ATM, sms banking dan internet banking.

Di warung sebelah senior saya Esdoger sudah ngasih tau gimana cara mbayar pajak dengan cara “biasa”, sekarang saya mau ngasih tau gimana mbayar pajak dengan cara yang “luar biasa”. Baca lebih lanjut

Penomoran Faktur Pajak Baru, Apa Yang Harus Saya Lakukan?

Berita di berbagai media baik cetak, elektronik, termasuk juga media online beberapa hari terakhir ini agak monoton, kalo ndak soal Raffi Ahmad ya Ahmad Fathanah. Lama-lama membosankan, sedangkan yang saya tunggu-tunggu gambar utuh dan jujurnya Maharani yang menyediakan jasa dengan tarif lima juta per jam malah ndak muncul-muncul.

Dan di sinilah saya, di pojokan warung Mbok Darmi, menyesap kopi pelan-pelan sambil menikmati aroma dari asap putih tipis yang menggantung di udara. Sedang berpikir bahwa jasa escort bukanlah termasuk jasa yang dikecualikan dari pengenaan Pajak Pertambahan Nilai, kalo dalam sehari pengusaha jasa semacam Maharani mendapat dua konsumen saja, masing-masing dua jam, berarti omset sehari 20 juta. Misalnya sebulan terdapat 20 hari kerja berarti omset sebulan 400 juta, setahun 4,8 milyar, jauh melebihi batasan minimal untuk ditetapkan sebagai Pengusaha Kena Pajak.

Eh, tapi omset 4,8 milyar berarti dia ndak boleh pake norma penghitungan netto, jadi pembukuannya harus tertib. Kalo dia bukan mahasiswa akuntansi mungkin jadi agak mumet juga, kasihan. Atau dia terpaksa mempekerjakan seseorang untuk mencatat semua penghasilan dan pengeluarannya?

Trus kalo misalnya dia membuat faktur pajak untuk setiap transaksinya, apakah faktur itu bisa dikreditkan dalam laporan PPN? Kira-kira jasa yang dia berikan terkait langsung dengan kegiatan usaha yang dilakukan konsumennya ndak? Mungkin masuk dalam biaya entertainment? Berarti piye kuwi perlakuan perpajakannya? Baca lebih lanjut

Penghasilan Tidak Kena Pajak Dua Juta Sebulan

Seorang kawan pernah menulis, “cukup itu relatif, kalo kurang itu keniscayaan. Kata cukup memang kesannya minimal, sukur nutup kebutuhan, masalahnya adalah kebutuhan manusia itu ndak ada cukupnya. Batas psikologis cukup ini yang kadang susah dipahami, ada orang dengan gaji di bawah lima juta merasa cukup, tapi ada juga yang dengan penghasilan sekian puluh juta per bulan masih kelimpungan, merasa ndak cukup.

Lain kata cukup, lain lagi kata kurang. Kalo guyonan sarkastik jaman saya sekolah dulu bilang, cantik itu relatif, jelek itu mutlak. Sama juga dalam hal penghasilan, kalo cukup itu relatif maka kurang adalah mutlak. Ada kebutuhan-kebutuhan dasar yang harus dipenuhi supaya orang bisa dikatakan hidup layak, dan pemenuhan kebutuhan ini biasanya butuh duit, butuh penghasilan. Kalo duitnya ndak cukup untuk menutup kebutuhan dasar ya berarti penghasilannya kurang, as simple as that.

Saat ngomong soal penghasilan minimal ada dua hal yang otomatis nyangkut di otak pas-pasan saya, yang pertama Upah Minimum Kabupaten/Kota, yang kedua tentang Penghasilan Tidak Kena Pajak. Baca lebih lanjut

Belajar Gitar dengan JamBox dan Chordbot

Untuk sampeyan yang belajar alat musik bernada, belajar scale ndak akan maksimal kalo ndak sering dipraktekkan, kalo istilah yang sering saya dengar dulu namanya nge-jam, kita ngisi melodi secara ngawur bebas, belajar mengeksplorasi nada. Misalnya sampeyan mau belajar scale A Pentatonic Blues, sampeyan bisa mencari seorang kawan untuk memainkan chord Am7 dan Dm7 sampai mati bosen sementara sampeyan ngisi melodinya dengan penuh kegalauan kengawuran.

Susahnya adalah ndak gampang nyari orang yang mau memainkan chord sampai mati bosen, belum lagi kadang ada kendala kita grogi kalo harus belajar di depan orang yang lebih hebat dari kita. Kadang takut salah, walaupun sebenarnya kepleset nada bisa ditutupi dengan ekspresi yang sok yes dan dalih improvisasi.

Alternatifnya sampeyan bisa mengisi melodi dengan iringan lagu yang sudah ada, misalnya sampeyan saingan sama Slash di akhir lagu Sweet Child O’mine dengan memainkan scale E Pentatonic Minor. Tapi kadang lagu yang sudah ada ndak sesuai dengan yang kita inginkan, mungkin chord-nya, atau untuk orang kurang bakat macem saya ini, temponya.

Untungnya jaman makin canggih, sekarang ini untuk sampeyan pengguna android ada beberapa aplikasi yang bisa membantu. Baca lebih lanjut

PPN Jasa Outsourcing, Total Tagihan atau Fee-nya Saja?

Sore kemaren tumben saya liat Mbah Suto, juragan pabrik yang sugihnya ndak kira-kira itu nongkrong di warung langganan saya. Saya yakin bukan sebuah kebetulan, karena kelas beliau memang bukan kelasnya warung Mbok Darmi. Kalo sampai Mbah Suto memaksakan diri untuk mengecap kopi dengan campuran jagung ala Mbok Darmi pasti ada apa-apanya.

“Sini kamu, duduk sini!” Kata beliau begitu melihat saya.

Lha tenan tho, pasti ada perlunya.

“Ada apa Mbah, tumben.” Saya mencoba berbasa-basi, seneng, yakin paling ndak setelah ini dapet rokok sebungkus.

“Penting ini, soal outsourcing.” Ujar Mbah Suto.

Welhah, jadi ini mau mbahas demo buruh kemaren yang rame-rame protes soal outsourcing?

“Nganu Mbah, saya ndak begitu paham soal undang-undang ketenagakerjaan.” Daripada nanti keliatan bodohnya, mending saya ngaku dari awal.

“Lha sopo yang mau nanya soal undang-undang? Bukan soal demo soutsourcing, ini soal PPN Jasa Outsourcing.” Baca lebih lanjut

Menginstall Kembali Google Talk Pada Android

Kadang susahnya memiliki gadget dengan memori internal pas-pasan semacam Samsung Galaxy Gio punya saya adalah kita ndak punya cukup ruang untuk menginstall bermacem aplikasi. Memang bisa diakali, misalnya dengan memindah data aplikasi ke memori eksternal, tapi tetep saja setiap aplikasi yang terinstall akan mengurangi jatah memori internal. Misalnya aplikasi GPS Navitel, data sebesar 35mb memang bisa saya taruh di SD card, tapi yang 2,89mb mau ndak mau tetep ngendon di memori internal.

Beberapa hari yang lalu saya sempet bingung, dari 181mb memori internal cuma tersisa sekitar 270kb.

Kok bisa? Lha mbuh, perasaan saya ndak install apa-apa, cuma mengganti aplikasi anti virus dari AVG ke Avast.

Saya coba clear cache memory, ndak ngaruh, coba reboot, ndak ngaruh juga. Wis, akhirnya dengan sangat terpaksa saya hapus beberapa aplikasi bawaan. Dimulai dari Google Map, yang memang nyaris ndak pernah saya pakai, toh sudah ada Navitel kalo saya lagi butuh navigasi. Juga aplikasi kecil-kecil semacam Social Hub, Samsung Apps, Music Player, termasuk Gtalk. Baca lebih lanjut

Belajar Memahami Arti Bacaan Sholat

Suatu saat Perdana Menteri Jepang dijadwalkan bertemu dengan Presiden Amerika Bill Clinton. Sang Perdana Menteri agak grogi karena beliau ndak bisa Bahasa Inggris. Oleh stafnya beliau mendapat briefing, “Santai saja Pak, nanti waktu ketemu sampeyan tanya saja how are you? Nanti paling akan dijawab sama Pak Clinton i’m fine, thank you, and you? Sampeyan jawab me too. Wis, setelah itu biar penerjemah yang membereskan sisanya.”

Bertemulah mereka, Perdana Menteri Jepang bertanya, “Who are you?”

Bill Clinton yang kaget mendapat pertanyaan itu spontan menjawab, “I’m Hillary’s husband.”

Perdana Menteri Jepang menyahut, “Me too…

Guyon lama yang saya yakin 68% sampeyan pernah mendengarnya. Lucu, sampai saya ingat bahwa saya pun melakukannya, minimal lima kali sehari, berkomunikasi dengan bahasa yang saya ndak 100% memahaminya. Mengucap tanpa memahami artinya, padahal komunikasi itu saya lakukan dengan Pencipta alam seisinya.

Betul sekali sodara-sodara, bacaan yang tiap hari saya baca seolah sedang merapal mantra itu adalah bacaan sholat. Tulisan ini saya ambil bahannya dari blog Mas Ansori, sebagai pengingat untuk diri sendiri, sukur-sukur kalo ada manfaatnya buat sampeyan juga.

Baca lebih lanjut