Ibu yang Sempurna

ibu dan anak

Aku gak akan pernah bisa jadi ibu yang baik, itu yang selalu dibilang sama Mas Darmo, suamiku. Tiap kali aku bertanya kemana dia pergi sampe harus pulang pagi, dia akan bilang panjang lebar tentang beratnya beban yang harus dia pikul, tentang lembur yang harus dijalani dan kurang bersyukurnya aku sebagai istri.

Dia akan ngomel panjang lebar tentang anak-anak kami yang makin bengal, gak hormat dan patuh, yang berisik waktu dia tidur di akhir pekan, yang nilai sekolahnya gak juga membaik, dan yang lain-lain, dan yang lain lagi. Dia selalu bilang bahwa tanggung jawabnya adalah mencari nafkah di luar, dan mendidik anak-anak adalah tanggung jawabku.

Kebutuhan rumah tangga kami tercukupi, berarti tanggung jawabnya sudah dilakukan dengan baik. Anak-anak kami kurang terdidik, berarti aku memang gak bisa mengemban tanggung jawab.

Suamiku selalu benar, gak mungkin dia salah. Tetangga-tetangga kami bilang kalo suamiku selalu jadi yang terbaik dari kecil, di sekolah selalu ranking pertama, biaya pendidikan selalu didapat dari beasiswa, setelah lulus pun langsung ditawari kerja dan karirnya gak pernah redup.

Sedangkan aku, dari kecil orang tuaku selalu bilang kalo aku anak sial. Baca lebih lanjut

Semua Berawal dari Keluarga

Saya agak terheran-heran dengan fenomena anak yang lari dari rumah demi teman baru yang dikenal lewat pesbuk. Kalo yang umur 14 tahun masih agak masuk akal, umur segitu mungkin pikirannya masih polos, rawan bujuk rayu. Tapi ada juga yang sudah anak kuliahan menghilangkan diri dengan sukarela demi orang dari negeri antah berantah.

Ada apa ini?

Menurut ilmu kemeruh saya ada beberapa hal yang bisa jadi penyebabnya.

Bapak saya pernah bilang kalo kesalahan mendasar yang membuat jarak antara orang tua dan anak adalah orang tua ndak ngerti keinginan anak, dan anak juga ndak tau keinginan orang tua. Karena sebab-sebab tertentu orang tua lebih memilih untuk mengeluh tentang anaknya di belakang, dan anak juga memilih untuk menutup diri dari orang tua.

Poin pertama, kurangnya keterbukaan. Baca lebih lanjut

Waru (seharusnya) Sudah Gede Mak!

Tumben-tumbenan kemaren sore Kang Noyo dolan ke rumah saya. Kalo saja mukanya ndak nekuk gitu mungkin saya akan berpikir dia sekedar mau numpang ngerokok gratis karena sudah berapa hari ini saya ndak sempet nongkrong di warungnya Mbok Darmi. Harap maklum, kawan saya yang satu ini memang sudah berniat mengurangi rokok, maksudnya mengurangi rokok teman.

“Ada apa tho Kang?” Tanya saya. “Wajah sampeyan kok tampak susah. Mbok ndak usah mangkel saran dari tim 8 ndak segera dilaksanakan presiden, wong sampeyan juga ndak masuk tim.”

“Halah! Ndak ada urusannya sama tim 8. Manut saja lah sama orang-orang pinter di atas itu, aspirasi orang kecil macam kita yang ndak ngerti hukum ini paling yo mandeg di warungnya Mbok Darmi.” Kang Noyo tambah merengut.

Sadar untuk ndak nambah kesumpekannya, saya ngajak dia duduk-duduk di teras, Baca lebih lanjut

Paké, Mbok Santai Dulu…

Walaupun sebagai anak saya ini termasuk ndableg tapi kadang saya memperhatikan juga jejak-jejak perjuangan orang tua. Jejak opo? Misalnya slip gaji yang menyebutkan take home pay-nya tinggal 50 ribu rupiah, kepotong utang sana sini. Slip angsuran ke BRI kecamatan A, BRI kecamatan B, BKK (Bank Perkreditan Kecamatan), Koperasi. Hidup jangan dihitung ala matematika kata bapak saya, kalo dihitung dengan cara matematika maka kami bertiga anak-anaknya ndak akan ada yang kuliah.

The power of kepepet telah menjadikan bapak dan ibu saya orang tua yang tangguh. Sadar bahwa bayaran sebagai guru dan hasil dua petak sawah ndak cukup untuk biaya sekolah anak-anaknya, orang tua saya pun mencoba beternak, mulai dari kambing, bebek, ayam petelur, ayam pedaging, ayam kampung, sapi, semua yang bisa nambah penghasilan. Toh itu pun ndak cukup, utanglah pelariannya. Gali lubang tutup lubang sudah biasa. Baca lebih lanjut

Hidup Adalah Pembuktian?

salesrunKemaren saya nelpon bapak di kampung, basa-basi bertanya kabar, ngobrol soal hujan yang mulai datang, dan sebagainya dan seterusnya. Karena niat nelpon cuma untuk menyenangkan hati orang tua maka ngobrolnya juga cuma ndobos saja, ndak ada yang benar-benar penting.

Sampai tiba-tiba bapak menanyakan soal rencana saya mbeli mobil. “Piye le? Jadinya mbeli mobil apa? Yang kursinya dua baris apa tiga baris? Kapan? Berapa?”

Saya bilang kalo saya masih mikir-mikir, mikir soal mobil apa yang saya mau beli, dan terutama lagi mikir gimana muter duit bulanan yang bakal tersedot buat mbayar utang. Lha mau gimana lagi, wong untuk beli secara tunai dananya ndak ada.

Terasa sekali kalo yang kebelet pengen saya punya mobil itu bukan saya sendiri, tapi bapak!

Baca lebih lanjut

[Tips] Menenangkan Anak

Anak saya setelah masuk playgroup makin pinter saja, salah satunya sekarang kalo tidur selalu minta lampu dimatikan, padahal dulu dia pasti nangis kalo lampu mati. Yang masih tetep dia ndak mau tidur di kamarnya sendiri, masih setia mengganggu jam kerja malam simbok dan bapaknya.

Kemaren waktu ibunya lagi nyiapin makan sahur tiba-tiba dia bangun, minta dibikinin susu. Saya langsung keluar sambil mbawa botolnya, plus nutup pintu karena kuatir nyamuk pada mau ikutan tidur di kamar. Lha kok anak saya nangis kenceng, “pintunya ndak usah ditutup!!”

Saya buru-buru masuk kamar lagi, “Kenapa Mas Barra?”

Anak saya sesenggukan, “Aku ndak mau pintunya ditutup, aku kan nyari ayah.”

“Lha ini ayah sudah di sini, ayo tidur lagi”

Eh, dia masih ngamuk, “Aku ndak mau pintunya ditutup!”

“Ndak papa, ini kan sudah sama ayah…”

“Aku ndak mau pintunya ditutup!!” Nangisnya tambah kenceng.

Istri saya masuk kamar, meluk dia trus ngomong, “Tadi Mas Barra bangun ya? Trus pintunya ditutup, jadi Mas Barra takut karena gak ada temennya ya?”

“Iya…” Nangisnya mulai reda.

“Sekarang kan sudah ada ayah sama ibu, sekarang Mas Barra tidur lagi ya”, kata istri saya sambil nidurin dia.

Baca lebih lanjut

Tiga Proses Dalam Belajar

dsc011711Saya baca di Jawa Pos hari ini pada rubrik konsultasi, proses yang dilakukan anak dalam belajar, maksud saya belajar di sini ndak sekedar belajar mbaca atau nulis, tapi belajar secara keseluruhan, belajar tentang hidup dan kehidupan mungkin istilah kerennya.

Setelah saya coba mbaca-mbaca lagi ternyata ndak Cuma anak kecil saja yang belajar dengan proses itu, tapi pada dasarnya itulah cara kita untuk belajar. Tiga hal yang konon diambil dari wejangan begawan pendidikan kita Ki Hajar Dewantoro itu adalah: Niteni, Nirokke, Nambahi

Baca lebih lanjut

Jangan Musuhan Sama Tiga Golongan

dsc01128Saya tiba-tiba teringat bulan puasa beberapa taun yang lalu, waktu saya maih berdinas di Probolinggo. Waktu itu saya lagi nemenin boss buka puasa, susah banget nyari cewe buat dibuka minumannya, dari rumah makan yang ada di ujung timur deket samsat sampe kafe tengah kota yang deket kantor polisi baru nemu yang dicari. Mungkin sampeyan bingung, mosok iya nyari minuman buat buka puasa sesusah itu? tergantung minumannya om, lha boss saya ini nyari bir, sementara di Probolinggo kalo puasa orang agak takut-takut jualan minuman beralkohol. Saya sampe ketawa denger dialog boss saya itu sama manager rumah makannya, “waduh, ini bulan puasa pak, kita nggak jual bir, takut ada razia” kata si manager, jawab boss saya, “lho, saya tadi siang juga puasa!” :mrgreen:

Baca lebih lanjut

Jembarnya Hati Orang Tua Saya

Cerita ini saya tujukan paling utama untuk diri saya sendiri, sebagai salah satu pelajaran bagaimana menjadi orang tua yang baik, klo nanti ternyata bermanfaat juga buat sampeyan ya Alhamdulillah. Cerita ini alurnya rada mbingungi, maju mundur ndak jelas, tapi semoga sampeyan ndak bingung.

Begini ceritanya…layar berganti adegan malem-malem di kuburan waktu ujan rintik-rintik, kabut tipis menutupi pandangan… Baca lebih lanjut