Jangan Sekedar Salam, Menariklah

if you can read thisSyahdan, di sebuah rapat yang dihadiri banyak punggawa salah satu organisasi birokrat, para peserta rapat sudah mulai usak-usek dengan gadgetnya, menunggu waktu coffebreak yang ndak kunjung tiba. Seorang petinggi memulai sesinya, “Assalamualaikum warohmatullaaahi wabarokaaaatuh…”

“Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh…” Sebagian peserta menjawab dengan nada dasar E, rendah bener. Sebagian lagi menjawab dalam hati, sebagian lainnya malah ndak denger ada yang mengucap salam.

“Sepertinya kurang kompak ya…” Kata si petinggi. “Assalamualaikum warohmatullaaahi wabarokaaaatuh…!!!”

“Waalaikum salaaaam warohmatullaaahi wabarokaaaatuuuuhh…!” Barulah ¾ peserta menjawab dengan semangat ’66, bukan semangat ’45 karena minus bambu runcing.

Sampeyan tentu ndak asing dengan situasi yang saya gambarkan di atas. Kadang malah ndak cuma diulang dua kali, bisa tiga kali, konon mengikuti sunnah nabi biar jumlahnya ganjil. Masih untung kalo ndak diulang lima kali biar seperti Pancasila, atau tujuh kali biar mirip Sapta Marga, atau sepuluh kali biar sekalian saingan sama Dasa Dharma.

“Kamu kok sinis tenan sih Le?” Tanya Kang Noyo, sambil dengan muka tanpa dosa ngembat rokok pertamanya.

Sinis?

Iya, saya memang sinis.

Mbuh, saya paling ndak suka kalo ada pembicara mengulang-ulang salamnya sampai seluruh audiens menjawab dengan kompak ala peserta MOS hari pertama. Memang benar bahwa dijawab salamnya adalah hak seseorang yang mengucap salam, tapi saya kok ndak pernah dengar ada perintah untuk menjawab salam dengan lantang seperti orang ngajak perang.

Suka-suka saya dong kalo misal saya menjawab dengan lirih, wong ngantuk. Menjawab dalam hati pun rasanya ndak masalah, wong salam itu doa.

“Yo lain tho Le. Yang kamu ceritakan itu kan dalam sebuah forum, wajar tho misalnya si pembicara pengen mendapat perhatian penuh dari audiens, jadi bukan sekedar salam. Sekaligus membangunkan peserta yang kerjaannya begitu selesai pembukaan langsung merem kayak kamu.” Bantah Kang Noyo.

Lha ini, saya lebih ndak suka lagi. Menurut saya salah besar kalo seorang pembicara berharap mendapat perhatian penuh, apalagi perhatian saya, hanya karena sebuah salam. Itu big no no…! Baca lebih lanjut

Ceria: Jangan Bosan dan Jangan Membosankan

Konon pernah ada seorang guru SD sedang memeriksa hasil ujian murid-muridnya. Di antara sekian banyak kertas jawaban ada tiga yang menarik perhatiannya, ketiga murid ini memiliki jawaban nyeleneh yang sama atas sebuah soal. Pertanyaan yang berbunyi, “PKK merupakan kepanjangan dari…” dijawab oleh ketiganya dengan, “Polisi Kecantol Kawat.”

Usut punya usut ternyata ketiga anak ini sibuk bercanda waktu Bu Guru mau menerangkan tentang PKK, kesal dengan kelakuan mereka Bu Guru pun memukul meja dengan penggaris kayunya, “Kalian jangan bikin pelajaran sendiri! Kalo mau rame di luar sana!”

Saat Bu Guru berbalik menghadap papan tulis dan mulai ceramah, “PKK itu adalah….” salah satu di antara ketiga murid ini nyenggol kedua temannya sambil cekikikan, “PKK itu singkatan dari Polisi Kecantol Kawat…”

Saya yakin 68% kalo cerita yang saya denger dari Kang Noyo itu hanyalah cerita imajiner alias khayalan yang terlalu dipaksakan. Saya hampir ketawa kalo saja ndak inget bahwa seringkali saya juga menceritakan hal-hal yang ndak kalah imajinernya. Jadi saya mencoba mempertahankan sikap serius sambil mengambil rokok yang tinggal sebatang sebelum temen saya ini merampoknya.

“Kamu tau apa yang terjadi Le?” Tanya Kang Noyo.

Apa yang terjadi? Baca lebih lanjut

Jorok Itu Setan

Beberapa waktu yang lalu anak saya sendawa, atau lebih tepatnya menyendawakan diri, wong sendawanya disengaja dan diulang berkali-kali. Mungkin dia merasa itu keren, maklum anak TK. Ibunya yang mengetahui kelakuan anak saya pun menegur, “Mas Barra jorok ah, mosok sendawa disengaja.”

Jawaban anak saya lumayan mengejutkan, “Ibu, tidak boleh berkata jorok. Karena jorok itu kata-katanya setan.”

Lhadalah!

“Kata siapa?” Tanya istri saya.

“Kata Bu Guru.” Jawab anak saya mantab.

Saya langsung mesam-mesem. Terbayang waktu si guru bermaksud menyampaikan kepada anak-anak bahwa ndak boleh menggunakan kosakata yang jorok dalam percakapan, sedangkan pesan yang diterima anak-anak adalah ndak boleh menggunakan kata jorok. Mungkin juga ditambah imajinasi dua sosok makhluk berwarna merah dengan ekor dan dua tanduk di kepala sedang bercakap-cakap menggunakan kata jorok.

Saya jadi kuatir nanti bakal ada somasi dari setan kepada Bu Guru, dengan alasan telah terjadi upaya pembunuhan karakter. Sayangnya saya belum sempat ketemu sama guru yang bersangkutan, kalo ketemu ada satu hal yang ingin saya tanyakan, “Bu Guru, memang sampeyan liat di mana waktu setan ngobrol dengan kata-kata jorok?” Baca lebih lanjut

[Tips] Menghadapi Kebohongan Anak

Sampeyan pernah ketemu sama orang yang defensif? Selalu berlindung di balik cangkang, susah menerima masukan, cenderung melakukan penyangkalan, menempatkan diri di zona yang ndak bisa disentuh orang? Lebih celaka lagi untuk melestarikan kenyamanan itu dia melakukan berbagai macam kebohongan. Saya pernah, dia seorang perantauan usia belasan, berasal dari keluarga broken home yang kerja jadi pembantu (atau yang sekarang sering disebut asisten rumah tangga) di rumah temen.

Sebagai seorang mantan calon psikolog gagal (dulu saya ini ndaptar di fakultas psikologi UGM, tapi sayang otak pas-pasan) saya berusaha menganalisa perilaku tersebut. Sesungguhnya tulisan ini ndak perlu dibaca lebih lanjut karena dasarnya cuma ilmu kemeruh yang sudah mencapai taraf kronis, tapi apabila ternyata sampeyan sedang mengalami sindrom galaundakpunyagaweanis mungkin tulisan ini bisa berguna untuk membunuh waktu.

Menurut sebuah artikel yang saya kutip dari okezone, seorang anak mulai berbohong pada umur 3 tahun. Arnold Goldberg, seorang psikolog dari Rush Medical College, Chicago, mengatakan berbohong merupakan bagian yang tak terpisahkan dari perkembangan kemampuan dalam upaya mengidentifikasi kenyataan sekitarnya. Sedangkan Paul Ekman dalam bukunya yang berjudul Why Kids Lie, menyatakan keberanian berbohong merupakan pertanda munculnya keberanian menafsirkan kenyataan yang ada di sekitarnya, dan merupakan awal kemandirian.

Lain psikolog, lain lagi kata psikiater. Baca lebih lanjut

Stop! Dengarkan Saya!

kemahiran mendengar

dengarkan saya!

Hari Sabtu dan Minggu kemaren saya ditugaskan sama pabrik tempat saya mburuh untuk mengikuti semacam penyegaran, atau kalo dalam spanduk yang saya baca di tempat acara berjudul Internalisasi Corporate Value. Bukan bermaksud mengeluh, tapi akhir pekan itu kan waktu buat keluarga. Precil saya selalu menunggu waktu yang cuma dateng seminggu sekali itu untuk sekedar main-main ke stasiun atau liat topeng monyet di alun-alun.

“Saya kasian liat anak saya Kang, biasanya hari Sabtu kan saya yang ngantar sama njemput dia sekolah, tapi gara-gara acara kemaren jadi ndak bisa.” Keluh saya. *lha, katanya ndak ngeluh?*

“Belum lagi sebenernya saya sudah niat mau ngajak dia naik kereta Penataran, pasti seneng banget dia Kang, tapi ya tertunda gara-gara acara kemaren. Mau naik kereta sore-sore keburu hujan.” Lanjut saya.

Kang Noyo mengangguk-angguk dengar keluhan saya. Tapi belum sempat saya membuka mulut lagi, Kang Noyo sudah mendahului, “Lha kamu enak cuma jadi peserta.” Baca lebih lanjut

Belajar Tanggung Jawab

Barra & Haidar

Barra (belakang), Haidar (depan)

Pagi ini di rumah saya terjadi ritual seperti biasa, semua terlihat sibuk. Saya bersiap mburuh, istri saya juga, precil saya yang kedua lagi disuapi sama Mbahnya. Kecuali satu orang, precil saya yang pertama masih tiduran di depan tipi, kombinasi antara terkantuk-kantuk dan menikmati pilem kartun.

“Mas, ayo mandi. Kamu kan sekolah.” Terdengar suara istri saya.

Precil saya cuma ngulet, “Aku gak mau sekolah.”

Welhah! Lha kok enak?

Tapi berhubung katanya hubungan orang tua dan anak ndak boleh otoriter dan harus ada komunikasi dua arah, istri saya nanya, “Kenapa ndak mau sekolah?”

“Aku gak mau mandi! Gak mau sekolah!” Precil saya mulai cemberut sambil mengeluarkan nada tinggi.

Saya menduga istri saya bakal mulai ngomel, tapi ternyata ndak. Baca lebih lanjut

[Tips] Menenangkan Anak

Anak saya setelah masuk playgroup makin pinter saja, salah satunya sekarang kalo tidur selalu minta lampu dimatikan, padahal dulu dia pasti nangis kalo lampu mati. Yang masih tetep dia ndak mau tidur di kamarnya sendiri, masih setia mengganggu jam kerja malam simbok dan bapaknya.

Kemaren waktu ibunya lagi nyiapin makan sahur tiba-tiba dia bangun, minta dibikinin susu. Saya langsung keluar sambil mbawa botolnya, plus nutup pintu karena kuatir nyamuk pada mau ikutan tidur di kamar. Lha kok anak saya nangis kenceng, “pintunya ndak usah ditutup!!”

Saya buru-buru masuk kamar lagi, “Kenapa Mas Barra?”

Anak saya sesenggukan, “Aku ndak mau pintunya ditutup, aku kan nyari ayah.”

“Lha ini ayah sudah di sini, ayo tidur lagi”

Eh, dia masih ngamuk, “Aku ndak mau pintunya ditutup!”

“Ndak papa, ini kan sudah sama ayah…”

“Aku ndak mau pintunya ditutup!!” Nangisnya tambah kenceng.

Istri saya masuk kamar, meluk dia trus ngomong, “Tadi Mas Barra bangun ya? Trus pintunya ditutup, jadi Mas Barra takut karena gak ada temennya ya?”

“Iya…” Nangisnya mulai reda.

“Sekarang kan sudah ada ayah sama ibu, sekarang Mas Barra tidur lagi ya”, kata istri saya sambil nidurin dia.

Baca lebih lanjut