Beberapa Fakta Tentang Flu Singapura

Beberapa hari yang lalu anak saya yang pertama, Barra, anget badannya. Biasa saya pikir, mungkin ketularan sama temennya di sekolah. Entah saya harus merasa bangga atau kasihan, saat istri saya menyuruh dia ndak usah masuk dulu karena lagi sakit, dia ndak mau, pengennya tetep sekolah. Untungnya dia cuma panas semalem, saya cuma kasih dia vitamin, setelah itu kondisinya kembali sehat.

Selang sehari kemudian, giliran adiknya yang panas. Lagi-lagi saya pikir itu biasa, wong namanya tinggal serumah, mungkin flu atau semacamnya. Panasnya sih cuma semalem, tapi setelah itu dia lemes. Melihat Haidar, anak kedua saya, yang biasanya cerewetnya setengah hidup mendadak diem rasanya ada yang hilang.

Saya perhatikan ternyata diemnya dia bukan sekedar lemes jadi males ngomong, tapi bener-bener mulut selalu tertutup. Dan tiap kali dia buka mulut ilernya langsung tumpah. Jadi selama mingkem itu dia nampung air liur di mulutnya, meludah belum bisa, tapi juga gak ditelan. Baca lebih lanjut

Standard Anak TK

soal cerita

Coba sampeyan baca soal pada gambar di atas. Kalo saya ndak salah waktu jaman masih sekolah dulu, soal semacam itu disebut soal cerita, alias cerita yang mengandung soal, atau soal yang terkandung di dalam cerita. Mohon maap atas mbuletnya pengertian yang saya berikan, karena seingat saya memang dulu saya ndak pernah diajari definisi dari soal cerita. Yang jelas mengerjakan soal cerita semacam itu butuh mikir lebih panjang dibanding soal sederhana macem 1 + 1 atau 2 + 2.

Sampeyan masih ingat kelas berapa waktu pertama kali diberikan soal cerita?

Kalo sampeyan lupa seperti saya, kita ganti saja pertanyaannya, “Menurut sampeyan soal di atas pantesnya diberikan di kelas berapa?”

Ndak usah kaget sodara-sodara, soal seperti itu di jaman canggih macem sekarang sudah diberikan waktu precil-precil sampeyan duduk di kelas 1 Sekolah Dasar. Baca lebih lanjut

Whistleblower

Dalam pemahaman buruh pabrik macem saya, whistleblower artinya adalah peniup sempritan, keahlian yang banyak saya temui dalam kehidupan sehari-hari dalam wujud tukang parkir atau wasit sepakbola, tapi menurut Mbah Wiki, whistleblower artinya adalah orang yang memberitahukan kepada publik atau pihak berwenang tentang dugaan ketidakjujuran atau tindakan ilegal yang terjadi di pemerintahan, organisasi publik atau swasta, atau perusahaan.

“Wong mau bilang pengadu saja pake acara mbulet kesana-kemari tho Le.” Potong Kang Noyo sambil memainkan sebatang rokok, baru saja ngambil punya saya tentunya.

Satu hal yang saya suka dari temen saya ini adalah dia cenderung lugas, ndak seneng basa-basi. Walaupun kadang jadi terkesan asal tabrak sana-sini, tapi sikapnya jujur, tanpa tedheng aling-aling, beda sama saya yang cenderung banyak rikuhnya, sungkan.

“Menurut sampeyan pengadu itu gimana Kang?” Tanya saya.

“Kamu itu lho, pertanyaan kok diulang-ulang, dulu kan kamu sudah pernah nanya!” Jawab Kang Noyo.

Asyem!

Saya mengingat-ingat jawaban yang dulu pernah diberikan Kang Noyo. Baca lebih lanjut

Ceria: Jangan Bosan dan Jangan Membosankan

Konon pernah ada seorang guru SD sedang memeriksa hasil ujian murid-muridnya. Di antara sekian banyak kertas jawaban ada tiga yang menarik perhatiannya, ketiga murid ini memiliki jawaban nyeleneh yang sama atas sebuah soal. Pertanyaan yang berbunyi, “PKK merupakan kepanjangan dari…” dijawab oleh ketiganya dengan, “Polisi Kecantol Kawat.”

Usut punya usut ternyata ketiga anak ini sibuk bercanda waktu Bu Guru mau menerangkan tentang PKK, kesal dengan kelakuan mereka Bu Guru pun memukul meja dengan penggaris kayunya, “Kalian jangan bikin pelajaran sendiri! Kalo mau rame di luar sana!”

Saat Bu Guru berbalik menghadap papan tulis dan mulai ceramah, “PKK itu adalah….” salah satu di antara ketiga murid ini nyenggol kedua temannya sambil cekikikan, “PKK itu singkatan dari Polisi Kecantol Kawat…”

Saya yakin 68% kalo cerita yang saya denger dari Kang Noyo itu hanyalah cerita imajiner alias khayalan yang terlalu dipaksakan. Saya hampir ketawa kalo saja ndak inget bahwa seringkali saya juga menceritakan hal-hal yang ndak kalah imajinernya. Jadi saya mencoba mempertahankan sikap serius sambil mengambil rokok yang tinggal sebatang sebelum temen saya ini merampoknya.

“Kamu tau apa yang terjadi Le?” Tanya Kang Noyo.

Apa yang terjadi? Baca lebih lanjut

Jorok Itu Setan

Beberapa waktu yang lalu anak saya sendawa, atau lebih tepatnya menyendawakan diri, wong sendawanya disengaja dan diulang berkali-kali. Mungkin dia merasa itu keren, maklum anak TK. Ibunya yang mengetahui kelakuan anak saya pun menegur, “Mas Barra jorok ah, mosok sendawa disengaja.”

Jawaban anak saya lumayan mengejutkan, “Ibu, tidak boleh berkata jorok. Karena jorok itu kata-katanya setan.”

Lhadalah!

“Kata siapa?” Tanya istri saya.

“Kata Bu Guru.” Jawab anak saya mantab.

Saya langsung mesam-mesem. Terbayang waktu si guru bermaksud menyampaikan kepada anak-anak bahwa ndak boleh menggunakan kosakata yang jorok dalam percakapan, sedangkan pesan yang diterima anak-anak adalah ndak boleh menggunakan kata jorok. Mungkin juga ditambah imajinasi dua sosok makhluk berwarna merah dengan ekor dan dua tanduk di kepala sedang bercakap-cakap menggunakan kata jorok.

Saya jadi kuatir nanti bakal ada somasi dari setan kepada Bu Guru, dengan alasan telah terjadi upaya pembunuhan karakter. Sayangnya saya belum sempat ketemu sama guru yang bersangkutan, kalo ketemu ada satu hal yang ingin saya tanyakan, “Bu Guru, memang sampeyan liat di mana waktu setan ngobrol dengan kata-kata jorok?” Baca lebih lanjut

Marah Itu Mudah

Jaman masih SMP dulu ada temen saya yang ndableg setengah hidup untuk ukuran anak seumurannya, begadang, mabuk, dan tawuran sudah jadi menu sehari-hari. Meskipun begitu saya mengingatnya sebagai teman yang baik, bukan sosok yang menakutkan, di sekolah juga ndak berlaku sebagai raja kecil, alias dia ndak pernah menindas teman. Malah dia pernah jadi ketua kelas waktu masih kelas satu. Tabiatnya yang cenderung liar terbentuk karena lingkungan pergaulan di kampungnya memang seperti itu, di luar lingkungan itu dia masih seorang anak SMP yang menyenangkan.

Saya ndak tau bagaimana didikan orang tuanya, apakah orang tuanya tipe yang menakutkan, atau tipe yang mengakomodir semua keinginan, atau tipe yang sudah putus asa sehingga lepas tangan. Yang jelas temen saya ini masih tetep seorang anak yang punya rasa takut, kalopun dia sudah ndak takut sama orang tua dan guru paling ndak dia masih takut sama polisi.

Polisi? Baca lebih lanjut

Kenapa Harus Sama?

Konon katanya kuda balap yang baik akan berlari sekuat yang dia mampu, tanpa melihat seberapa cepat kuda yang lain berlari. Kata-kata tersebut dalam konteks yang lain membuat saya ndak setuju dengan ungkapan “lihatlah ke atas agar semangatmu terpacu, dan lihatlah ke bawah agar kamu bersyukur”. Saya cenderung berpendapat bahwa karena tiap manusia memiliki keunikan dan jalan hidup masing-masing maka seharusnya pembanding yang tepat adalah dirinya sendiri.

Mbah saya dulu pernah bilang, orang yang pada hari ini lebih baik dari kemarin adalah orang yang beruntung, yang hari ini kondisinya sama saja dengan kemarin adalah orang yang rugi, sedangkan yang hari ini lebih buruk dari kemarin adalah orang yang celaka. Lebih baiknya saya dengan lebih baiknya sampeyan tentu ndak sama. Masing-masing orang punya standard kewajaran sendiri dan masing-masing orang pula yang lebih tau apakah dia sudah lebih baik, atau apakah dia sudah melakukan yang terbaik.

Baca lebih lanjut

Aktivasi Otak Tengah, Logiskah?

Kemaren malem saya ketemu Mbah Suto waktu lagi ngopi di warung Mbok Darmi, bener-bener anugerah, di saat bau tanah tanggal tua terasa begitu menyengat. Sampeyan tentu sudah mafhum, kalo ketemu beliau berarti saya dibayari, malah kadang-kadang pulang masih dikasih rokok. Pokoknya berkah lah ketemu juragan yang satu ini.

Saya menyesap kopi pelan-pelan sambil mendengar beliau ndobos ngalor-ngidul soal bencana yang datang beruntun, lengkap dengan kisah kesetiaan Mbah Maridjan yang menjaga amanah hingga ajal menjemput. Di sela-sela kepulan asap rokok saya juga mendengar beliau misuh-misuh karena ada salah satu komisi di DPR yang diam-diam akan plesiran ke luar negeri, padahal rakyat yang konon mereka wakili sedang nangis darah.

“Ndak usah heran Mbah, yang kemaren belajar etika ke Yunani kan blom kita denger laporannya. Siapa tau mereka di sana ternyata belajarnya ndak lulus. Lha kalo yang belajar langsung saja ndak lulus, gimana yang ndak ikut ke Yunani?” Omongan satir saya disambut tawa terkekeh Mbah Suto.

Kebetulan paginya di pabrik ada pembagian koran gratis, saya bawa ke warung Mbok Darmi. Biar kelihatannya modal gitu lho, memang cuma buruh pabrik tapi mbacanya koran berkelas. Waktu mbuka halaman Radar Bromo mata Mbah Suto terpaku pada iklan yang terpampang di situ, tepat di tengah halaman dengan ilustrasi anak sedang menggambar dengan mata tertutup

Optimasi dan aktivasi otak tengah, mendidik anak menjadi genius dan religius

“Opo iki Le?” Tanya Mbah Suto. Baca lebih lanjut

Khusus 18 Tahun Ke Atas

Kang Noyo lagi mumet, gara-garanya dia mendengar kalo seseorang yang mempekerjakan pembantu rumah tangga di bawah usia 18 tahun terancam denda 500 juta dan penjara 5 tahun. Padahal si Parmi, pembantu yang dia impor dari Gunung Kidul itu baru berumur 16 tahun.

“Iki piye tho Le, mosok aku jadi penjahat cuma gara-gara punya pembantu umur 16 tahun?” Tanya Kang Noyo gundah.

Jadi ceritanya Kang Noyo ini seorang buruh dengan dobel gardan, yang artinya selain Kang Noyo sebagai penopang utama ekonomi keluarga, istrinya juga mburuh. Otomatis butuh pembantu, selain untuk beres-beres rumah juga yang paling utama untuk njaga anaknya yang masih balita.

Setelah sempet agak susah payah nyari, akhirnya dapet dari Gunung Kidul, masih terhitung sodara jauh. Orang tua si Parmi ndak sanggup mbiayai anaknya untuk meneruskan ke SMA, daripada di rumah ndak ada yang bisa dikerjakan selain mbantu di sawah yang hasilnya ndak seberapa, akhirnya si Parmi disuruh ikut Kang Noyo jadi pembantu.

“Aku ini kurang opo tho Le? Semua keperluan si Parmi dari mulai alat mandi sampe bedak tak kasih, bayarannya utuh, lebaran ada THR, jatah pulang 2 kali setahun diongkosi. Kerjaan yo ndak berat, wong kamu tau sendiri rumahku cuma sauplek gitu. Kriminalku itu sebelah mana?” Tanya Kang Noyo lagi.

Saya mesam-mesem, memang saya pernah dengar si Parmi cerita kalo duit bayaran yang dia terima dari Kang Noyo sekarang sudah jadi beberapa ekor kambing di Gunung Kidul sana, rencananya kalo sudah banyak nanti mau dijual trus dituker sapi. Baca lebih lanjut

Ibu yang Sempurna

ibu dan anak

Aku gak akan pernah bisa jadi ibu yang baik, itu yang selalu dibilang sama Mas Darmo, suamiku. Tiap kali aku bertanya kemana dia pergi sampe harus pulang pagi, dia akan bilang panjang lebar tentang beratnya beban yang harus dia pikul, tentang lembur yang harus dijalani dan kurang bersyukurnya aku sebagai istri.

Dia akan ngomel panjang lebar tentang anak-anak kami yang makin bengal, gak hormat dan patuh, yang berisik waktu dia tidur di akhir pekan, yang nilai sekolahnya gak juga membaik, dan yang lain-lain, dan yang lain lagi. Dia selalu bilang bahwa tanggung jawabnya adalah mencari nafkah di luar, dan mendidik anak-anak adalah tanggung jawabku.

Kebutuhan rumah tangga kami tercukupi, berarti tanggung jawabnya sudah dilakukan dengan baik. Anak-anak kami kurang terdidik, berarti aku memang gak bisa mengemban tanggung jawab.

Suamiku selalu benar, gak mungkin dia salah. Tetangga-tetangga kami bilang kalo suamiku selalu jadi yang terbaik dari kecil, di sekolah selalu ranking pertama, biaya pendidikan selalu didapat dari beasiswa, setelah lulus pun langsung ditawari kerja dan karirnya gak pernah redup.

Sedangkan aku, dari kecil orang tuaku selalu bilang kalo aku anak sial. Baca lebih lanjut