Cerita Si Penagih Utang

Konon suatu hari ada seorang penagih utang dateng ke rumah seorang debitur yang sudah lama nunggak utangnya. Si penagih utang berusaha menjelaskan panjang lebar maksud kedatangannya, mulai dari sebab munculnya tagihan sampe segala macem usaha yang sudah dilakukan untuk menagih utang tersebut.

“Jadi Pak, maksud kedatangan saya kesini adalah untuk mengingatkan bahwa sampeyan masih punya kewajiban ngelunasi utang sebesar tiga juta rupiah. Silakan sampeyan datang ke kantor untuk menyelesaikan kewajiban tersebut. Kalo misalnya merasa keberatan melunasi sekaligus sampeyan bisa bicarakan dulu mekanismenya, mungkin nanti sampeyan bisa mencicil.” Kata si penagih utang.

Si tuan rumah yang sudah mumet mikir bayaran anak sekolah, utang ke tukang sayur, tunggakan arisan RT, mertua yang lagi sakit, dan puluhan beban dunia lainnya tersebut seakan ndak mendengar perkataan si penagih utang, bahkan mempersilakan duduk pun ndak. Dia masih tenang duduk anteng di pojokan teras rumah sambil meneruskan kegiatannya.

Dengan logat daerah yang cukup kental akhirnya sang tuan rumah berkata, “Saya lagi ngasah arit Dik, makin lama sampeyan di sini makin lama juga saya ngasah aritnya. Dan kalo sampeyan belom tau, arit ini makin lama diasah akan makin tajam!” Baca lebih lanjut

Tidak

Tidak katamu, dan aku masih termangu. Sembilan kali dentang bunyi jam mungkin bisa membantu, tapi yang menempel di ruang tamu bukan jenis yang itu. Kamu salah tingkah, mungkin kamu sangka aku sedang menahan sedih, atau mungkin marah. Bukan, bukan itu, aku sedang berusaha menghilangkan canggung. Setelah berbulan-bulan kita terlihat dekat, selalu berjalan beriringan, aku tak mau kata tidakmu membuat jurang.

Aku bilang kalau sekarang aku pulang meninggalkan suasana canggung maka nuansa itulah yang akan selalu menghinggapi tiap pertemuan. Bisa jadi besok berani memanggilmu pun akan menjadi sebuah keajaiban. Tolong beri waktu sejenak, biarkan aku menetralkan rasa. Aku sedang berusaha menyamakan penolakanmu dengan kata tidak yang kamu lontarkan saat aku menawarkan jaket waktu gerimis turun saat itu. Tidak akan pernah sama rasanya, aku tahu, tapi paling tidak biarkan aku mencoba menurunkan derajat kekeramatan kalimatmu. Baca lebih lanjut

Menunggu di Janti

jembatan layang janti

Dingin, aku merapatkan jaketku. Entah sudah berapa batang rokok yang kuhabiskan menunggu bis sialan ini. Kulihat jam di tanganku sudah menunjukkan pukul 12 malam. Mataku sampai bosan melihat ke arah jembatan layang Janti. Sudah hampir dua jam aku menunggu di sini, bener-bener brengsek, tak satupun bis yang mau berhenti. Mana sendirian pula, jadi agak-agak merinding, campuran antara takut ada preman kesasar sama aroma mistis malem Jumat Kliwon yang dikenal orang Jawa sebagai malam keramat.

Dari arah barat kulihat sepeda motor melambat, nampaknya dia mau nunggu bis juga. Yang dibonceng seorang pemuda gondrong dengan jaket bergambar lambang salah satu perguruan tinggi di ringroad utara, dia turun sambil melepaskan helmnya.

“Ati-ati dab!” Si pengendara motor muter balik sambil melambaikan tangannya.

Lumayan, ada barengan di sini, minimal kalo sampe ada yang mau malak bisa kabur ke arah berlainan biar premannya bingung mau ngejar yang mana.

Ndak usah ketawa, aku males berantem sama orang ndak mikir masa depan macem preman jalanan, sedikit trauma juga gara-gara dulu waktu ribut sama preman mereka seenaknya ngeluarin pisau. Lha siapapun yang kena kan pasti berurusan sama polisi, dia mungkin mikirnya masuk tahanan ndak masalah, bisa makan gratis. Kalo aku? Bisa digebuki bapakku! Baca lebih lanjut

Jambu Air Kali Tempur

Simbah selalu melarangku bermain di sana, pohon jambu air yang tumbuh di pinggir kali tempur, di ujung desa kami. Katanya pohon itu wingit, Simbah bilang tempat itu banyak dihuni hantu pocong dan gundul pringis, sejenis hantu berbentuk kepala yang akan menggelinding mendekati kita lalu meringis. Kadang aku juga sedikit takut, tapi kata Parji itu cuma akal-akalan Simbah biar aku ndak main jauh-jauh dari rumah.

“Dimana-mana yang banyak setannya itu pohon beringin, atau pohon meh besar yang ada di kuburan kampung sana. Mana ada setan di pohon jambu!” Ujar Parji sambil ngakak. Baca lebih lanjut

Ibu yang Sempurna

ibu dan anak

Aku gak akan pernah bisa jadi ibu yang baik, itu yang selalu dibilang sama Mas Darmo, suamiku. Tiap kali aku bertanya kemana dia pergi sampe harus pulang pagi, dia akan bilang panjang lebar tentang beratnya beban yang harus dia pikul, tentang lembur yang harus dijalani dan kurang bersyukurnya aku sebagai istri.

Dia akan ngomel panjang lebar tentang anak-anak kami yang makin bengal, gak hormat dan patuh, yang berisik waktu dia tidur di akhir pekan, yang nilai sekolahnya gak juga membaik, dan yang lain-lain, dan yang lain lagi. Dia selalu bilang bahwa tanggung jawabnya adalah mencari nafkah di luar, dan mendidik anak-anak adalah tanggung jawabku.

Kebutuhan rumah tangga kami tercukupi, berarti tanggung jawabnya sudah dilakukan dengan baik. Anak-anak kami kurang terdidik, berarti aku memang gak bisa mengemban tanggung jawab.

Suamiku selalu benar, gak mungkin dia salah. Tetangga-tetangga kami bilang kalo suamiku selalu jadi yang terbaik dari kecil, di sekolah selalu ranking pertama, biaya pendidikan selalu didapat dari beasiswa, setelah lulus pun langsung ditawari kerja dan karirnya gak pernah redup.

Sedangkan aku, dari kecil orang tuaku selalu bilang kalo aku anak sial. Baca lebih lanjut

Ridho Guru dan Ilmu yang Bermanfaat

Konon katanya salah satu jenis orang yang bakal celaka di akhirat sana adalah orang yang punya ilmu tapi ilmunya ndak bermanfaat. Contohnya ilmu yang ndak manfaat itu misalnya sampeyan pinter fisika tapi saat ujian temen di sebelah lagi bingung setengah mati nyari jawabannya dan sampeyan hanya tertawa dalam hati sambil mbatin, “Rasakno! Modaro dhewe!”

“Yo nek kuwi sudah bener Le, ilmu yang ndak manfaat itu misalnya kamu pinter ngaji tapi anak-anakmu, ponakanmu yang tiap hari kumpul sama kamu ndak ada yang bisa mbaca Al Quran. Atau kamu pinter soal akuntansi tapi cuma buat ngajari orang ngemplang pajek, brarti ilmu yang kamu punya ndak ada manfaatnya buat orang lain.” Kata Kang Noyo.

Welhah! Ini orang kok ndak bisa diajak guyon ya?

Kata Kang Noyo yang pernah mondok di salah satu pesantren Jombang itu, salah satu syarat agar ilmu kita nantinya bermanfaat adalah adanya ridho dari guru kita. Kang Noyo bilang, “Kalo guru kita ndak ridho maka ilmu yang kita dapet juga ndak akan berkah.” Baca lebih lanjut

Yang Penting Ganti

Kampung halaman saya yang ndeso nan terpencil itu ternyata bisa juga punya cerita. Kemaren bapak saya nelpun, soal kemelut kol tepak, atau yang oleh orang-orang kota sering disebut mobil pick-up.

Harap maklum, kampung saya itu ndak ada angkutan umum, mbah-mbah saya dulu terbiasa jalan kaki berkilo-kilometer ke pasar untuk jualan barang yang kadang nilainya ndak sampe 20 ribu rupiah, jaman itu memang adanya cuma jalan pematang sawah. Seiring berjalannya waktu sekarang hasil gotong royong warga sudah menghasilkan jalan makadam, kalo lagi musim kemarau truk pun bisa lewat.

Warga mikir, kalo saja kampung saya punya kendaraan yang bisa ngangkut hasil panen ke kota, tentu ndak perlu bersusah payah mbawa berkarung-karung gabah make sepeda pancal. Dari mulut ke mulut usul berkembang dan mulai membentuk kubu-kubu. Mbah Dirjo, yang paling kaya di kampung usul supaya mbeli truk saja, biar ndak nanggung, muat lebih banyak kan lebih baik. Sementara Kang Dadap, teman sepermainan saya waktu kecil dulu usul beli pick up saja, soale lebih kecil, lebih lincah, perawatan juga relatif lebih murah.

Karena eyel-eyelan terus berkelanjutan akhirnya diadakan coblosan, semua warga disuruh milih, Baca lebih lanjut

Seruwet Software Bajakan

Kemaren saya ketemu Lik Sukro, juragan komputer dari Jogja yang lagi liburan di Malang. Beliau berkenan mampir di rumah saya yang ndempet pinggir kali itu.

Malem-malem beliau saya ajak nongkrong di warungnya Mbok Darmi, bukan karena warung kopi seribuan yang legendaris itu merupakan khas-nya Malang tapi karena sebagai tuan rumah saya merasa wajib untuk menjamu tamu sedangkan kemampuan finansial pas-pasan, apalagi tanggalnya sudah sangat tuwa.

Mumpung ngobrol sama seorang yang sudah banyak makan asam garam kehidupan, saya pengen menanyakan sesuatu yang rada ngganjel di kepala saya, “Lik, menurut sampeyan kapan korupsi di Indonesia bisa dihapuskan?”

Lik Sukro cengengesan, “Kamu itu kayak ndak ada obrolan lain saja. Ngomong korupsi itu bikin pegel hati, ndak bakal ada habisnya. Mendingan ngomong soal lain saja.”

“Tapi saya penasaran tenan lho Lik, cuma pengen tau pendapat sesepuh saja.” Kata saya.

Lik Sukro mesem, “Program-program yang kamu pasang di komputer jadulmu itu asli apa bajakan?”

Eh? Saya nanya apa beliau ngomongnya apa. “Apa hubungannya Lik?” Baca lebih lanjut

Buku Ngerumpi yang (Konon Bakal) Dicekal

Sampeyan tentu sudah mendengar bahwa PBNU memfatwa haram infotainment yang bersifat ghibah, ngrasani, membuka dan menelanjangi aib orang. Untuk alasan-alasan tertentu saya bisa memahami keluarnya fatwa itu, kadang gosip itu menyakitkan, dan celakanya sering berlaku pameo tragedi bagi orang lain adalah komedi bagi sebagian lainnya.

Sampeyan tau dimana gosip biasa diperbincangkan selain di acara infotainment? Tentu saja di ajang ngerumpi. Mbok-mbok ngumpul di teras rumah, nyari kutu sambil nyari-nyari gosip terbaru, ngomongin aib sambil ketawa-tawa melepas kepenatan hidup. Tinggal menunggu waktu saja sampe MUI mengeluarkan fatwa ngerumpi itu haram.

Sekarang coba sampeyan bayangkan hasil dobosan di forum ngerumpi seperti itu dikumpulkan trus dijadikan buku. Bagaimana kira-kira reaksi masyarakat? Opo ndak haram kuadrat itu namanya?? Baca lebih lanjut

Pajak Pensiunan?

Kemaren malem baru saja saya dapet seseruputan kopi abis pulang dari pabrik pintu rumah saya diketuk orang, saya buka ternyata Mbah Dirjo, pensiunan guru yang sering ndobos sama saya di pos kamling. “Monggo masuk Mbah, sampeyan ini tau saja di mana bisa dapet kopi gratis.” Seloroh saya sambil mempersilakan beliau masuk.

“Gundhulmu atos, aku ndak nyari kopi gratis!” Mbah Dirjo duduk, nyomot pisang goreng di meja, trus manggil istri saya, “Nduk, bikinkan teh anget saja ya.”

Jiyah!

“Ada apa tho Mbah, sampe ngganggu waktu kesendirian saya?” Tanya saya sok serius.

“Halah gayamu! Ini lho, denger-denger sekarang ada pajak pensiunan, bener gak sih?” Baca lebih lanjut