Benar dan Wajar, Versi Siapa?

Pernah suatu saat di poskamling yang ada di pojokan deket rumah saya itu tiap malem dipake sama anak-anak muda nongkrong sambil minum-minum. Biasanya mereka mulai ngumpul sekitar jam 10 malem, sampe menjelang subuh baru bubar. Meskipun ndak pernah mengganggu warga yang lewat, tapi rasanya yo tetep ndak nyaman saat kita melewati sekelompok orang yang lagi teler. Celakanya tempat itu memang strategis, di pojokan, dengan penerangan kurang memadai, dan di belakangnya ada sungai kecil, memang cocok buat nongkrong.

Saat beberapa warga berusaha menegur, inilah jawaban mereka, “Lho Pak, kami ini dari dulu ya nongkrongnya di situ, dari sejak sebelum di situ ada poskamling. Mosok gara-gara sekarang ada poskamling terus kami diusir?”

Jadi apakah mereka berhak nongkrong di situ sambil minum-minum? Berhak, paling ndak menurut mereka, wong memang di situ tempat nongkrong mereka dari dulu. Lanjut membaca

Spontan Itu Menyenangkan

Suatu siang di salah satu sudut Jakarta, seorang ibu setengah baya keluar rumah saat pintu pagar rumahnya diketok, nampak di pinggir jalan dua orang lelaki dengan seragam toko elektronik menunggu sambil membawa sebuah kotak besar.

“Ini ada kiriman teve Bu.” Ujar salah seorang lelaki di depan pagar.

Muka si ibu berubah sedikit masam, “Saya ndak mau, saya ndak pesen teve, saya ndak punya duit buat nyicil kreditnya.”

“Ini bukan penawaran kredit Bu, teve ini sudah dibayar.” Sahut si lelaki.

Si ibu langsung berbinar, dengan cepat mempersilakan kedua lelaki tersebut masuk, disambut bapak tuan rumah yang ndak kalah seneng.

Beberapa menit kemudian sebuah telepon genggam di Malang berdering, terdengar suara si bapak saat diangkat, “Alhamdulillah, makasih ya, teve yang lama sudah dikasih ke tetangga, sekarang bapak mau nonton bulutangkis.”

Sedikit terharu bercampur pedih sebenarnya, ternyata saya adalah anak yang nyaris durhaka. Lanjut membaca

Penakut

Seorang kawan pernah bercerita, temannya yang dari Korea kesulitan mempelajari Bahasa Indonesia. Dia bilang yang membuat Bahasa Indonesia kelihatan sulit adalah adanya imbuhan, awalan dan akhiran. Sampeyan mungkin ndak terlalu menyadari, wajar, karena sejak lahir procot sampai segede bagong sudah terbiasa mendengar dan berbicara dalam bahasa ini.

Salah satu yang bisa saya contohkan adalah awalah pe-, awalan ini konon bisa memiliki empat arti :

  1. Menyatakan alat

    Misalnya pencukur adalah alat untuk mencukur, pemukul artinya alat untuk memukul.

  2. Menyatakan tukang/juru/keahlian

    Contohnya penyair adalah ahli syair, penulis adalah orang yang memiliki keahlian menulis.

  3. Yang memiliki sifat

    Pendiam artinya orang yang memiliki diam, penakut adalah orang yang memiliki sifat takut.

  4. Menyebabkan adanya

    Misalnya pemanis adalah yang menyebabkan manis.

Sekarang monggo sampeyan lihat nomor tiga dan empat, Lanjut membaca

Korupsi dan Standar yang Tak Pasti

Konon segala sesuatu yang ada di negeri ini ada tesnya, sampeyan mau lulus sekolah ada tesnya, timbangan yang mau dipake di pasar ada tesnya, angkot yang boleh dipake narik penumpang ada tesnya, instalasi listrik di rumah yang mau disambung PLN ada tesnya, bahkan precil-precil sampeyan yang mau masuk SD pun ada tesnya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, tes mempunyai arti

1 ujian tertulis, lisan, atau wawancara untuk mengetahui pengetahuan, kemampuan, bakat, dan kepribadian seseorang; 2 percobaan untuk menguji kelaikan jalan suatu kendaraan bermotor umum; uji: berdasarkan — yg dilakukan di balai pengujian kendaraan bermotor kendaraan jenis itu cukup baik untuk angkutan penumpang dan barang;

Secara gampang tes ini bisa diterjemahkan sebagai cara untuk mengetahui posisi seseorang atau sesuatu dalam sebuah ukuran tertentu. Dari pengukuran-pengukuran ini akan diperoleh data yang bisa diolah untuk menentukan standar. Lanjut membaca

Menyesap Inspirasi dari Direksi PT RNI

Apa yang terbayang di benak sampeyan saat mendengar nama PT Rajawali Nusantara Indonesia? Besar kemungkinan sampeyan langsung teringat kisah cinta segitiga antara Rani Juliani, Nasrudin Zulkarnaen, dan mantan ketua KPK Antasari Azhar. Lengkap dengan konspirasi yang melibatkan Sigid Haryo Wibisono dan Kombes Williardi Wizar. Kisah yang bagi beberapa orang masih belum jelas ujung pangkalnya sampai sekarang.

Mungkin ndak banyak yang tau kalo PT RNI adalah sebuah perusahaan BUMN yang bergerak di bidang agro industri, farmasi, alat kesehatan, dan perdagangan. PT RNI merupakan investment holding yang mengoperasikan 35 kantor cabang, 10 pabrik gula, 2 pabrik alkohol, 1 pabrik obat, 2 pabrik alat kesehatan, 1 perkebunan sawit, dan 1 perkebunan teh.

“Ono opo tho Le? Kok mendadak kamu ngomong RNI? Mau pindah pabrik opo piye?” Tanya Kang Noyo kemaren sore, saat kami menikmati hembus angin yang makin kering di warung Mbok Darmi.

Halah!

Sebuah berita di Kompas menarik perhatian saya,

Untuk melakukan penghematan, empat direksi PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) sengaja tidak memanfaatkan fasilitas perusahaan seperti mobil dan rumah dinas. Perusahaan BUMN tersebut tahun 2011 mengalami kerugian Rp 34 miliar, karena terjadi banyak inefisiensi. Lanjut membaca

Beberapa Fakta Tentang Flu Singapura

Beberapa hari yang lalu anak saya yang pertama, Barra, anget badannya. Biasa saya pikir, mungkin ketularan sama temennya di sekolah. Entah saya harus merasa bangga atau kasihan, saat istri saya menyuruh dia ndak usah masuk dulu karena lagi sakit, dia ndak mau, pengennya tetep sekolah. Untungnya dia cuma panas semalem, saya cuma kasih dia vitamin, setelah itu kondisinya kembali sehat.

Selang sehari kemudian, giliran adiknya yang panas. Lagi-lagi saya pikir itu biasa, wong namanya tinggal serumah, mungkin flu atau semacamnya. Panasnya sih cuma semalem, tapi setelah itu dia lemes. Melihat Haidar, anak kedua saya, yang biasanya cerewetnya setengah hidup mendadak diem rasanya ada yang hilang.

Saya perhatikan ternyata diemnya dia bukan sekedar lemes jadi males ngomong, tapi bener-bener mulut selalu tertutup. Dan tiap kali dia buka mulut ilernya langsung tumpah. Jadi selama mingkem itu dia nampung air liur di mulutnya, meludah belum bisa, tapi juga gak ditelan. Lanjut membaca

Menyoal Kesangkilan Kaos Kaki

kaos kaki

Konon katanya persaingan di dunia ini sekarang makin ketat. Kualitas harus selalu meningkat dengan proses dan bahan terpakai maksimal. Segala sesuatu harus dilakukan dengan mangkus dan sangkil, atau para penyerap boso londo lebih sering menyebut dengan istilah efektif dan efisien. Memotong jalur yang ndak perlu, memaksimalkan pemakaian bahan, mencegah pemborosan, menyegerakan pemakaian supaya terhindar dari biaya penyimpanan. Sampeyan bisa menyebut banyak contoh lain, ujungnya tetep, melakukan secara mangkus dan sangkil.

“Warung ini bisa lebih mangkus dan sangkil kalo sampeyan nggorengnya ndak pake minyak sakhohah gitu Mbok. Dan nggorengnya jangan jauh-jauh, di deket sini saja, jadi ndak perlu piring, orang kalo mau makan gorengan langsung ngambil dari tempat penirisnya. Semua harus dilakukan dengan sesedikit mungkin proses dan bahan.” Tutur Kang Noyo dengan gaya dosen merangkap dekan yang lagi ngincer jabatan rektor.

Mbok Darmi garuk-garuk rambut, bengong.

“Kamu juga Le, ndak perlu bawa korek. Buat apa? Wong di sini sudah ada api, tinggal nyulut di pawon-nya Mbok Darmi. Biar kamu juga lebih mangkus dan sangkil.”

Mbuh! Lanjut membaca

Andaikan Membayar Pajak Kendaraan Semudah ini

Hari ini pajak motor saya sudah hampir jatuh tempo, berarti sudah waktunya bersilaturahmi dengan orang-orang di kantor Samsat. Dengan hanya membawa Surat Tanda Nomor Kendaraan alias STNK datanglah saya ke loket pembayaran yang disediakan di sana. Dilayani mbak-mbak teller yang cantik nan sekseh, saya cukup ngasih STNK, dikasih tau berapa yang harus saya bayar, lalu disuruh nunggu di bagian pengesahan.

Lepas dari loket pembayaran lalu saya ngantri di bagian pengesahan STNK, ini penting karena di lembar STNK ada empat kotak yang harus distempel oleh pihak kepolisian sebagai tanda pengesahan tahunan. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya nama saya dipanggil, dikasih STNK yang sudah distempel, selesai.

stempel pengesahan STNK

stempel pengesahan STNK

Cuma membawa STNK serta melewati dua loket, cepat dan sederhana bukan?

Bukan!

Tentu saja ndak sesederhana itu. Lanjut membaca

Yang Mau Kredit, Ambil Sekarang!

Dalam penyaluran kredit kepada nasabah, paling ndak ada dua resiko utama yang harus diperhatikan oleh bank. Yang pertama adalah resiko kredit, yaitu resiko akibat kegagalan debitur dalam memenuhi kewajiban terhadap bank, yang kedua resiko likuiditas, yakni resiko akibat ketidakmampuan bank untuk memenuhi kewajiban yang jatuh tempo dari sumber pendanaan arus kas dan atau dari aset likuid berkualitas tinggi yang daapat diagunkan, tanpa mengganggu aktifitas dan kondisi keuangan bank.

Saya manggut-manggut ndak mudheng, walaupun sudah beberapa kali mengulang kalimat yang tertera pada Peraturan Bank Indonesia No 11/25/PBI/2009 tersebut. Maklumlah, otak pas-pasan buruh pabrik macem saya disuruh memahami aturan yang ditujukan untuk para pejabat perbankan, yo ndak nutut.ashamed0004 Free Emoticons   Shame

“Kalo memang ndak mampu mbok ndak usah maksa, sini kertasnya buat bungkus gorengan saja.” Kang Noyo membuyarkan konsentrasi saya.

Wong edan!

Entah kenapa temen saya yang ini ndak pernah menghargai keseriusan saya, padahal sekali-kali saya juga pengen dianggap orang yang rada intelek, keliatan serius dan pinter.

“Pesen kopi dulu Kang, ada topik penting ini.” Ujar saya. Biarlah yang lain meeting sambil menikmati starbuck, di sini juga bisa ndobos sambil nyesep kopinya Mbok Darmi.

“Ono opo tho Le?” Kang Noyo duduk dengan korek siap di tangan, seperti biasa, siap ngembat rokok teman.

“Pokoknya kalo sampeyan niat kredit motor, mendingan sekarang.” Kata saya.

Pada hari Kamis, 15 Maret 2012 kemaren, Bank Indonesia selaku penguasa jagat perbankan dan Kemeterian Keuangan selaku penguasa jagat keuangan (halah!) kompak mengeluarkan aturan yang membuat orang dengan duit pas-pasan susah dapet kredit.

Bank Indonesia mengeluarkan Surat Edaran No 14/10/DPNP yang isinya antara lain : Lanjut membaca

Cara Mudah Mengisi SPT Tahunan PPh Orang Pribadi Seri III (1770 -Norma)

Batas waktu penyampaian SPT Tahunan PPh Orang Pribadi sudah semakin dekat. Semoga sampeyan yang karyawan sudah beres dengan pengisian SPT 1770 S dan 1770 SS. Sekarang saatnya bagi sampeyan yang kerjanya ndak ikut orang, alias punya usaha sendiri, untuk mengisi SPT Tahunan PPh Orang Pribadi.

Biar ndak terlalu panjang, saya tulis petunjuk pengisian untuk yang pake norma penghitungan penghasilan netto dulu. Sampeyan boleh menggunakan metode ini dengan syarat sampeyan adalah Wajib Pajak Orang Pribadi (alias bukan perusahaan) dengan omset setahun di bawah 1,8 milyar. Dengan metode ini sampeyan cukup mencatat berapa jumlah penjualan bruto selama satu tahun.

Dan inilah langkah pengisian SPT Tahunan PPh Orang Pribadi 1770 untuk Wajib Pajak yang memilih menggunakan norma penghitungan penghasilan netto :

  1. Mengisi rincian peredaran usaha alias omset selama satu tahun

    Berdasarkan catatan yang sampeyan miliki silakan diisi jumlah omset per bulan.

    rekapitulasi omset

    rekapitulasi omset

  2. Mengisi Formulir 1770 – IV

    Ini adalah halaman terakhir dari formulir SPT Tahunan 1770. Seperti biasa, kita mengisi dari halaman terakhir dulu. Lanjut membaca