Andaikan Membayar Pajak Kendaraan Semudah ini

Hari ini pajak motor saya sudah hampir jatuh tempo, berarti sudah waktunya bersilaturahmi dengan orang-orang di kantor Samsat. Dengan hanya membawa Surat Tanda Nomor Kendaraan alias STNK datanglah saya ke loket pembayaran yang disediakan di sana. Dilayani mbak-mbak teller yang cantik nan sekseh, saya cukup ngasih STNK, dikasih tau berapa yang harus saya bayar, lalu disuruh nunggu di bagian pengesahan.

Lepas dari loket pembayaran lalu saya ngantri di bagian pengesahan STNK, ini penting karena di lembar STNK ada empat kotak yang harus distempel oleh pihak kepolisian sebagai tanda pengesahan tahunan. Setelah menunggu beberapa saat akhirnya nama saya dipanggil, dikasih STNK yang sudah distempel, selesai.

stempel pengesahan STNK

stempel pengesahan STNK

Cuma membawa STNK serta melewati dua loket, cepat dan sederhana bukan?

Bukan!

Tentu saja ndak sesederhana itu.

Jadi ceritanya kemaren saya mau mbayar pajak kendaraan di Samsat Corner yang ada di salah satu Mal di Malang. Saya baca di situ syarat untuk mbayar pajak dan pengesahan STNK :

  1. Kartu identitas asli
  2. STNK asli
  3. BPKB asli

Berhubung kendaraan saya ini masih kreditan, jadi saya membawa surat keterangan dari leasing yang menyatakan bahwa cicilan saya masih beberapa tahun lagi lunasnya, lengkap dengan fotokopi BPKB yang masih disimpan pihak leasing tersebut.

Eh, ndak dinyana, saya ndak boleh mbayar pajak di situ. Kata orangnya, “Maap Pak, untuk yang leasing silakan langsung mbayar di kantor Samsat.”

Lha? Wong mau mbayar saja kok susah.

Sebenarnya kalo digambarkan secara sederhana, proses pembayaran pajak kendaraan bermotor dan pengesahan STNK sampeyan tiap tahun adalah sebagai berikut :

  1. Sampeyan mbayar pajak kendaraan dan asuransi, diawasi oleh orang dinas pajak pemda dan orang dari Jasa Raharja
  2. Setelah mbayar STNK sampeyan akan distempel oleh polisi, bukti pengesahan tahunan.

Jadi kenapa susah?

“Lucu tho Kang, seharusnya kan mereka berterima kasih kita mau mbayar tanpa ditagih-tagih. Kenapa prosedur pembayarannya ndak dipermudah? Misalnya orang bayar pajak penghasilan, cukup menulis nomor NPWP, atau orang bayar PBB, cukup menulis Nomor Objek Pajak. Ndak perlu misalnya orang mau mbayar PBB ditanya sertifikat rumah, atau akta jual beli, atau perjanjian sewa.” Keluh saya waktu ngopi bareng Kang Noyo kemaren sore.

“Dan lagi kok aneh, kenapa kalo di Samsat Corner harus pake BPKB asli sedangkan di kantor Samsat bisa pake surat keterangan leasing? Apakah SOP-nya beda? Lucu tho, untuk pembayaran dan pengesahan yang sama tapi syaratnya beda.”

Kang Noyo mesam-mesem sambil nyeruput kopinya, “Mungkin demi keamanan Le. Ndak lucu tho, misalnya mobil orang hilang dengan BPKB dan STNK di dalamnya, trus malingnya bebas make, yang penting tiap tahun mbayar pajak.”

Ah, mosok ada orang nyolong mobil untuk dipake sendiri dan tiap tahun bayar pajak?

“Kalo soal di Samsat Corner harus pake BPKB asli konon katanya karena pihak leasing kadang meminta blokir untuk para pengutang yang ndableg angsurannya, dan data ini adanya di kantor Samsat. Jadi mau ndak mau yang mbayar pajak cuma pake surat keterangan leasing harus datang langsung ke kantor Samsat.” Tutur Kang Noyo.

Jawaban yang lebih aneh lagi, kalo memang bermasalah kenapa leasing mau mbikin surat keterangannya? Kenapa ndak disuruh mbayar angsuran dulu?

Sebagai orang awam saya mikirnya begini, kan ada dua bagian yang harus kita urus saat mbayar pajak kendaraan tiap tahun, bagian pembayaran dan bagian pengesahan. Khusus untuk bagian pengesahan buatlah semacam program, tiap kali petugas meng-input nomor polisi kendaraan yang bermasalah akan keluar pop-up notifikasi, misalnya:

“kendaraan ini telah dicuri, hubungi bagian anu”,

atau

“kendaraan ini nunggak angsuran sekian bulan.”

Jadi selama kita ndak pernah bermasalah ya langsung stempel aja, ndak perlu ruwet. Kecuali kalo ada indikasi kendaraan kita bermasalah, baru petugas minta si pembayar untuk membuktikan, antara lain dengan meminta identitas, BPKB, dan semacamnya. Saya yakin dengan begitu prosesnya juga akan jauh lebih cepat.

Berarti komputer harus selalu online dengan pusat data?

Ndak juga. Dibikin saja misalnya, satu server pusat data untuk propinsi Jawa Timur, lalu reskrim polsek/polres mengirim data pencurian kendaraan bermotor tiap jangka waktu tertentu ke server tersebut. Setelah itu petugas Samsat tinggal mendownload data dari server pusat untuk disimpan di komputer lokal. Ndak perlu kuatir ada STNK dari mobil colongan bakal disahkan tho?

Juga ndak perlu kuatir kendaraan bermasalah dari luar propinsi bisa nyelonong mbayar pajak, karena setau saya bayar pajak kendaraan dan pengesahan STNK baru bisa dilayani dalam lingkup satu propinsi.

“Yo ndak segampang itu Le.” Kata Kang Noyo.

Kenapa?

“Pertama, karena aturannya memang begitu, sekali-kali kamu baca Pasal 184 PP No 44 tahun 1993.”

Wuik! Kang Noyo canggih!

“Dan kedua, ini masalah siapa butuh siapa. STNK itu harus disahkan biar kamu ndak ditilang tho, sekarang kamu mau ditilang ndak?”

“Yo ndak tho Kang.”

“Yo wis, jangan rewel, wong tinggal datang ke Samsat saja susah tenan.”

“Dan yang jelas, duniamu kan cuma seluas warung Mbok Darmi, kamu tau apa soal program komputer?”

Saya langsung terdiam, mak jleb tenan.

Jiyan!

About these ads

22 comments on “Andaikan Membayar Pajak Kendaraan Semudah ini

  1. naniknara mengatakan:

    iya betul betul
    mau ngeluarin uang dari dompet kok prosedurnya ruwet

  2. warm mengatakan:

    saya kalo urusan SIM biasanya enakan bayar di layanan mobile, cepet prosedurnya, skarang jg ada plus layanan STNK juga tuh

    aneh emang kok lebih cepet dari ke kantornya langsung
    kalo STNK sih biasanya saya minta bantuan orang :oops: males ribet soalnya :D

  3. Alex© mengatakan:

    Kan slogan umum di negara ini: kalau bisa dipersulit, ngapain dipermudah? :mrgreen:

  4. seagate mengatakan:

    Wis ndak usah dengerin kang Noyo mas, saya setuju dengan usulan sampeyan itu, seharusnya bisa menggunakan sistem yang lebih terintegrasi sehingga akan mempermudah prosedur dan mempercepat pelayanannya. Coba kirimin aja usulan ini mas :D

  5. budiono mengatakan:

    byuh… kendaraan saya sudah telat pajek 6 bulan lebih, masih males datang ke samsat :d

  6. budiono mengatakan:

    *di era online gini kok samsat beum bisa bayar lewat ibank sih? kalo toh bisa masih harus ambil bukti bayar ke kantor samsat, lak yo sami mawon*

  7. Antyo Rentjoko mengatakan:

    OOT: Dulu waktu saya masih kecil, setahu saya perpanjangan STNK (=bayar pajak) setahun sekali itu dipelopori oleh DKI. Itu sebabnya kendaraan Jakarta memasang angka bulan dan tahun tenggat. Sebelumnya, STNK hanya dibayar 5 tahun sekali. Setahu saya lho. :D Atau mungkin saya salah karena masih bocah, tahunya STNK ya gitu. :D

    Soal pelayanan, nanti pada generasi Mastein pasti akan lebih efisien. Kalau Indonesia lebih nggenah, tax fraud kecil pun akan jadi masalah misalnya saya jadi caleg.

    BTW seorang karyawan swasta ketika mengurus akta setelah membeli rumah secara tunai dibisiki oleh orang HRD dan kemudian notaris agar menurunkan harga dalam bukti transaksi supaya pajaknya lebih ringan.

    Nah si karyawan itu kalau pesan barang ke LN juga merayu pengirim agar mencantumkan harga yang rendah. Banyak penjual di LN yang nggak mau karena itu termasuk kejahatan. Misalnya penjual piringan hitam bekas. :D Kalau Amazon jelas ogah. Kenapa begitu si karyawan kita itu nggak mau repot karena petugas BC di Kantor Pos suka mencekik. :D Satu dua penjual piringan hitam bekas akhirnya mau melabeli semua barangnya @ USD 5, karena memang ada yang seharga itu. :D

  8. Ely Meyer mengatakan:

    cuma bisa berharap semoga pelayanan perpanjangan STNK semikan mudah ke depannya :)

  9. frozzy mengatakan:

    Wuih lama ndak mampir kemari. Birokrasi mas….nda ribet ya nda afdhol…. :D Kalo gampang, calo2 itu nda kebagian cipratan juga… ;)

  10. chocoVanilla mengatakan:

    Saya biasanya ngasih ke biro jasa sajalah. Cuma ganti biaya 50 ribu kok, daripada ngurus dewe, mumet dan ra mudheng :oops:

    #stein:
    #horangkayah :twisted:

  11. Richi Dellan mengatakan:

    Leasing meminta blokir untuk para pengutang yang ndableg angsurannya?? Hebat betul. Sebaiknya Leasing itu perlu ditilang juga :-?

  12. Emanuel Setio Dewo mengatakan:

    Iya, memang aneh… Mestinya pun tidak perlu 2 loket. Pada saat pembayaran mestinya bisa langsung di-verifikasi dan di-syahkan. Ini pemborosan SOP.

    Dengan 2 loket itu bakal tambah ribet jika seandainya bisa bayar tetapi kemudian bermasalah di pengesahan. Atau memang setelah bayar selalu bisa disahkan?

    *gumum*

  13. arif mengatakan:

    klo mau lebih mudah, sekalian aja gak usah bayar pajak :)

  14. harikuhariini mengatakan:

    Beberapa bulan lalu kakak saya mbayar pajak mobil jg agak ribet. Berhubung beliau dipindah tugaskan d tangerang, untk sementara mobilnya yg ber-plat BK (sumut) jg ikut di bawa ke tangerang. Pas mau bayar pajak-harus di sumut juga, ternyata petugas nya bilang kendaraannya kudu d bawa jg untk dilihat nomer mesin nya kalo ga ya ga bisa di proses. Masak sih hanya untk bayar pajak doank kendaraan nya musti dibawa dr tangerang ke medan jg.
    Tp akhirnya pajak nya bisa di proses, setelah..tau sama tau lah.. Setelah pajaknya jg kena pajak.

  15. Mas Adien mengatakan:

    waduh aku lali durung nyamsat………suwun dielingke Stein

  16. jeli gamat mengatakan:

    penglaman berharga :D saya pernah telat bayar pajak motor kurang lebih 2 bulan , tapi alhamdullilah dendanya cuma 58rb

  17. Felix mengatakan:

    Wah comen2 nya massukkk…….
    Iya nih mau bayar aja kok repot. Untuk agan2 yang pake calo 50rb bisa minta nocan nya gak?
    Coz ane di Surabaya ongkos calonya aja 250rb, males banget kan?

    Soalnya ane bli mobil sekon via makelar lagi. Otomatis kaga tau lah KTP yang punya
    Trus lagi orangnya BII Finance udah keluar pula, pinjem fotocopy BPKB di siapa?????
    bingung2

  18. purba. s mengatakan:

    Yg namanya bayar kewajiban, seharusnya dipermudah. Bayar pajak misalnya : Cukup dispenda setempat membuka nomor rekening di semua bank yang ada, kemudian wajib pajak cukup bayar ke no. rek. tersebut. lalu dibubuhi stempel bank tsbt pada stnknya dan tanda bayar itulah dipegang oleh pemilik kenderaan. enakkan ??? nggak repot dan paling aman.

  19. alims mengatakan:

    duch…aduch…. ribet tenan….

  20. ekowahyu.s mengatakan:

    kalo isa dipersulit kenapa dipermudah? itulah prinsip POLISHIT

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s