Rojo Koyo yang Membuat Kere

Jaman saya masih sekolah dulu ada satu pelajaran yang selalu sukses membuat saya terpuruk, nilai yang saya dapet ndak pernah lebih dari enam. Itu pun saya yakin bercampur dengan belas kasihan dari guru saya. Pelajaran itu adalah Bahasa Jawa.

Memangnya susah?

Kalo sekedar nulis huruf jawa sih saya masih mampu, tapi kalo sudah menyangkut tata bahasa nyerah saya. Ndak cuma tujuh tingkatan bahasa yang mbikin mumet, segala macem peribahasa, idiom, dan lain sebagainya sukses membuat saya tiap kali ujian cuma berdoa semoga Pak Guru semester ini kembali berbelas kasihan sama saya.

Mendadak inget sama pelajaran ini gara-gara kemaren sore saya ketemu Kang Noyo di warung Mbok Darmi, sepulang dari liburan setelah dipaksa cuti sama pabrik tempat saya mburuh.

“Kamu sudah denger Le, katanya mau ada perubahan dalam buku panduan Bahasa Jawa sekarang.” Kata Kang Noyo.

“Perubahan opo Kang?”

“Sapi, dulu kan masuk kategori rojo koyo, alias benda yang merupakan simbol kekayaan pemiliknya. Dalam buku panduan Bahasa Jawa versi terbaru sudah ndak lagi, malah rencananya mau direvisi, sapi sekarang jadi rojo kere, simbol kebangkrutan bagi yang punya.” Lanjut Kang Noyo.

Welhadalah, mosok iya?

“Tenan iki, ojo mesam-mesem kowe! Tak keplaki sisan!” Sungut Kang Noyo.

Haiyah!

Ternyata kemaren Kang Noyo baru pulang kampung, dan mendapat kabar kurang mengenakkan.

“Kamu tau sendiri kan, gaji buruh kecil macem kita ini ndak seberapa. Sudah tak irit-irit sampe lama, akhirnya ngumpul duit sembilan juta. Tak belikan sapi maksudnya buat investasi, karena kata simbah dulu kan sapi itu rojo koyo. Harganya pasti naik, belum lagi kalo beranak, sudah untung naik harganya, masih dapet anaknya juga.” Ujar Kang Noyo mulai berkeluh-kesah.

Trus piye Kang?

“Berapa bulan yang lalu ada yang nawar sapiku, 6 juta. Lha kok enak, wong dulu aku belinya 9 juta lebih. Eh, kemaren aku nyoba nanya lagi waktu pulang kampung, dia bilang 6 juta pun belum tentu ada yang mau. Asem! Lha iki maksudnya piye?!” Kata Kang Noyo dengan nada makin anyel.

Saya jadi inget waktu pulang kampung kemaren. Kang Sarman, tetangga di kampung beli sapi harga empat juta, trus karena butuh biaya buat istrinya melahirkan akhirnya sapi dijual, cuma laku 2,7 juta.

“Malah mahalan kambing mas, aku lho beli kambing buat aqiqoh seekornya 1,2 juta.” Cerita Kang Sarman sambil bersungut-sungut.

Lebih tragis lagi Pak Basir, yang rumahnya deket mesjid kampung saya. Beliau beli sapi harga tujuh juta, pas butuh duit dia mau jual, ditawar orang empat juta. Karena merasa sayang beliau ndak jadi njual, dan lagi waktu itu sapinya lagi bunting. Sapinya baru dijual setelah beranak.

“Laku berapa Pak?” Tanya saya waktu ketemu.

“Empat juta, induk sama anaknya.” Jawab beliau pasrah.

Saya bener-bener heran, kalo ndak salah inget ini sudah menginjak tahun kedua harga sapi berada dalam titik yang jangankan membuat peternak untung, menghindar dari kerugian pun nyaris mustahil. Dan celakanya makin lama makin turun.

Contoh yang paling kelihatan Kang Noyo, dulu dia merasa sudah untung beli sapi seharga 9 juta, karena dalam kondisi normal harga sapi yang dia beli berkisar di angka 11 juta. Setelah beberapa bulan ternyata harganya makin turun, jadi tinggal 6 juta, dan sekarang si blantik sapi bilang 6 juta pun susah njualnya.

Lebih heran lagi waktu saya baca berita para pedagang bakso pada demo di gedung DPR, mengeluhkan mahalnya harga daging sapi. Peternak kecil menjerit karena murahnya harga sapi, sedangkan yang lain marah karena mahalnya daging sapi. Di mana letak kesalahannya? Siapa perampok keuntungannya?

Dan saya bener-bener super duper heran waktu melihat pemerintah seakan ndak peduli sama jeritan rakyatnya sendiri. Setelah sempat merencanakan pada tahun 2011 akan mengimpor 50.000 ton daging sapi, pemerintah malah menaikkan kuota impor daging sapi menjadi 72.000 ton. Kalo diitung-itung, tambahan 22 ribu ton itu setara dengan 120 ribu ekor sapi.

Buat sampeyan yang berminat dengan ternak sapi, saya sarankan ditunda dulu, paling ndak sampe buku panduan Bahasa Jawa direvisi ulang dan sapi kembali dimasukkan kategori rojo koyo.

Eh, tapi apa iya ada istilah rojo kere dalam bahasa jawa?

“Pokoknya mau tak jual saja sapinya! Aku mau beli ternak baru ke Mbah Atmo!” Kang Noyo masih belum selese misuh-misuhnya.

“Lho? Setau saya Mbah Atmo itu dukun lho Kang, ndak jualan ternak.”

“Biarin, pokoknya aku sekarang mau ternak tuyul saja!” Kang Noyo pergi sambil tetep misuh-misuh.

Jiyan!

About these ads

19 comments on “Rojo Koyo yang Membuat Kere

  1. Chic mengatakan:

    solusinya itu lhoooooo… :lol:

    #stein:
    konon ada dua bisnis yang jelas untung mbak, berkebun ganja dan beternak tuyul :mrgreen:

  2. bowo mengatakan:

    aduh biyuuuuh, yok piye nasib bapakku iki. ibarate sipat pangandele wis kethul.

    #stein:
    kopyor tenan wong ndeso saiki mas

  3. pipitta mengatakan:

    eh serius.. sekarang punya sapi malah rugi ya?? apa hanya sapi jenis tertentu, atau segala macam sapi?? soalnya saya punya sapi seekor yang dipiara di kampung dan si sapi lagi hamdun.. walahhh kalo malah rugi begimana yahh secara dulu belinya sekitar 6jt-an

    #stein:
    kayaknya sih semua sapi mbak, di kampung saya yang sapi lokal dan peranakan brahman harganya turun, di pasuruan sini punya temen saya sapi metal turun juga

  4. hajarabis mengatakan:

    nice..
    sempatkan juga mengunjungi website kami di http://www.hajarabis.com
    dan ikuti undian bagi-bagi duit ratusan ribu rupiah
    sukses selalu!!

  5. chocoVanilla mengatakan:

    Walaaah, apa sebabnya ya? Apa sapinya Kang Noyo jadi kurus?
    Kayaknya mending ternak bebek ya, Mas, dimana-mana lagi marak bebek cabe ijo ato bebek kremez :mrgreen:

    #stein:
    ternak ayam juga prospek kayaknya kok mbak, ayam kampus kampung

  6. nDaru mengatakan:

    saya punyak sapi..tapi emang niatan endak mau saya juwal..mau buat sawang2an aja sama mbersihin karas di blakang biar rumputnya endak njembrung2 amat

    #stein:
    selama pakannya ndak beli sih ndak terlalu masalah mbak, paling rugi tenaga

  7. Asop mengatakan:

    Walah, saya malah gak bisa ngomong boso krama sampe sekarang…. padahal saya besar di Surabaya… :mrgreen:

    #stein:
    kalo anak surabaya saya maklum, soale nuansanya lebih egaliter di sana

  8. johan mengatakan:

    ikut nimbrung, kelihatannya seru ni

  9. ageng mengatakan:

    bahasa jawa saya malah baus2, tapi inggrishnya ngedrop nangudubila. hahaha

    soal sapi, saya malah baru tau kalo ada revisi. Jaman IPAD gini ternak traditional memang jadi terpuruk.

    #stein:
    soal revisi itu cuma guyon mas :lol:

  10. mr. sectiocadaveris mengatakan:

    harga sapi, seperti harga barang2 lainnya, bukankah fluktuatif dipengaruhi situasi dan kondisi? juwal sapi baru akan untung kalau menjelang idul kurban? :mrgreen:

    #stein:
    fluktuatif, betul mas, tapi trend yang terus-menerus turun saya pikir ndak bisa dibiarkan juga, kasian rakyat kecil

  11. Aurel mengatakan:

    Iyo an….Untung sapiku wis tak dol 9 bulan yang lalu..mayan invest 2 tahun masih untung 500ribu heheheheh

    #stein:
    untung 500rb kuwi ngitung ongkos pakan gak mas?

  12. agussupri mengatakan:

    kalau sapinya banyak tetap aja simbol kekayaan

    #stein:
    kaya tapi rugi, mbingungi

  13. blanthikayu mengatakan:

    waah..ini bisa menurunkan bisnis saya sebagai blantik mas :(
    btw, suwun lho yaaaa udah sering dan mau mampir ke blog ku yang seadanya ituuhh…matur nuwun sanget :D

    #stein:
    sampeyan terlalu merendah, sampeyan kan seleb blog :lol:

  14. rully mengatakan:

    hehehe…, iyo mas mbingungi. Kusir dokar ndek kampungku duwe gawe nyunatne anake, tukune sapi urip disembelih dhewe. Soale nek tuku daginge neng pasar luarang poll, bedane adoh karo sapi urip…

    #stein:
    lha itu yang mbikin saya heran, siapa yang ngambil untung sebenernya?

  15. chocoVanilla mengatakan:

    Mas, masih ngurusin sapinya ya? Kok gak ono sing anyar maneh? Sudahlah, mari kita bikin rendang saja :D

    #stein:
    halo mbakyu, kok ndak ketemu saya kemaren?

  16. plukz mengatakan:

    nyahaha, melu ngrasakke lek iki mas

    tuku wolu, rumat apik -apik, lemu ginuk ginuk, ditawar enem. jiyan!

    akhirnya disembeleh dhewe, buat acara walimahan sepupu

    #stein:
    sing penting niat, tur wis dilakoni :smile:

  17. Blog Ryna mengatakan:

    emang ada ya mas stein ??
    istilah rojo kere dlm bahasa jawa ??

    #stein:
    hahaha, ndak ada mbakyu, ini kan cuma sindiran saja :D

  18. [...] Adha seperti ini di sepanjang jalan berjejer orang jualan kambing dan sapi, membuat saya teringat nasib peliharaan saya yang harganya ndak juga kunjung [...]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s