Jangan Pernah Mencoba

Hidup adalah pilihan dengan setiap pilihan mengandung konsekuensinya masing-masing. Sampeyan boleh memilih untuk melakukan hubungan badan sebelum nikah, atau sesudah nikah, atau mungkin memilih untuk ndak melakukan hubungan badan. Kalo sampeyan memutuskan untuk melakukan hubungan badan, sampeyan bisa memilih untuk pake alat kontrasepsi atau polosan, bisa juga memilih untuk melakukan hubungan dengan lawan jenis atau sejenis. Yang jelas semua itu seyogyanya dilakukan dengan sadar atas semua konsekuensi yang mengikuti di belakangnya.

Menentukan pilihan-pilihan yang berkaitan dengan hubungan seks ndak beda jauh dengan apabila sampeyan berjalan dan kemudian menemukan sebuah persimpangan. Sampeyan harus memilih mau belok ke mana, dan sampeyan ndak bisa divonis benar atau salah dalam menentukan pilihan. Satu-satunya yang membuat pilihan jadi terasa masuk akal atau ndak adalah konsekuensi yang bakal ngikuti di belakang tiap pilihan, dan itu ndak selalu bisa dihitung di depan karena konsekuensi memiliki unsur ketidakpastian.

Kurang lebih itulah yang saya tangkap dari tulisan seorang blogger senior, mbak dosen yang juga seorang psikolog. Sebuah tulisan yang sangat logis, dan yang jelas ndak bisa disalahkan.

“Lho kok ndak bisa disalahkan?” Tanya Kang Noyo yang tadi ikut sama-sama saya ngintip tulisan tersebut di komputer ruangan Pak Mandor. Kebetulan mandor saya dimutasi ke cabang lain sedangkan penggantinya belum masuk, lumayan kalo make komputer di ruangan beliau ndak perlu ngumpet-ngumpet.

“Karena si mbak sudah memulai pendapatnya dengan kalimat menurut saya, dengan begitu beliau ngasih tau kalo yang ditulis itu pendapat subjektif. Juga menunjukkan kalo si mbak ini menjunjung tinggi etika dalam mengemukakan pendapat Kang.” Ujar saya.

Kadang saya heran kalo sudah ada yang memulai pendapat dengan kata-kata menurut saya tapi masih dipojokkan dan dipaksa untuk mengikuti pendapat yang berseberangan. Lha wong subjektif kok, kalo mau berbeda pendapat ya monggo, tapi kalo menurut saya begini. Enak tho?

Saya pikir banyak orang berpikiran sama dengan tulisan Mbak Agatha, terserah orang mau berbuat apa selama ndak menerjang hukum positif yang bisa dijerat dengan pasal pidana atau perdata. Soal norma atau moral adalah urusan pribadi masing-masing orang dan bukan merupakan sesuatu yang bisa dihakimi oleh publik.

“Kamu juga sependapat Le?” Tanya Kang Noyo lagi.

“Mbuh Kang, yang jelas saya merasa kurang sreg dengan tulisan ini.” Kata saya.

Memang benar bahwa tiap orang yang sudah dewasa mempunyai kebebasan untuk menentukan pilihan. Juga benar bahwa urusan moral adalah privasi masing-masing, seperti halnya kita ndak bisa memvonis dosa dan pahala seseorang karena itu memang bukan domain kita. Tapi masalahnya kesadaran yang dimaksud dalam tulisan itu kesadaran yang seperti apa?

Misalnya ada dua orang yang sama-sama dewasa, yang satu berasal dari lingkungan pondok pesantren yang sangat konservatif dan satunya dari lingkungan yang cenderung bebas, sama-sama diberi pilihan untuk melakukan atau tidak melakukan hubungan seksual pra nikah, mungkin jawabannya akan lain.

Dua-duanya sama dewasa, sama-sama sadar akan konsekuensi dari tiap pilihan, tapi berhubung didikan yang membentuk kesadarannya berbeda, maka konsekuensi yang dipikirkan serta pilihan yang dijatuhkan pun bisa jadi akan berbeda.

“Tapi yang nulis ini psikolog lho! Lha ilmumu itu seberapa mau mbantah?” Kang Noyo nyengir.

“Halah! Ini kan cuma berbagi pendapat saja Kang.” Cetus saya.

Mungkin akan terasa lebih kumplit kalo yang dilibatkan dalam penentuan pilihan bukan logika semata tapi juga nilai serta norma yang ada dalam masyarakat. Jangan sampe anak-anak yang kesadarannya belum terbentuk dengan sempurna itu akhirnya meminggirkan norma dan nilai moral dari pikiran mereka karena senior-seniornya ndak ada yang mengajarkan.

Sayup-sayup terdengar lagu lawas milik Dewa 19 yang ada di album Terbaik-terbaik, salah satu lagu yang menurut saya dimainkan dengan skill tinggi di album tersebut.

Dewa 19 – Jangan Pernah Mencoba

Terhanyut si gadis belum 17
Bermesra bersama seorang
Katanya kekasihnya
Tersingkap tak ada batas
Norma agama dan sebagainya
Miskin petuah – petuah orang tua

Oh.. oh.. dengarlah kami
Oh.. oh.. jangan dengarkan bisikan – bisikan
Oh.. oh.. mohon hiraukan
Oh.. oh.. jangan sampai hilang segalanya

Hapuskan semua gairah yang ada
Buang gejolak hasrat mencoba
Belum pasti dia untukmu
Jangan sampai ada airmata
Dari lelaki yang pasti
Mendampingimu untuk selamanya

Bukan masalah hidup disini
Atau disana
Jangan ada nilai yang bergeser
Lepas dari jalurnya
Coba tunggulah sejenak
Sampai benar – benar kau mengerti
Hai!!! Tenangkan hingga kau dapat yang kau cari

Oh.. oh.. dengarlah kami
Oh.. oh.. jangan dengarkan bisikan – bisikan
Oh.. oh.. mohon hiraukan
Oh.. oh.. jangan sampai hilang segalanya

Disini bukan disana
Disana bukan disini
Disini bukan disana
Disana bukan disini

Hapuskan semua gairah yang ada
Buang gejolak hasrat mencoba
Belum pasti dia untukmu
Jangan sampai ada airmata
Dari lelaki yang pasti
Mendampingimu untuk selamanya

About these ads

14 comments on “Jangan Pernah Mencoba

  1. warm mengatakan:

    sebenarnya tergantung sudut pandang dan dasar yang dipakai
    kalau ukurannya agama ya tentu beda dengan sekedar berlandaskan etika semata

    yang aman2 saja,
    sudah jelas aman dan nyaman
    *komen seadanya harap maklum* :D

    #stein:
    saya sendiri pengennya kita menempatkan agama (minimal) sejajar dengan ilmu lain yang kita jadikan pertimbangan

  2. lekdjie mengatakan:

    yg jelas,yg halal lebih sehat,aman,nikmat dan menentramkan.,jgn lupa nyari sim dulu..

    http://www.lekdjie.wordpress.com/2010/07/15/simdab/?replytocom=2006#respond

    terbaik2,album dewa19 ari lasso terbaik menurut saya..

    #stein:
    menenteramkan mungkin om, tapi soal kenikmatan masih bisa diperdebatkan :mrgreen:

  3. mawi wijna mengatakan:

    Menurut saya Kang, yang bisa memahami “Menurut Saya…” adalah mereka yang berusia > 17 tahun, atau setidaknya dewasa dalam berpikir, dan bukan peniru atau penurut apa kata orang lain. :D

    #stein:
    njur piye?

  4. bondandsuwarno mengatakan:

    SALAM MUHIBAH MAS….
    ini lagi kesempatan ada waktu jadi mampir ke blog sampean. menawarkan artikel terbaru biar gak ketinggalan berita ada cerita tentang Harry POtter sebentar lagi kan mau di pilmkan, sebenernya para bloger udh tau semua (mbah google tuh yg kalo di tanya langsung nyorocos gak ada berhentinya dibeberkan semua) tentang berita ini, tapi kan Versi saya. Ya baru mas Stein yg Terhormat yg sy kasih tau sebab anda layak mendapat berita ini,,,,,

  5. Ceritaeka mengatakan:

    Soal seks pra nikah? Kembali ke nilai2 yg dianut masing2 mas.

    Eh tapi saya pengen menyoroti ini:
    “kalo sudah ada yang memulai pendapat dengan kata-kata menurut saya tapi masih dipojokkan dan dipaksa untuk mengikuti pendapat yang berseberangan. Lha wong subjektif kok, kalo mau berbeda pendapat ya monggo”

    Belum banyak yang bisa mengakomodir perbedaan pendapat :|
    btw CE pindah hosting mas, byk feedback positive sih, katanya skr udh cepet :)

    #stein:
    memang beda banget sama yang dulu mbak, sekarang lebih cepet :smile:

  6. ichanx mengatakan:

    menurut pendapat saya…. errgghhhh… yg halal tentu paling bagus… tapi, realitanya, yang gak halal itu menantang yah… hihi

    #stein:
    betol!! rasanya sriwing-sriwing *eh*

  7. KandangTips mengatakan:

    mencoba boleh, bahkan harus, asalkan sesuai koridor!

  8. nDaru mengatakan:

    ini bukan soal pilihan dalam pemilukada kan?

    #stein:
    haiyah!

  9. sig_8 mengatakan:

    lagu kok isine oh…oh…oh…oh….

    #stein:
    pikiranmu kuwi cak :mrgreen:

  10. chocoVanilla mengatakan:

    Saya dah baca link-nya, Mas. Tapi gak komen di sana, di sini aja deh :D

    Bukankah di persimpangan itu ada rambu-rambu? Jadi kita tau mau milih yang mana. Rambu-rambunya ya agama dan etika.

    Masa takut ntar kalo kawin diketawain pasangan ‘coz gak pengalaman. Lha klo urusan yang satu itu mah gak usah test drive dulu, itu naluri. Wong kucing aja bisa palagi manusiya :lol:

    #stein:
    jiyah! bandingane kok kucing tho mbak :mrgreen:

  11. irdix mengatakan:

    enak kok….
    *eh*

    #stein:
    lha ancen enak *halah!*

  12. Asop mengatakan:

    Saya baca dulu blog Mbak dosennya… :mrgreen:

    • Asop mengatakan:

      Huaaaa udah saya baca… :o

      Kok pikirannya terasa bebas banget ya, istilahnya mungkin “liberal” banget. :|

      #stein:
      modern mungkin :mrgreen:

  13. Agnew Dempster mengatakan:

    “Pay shut interest for your MBNA statement”

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s