Yang Tragis dari Kasus Gayus

Barra 1 Tahun

ini bukan anaknya Gayus, Barra waktu umur setahun

Siapa yang paling terpukul dalam kasus yang melibatkan Gayus Tambunan?

Mungkin ada yang menjawab rakyat yang selama ini sudah dengan taat membayar dan melaporkan pajaknya, mungkin juga kementerian keuangan yang merasa kecolongan karena kasus ini terjadi saat reformasi birokrasi sedang gencar-gencarnya, mungkin juga para pegawai pajek secara personal yang terpaksa ikut kena awu angetnya.

Tapi sebenernya ada yang lebih terpukul lagi, tiga orang manusia kecil yang sekarang masih kelas satu SD, TK, dan seorang lagi baru berumur 6 bulan, mereka anak-anak dari Gayus Tambunan.

Kementerian keuangan bisa mengusut kasusnya dan kemudian memecat Gayus, rakyat bisa ramai-ramai menghujat, menumpahkan segala kekesalan walaupun kadang kurang mengerti apa yang sedang mereka ucapkan, rekan-rekan Gayus bisa menghindar, atau mungkin berbuat lebih jauh dengan pura-pura ndak kenal Gayus. Tapi untuk anak-anak itu, “Right or wrong, he’s my Dad.”

Sampeyan bayangkan kalo misalnya ayah dipenjara, ibunya juga ikut terlibat dan terancam ikut masuk penjara, harta dan segala yang dimiliki disita oleh negara. Saya ndak bisa mbayangkan kehilangan figur ayah, kehilangan sosok ibu, beserta segala macem fasilitas yang biasa mereka rasakan. Belum lagi beban psikologis yang bakal menghantui mereka seumur hidup dengan predikat anak penjahat.

“Kamu lagi mengharapkan belas kasihan tho Le? Biar Gayus ndak dihukum?” Tanya Kang Noyo.

Saya mesem dengan ekspresi paling prihatin yang bisa saya perlihatkan, “Ndak Kang, saya ndak minta belas kasihan.”

Saya sedang mencoba bertanya, apakah Gayus, juga mungkin istrinya, keluarganya, pernah berpikir dampak yang mungkin terjadi pada anak-anaknya akibat perbuatan yang sedang dilakukan?

“Kok cuma pada Gayus nanyanya? Yang keserimpet masalah duit kan ndak cuma Gayus saja, di tempat lain juga banyak kok Le, termasuk anggota-anggota DPR yang sekarang lagi bingung soal cek buat pemenangan Miranda.” Ujar Kang Noyo.

Halah!

Suatu saat waktu mengandung anak pertama, istri saya pernah nanya, “Yah, anak kita nanti mau dikasih makan apa?”

Pertanyaan yang sangat sederhana tapi sukses mengaduk-aduk perasaan saya. Kata Mbah Noyo hidup itu sakmadyo, hiduplah sewajarnya, kalo memang mampunya ngredit rumah tipe 36 ya jangan maksa mbeli rumah harga 3 miliar, kalo memang mampunya naik motor lawas ya ndak usah dipaksa mbeli Alphard. Hiduplah nyaman dengan sewajarnya.

Kadang yang kita jumpai, istri ndak mau tau darimana duit belanja yang nilainya jauh di luar nominal gaji suaminya, orang tua bangga dengan kekayaan anak padahal ndak jelas asal-usulnya. Sudah jarang orang tua bertanya, “Darimana uangmu nak? Halalkah? Sudahkah kau tunaikan zakatnya?”

Semua berawal dari keluarga, niat boleh ada, kesempatan bisa saja tersedia, tapi semua ndak akan berarti kalo keluarga ndak ridho. Kira-kira akan bertahan berapa lama sampeyan mengeruk uang dengan cara-cara ndak halal tapi istri sampeyan, orang tua sampeyan ndak mau nerima?

Mari menjaga diri dan keluarga, ingat nasib anak-anak kita.

*kali ini ndak ada jiyan!*

About these ads

24 comments on “Yang Tragis dari Kasus Gayus

  1. atetamom mengatakan:

    menampar pipi sebagai istri..*telpon suami tanya gajinya halal apa kagak? :P*

    #stein:
    welhah, kok vulgar tenan :lol:

  2. Chic mengatakan:

    *merenung*

  3. perubahan mengatakan:

    oleh karena itu perlu kita rombak sistem negara ini menjadi lebih baik supaya semua bisa sejahtera merata

    #stein:
    dirombak piye tho mas?

  4. josh mengatakan:

    anda bisa menjadi pahlawan dengan mengakuisisi ketiga bocah malang itu, mana tau ada bonus ibunya ehhehe piss

    #stein;
    iku lak pengenmu joss :mrgreen:

  5. mawi wijna mengatakan:

    mosok ya korupsi semata-mata demi menghidupi keluarga aja…

    #stein:
    ini lebih kepada toleransi atas korupsi mas

  6. samsul arifin mengatakan:

    untung aku belum punya anak, mas.
    orang nikah aja belum, hehehe :P

    #stein:
    lha sampeyan terlalu sibuk sekolah :lol:

  7. prasetyandaru mengatakan:

    anak2 itu bibit kehidupan, saya pikir kok ndak adil jika kemudian membebankan beban moral pada anak-anaknya tulang GT itu. Semoga saja ada inanguda ato inangboru yang bisa ngasuh anak2 itu, dibawak lari ke pedalaman Tapanuli sana, yang ndak ada tipi ndak ada radio, jadi ndak bisa ndenger kasus bapaknya.

    #stein:
    lha kan tetep saja mbak, bingung kok bapak ibunya ndak ada

    • prasetyandaru mengatakan:

      asal Gayus ndak dihukum picis aja..masih ada kesempatan buwat ketemu paklek, dan orang2 di negara ini kan mudah lupa, saya ndak yakin kok kalok pada 5 tahun kedepan negara ini mingsih inget sapa itu Gayus Tambunan..Lagiyan, berapa lama sih hukuman buat koruptor, Cacik2 yang dulu nyuwap jaksa UTG itu jugak cumak beberapa taun, udah gitu, ndapet remisi pulak

      #stein:
      hahaha, bingung antara seneng apa prihatin sama kondisi kayak gitu

  8. Mas Adien mengatakan:

    ….istiqomah brother….

    #stein:
    akurrr…

  9. 69 mengatakan:

    kalo saiyah mah punya keyakinan gini..
    kalau ‘gede’in anak pake duit haram, hasilnya juga gak bagus..ntar tuh anak narkoba lah, sakit-sakitan lah.. dll..karma keluarga itu selalu ada…klo gak ke anak, ke cucu, cicit..dst..

    #stein:
    nek sampeyan kan ndak butuh korupsi mbak, wong naiknya saja sudah pesawat pribadi :lol:

  10. antyo rentjoko mengatakan:

    Menyentuh. Saya setuju semua berawal dari keluarga karena keluarga ada unit sosial yang terkecil bahkan merupakan inti.

    Korupsi di kita subur antara lain juga karena toleransi dari masyarakat. Setidaknya pada tingkat tertentu. Kalo Mas Stein kerja di tempat basah tapi bajunya kering tentu saya akan heran kalo njenengan tetap pake motor yang itu padahal teman seangkatan naik Humvee, punya banyak rumah, dst.

    Kalo Mas Stein jadi pejabat publik saya menganggap njenengan ATM berjalan, bisa ngasih uang kalo saya lagi ada masalah — lha duitnya dari mana saya ndak tahu, pokoknya, “Lha wong jadi pejabat kok ndak sugih?”

    Sanggupkah Mas Stein menghadapi desakan itu, apalagi jika keluarga besar juga menuntut? Tentu sanggup. Tapi orang lain belum tentu. Apalagi… kalo niatnya memang pengin mumpung dan ngemplang :D

    #stein:
    itulah paman, kadang repot juga orang kita. kalo kata cak nun dulu, teriak maling sambil mbatin kenapa bukan saya yang maling? ndak terima ada yang korup tapi ikut seneng kalo menikmati :lol:

  11. serasi mengatakan:

    iya anaknya yang patut dikasihani… belum tau apa-apa, belum sempat menikmati 4 milyar milik bapaknya
    Thanks infonya ya..
    Coba Tes kecocokan kamu dengan pasanganmu

  12. darahbiroe mengatakan:

    saya comment mandi bolanya ajah dechhh heheheh

    berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya
    makasih :D

  13. Asop mengatakan:

    Tuh kan, korupsi itu ga ada enaknya. Simpel.

    #stein:
    sepakat!

  14. Dian mengatakan:

    Huwaaaaaaaaa mau nangis bacanya. Ngebayangi anak2xnya…

    Hayo semua pd didengar nasehat mastein :D ingat keluarga kalo mau berbuat cela. Eh Tuhan juga

    #stein:
    masalahnya kalo napsu sudah di ubun-ubun biasanya lupa semua mbak :lol:

  15. darnia mengatakan:

    “A son doesn’t chose his father (gw gak tau kalo gw bakal dikasih bapak kayak dia – terjemahan bebas)” (nyolong dari pilem Eragon)

    #stein:
    lha kuwi, mesakke tho

  16. Tetanggajenderal mengatakan:

    Untng di bawah poto itu adaketerangannya. Swear, aku dah ngira kalau itu anaknya Gayus….

    #stein:
    anakku kuwi Kang

  17. orisogi mengatakan:

    Kasian tuh anaknya…

  18. beruangqutub mengatakan:

    iya, kasian anak yg difoto itu
    gak bisa milih bapaknya selain bapak stein

    —–sambil menimbang-nimbang untuk langsung kabur atau belanja dulu disini——-

    #stein:
    plak! :twisted:

  19. bangaip mengatakan:

    Dulu saya punya temen, Mas. Bapaknya kebetulan pernah masuk lembaga pemasyarakatan. Cukup lama ayahnya ada di sana. Sebab di dakwa membunuh. Dan pembunuhan itu cukup terkenal dan ramai di koran-koran. Waktu itu, kami masih SMP.

    Waktu itu dia murungnya luar biasa. Sampai-sampai nggak mau ngomong lagi sama saya. Padahal saya sama sekali nggak pernah nyinggung soal bapaknya.

    Saya ketemu dia, setelah lulus SMA. Dia masih sedih. Tapi sudah lumayan terbuka dan mulai mengunjungi bapaknya di lapas. Artinya, dia sudah bisa menerima kalau ayahnya sekarang ada di penjara.

    Saya hanya bisa berdoa dari sini… Semoga saja si anak suatu saat nanti bisa lapang dada menerima kondisi ayah dan ibunya.

    #stein:
    amien… semoga ndak kayak cerita di prison break yang waktu ayahnya bilang “kamu ndak mau ngobrol sama ayahmu? ayahmu ini mau dihukum mati.” dan dengan dingin anaknya bilang, “ayahku sudah mati dari dulu.” :sad:

  20. Luckman R mengatakan:

    RIght.. Karena adil jelas tidak terjadi :).

    Anyway.. Everyone loves to have their self ditinggikan dan dianggap beken..
    padahal akhirnya juga gelarnya Alm. Almarhum .

  21. thepilatesbiz mengatakan:

    A favorite of mine is The Innocents starring the recently deceased Deborah Kerr. An excellent psychological ghost story co-written by Truman Capote and based on Henry James The Turn of the Screw.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s