Menyingkirkan Kerikil

Tadi ndak sengaja saya ketemu Mbah Suto, waktu ada acara syukuran menjelang pernikahan tetangga yang rumahnya di ujung komplek. Selesai acara beliau ngajak saya nongkrong di warungnya Mbok Darmi, leyeh-leyeh sambil menikmati kopi seribuan yang kental aroma jagungnya itu.

“Mbah, sampeyan ndak gabung sama grup di pesbuk? Yang ngajak sejuta orang untuk ndak mbayar pajek itu lho, lagi ngetop katanya,” Tanya saya membuka percakapan.

Mbah Suto nyengir, “Pesbuk kuwi panganan opo? Lagian ngajak kok ndak mbayar pajek, kayak negara kita ini kurang masalah saja.”

“Tapi memang nyebeli kok Mbah, mosok orang pajek baru kerja berapa taun sudah punya rumah harga milyaran, mobil mewah, duit puluhan milyar. Duit darimana coba Mbah?” Tanya saya dengan nada anyel.

“Ya duit orang-orang yang ndak mau mbayar pajek itu,” Jawab Mbah Suto sambil ngakak.

Welhadalah! Saya ini lagi ngomong serius kok malah dijawab sambil guyon.

“Aku ndak guyon Le, memang duitnya orang macem Gayus yang bermilyar-milyar itu ya dari orang-orang yang ndak mau mbayar pajek,” Ujar Mbah Suto lagi.

Piye tho maksudnya?

“Begini lho Le, misalnya kamu jadi pengusaha, laporan pajekmu tertib, mbayarnya beres. Kapanpun ada verifikasi yang dilakukan oleh kantor pajek, kamu ndak akan takut, dibuka semuanya pun ndak masalah. Paling nanti hasil verifikasi menyatakan si Stein pembayaran dan pelaporan pajaknya sudah sesuai dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku,” Lanjut Mbah Suto.

“Lain ceritanya kalo pengusaha ndak mbayar pajek, baru orang pajek datang ngetuk pintu kamu sudah gemeteran, dipikir mau nagih, padahal bisa saja cuma mau ngasih undangan,” Kata Mbah Noyo sambil nyengir.

“Misalnya dilakukan verifikasi oleh kantor pajek pada wajib pajak yang ndableg itu, hasilnya pasti ada sejumlah pajak yang masih harus dibayar. Kalo nilainya cuma puluhan ribu mungkin ndak masalah, lha kalo trilyunan macem yang dikemplang grupnya Bakrie? Paling masuk akal adalah “minta tolong” sama yang melakukan verifikasi. Berarti ngajak untuk ndak mbayar pajek sama saja mengajak untuk melestarikan orang-orang macem Gayus yang lagi kamu hujat itu,” Tandas Mbah Suto.

“Ndak lucu tho, kalo misalnya saking ndak percayanya kamu sama polisi trus kamu mbikin seruan agar semua orang jadi maling.” Ujar Mbah Suto lagi.

“Tapi tetep saja tho Mbah, praktek korupsi dan kolusi masih ada tho?” Tanya saya ngeyel.

“Kamu sekali-kali dateng tho ke kantor pajek, kalo perlu siapin amplop buat tanda terima kasih. Kamu tes sendiri gimana perilaku orang pajek. Orang-orang seperti Gayus itu ndak banyak, seperti kerikil yang selalu ada satu dua butir di tiap karung beras. Dan kamu bisa mbantu pemerintah untuk mberantas orang-orang seperti itu Le, dengan menertibkan urusan pajekmu.” Pungkas Mbah Suto.

Mungkin bener kata Lik Sukro dulu, masalah korupsi memang seruwet masalah software bajakan di negeri ini. Tapi mbok ya kalo bisa kita mbantu mbenahi, jangan malah ngrusuhi, paling ndak mulailah dari diri sendiri.

About these ads

11 comments on “Menyingkirkan Kerikil

  1. fairyteeth mengatakan:

    haduh… kalo udah ngomongin pajak mumeeeeeetttt :(

    #stein:
    lha kok mumet tho mbak?

  2. Dewa Bantal mengatakan:

    Setuju banget. Postinganmu ini aku jadi inget klip nya DVD si Michael Jackson yang terakhir itu, This Is It.

    Di behind the scenes tentang lagu “Earth Song” salah satu scene direkturnya bilang:

    “Kita selalu bilang begini: “Nanti pemerintah juga akan mengatasinya, mereka pasti mendaur ulang, mereka pasti menghijaukan kembali, mereka pasti bisa menertibkan, mereka… mereka…” mereka itu siapa dan kapan? Semuanya harus dimulai dari kita sendiri. Aku dan kamu.”
    :) Orang bijak taat pajak.

    #stein:
    ini kan hubungan dua arah mas, ndak akan jalan kalo ndak ada partisipasi dari masyarakat

  3. mawi wijna mengatakan:

    cuma kerikil tapi makannya bermilyar-milyar…

    #stein:
    itulah mas, saya yakin 99% pegawai pajek juga lagi misuhi si GT. susah-susah mbangun kepercayaan rakyat diruntuhkan oleh ulah segelintir orang.

  4. prasetyandaru mengatakan:

    saya sebenere jugak endak iklas mbayar pajek paklek, coba sampeyan bayangken, saya cumak buruh pengolor kabel di sekolah sunyi di kampung, setiap taun musti mbayar pajek yang nilainya 2x lipat gaji saya sebulan. Itu cumak buwat mbeli sedan corolla terbaru buwat mas2 mentri yang nggantheng-nggantheng dan klimis itu. Tapi ya bener apa yang dibilang mBah Suto itu, ndak banyak orang kek Gayus, saya ini lak cumak bisa sabar dan nrimo…wong cilik bisa apa lagi?

    #stein:
    saya juga kadang gemes liat orang-orang yang make duit pajek itu lho mbak. itu dana dikumpulkan susah payah dari berjuta rakyat tapi makenya kok kadang ndak ada rasa ewuh pakewuh sama rakyat

  5. mercuryfalling mengatakan:

    Waktu aku kerja di perusahaan Jepang di Batam, tunggakan pajak kantorku 500 juta. Orang pajaknya bilang, bayar aja 250 juta ke dia and laporannya akan beres….

    Sekarang yg ruwet bukan cuma software bajakan tapi juga tas2x tiruan..

    #stein:
    bener banget, di mal-mal saja buanyak tas bajakan mbak. kok ndak malu jualnya, jiyan!

  6. darnia mengatakan:

    setuju dengan kalimat : mulailah dari diri sendiri :)
    jadi eling kata ibu “Kalo mau ngerubah orang, rubahlah diri sendiri dulu.”

    #stein:
    kalo di lagunya heloween, band metal asal jerman itu, ‘though i cannot change the world we’re living in, i can always change myself. meruntuhkan gunung pun bisa asal telaten ngambilin batu demi batu. :smile:

  7. hahn mengatakan:

    saya pikir grup2 gituan cuma reaksi spontan, bukan bermaksud ga bayar pajak..
    orang pajak sendiri harus bisa evaluasi diri
    masih banyak orang macam gayus. jika pns golongan iiia aja udah 25 m, gimana yang di atasnya?
    dan kasus ini seperti kentut, kecium baunya, tapi susah nangkepnya (untuk bilang ga mungkin)

    *untunggajisayablomkenapajak.kecilsihhehehe**

    #stein:
    saya pikir ndak susah nangkepnya kok, wong duit segitu gedenya, ditransfer lewat rekening bank pula. yang penting ada komitmen untuk mengungkap dan mencegah penularan, jangan make prinsip yang penting ada terhukum. soale kalo make prinsip ini biasanya ada yang dikorbankan “untuk kepentingan yang lebih besar”

  8. bandit™perantau mengatakan:

    iya…
    sangat tidak setuju dgn grup memboikot bayar pajak itu…

    Memperbaiki sebuah departemen bukan dengan merusuhinya…

    “Sbg org muda, Jika kita melihat kebobrokan di sebuah departemen, sebaiknya kita kuliah dengan rajin, lulus dengan jujur dan baik, kemudian ikut tes penerimaan di departemen itu, kemudian buktikan kalo kita bisa membuat departemen itu lebih baik…!”

    Grup itu sendiri, saya rasa terbentuk tanpa pikiran panjang, padahal khan persentase pajak sangat besar dalam sumber pendanaan APBN…

    Salam…

    *btw, kayaknya percakapan itu sengaja di balik ya? hehehehe…

    #stein:
    dibalik piye tho mas? :lol:

  9. sigit mengatakan:

    ingat kata bang napi..kejahatan bukan hanya karena ada niat pelakunya (oknum fiskus) tapi juga karena adanya kesempatan (diajak nego sama oknum wajib pajak)..
    waspadalah..waspadalah..

    #stein:
    ingat juga membakar duit itu kejahatan :mrgreen:

  10. 69 mengatakan:

    mas..
    gw kesel nih..
    bayar pajak kendaraan bermotor..tapi jalanan tetap
    ancur.. kenapa yah ?
    hehehehehe *komen diluar topik + curhat colongan*

    #stein:
    lha sampeyan yang biasa naik pesawat peibadi saja komplen, gimana saya yang tiap hari naik motor?? :mrgreen:

  11. BeINSTORE mengatakan:

    Senang berkunjung ke sini dan baca-baca. kunjung balik juga ya.. 06:29

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s