Financial Freedom

“Jane aku pengen tenan koyo Mbah Suto Le,” Kata Kang Noyo waktu sore kemaren ngopi di warung Mbok Darmi. Menikmati hujan rintik-rintik sambil udad-udud disambi ngopi rasanya gayeng tenan, lupa sejenak kalo listrik lagi mati dan air PAM di rumah ngalir setengah hati gara-gara pompanya kebanjiran.

“Seperti Mbah Suto? Sugih gitu maksudnya?” Tanya saya.

“Bukan sekedar sugihnya Le, tapi keadaan yang dicapai beliau sekarang,” Jawab Kang Noyo.

“Maksudnya piye tho Kang?” Saya masih ndak ngerti.

“Tak jelaskan yo mungkin percuma Le, otakmu ndak mungkin nyampe. Aku itu pengennya bisa mencapai kondisi painensial pridem kayak Mbah Suto.” Ujar Kang Noyo.

Halah!

Financial Freedom alias kebebasan finansial, walaupun cuma buruh pabrik dengan bayaran seadanya saya juga pernah mendengar istilah itu. Yang saya tau itu adalah kondisi di saat kita sudah ndak mumet mikir harus nyari duit ke mana buat nutup kebutuhan-kebutuhan rutin. Bangun pagi leyeh-leyeh dulu, ngopi sambil ngelamun, siangnya jalan-jalan, sorenya ngelamun sambil ngopi lagi pun ndak masalah karena memang levelnya sudah level duit dateng sendiri.

Mosok bisa begitu?

Menurut kabar burung yang saya denger hal itu bisa saja. Konon di dunia ini yang namanya pendapatan terbagi menjadi dua macem, pendapatan aktif dan pendapatan pasif.

Kalo tiap hari saya harus berangkat ke pabrik, petani harus mencangkul, nelayan ke laut, baru dapet duit, itu namanya pendapatan aktif. Kalo ndak macul ya ndak ada pendapatan yang masuk.

Beda lagi kalo misalnya sampeyan punya properti atau kendaraan untuk disewakan. Ndak perlu macul tapi pendapatan tetep masuk. Konon inilah yang disebut dengan pendapatan pasif.

“Tapi yo ndak bener-bener pasif Le. Tetep butuh usaha untuk merawat sumber pendapatan itu, dan mikir nanti ke depannya gimana,” Ujar kang Noyo.

Di antara empat cara seseorang memperoleh penghasilan, yakni sebagai karyawan, pegawai lepas, pemilik usaha, dan investor, konon hanya pemilik usaha dan investor lah yang bisa mencapai level kebebasan finansial. Masuk akal, karena pegawai tetap maupun freelance kalo ndak macul ya ndak makan.

Lha trus nasib buruh gimana? Mosok nanti saat umur 50 atau 60 tahun masih harus bingung besok makan apa?

Saya juga ndak ngerti, wong sampe sekarang level saya masih buruh yang harus macul tiap hari supaya bisa makan. Tapi mungkin disiplin menabung bisa jadi permulaan yang baik, nanti kalo sudah dapet lumayan dibelikan logam mulia, kalo emasnya sudah ngumpul nanti dibelikan ruko. *ngimpi* :lol:

Yang jelas ada yang bilang kalo kondisi financial freedom dicapai saat penghasilan pasif kita mencapai tiga kali lipat dari pengeluaran. Tapi menurut saya misalnya penghasilan pasif sudah nutup pengeluaran rutin saja sudah manteb.

“Ndak usah putus asa gitu Le. Sebenernya kamu juga sudah mencapai kondisi financial freedom kok,” Ujar Kang Noyo.

“Kok bisa gitu Kang?” Tanya saya.

“Lha iya, tiap awal bulan kamu gajian, di akhir bulan bayaranmu ndak nyisa. Ndak ada lagi duit yang bisa kamu pikirkan, berarti bebas dari mikir keuangan. Financial freedom juga tho?” Kata Kang Noyo sambil nyengir.

Jiyan!

About these ads

11 comments on “Financial Freedom

  1. budiono mengatakan:

    hakakakaak jan tenan kang noyo kui, sampe ngerti urusan duit gajianmu segala..

    #stein:
    jenenge sak pabrik, podho buruhe cak :lol:

  2. chocovanilla mengatakan:

    “tiap awal bulan kamu gajian, di akhir bulan bayaranmu ndak nyisa. Ndak ada lagi duit yang bisa kamu pikirkan, berarti bebas dari mikir keuangan. Financial freedom juga tho?”

    Hihihiii…. kok idem to?

    #stein:
    dan tetap tenang, besok masih ada gajian… :lol:

  3. Dewa Bantal mengatakan:

    HAHAHAHAHA Genius tenan si mbah Noyo, xD — Memang kalau memikirkan masa pensiunan itu agak miris sih yah… Menabung dan menabung… satu satunya harapan yang bisa dipupuk buat mereka pekerja aktif x_X

    #stein:
    dan kayaknya ndak cukup kalo cuma nabung duit, soale nilainya tergerus terus :D

  4. mawi wijna mengatakan:

    enek sing dodolan pohon uang berbunga deposito ora yoh mas? :D

    #stein:
    tulung goleki mas, nek nemu aku nitip siji :mrgreen:

  5. luvaholic9itz mengatakan:

    ini abis baca robert T kiyosaki po mas ??

    #stein:
    ndak, abis ngobrol sama Kang Noyo :lol:

  6. preaxz mengatakan:

    Wis .. mastein, jempol likis-ku gae samean kabeh wis, apik tenan blog iki .. iki wis kelas filsuf … apik terusno jez …

    #stein:
    kedhuwuren cak, ini cuma modal ndobos saja kok. tapi suatu kehormatan dapet pujian dari sampeyan :smile:

  7. KangToshi mengatakan:

    pendapatan aktif dan pendapatan pasif

    dua2 nya harus jadi tujun yg harus dicapai mastein

    nek pasif tok yo ra apik, awak ra denggo kerja
    pegel linu engko

    masalahe pendapatan aktif yg bagaimana yg harus diambil
    hrs yang sesuai dengan kemampuan dan kemauan/bakat
    plus modal,
    nek mburuh tetep nggo bemper n existansi hehe
    plus sedikit memberikan manfaat bwt yg punya pabrik

    ayo KITA PASTI BISA

    #stein:
    pengennya sih gitu Kang, kerja cuma buat hobi, bukan untuk nutup kebutuhan :lol:

  8. Asop mengatakan:

    Wah, harus ada perencanaan keuangan yang baik…. :)

  9. peri01 mengatakan:

    kayanya butuh staf keuangan yg baik nih
    untung aku udah ada yg memanage uang dg baik *mama*
    salam kenal

  10. Kartun Lucu mengatakan:

    ikutan ngimpiin Financial Freedom ah… :D

  11. harunsaurus mengatakan:

    saya sih lebih suka memburu ‘rasa syukur’.

    #stein:
    rasa syukur memang yang utama mas, tapi kadang kebutuhan ndak bisa ditutup make rasa :lol:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s