Paké, Mbok Santai Dulu…

Walaupun sebagai anak saya ini termasuk ndableg tapi kadang saya memperhatikan juga jejak-jejak perjuangan orang tua. Jejak opo? Misalnya slip gaji yang menyebutkan take home pay-nya tinggal 50 ribu rupiah, kepotong utang sana sini. Slip angsuran ke BRI kecamatan A, BRI kecamatan B, BKK (Bank Perkreditan Kecamatan), Koperasi. Hidup jangan dihitung ala matematika kata bapak saya, kalo dihitung dengan cara matematika maka kami bertiga anak-anaknya ndak akan ada yang kuliah.

The power of kepepet telah menjadikan bapak dan ibu saya orang tua yang tangguh. Sadar bahwa bayaran sebagai guru dan hasil dua petak sawah ndak cukup untuk biaya sekolah anak-anaknya, orang tua saya pun mencoba beternak, mulai dari kambing, bebek, ayam petelur, ayam pedaging, ayam kampung, sapi, semua yang bisa nambah penghasilan. Toh itu pun ndak cukup, utanglah pelariannya. Gali lubang tutup lubang sudah biasa.

Untunglah anak-anaknya juga cukup pengertian, ndak pengen terlalu lama menyusahkan orang tua. Terakhir yang mengejutkan dilakukan sama adik saya beberapa tahun lalu, saat saya gotong royong sama bapak membiayai kuliahnya mendadak suatu saat dia nelpon, “Paké, mulai sekarang saya berhenti kuliah. Kemaren ndaptar CPNS alhamdulillah diterima.”

Jan! Nduableg tenan adik saya itu, mungkin niatnya ndak mau nyusahin orang tua tapi mosok keluar dari kuliah, ndaptar CPNS make ijazah SMA, ndak ngomong blas. Ngomong pas sudah diterima. Tapi dalam hati saya juga bersyukur, paling ndak mulai sekarang bapak ndak perlu ngutang-ngutang lagi, anak-anaknya sudah mentas semua.

Dalam bayangan saya, orang tua saat ini sudah santai, ndak perlu kerja keras lagi, tinggal menikmati hasil kerja keras dan tirakatnya selama ini. Dan ternyata saya salah.

“Lho pak! Kok ngutang lagi? Buat apa??” tanya saya suatu hari. Kaget tho, sudah ndak punya tanggungan kok terbawa kebiasaan saat masih kepepet dulu. Disuruh hidup nyaman saja kok susah.

Kata bapak saya, “Buat tambah-tambah beli sapi, nanti dijual lagi buat naik haji. Targetnya dalam waktu dua tahun harus sudah bisa berangkat ke Mekah.”

Dan ternyata ndak sampai dua tahun duitnya sudah terkumpul, bapak dan ibu saya berangkat haji dengan biaya sendiri. Tanpa bantuan dari anak-anaknya. Rukun sudah terlaksana semua, mungkin setelah ini orang tua saya bisa santai, begitu pikir saya. Dan lagi-lagi saya salah.

“Bapak pengen beli mobil.” Kata bapak saya suatu hari.

Kata saya, “Oalah pak, buat apa? Wong bapak ya ndak bisa nyetir, lagian mbok ndak usah ngoyo tho, sekarang santai saja menikmati hidup.”

Saya pikir bapak cuma pengen manas-manasi saya yang ndak juga mampu beli mobil sendiri. Dan minggu kemaren, menjelang pensiunnya yang tinggal beberapa bulan bapak saya nelpon, “Lé, bapak sudah beli mobil.” Gubrag!

Setelah ini apa lagi?

About these ads

22 comments on “Paké, Mbok Santai Dulu…

  1. Mawi Wijna mengatakan:

    Bapakmu beli mobil karena anaknya udah dipanas-panasin tetap aja ndak mau beli mobil. Mungkin bapak ada sesuatu yang pingin dicapai. Ah, tolak ukur kebahagiaan seseorang itu bukankah relatif?

  2. Cara Membuat Blog mengatakan:

    keinginan orang itu tidak akan berhenti kali ya? orang memang selalu merasa kurang puas terus,
    tapi salud dan bagus banget, berusaha dan akhirnya sudah bisa naik haji,
    Cara Membuat Blog

  3. Wempi mengatakan:

    Keinginan memang tiada habisnya…
    ingin ini dan ingin itu.
    tapi kalau gak ada keinginan, hidup juga bakal jadi hambar, iya toh..

  4. adipati kademangan mengatakan:

    mungkin bapak adalah orang yang ndak pengen hidup dalam kondisi ndak ada gregetnya, makanya beliau menciptakan sendiri suasana kepepet agar daya juangnya tetap tinggi

  5. Vicky mengatakan:

    Kalo gitu bener feeling saya waktu itu. Mas Stein ndak mau beli mobil, bapaknya yang beli duluan. Sudah bosan naik bis kayaknya, Mas..

  6. [...] Paké, Mbok Santai Dulu… Walaupun sebagai anak saya ini termasuk ndableg tapi kadang saya memperhatikan juga jejak-jejak perjuangan orang tua. Jejak opo? Misalnya slip gaji yang menyebutkan take home pay-nya tinggal 50 ribu rupiah, kepotong utang sana sini. Slip angsuran ke BRI kecamatan A, BRI kecamatan B, BKK (Bank Perkreditan Kecamatan), Koperasi. Hidup jangan dihitung ala matematika kata bapak [...] [...]

  7. mandor tempe mengatakan:

    Sebenarnya bapaknya sudah ngebed pengen naik mobil mastein, tapi ya gitu, karena mastein ndak beli-beli akhirnya ya bapak beli sendiri :D

  8. AR mengatakan:

    lek moco tulisanmu iki, sebagai wong pajek aku sering banget nemu wong seng ceritane mirip-mirip bapakmu iku. dianalisa nggawe biaya hidup yo mesti ora ketemu, mending lek ngutange nang BRI sik onok buktine, lha nek ngutange karo pak dhe ne mabahe yo mumet. mumet…mumet…hehehe

  9. AR mengatakan:

    Justru bapakke sampeyan iku pengen menikmati hidup, mosok pirang-pirang puluh tahun numpak sepeda motor terus. saiki saatnya numpak mobil, cik isok uklam-uklam, mbok menowo nemu kenalan cah ayu….
    Jadi deh mas sten punya ibu tiri wkwkwkkwk… Piss…:)

  10. Huang mengatakan:

    saya juga pengen kredit mobil .. yang second aja udah lumayan :)

    • mas stein mengatakan:

      saya kemaren pengennya ngutang ke bank trus nyari mobil second om, soale kalo leasing mobil second katanya bunganya lebih tinggi. tapi masih mikir-mikir. kebanyakan mikir… :lol:

  11. Eka Situmorang-Sir mengatakan:

    Salut buat ayahanda mas…
    Salut banget!

  12. oglek mengatakan:

    the power of kepepet? saya rasa kurang tepat mas. Yang benar adalah ikhtiar dan tawakkal sekaligus prihatin. Buktinya saya yang kepepet ndak bisa beli mobil :D

  13. sig_8 mengatakan:

    cerita sederhana,
    tapi begini..apa yang dikata sampean tentang “bapak saya tipe orang yang ndak suka stagnan, hidup harus dinamis” itu benar..itulah cara untuk malu maksutnya maju..
    sayapun mengalaminya. saya mempunyai kegiatan olah raga yang rutin.rabu pagi tenis, jumat pagi tenis, minggu sore tenis..yah saya memang suka tenis..tapi kalo tak pikir2…kok gitu2 saja yah…padahal waktu smp dulu saya ikutan pertandingan pencak, sma dulu saya naik turun gunung…sepeda-an pp 20 km plus renang,waktu sekampus sama sampean ya kalo punya duit ya naik turun gunung, panjat dinding meskipun nggak pernah sampai atas,..pas beranak 2 masih sekali2 ke hutan, longmarch 30 km…kok sekarang gini2 ajah..tenes tenes tenes…koyok wong sugih ae..saya musti melakukan aktifitas yang menantang..paling tidak menantang nyali untuk mengalahkan rasa takut akan keju linu yang akan timbul…maka saya memutuskan besok ahad pagi tanggal 15 nopember 2009 jam 5.30 untuk bersepeda-an lagi ke rute yang saya lalui waktu sma..20 km…ada yang mau bergabung…

    sesekali marilah kita sekalian mencari tantangan baru dalam hidup…biar lebih menggairahken hidup kita ini

  14. [...] ini cuma ngece alias ngeledek atau beneran. Pengen sebenernya punya mobil, apalagi setelah bapak saya di kampung sana yang hampir pensiun jadi guru ternyata mampu mbeli walaupun bekas, tapi mbayare [...]

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s