Tentang Masalah

Perhatian : tulisan ini sudah nangkring duluan di ngerumpi[dot]com, merupakan pencerahan yang saya dapet dari Om Suwung.

panjarOrang hidup tidak akan pernah lepas dari masalah, besar atau kecil, berat maupun ringan. Masalah orang hidup baru akan berhenti saat meninggal, tapi itupun bukan berarti masalah selesai, hanya berganti judul saja menjadi masalah orang mati.

Mengeluh itu manusiawi, yang bisa diterjemahkan secara terbalik kalau sampeyan ndak pernah ngeluh berarti sampeyan bukan manusia. Bolehkah mengeluh saat ada masalah? Tentu boleh, selama keluhannya tidak bertentangan dengan peraturan perundang-undangan yang berlaku. *halah!* :lol:

Masalah selalu memiliki dua aspek, rasa dan fakta. Fakta harus dihadapi dengan logika, tapi logika sering macet saat hati masih gundah oleh rasa. Untuk itulah kadang mengeluh itu perlu, menangis pun wajar, agar perasaan tersalur. Tentu jangan kebablasan, mengeluhlah sewajarnya lalu biarkan logika berkuasa.

Saya ingat jaman eSDe dulu ada tes kecil yang kadang diadakan di kelas, namanya mencongak. Biasanya ada sepuluh pertanyaan yang diajukan secara lisan oleh guru, itung-itungan sederhana seperti 6×7, atau 8+12, yang harus dijawab para murid di selembar kertas secara cepat. Ndak akan sempat menghitung pakai jari sebelum pertanyaan berikutnya dibacakan. Sederhana, remeh kata sampeyan? Coba bayangkan itu di pikiran seorang anak kelas 3 atau 4 Sekolah Dasar, itu masalah yang menakutkan.

Waktu kelas 6 SD saya sering merasa mendapat perlakuan yang tidak adil dari guru saya. Entah benar atau tidak saya merasa guru lebih mengistimewakan beberapa siswa yang orang tuanya kaya. Saya sering merasa disindir karena ndeso dan kere, ndak mau ikut les (yang diadakan di rumah guru bersangkutan), dan beberapa perlakuan yang terkesan pilih kasih menurut saya.

Puncaknya saat pembagian raport catur wulan kedua saya cuma mendapat ranking 2, pertama kalinya seumur hidup. Saya nangis dan merobek raport (yang untungnya cuma potokopian) tersebut, saya merasa dizalimi. Remeh juga kata sampeyan? Ndak cuma sampeyan yang bilang begitu, buat saya sekarang, hal itu seharusnya ndak terlalu jadi masalah.

Waktu SMA saya pernah jatuh cinta sama adik kelas yang membuat saya mendadak jadi pujangga sesat sesaat. Mellow semellow-mellownya umat, ditolak pula! Saat-saat yang menyedihkan (saat itu) dan memalukan (kalo diinget-inget lagi sekarang). :mrgreen:

Buat sampeyan yang sedang bermasalah, ndak usah terlalu takut atau sedih. Yakinlah bahwa sampeyan akan naik kelas. Suatu saat nanti sampeyan akan mengingat hari ini sambil tersenyum memalukan malu-malu dan bilang, “Itu seharusnya bukan masalah.” :smile:

*terima kasih untuk om Soewoeng
*gambar diambil dari sini

About these ads

16 comments on “Tentang Masalah

  1. Wempi mengatakan:

    Jika ada masalah, ikutilah ritual berikut ini:

    belilah sebungkus rokok, sebotol bir, dan sebungkus kacang garing, kemudian kurung diri dalam kamar. niscaya masalah akan selesai pada saat itu juga.

    kalo besoknya masih timbul masalah yang sama, ulangi lagi ritual di atas.
    :lol:

  2. Mawi Wijna mengatakan:

    Hahaha, mas stein juga penganut perguruan si mbah ternyata. Wekekek, segera salin isi kitab Nyowoeng ke otak mas biar hidup lebih sip. :D

    BTW, saya seneng sama artikel si mas yang ini http://mastein.wordpress.com/2009/02/10/anda-suka-mengeluh/

  3. zefka mengatakan:

    seseorang mungkin menganggap masalah orang lain lebih berat atau lebih ringan daripada masalah yg dihadapinya sendiri. Tidak ada alat ukur yg kuantitatif untuk mengukur tingkat masalah, coba ada… kan jadinya gak ada orang yg ngiri dan bilang “masalahmu lebih ringan”.

    Setuju ma sampeyan mas, mencongak bagi seumuran kita mungkin masalah ringan, tapi bagi yg kelas 2-4 SD adalah masalah yg besar… bhakan dulu gw sempat trauma ma jenis test ini hehehe :)

    Wah kalo baru sekali ranking 2 artinya selama itu rangking 1 terus dong, hueeebat… :)

  4. adipati kademangan mengatakan:

    Ilmu seowoeng ternyata ada di sini juga :D
    Dari sekianbanyak motivator-motivator, mereka rata-rata menyingung tentang “masalah” ini, jadi “masalah” ini bukan sesuatu yang harus ditakuti, tetapi lebih merupakan alat untuk naik kelas ke tingkat masalah berikutnya.

  5. aubreyade mengatakan:

    alooo,mas dakuh baru mampir sini **clingukan nyari yg punya**

    Masalahnya, keyakinan bahwa kita akan naik kelas, kadang tidak sebesar masalah yg dihadapi. Mungkin masalahnya ndak seberapa, karena banyak yg mengalami masalah jauh lebih berat. Tapi karena keyakinannya tipis, jadilah masalah itu terlihat sebesar gunung batur :D
    (nah lho…masalah baru,kan!)

  6. detx mengatakan:

    masalah ada untuk mendewasakan kita

  7. domba garut mengatakan:

    Memang benar adanya: Manusia adalah rajanya mengeluh – dan dibenarkan dalam istilah bahasa Njawa: To Err is human meski gak persis bener dari topik mengeluh :D

    Meski demikian, kadang dengan melihat orang lain – masih ada yang kondisinya (jauh) lebih susah dari kita dan tetap bersahaja.. membuat kadang dirini kemudian malu dan tentunya kemudian bersyukur sembari terus berdoa meminta kemudahan dari Gusti Alloh.

    Seneng udah bisa mampir kesini, salam hangat dari afrika barat!

  8. harikuhariini mengatakan:

    Kayaknya kalo dah mati jg kita mash punya masalah yak. Surga ato neraka.
    Hahaha.
    Kalo masalahny udah terlewati, saya jg sering senyum malu2, sambil membatin, ‘kenapa dulu kayak gitu yak’, tp tetep aja ga blajar dr pengalaman.
    Kalo ada masalah lg biasanya uring2an jg. Haha. Manusia oh manusia.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s