Masih Perlukah MOS?

MOSMiris saya baca berita meninggalnya siswa SMA 16 Surabaya pada saat menjalani Masa Orientasi Siswa. Ada dugaan korban meninggal karena pembuluh darah di otaknya pecah karena tekanan mental yang sangat besar.

Untuk penyebab pastinya mari kita tunggu hasil otopsi dan penyelidikan polisi. Yang saya sayangkan, kenapa ploncoan dari senior ke junior macam ini masih ada?

Saya ingat jaman saya masuk SMA dulu, masa ploncoan berlangsung sekitar 2 minggu. Selama seminggu saya dibentak-bentak sama senior, gak ada kontak fisik, cuma siksaan mental saja. Nelongso tenan saya waktu itu, sudah mbok-mboken karena baru pertama pisah dari orang tua, masih harus deg-degan tiap ngliat senior. Harap diketahui sekolah saya di asrama, pola hubungan senior junior lebih kental dibanding sekolah di luar asrama.

Seminggu berikutnya saya diplonco sama tentara dari KODIM, dilatih baris-berbaris. Dan percaya ndak sampeyan, masih jauuuh lebih nyaman dilatih sama tentara dibanding sama senior. Ndak ada perintah aneh bin ajaib bin ndak masuk akal semacam “cari 10 ekor semut betina!” yang diteruskan dengan pertanyaan, “darimana kamu tau itu betina?!” :shock:

Saya nyaris ndak merasakan manfaat apapun dari gojlokan senior. Saya ndak merasa jadi lebih tangguh, saya ndak merasa mental lebih kuat, mungkin manfaatnya cuma saya jadi lebih akrab sama temen seangkatan karena merasa senasib semakian. *maksudnya sama-sama akrab sama makian*

Dua tahun selanjutnya saya gantian jadi penggojlok, dengan perlakuan lebih sadis lagi. *revenge always worse* :mrgreen:

Mungkin perlu dicatat, waktu itu saya ndak ada niatan untuk membuat junior saya jadi lebih tangguh, lebih baik, atau hal-hal semacam itu. Saya cuma menikmati kesempatan meluapkan emosi dalam format acara yang legal.

Saya bener-bener merasa gojlokan macem ini ndak ada manfaatnya. Hal ini yang membuat saya kabur waktu acara Ospek di perguruan tinggi kaum dhuafa kedinasan.

Kabur?? :roll:

Betul sodara-sodara, saya kabur. Waktu itu hari pertama Ospek, sudah dibagi kelompok-kelompok, trus disuruh lari kesana kemari, dan saya inget ada acara dijemur di lapangan. Pada saat dijemur ini dibacakan tugas-tugas yang aneh bin ajaib khas acara ploncoan. Saat tugas-tugas dibacakan itulah saya menyimpulkan acara ini dodol bin abal-abal, di samping harga diri saya yang sudah terbiasa diseniorkan selama 2 tahun ndak rela diinjak-injak.

Sorenya saya langsung kabur naik KRL ke Bogor. *maap teman-teman, bukannya bermaksud desersi*

Tadi pagi saya berangkat ke kantor, di depan saya ada anak SMK, cewek dengan rambut dihias benda-benda ndak jelas. Dalam hati saya mbatin, manfaatnya apa?

Lewat tulisan ini saya menghimbau, stop perploncoan di sekolah. MOS dan Ospek perlu dikaji ulang format dan tujuannya, kalo ndak bisa nemu format dan tujuan yang lebih baik mending bubarkan saja.

gambar diambil secara semena-mena dari sini

About these ads

47 comments on “Masih Perlukah MOS?

  1. Jafar Soddik mengatakan:

    Saya dukung Mas agar acara-acara seperti itu dihilangkan atau dirubah formatnya menjadi sesuatu yang lebih punya tujuan dan nyata manfaatnya.

    Acara-acara seperti itu ternyata hanya menjadi ajang ‘ngerjain’ dan balas dendam dari para senior aja. Saya sendiri ketika SMP dan SMA termasuk beruntung karena MOS-nya tidak berlangsung aneh2 dan saat masuk kuliah tidak merasakan MOS, sama seperti Mas Stein yang tidak ikut MOS :D

    • mas stein mengatakan:

      bahkan yang di militer pun, aksi balas dendam dari para senior pun coba dihilangkan om. cerita anak temen saya yang kuliah di AAU acara makan bersama dipisah antara senior dan junior karena sering dijadikan ajang ngerjain junior.

  2. ireng_ajah mengatakan:

    Mungkin nek sebatas pengenalan kampus, misale : iki lho adik2 ruang dosen, iki lho adik2 ruang lab fisika, gak masalah tapi kalo sudah pada nyuruh2 yang aneh2, kekerasan mental dan fisik aku ndak setuju mas..

    Btw, gambare dapet dari mana dan acara MOS tahun berapa itu mas??

    hehehehee…

    • mas stein mengatakan:

      betul! mosok tega nyuruh adek-adek manis gitu, kan bisa didekati baik-baik, nomer hapenya brapa, imelnya apa, pesbuknya apa, jangan pacaran dulu, tunggu 3 sampe 5 tahun lagi nanti saya ajari… :mrgreen:

  3. Vicky Laurentina mengatakan:

    Selama kuliah saya pernah digojlok, dan saya pernah menggojlok. Setelah pikir-pikir, sekejam-kejamnya senior menggojlok saya, masih lebih kejam gojlokan yang saya terima waktu jadi mahasiswa magang di rumah sakit.

  4. samsul arifin mengatakan:

    kalau di kampus biruku 4 tahun silam, udah agak bagus mas formatnya. mahasiswa baru berhak untuk menolah tugas2 yang ga jelas gitu. intinya formatnya jauh lebih baik aku rasa, bukan lagi perploncoan intinya.

    • mas stein mengatakan:

      bagus lah kalo sudah ada perubahan. pada intinya saya ndak nolak ada orientasi, tapi tujuannya yang bener, misalnya senior ngasih tau gimana suasana kuliah, cara belajar efektif, mana dosen killer dan mana dosen bonus, yang kira-kira nanti memang berguna untuk para pendatang.

  5. mawi wijna mengatakan:

    Nggak juga mas Ipin, format acara bolehlah sopan, tapi atribut yang “wajib” dikenakan peserta sepertinya masih nggak nyambung sama identitas sebagai mahasiswa. Kenapa bangsa kita ini mesti dididik dengan kekerasan ya?

  6. Mbelgedez™ mengatakan:

    .
    Wekekekek….

    Jadi inget waktu nggojlog angkatan 89 di UGM. Sayah taruh minyak tanah di baskom, dan sayah taburin kembang setaman.

    Setiap yunior mau masuk Camp pertama kali, wajib mbasuh muka dengan “air sakti”.

    Hasilnya, 3 hari kemudia muka mereka ancur semua….

    Dan sayah tertawa puwaaaaass…. :lol:

  7. Eka Situmorang-Sir mengatakan:

    Adik saya baru masuk SMA Fave di Jakarta mas…
    entah kalau di daerah ya, tapi adik saya itu gak diplonco.
    MOS nya ya bener2 orientasi tentang fasilitas sekolah. Gak sampe berminggu2, cuma 3 hari. Kmrn udah selesai. Tugasnya selama MOS menurut saya mendidik seperti meringkas berita di TV, googling suatu topik lalu bikin presentasi. Apa karena sekolah fave?

    Ah.. plonca plonco itu udh gak jaman lagi deh, cari kegiatan yg bermanfaat kan lebih baik.

    • mas stein mengatakan:

      kenapa gak disebut mbak, sekolahnya mana sih? :lol:

      • Eka Situmorang-Sir mengatakan:

        Adik saya Yg no 4 masuk ke SMAN 68 Salemba di Jakarta Pusat. SMA ini unggulan no 1 di Jak Pus mas.

        Adik saya yg npo.3 masuk SMAN 8 Bukit Duri, dulu katanya gak pake aneh2 MOS nya.
        Waktu ada satu guru yg agak petakilan, sering tinggi nadanya ketika bicara, malah murid2 kelas 1 itu memprakarsai dialog. Dialog lho mas ! Mereka menyatakan sikap bahwa segala sesuatu bisa dikomunikasikan dgn baik tanpa perlu bentakan.

        Pdhl adik2 saya sekolah di sekolah negeri (yg biasanya kental dgn MOS aneh2) tapi ternyata enggak lho. Bahkan yg baru lulus MOS seneng bukan kepalanh, katanya SMA itu exciting sekali. Ah…
        semoga saja banyak yg bisa menyelenggarakan MOS dengan lbh beradab !

        Gak model lagi pake kekerasan kayak zaman barbar aja

  8. sugiman mengatakan:

    assem..aku ditinggal neng bogor ra ajak2..,

  9. christin mengatakan:

    MOS yang seperti itu termasuk penyiksaan, entah mental entah psikis.

    Kapan sih bangsa kita jadi lebih pinter?

  10. arman mengatakan:

    menurut saya juga yang namanya perploncoan itu (apapun istilahnya: MOS, ospek, dkk) gak pernah ada gunanya! gak ada manfaatnya sama sekali! itu cuma jadi ajang untuk menunjukkan siapa yang senior dan siapa yang junior.

    kalo ada yang bilang itu untuk biar lebih akrab, biar lebih tangguh… itu bullshit semua!

    kalo emang mau biar lebih akrab, kenapa gak bikin malam kesenian aja? atau pertandingan olahraga… lebih positif dan pasti juga akan jadi lebih akrab. atau bikin turnamen apa kek….

    kalo mau bikin lebih tangguh… bullshit besar kalo bisa bikin orang lebih tangguh cuma dalam waktu seminggu! orang akan jadi tangguh ya karena dari kehidupan, dari pengalaman sendiri2. gak ada orang jadi tangguh gara2 ospek!

    heran emang tradisi yang udah jelas jelek banget kayak begini (lha korban jiwa kan udah sering banget toh dari dulu juga) kok ya dipertahankan. lagian setau saya sih yang beginian ini cuma ada di indonesia kan… di negara lain mana ada sih?

    heran… heran.. heran… katanya sekolah itu lembaga pendidikan, tapi kok gak bisa memberantas kegiatan yang justru gak mendidik sama sekali kayak perploncoan ini…

    • mas stein mengatakan:

      ini karena masih banyak orang beranggapan bisa meninggikan derajad diri sendiri dengan merendahkan derajad orang lain mas. ndak sadar kalo wibawa yang diperoleh dengan menebar ketakutan adalah wibawa semu.

  11. warm mengatakan:

    MOS yg cuma demi menegakkan superioritas SENIOR !!
    jaman saya dulu, lebih parah lagi deh,
    soalnya di sekolah kejuruan, udah dari habis subuh sampe maghrib baru ‘pesta’ usai..
    gak ada cara lain yg lebih mendidik & cerdas apa ya ?

  12. Ade mengatakan:

    Iya, cuman jadi ajang menunjukkan kesenioritasan aja hiks

  13. zefka mengatakan:

    Kalo memang benar2 untuk orientasi ke lingkungan yg baru (sekolah) acara semacam ini masih diperlukan. Pengenalan ke ekosistem baru, ke komunitas baru, ke sistem yg baru atau ke teman2 baru memang sangat dibutuhkan terutama untuk yg baru aja memasuki lingkungan tsb. Masa2 orintasi yg disertai “pembodohan”, misalnya dengan pemberian tugas atau pemberlakuan pakaian yg aneh2 gw rasa udah gak diperlukan lagi. Kalo semcam push-up, lari2 kecil, sit-up atau hukuma fisik yg menyehatkan mungkin masih bisa diterima dengan batasan2 yg ketat (wajar), kalo dijemur sih… bukannya sehat malah bisa2 meriang :) Masa2 orientasi tersebut (untuk yg normal2 aja lho, bukan yg dengan “pembodohan”)bisa juga sebagai media untuk menumbuhkan rasa kebersamaan, “tepo sliro” (tenggang rasa), dan juga menumbuhkan rasa2 yg sangat dibutuhkan untuk bersosialisasi (rendah hati, pemaaf, menghormati pendapat.. dll).
    Gw pribadi masih merasakan betapa hubungan antar teman yg sama2 di MOS selalu lebih akrab dan erat daripada yg langsung ketemu setelah MOS.

    Ada yg bilang semacam ini pasti akan memunculkan dendam dan akan dilakukan lagi ke adik kelas berikutnya. Gak semua jadi dendam sih… gw gak dendam dan melampiaskan ke adik kelas gw, yg penting pengawasan dari guru atau dosen agar tidak terjadi hal2 yg diluar kewajaran. Asalkan MOS malah membuat kesan yg baik kayaknya pesertanya jg gak akan dendam.

    • mas stein mengatakan:

      sebenarnya saya kepikiran, kenapa MOS ndak dibikin semacam acara outbond saja? kan kumplit tuh, ada ice breaking dan segala macemnya, trus tinggal ditambahin materi intern semacam pengenalan sekolah dan sebagainya sama senior.

  14. marshmallow mengatakan:

    nah, kemarin saya berdiskusi dengan seorang teman mengenai mos, dan intinya kami merasa perploncoan memang tidak bernutrisi sama sekali. segala hal positif yang dialaskan rasanya nggak laku. kalau ada masa orientasi, seperti saya katakan pada teman saya, mestinya adalah memperkenalkan sekolah dan kampus kepada para pelajar, bagaimana metode pembelajaran, dan berbagai aktivitas ekskul yang tersedia.

    saya tidak mendapati adanya perploncoan di kampus luar tempat saya menimba ilmu. orientasi mahasiswa adalah seperti apa yang saya sebutkan di atas: memperkenalkan kehidupan kampus kepada para pelajar baru, dipandu oleh para pelajar lama yang terdaftar, mengantarkan kami melihat-lihat museum dan gedung-gedung intra kampus, cara naik bus dan kereta ke kampus, serta memperkenalkan lingkungan kota dan sekitar kampus, terutama bagi mahasiswa asing. itu baru masa orientasi yang ideal.

  15. Mas Adien mengatakan:

    jaman saya di ospek waktu masuk di perguruan tinggi yang sama dengan sekolahnya mas stein, hukuman terberat adalah bikin lubang dg ukuran 1x1x1…trus ditanami pohon…….hmmmm itu thn 94..kira2 sekarang dah hijau blm kampus itu…

  16. kucrit mengatakan:

    setuju…………!!
    soalnya saya mau kuliah lagi tahun ini… Hihihihi.. :D

  17. oming mengatakan:

    sudah gak zamannya lagi memang mos yang berbasis fisik.
    Disini (di Bali) kita sudah mulai dengan MOS yang lebih berbudaya, misal dengan membuat ringkasan sastra bali, ngayah (gotong royong) di Pura-pura,dll. Yah walaupun baru beberapa sekolah yang berinisiatif seperti itu, but it’s worth than never. Mudah2an bisa jadi contoh bagi yang lain.

    • mas stein mengatakan:

      tentu yang seperti ini kita juga ndak bisa berharap semua akan berubah secara serentak. yang penting ndak usah nunggu yang lain berubah untuk mulai merubah diri sendiri

  18. tukangobatbersahaja mengatakan:

    waktu saya jadi mahasiswa ada MABISA (Malam Bina Sahabat. Camping di Cipanas bersama ditiap-tiap fakultas mengadakan acara sendiri-sendiri.

    Benar-benar “malam binasa” yang sesungguhnya.

  19. nomercy mengatakan:

    itulah yang membentuk pribadi-pribadi bermental preman di negara ini … acara yang lebih banyak merugikan daripada manfaatnya … harus dihapuskan … tidak perlu diganti dengan apapun … siswa mendaftar sekolah, belajar dan lulus kemudian mandiri … belajar hidup dan kehidupan melalui pengalaman pribadi pada lingkungan masing-masing … melalui para pendidik, mereka juga telah diberi bekal untuk bagaimana menyikapi hidup mereka …

    tinggalkan budaya penjajah seperti itu …

  20. asri mengatakan:

    kayaknya sekarang dah ga jaman deh mas MOS yg pake kekerasan gitu

    klo ada skolah yg masih begitu, berarti ketinggalan jaman tu panitia MOS nya
    hahaha =))

  21. […] dasarnya saya ndak percaya kalo kegiatan ospek itu ada manfaatnya, pengalaman dua tahun sebagai senior di sebuah sekolah berasrama mengajarkan bahwa ospek ndak lebih […]

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s