Siapa yang Lebih Baik, Saya atau Mereka?

road-to-tuturMenjadi tua adalah suatu keharusan, menjadi dewasa adalah pilihan. Tentunya sampeyan sudah sering mendengar kata-kata basi bijak tersebut. Di atas langit masih ada langit, apalagi yang ini, sudah sering denger juga tho. Kalo yang ini, “setiap orang pasti memiliki kelebihan dan kekurangan”, pasti sampeyan juga sudah sering denger. Bahkan mungkin sampeyan sudah memodifikasi sendiri menjadi “kelebihan orang itu adalah dia tidak memiliki kekurangan” atau mungkin “kekurangan orang itu adalah dia tidak memiliki kelebihan”. Dua yang terakhir jangan dipake ya, soale terlalu provokatif dan ndak mungkin! :mrgreen:

Sebelum sampeyan mumet dan menutup halaman ini saya mau cerita kenapa saya nulis kata-kata di atas. Kemaren Mas Adien menulis di blognya, dia cerita soal ngajak anaknya jumatan, trus ketemu bapak-bapak yang ndobos nimpalin khotbah jumat, kemudian diteruskan dengan dobosan Mas Adien tentang hubungan antara tua dan dewasa. Selengkapnya bisa sampeyan baca di sini.

Awalnya saya ndak berfikir ada yang istimewa pada tulisan itu, saya pikir tulisannya ya sekedar ndobos, sama jeleknya kayak tulisan-tulisan saya. Baru terasa ada yang dalem waktu seseorang yang mengaku bernama Mbah Danny mengomentari tulisan tersebut. Memang si mbah komentar apa? Sampeyan bisa baca secara lengkap di blognya Mas Adien, tapi ijinkan saya kutip sedikit di sini, semoga sampeyan ndak keberatan ya mbah,

Mohon maaf, menurut saya secara hakikat sampeyan tidak memperoleh keutamaan sholat Jumat. Apa pasal? Karena ketika sampeyan terpengaruh dengan obrolan bapak-bapak itu, sejatinya setan berhasil memalingkan khusyuk sampeyan. Yang lebih bahaya, maaf, sampeyan sudah mengizinkan diri sendiri untuk merasa lebih baik dari bapak-bapak itu. Ini berbahaya Mas. Perasaan lebih itu yang namanya ujub

……………………………………..

Mas, saya harus ingatkan bahwa kita tidak boleh begitu saja percaya dengan apa yang kita dengar, lihat, bau, dan rasakan. Kita akan tertipu ketika melihat mahkota bunga sepatu dengan mata telanjang. Suatu hari, di laboratorium saya coba mengamati lebih detail mahkota bunga dengan mikroskop. Saya takjub bahwa ternyata wujud mahkota yang sebenarnya bukan seperti yang terlihat mata melainkan seperti bongkahan emas yang sungguh dahsyat.

Memang secara syariat kedua bapak itu salah. Tapi mestinya sampeyan bisa menangkap pesan Tuhan di balik kenyataan itu. Coba sampeyan pikir, kenapa kedua bapak itu duduk bersebelahan dengan sampeyan? Kok mereka tidak duduk berjauhan dengan sampeyan? Kedua bapak ini cuma makhluk yang diperankan Tuhan untuk menguji sampeyan.

Saya terpaksa melepas sepatu, supaya bisa ngangkat empat jempol bau buat komentarnya mbah danny! Saya hanya bisa membaca dengan mata orang awam, melihat sesuatu yang memang terlihat, membaca sesuatu yang memang tertulis, tapi ndak mampu melihat yang tersirat seperti yang sudah dilakukan sama si mbah.

Ndak semua yang dia tulis di komentarnya saya sepakati, tapi saya harus mengakui kalo komentar itu cukup menohok saya. Betapa seringnya saya merasa lebih baik dari orang lain. Walaupun ada embel-embel semoga saya ndak seperti itu, yang maksudnya ada motivasi untuk memperbaiki diri, tapi ndak menutup fakta kalo saya merasa lebih baik dari dia, tentu saja merasa lebih baiknya diukur dengan meteran saya, dengan timbangan saya sendiri, plus kadang-kadang ada bonus misuhi, mencaci, walaupun mungkin Cuma dalam hati.

Apa berarti dengan ini saya menyatakan bahwa antara orang satu dan yang lainnya ndak bisa dibandingkan untuk dicari mana yang lebih baik? Yo ndak gitu tho, tetep harus ada perbandingan untuk mencari mana yang lebih baik, yang menurut saya ndak pas adalah menilai seseorang dengan ukuran kita sendiri, mengukur badan orang dengan baju kita sendiri.

Sebenernya saya liat mbah danny juga berpesan agar kita ndak melulu berpatokan pada syariat saja, tanpa melihat hakikat yang tersirat di dalamnya. Tapi ini sudah ilmu tingkat tinggi, saya mau ngomentari kuatir salah. Kalo misalnya saya menanyakan, sudahkah sampeyan mampu melihat yang tersirat? Dan sampeyan balik nanya maksudnya apa? Saya bisa gelagepan nanti, soale juga ndak mudheng.

Menurut sampeyan, apakah sampeyan lebih baik dibanding orang di sekeliling sampeyan?

About these ads

13 comments on “Siapa yang Lebih Baik, Saya atau Mereka?

  1. fransisca mengatakan:

    postingmu bermanfaat nie

    #mas stein:
    ………..

  2. masadien mengatakan:

    Kadang kita dituntut untuk merasa “lebih” dibandingkan orang lain…seorang petinju yang akan bertanding pasti merasa dirinya lebih hebat dan lebih kuat daripada lawannya. Seorang calon mahasiswa yang akan ikut ujian masuk perguruan tinggi negeri bisa merasa dirinya lebih pintar daripada peserta lain. Hal ini disebut kepercayaan diri. Meskipun dalam hatinya merasa gentar atau minder.
    Menjadi “baik” merupakan hak setiap orang, begitu pula sebaliknya, orang bisa menjadi buruk juga haknya.
    salam satu jiwa

    #mas stein:
    ojo rumongso bisa, nanging bisa rumongso… :lol:

  3. Muzda mengatakan:

    Wah,, enggak. ..
    Aku bukan orang baik, jadi pasti aku tidak lebih baik dari orang lain :D

    #mas stein:
    saya curiga ini termasuk kalimat merendahkan diri meninggikan mutu :lol:

  4. mangkum mengatakan:

    Saya mah mencoba berusaha lebih baik dari diri saya sendiri, Mas.

    Postingannya dalem nih.

    #mas stein:
    mantab! itu memang yang paling utama

  5. edy mengatakan:

    waduh… apa saya lebih baik dibanding orang lain? sebelum sampe situ, saya masih harus ngejawab, apa saya ini sudah cukup baik sampe berani ngebandingin diri dng orang lain?

    #mas stein:
    tapi kadang perasaan lebih baik dari orang lain itu muncul secara spontan je mas :lol:

  6. sekar242002 mengatakan:

    Hhhmmm.. mikir dulu sebelum jawab.. saya malah kadang suka minderan mas.. mikirnya orang lain pasti lebih baik dari saya *sigh*

    #mas stein:
    lho kok sama dengan saya :lol:

  7. deeedeee mengatakan:

    siapa yah yg lebih baik..?!
    yang jelas bukan saya, karena di atas langit masih ada langit *dan saya bukan langit..* hehe

    #mas stein:
    memang bukan pertanyaan yang mudah dijawab mbak

  8. Ria mengatakan:

    aku bukan orang baik dan gak mau sok baik…hehehehe
    gak ada yang lebih baik mas…maha sempurna itu hanya Tuhan…gak ada yang lain

    #mas stein:
    ini agak susah mbak, soal rasa, kadang muncul kadang ilang. sebenernya ndak pas kalo ditanya frontal gini :lol:

  9. hawe69 mengatakan:

    Mas, kalo jempol kaki bau, rendam aircuka beras..

    Paling gak jempol kaki gw LEBIH BAIK keadaannya daripada jempol Mas…

    hihihi *ketawa ala kuntilanak*

    #mas stein:
    ya ya ya, susah muncul kuntilanak :lol:

  10. asri mengatakan:

    opo to iki?
    tak liat dulu lah link-nya :D

    #mas stein:
    monggo diliyat dulu mbak…

  11. mbelGedez™ mengatakan:

    .
    Tapi pada kenyataannya, sayah memang lebih baek dari situh, kan ???

    ***berlalu dengan jumawa….***

    #mas stein:
    begitulah pak, sebagai imam sampeyan memang lebih sesat daripada saya :mrgreen:

  12. harikuhariini mengatakan:

    Aku pulang dulu ahh…
    mau mikir2 lagi.
    Kok menjawabnya susah ya…

    #mas stein:
    ati-ati di jalan yo mbak… salam buat sopir angkotnya

  13. Mbah Danny mengatakan:

    saya baru tahu komentar saya di blog mas fauzi dinukil untuk blog mas stein. hehehe terima kasih :) mari kita terus belajar….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s