Hanya Merasa

Kawanku dulu bilang, jadilah orang yang berguna, karena orang yang berguna selalu dibutuhkan. Di kali lain kutanya dia, mau jadi apa kau? Dia bilang ingin menjadi orang yang sedikit berguna. Sedikit, kata takzim yang kupikir hanya sebuah bentuk lain kesombongan.

Dia, kawanku itu, merasa berguna, tapi tidak, menurutku dia tidak berguna. Kau termakan logikamu sendiri kawan. Kau bilang orang yang berguna selalu dibutuhkan. Kau tahu, dibutuhkan adalah gelar mahal yang terujikan saat kau hilang.

Menunduklah kawan, tak ada yang mencarimu, kau tak berguna.

Konon Katanya…

Konon katanya saya ini termasuk orang yang males berdebat. Pertama karena saya kuatir perdebatan itu akan membakar habis sumbu saya yang pendek, dan kedua karena ilmu saya yang cetek. Seperti yang mungkin sampeyan tau, ilmu yang cetek hanya akan membuat perdebatan yang ndak konstruktif dengan berujung pada kata pokoknya[tm].

Itulah sebabnya ada dua kata keramat yang hampir selalu ada di tulisan saya. Kata pertama adalah “konon”. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, konon berarti kata orang; kabarnya; katanya. Sesuatu yang asalnya dari orang lain tapi tanpa sanad yang jelas. Sehingga saat seseorang hendak membantai tulisan saya, saya bisa ngeles, wong cuma konon kok. Kesannya memang seperti ndak bertanggung jawab, karena menyatakan sesuatu dengan bersiap menyalahkan pihak ketiga yang ndak jelas wujudnya. Tapi memang begitu adanya, maksudnya saya memang ndak bertanggung jawab.

Kata kedua adalah “menurut saya”, suatu isyarat tertulis yang mengatakan dengan sejelas-jelasnya bahwa yang saya utarakan adalah pendapat subjektif. Kalo ternyata yang saya tulis ndak sesuai dengan kaidah-kaidah tertentu ya mohon maaf, tapi ndak usah didebat, wong itu menurut saya kok, kalo menurut sampeyan lain ya ndak papa.

Untungnya dari awal saya memang ndak pernah mengklaim bahwa blog jelek ini adalah blog yang inspiratif nan penuh ilmu. Sampeyan bayangkan saja seseorang yang cenderung sinis dan skeptis, ngopi di pojokan sendiri sambil nulis, jadilah blog ini.
Baca lebih lanjut

Serisau Malam

road_at_night-wallpaper-1280x960

“Kau yakin mau melakukan ini?” Tanyaku sambil terus menatap jalan.

“Entahlah, tapi laki-laki harus melakukan apa yang seharusnya dilakukan.” Aku melirik sekilas, matanya resah tapi wajahnya sekeras batu.

“Sudah berapa lama kau tahu?” Tanyaku lagi, dengan tangan sedikit gemetar memegang kemudi.

Dia melihat kaca samping dengan sedikit tersenyum getir, “Sudahlah, yang jelas aku tahu.”

“Aku masih mencintainya, jadi tolong lakukan untukku.” Tangannya membuka dashboard mobil, pistol itu ada di sana, entah darimana dia mendapatkannya. Aku menarik nafas dalam, malam ini benar-benar jahanam.

“Dan lakukan dengan cepat, aku tak mau Dinda menderita.” Tegasnya.

Rumahnya sudah terlihat, dan gelisahku makin menggeliat. Dinda, istrinya yang ayu itu membukakan pintu. Hatiku bergolak, tapi laki-laki harus melakukan apa yang seharusnya dilakukan.

Satu tembakan dan dia terkapar, tanpa penderitaan, sesuai pesannya.

Aku kembali menatap jalan. Sejenak teralih dari kemudi, sms masuk, dari Dinda.

“Terima kasih sayang, sekarang kita tak perlu sembunyi-sembunyi lagi.”

Gambar: http://kikiandtea.com/wp-content/uploads/road_at_night-wallpaper-1280×960.jpg

Cuma Pengen Main

Suatu saat saya pernah ngobrol sama temen di pabrik tentang alam lain. Jadi ceritanya temen saya ini konon bisa melihat makhluk halus, bukan yang halusnya macem Raline Shah atau Pevita Pearce, tapi bangsa dedemit semacam Genderuwo, Kuntilanak, dan kawan-kawannya. Suatu kemampuan yang bisa dianggap anugerah bagi sebagian orang, dan kutukan bagi beberapa yang lain.

Temen saya ini bilang, “Mereka itu bukan makhluk yang menakutkan. Sama seperti kamu lihat sapi yang kakinya empat dan punya tanduk, atau kelinci yang punya telinga panjang dengan dua gigi tonggos, biasa saja.”

“Kalo makhluk ini ternyata hanya punya satu mata di tengah, atau punggungnya bolong, atau terbungkus kain pocong, bukan berarti mereka menakutkan, bentuknya memang seperti itu, jadi ya biasa saja.”

Biasa saja kan?

Iya, biasa saja. Kata-kata yang selalu saya ulang-ulang dalam hati setiap kali tengah malem terbangun, entah karena haus atau kebelet pipis. Seperti sekarang ini, tadi kecapekan, pulang dari pabrik langsung tepar. Mbuh jam berapa ini, kalo lihat sepinya sih mungkin jam 1 atau jam 2, haus bener. Mau mbangunin ibunya yang lagi tidur di kamar anak-anak kok ya malu, mosok cuma ke dapur minta temenin.

Sedikit gelap, sebelum tidur lampu rumah memang selalu dimatikan, atas nama pengiritan. Tapi ndak masalah, masih ada remang-remang sinar dari lampu luar, lagian rumah cuma seemprit ini, sudah apal jalan dari kamar ke kulkas di pojokan dapur. Buka kulkas, jongkok, ambil botol yang di rak bawah, rutinitas biasa.

Mungkin cuma perasaan saya, maklum nyawa masih separo, tapi rasanya ada yang njawil pundak. Saya noleh belakang, ndak ada siapa-siapa. Selesai minum, masih dengan separo nyawa, saya balik lagi ke kamar.

Dan baru dapet dua langkah saya langsung hidup sehidup-hidupnya
Baca lebih lanjut

Bekerja dan Terlihatlah Bekerja

Konon katanya saat kerja ikut orang alias mburuh seperti saya ini, ada dua macam hal yang harus dilakukan, yaitu bekerja dan terlihat bekerja. Bekerja dan terlihat bekerja adalah dua hal yang memiliki filosofi dasar berbeda, walaupun pada suatu persinggungan mungkin saja bisa memiliki substansi yang sama.

Dalam prakteknya bekerja juga terbagi dua macam, bekerja dan terlihat bekerja, serta bekerja namun tidak terlihat bekerja. Begitupun terlihat bekerja, dia terbagi menjadi dua jenis, yaitu terlihat bekerja padahal tidak, dan terlihat bekerja yang memang benar-benar bekerja.

Sudah cukup mumet? Soalnya saya sudah…

Work for a cause, not for applause. Live life to express, not to impress. Don’t strive to make your presence noticed, just your absence felt.

Itu kata orang kulon kali sana. Buat saya yang orang wetan kali, kata-kata di atas ada benarnya juga, tapi ya itu, benarnya waktu di kulon kali…

Sebenarnya bagi saya pribadi, rasanya memang ndak pantes kalo kita bekerja hanya demi aplaus. Berharap peluh kita berbuah sorotan dan semacamnya, bukan seperti itu. Bekerja seringkali merupakan hal yang sangat personal, tentang hati, kepuasan diri, dan semacamnya. Yang ujung-ujungnya malah kadang membuat kita bias. Bukan hal yang mustahil saat seseorang merasa telah bekerja, ternyata buat orang lain belum. Bias yang bisa menjerumuskan kita pada klaim sepihak.

Jadi kalo mau bekerja ya sudah bekerja saja, ndak usah mumet-mumet mikir yang lain, work for a cause.

Tapi… Baca lebih lanjut

Membumi

Sampeyan pernah mendengar nama Dolores Jane Umbridge? Dia adalah salah satu karakter fiksi yang ada di novel Harry Potter karangan J.K. Rowling. Umbrigde ini mengajar di sekolah sihir Hogwarts sebagai Guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, selain itu juga menjabat Inkuisitor Agung Hogwarts, sebelum akhirnya menjadi kepala sekolah.

Jamannya Umbridge di Hogwarts adalah jaman penuh kekerasan bagi murid-murid di sana, terutama bagi murid non Slytherin. Mungkin dalam istilah sekarang bisa disebut bullying yang dilakukan secara masif dan terstruktur. Dan sampeyan boleh percaya boleh ndak, tokoh Umbridge ini lebih dibenci oleh kebanyakan penggemar Harry Potter daripada karakter antagonis utama, Lord Voldemort.

Kenapa? Konon katanya, bagi kebanyakan orang, kejahatan yang dilakukan oleh Dolores Umbridge ini lebih membumi.

Bagi saya, mungkin juga buat sampeyan, kejahatan membunuh orang dengan kalimat “avada kedavra” kurang terasa menakutkan. It’s so unreal, sesuatu yang ada di awang-awang. Tapi disetrap guru, dibully senior, merasa terancam dengan berbagai macam peraturan, adalah hal-hal yang mungkin pernah sampeyan rasakan. Itulah yang membuat Dolores Umbridge terlihat lebih jahat dibanding Lord Voldemort. Orang lebih dapet feel-nya saat cerita itu menyerupai, atau minimal mendekati pengalaman pribadinya.
Baca lebih lanjut

Nadia

“Nadia.” Jawabnya singkat, dengan sekilas tatapan yang ndak berani saya balas.

Hahaha… goblok! Berhari-hari mengkhayalkan beberapa pertanyaan, membuat skrip beberapa percakapan, dan ternyata yang berani saya tanyakan cuma nama. Setelah itu rutinitas kembali seperti biasa, saya melihat ke jalanan di belakang, sambil sesekali melirik si mbak yang di depan saya ini.

Jadi ceritanya sebagai anak kost yang miskin hiburan, terlantar di sebuah kota yang agak jauh dari peradaban, membuat saya lebih sering pulang telat dari kantor. Bukan acara lembur juga sebenarnya, tapi saya lebih menikmati waktu di kantor selepas jam kerja. Kapan lagi bisa ngadep komputer dengan segelas kopi dan sebungkus rokok, klebas-klebus tanpa kuatir ada yang terganggu?

Biasanya saya pulang menjelang jam sembilan, bukan apa-apa, setelah jam itu sudah ndak ada angkot yang lewat. Tempat duduk favorit saya di pojok belakang, biar ndak usah berbasa-basi sama sopirnya, karena saya termasuk orang yang ndak bakat ngobrol.

Ndilalah, sudah berapa hari ini tiap kali saya naik, di pojokan sana sudah ada mbak-mbak ini, lumayan bening dengan rambut lurus sebahu. Dan mendadak ngopi sambil klebas-klebus di kantor jadi kurang menyenangkan, rasanya lama bener nunggu jam sembilan, menunggu angkot yang sama, duduk di tempat yang sama, lalu ngobrol panjang lebar sambil ketawa-ketawa sama mbak-mbak ini.

Walaupun ngobrolnya cuma dalam khayalan… Baca lebih lanjut