Membumi

Sampeyan pernah mendengar nama Dolores Jane Umbridge? Dia adalah salah satu karakter fiksi yang ada di novel Harry Potter karangan J.K. Rowling. Umbrigde ini mengajar di sekolah sihir Hogwarts sebagai Guru Pertahanan Terhadap Ilmu Hitam, selain itu juga menjabat Inkuisitor Agung Hogwarts, sebelum akhirnya menjadi kepala sekolah.

Jamannya Umbridge di Hogwarts adalah jaman penuh kekerasan bagi murid-murid di sana, terutama bagi murid non Slytherin. Mungkin dalam istilah sekarang bisa disebut bullying yang dilakukan secara masif dan terstruktur. Dan sampeyan boleh percaya boleh ndak, tokoh Umbridge ini lebih dibenci oleh kebanyakan penggemar Harry Potter daripada karakter antagonis utama, Lord Voldemort.

Kenapa? Konon katanya, bagi kebanyakan orang, kejahatan yang dilakukan oleh Dolores Umbridge ini lebih membumi.

Bagi saya, mungkin juga buat sampeyan, kejahatan membunuh orang dengan kalimat “avada kedavra” kurang terasa menakutkan. It’s so unreal, sesuatu yang ada di awang-awang. Tapi disetrap guru, dibully senior, merasa terancam dengan berbagai macam peraturan, adalah hal-hal yang mungkin pernah sampeyan rasakan. Itulah yang membuat Dolores Umbridge terlihat lebih jahat dibanding Lord Voldemort. Orang lebih dapet feel-nya saat cerita itu menyerupai, atau minimal mendekati pengalaman pribadinya.
Baca lebih lanjut

Nadia

“Nadia.” Jawabnya singkat, dengan sekilas tatapan yang ndak berani saya balas.

Hahaha… goblok! Berhari-hari mengkhayalkan beberapa pertanyaan, membuat skrip beberapa percakapan, dan ternyata yang berani saya tanyakan cuma nama. Setelah itu rutinitas kembali seperti biasa, saya melihat ke jalanan di belakang, sambil sesekali melirik si mbak yang di depan saya ini.

Jadi ceritanya sebagai anak kost yang miskin hiburan, terlantar di sebuah kota yang agak jauh dari peradaban, membuat saya lebih sering pulang telat dari kantor. Bukan acara lembur juga sebenarnya, tapi saya lebih menikmati waktu di kantor selepas jam kerja. Kapan lagi bisa ngadep komputer dengan segelas kopi dan sebungkus rokok, klebas-klebus tanpa kuatir ada yang terganggu?

Biasanya saya pulang menjelang jam sembilan, bukan apa-apa, setelah jam itu sudah ndak ada angkot yang lewat. Tempat duduk favorit saya di pojok belakang, biar ndak usah berbasa-basi sama sopirnya, karena saya termasuk orang yang ndak bakat ngobrol.

Ndilalah, sudah berapa hari ini tiap kali saya naik, di pojokan sana sudah ada mbak-mbak ini, lumayan bening dengan rambut lurus sebahu. Dan mendadak ngopi sambil klebas-klebus di kantor jadi kurang menyenangkan, rasanya lama bener nunggu jam sembilan, menunggu angkot yang sama, duduk di tempat yang sama, lalu ngobrol panjang lebar sambil ketawa-ketawa sama mbak-mbak ini.

Walaupun ngobrolnya cuma dalam khayalan… Baca lebih lanjut

Hikmah yang Bijaksana

Konon katanya kampung sebelah saya adalah salah satu desa dengan sistem demokrasi terbaik di negeri ini. Kalo orang kulon kali sana bilang kampung sebelah itu adalah desa prototype, sebuah model desa yang nantinya akan diterapkan di seluruh Indonesia, bahkan mungkin di seluruh dunia, dengan catatan dunia itu juga terdiri atas desa-desa. Sebab kalo dunianya bukan terdiri atas desa-desa, mana mungkin prototype itu bisa diaplikasikan, kan prototype-nya desa?

Mbulet, seperti biasanya, karena ciri blog jelek ini memang begitu. Membuat hal yang seharusnya mudah jadi terlihat sulit, sehingga tulisan yang aslinya ecek-ecek pun beraroma canggih nan intelek. Dengan tujuan yang sangat jelas tentunya, membuat pemiliknya terlihat cerdas…

Walaupun tanpa sadar hal-hal seperti itu ternyata makin mengentalkan kesan ndeso dan ndak terpelajarnya sang empunya blog.

“Trus sampe kapan kamu mau ngelantur Le?” Tanya Kang Noyo menyadarkan saya.

Wasyem…!

Jadi ceritanya beberapa waktu yang lalu saya ketemu Pak Darmo, iya Pak Darmo yang itu, mantan RW yang gagal waktu nyalon di pilihan legislatif. Sebenarnya yo rada kasian, tapi dalam hati saya sebenarnya agak bersyukur, lha wong dia gagal paham waktu ditanya soal konsep akuntabilitas kepada konstituen.

Walaupun gagal dalam pileg, ternyata dia sekarang juga seorang wakil rakyat.

Kok bisa?

“Aku ini sekarang anggota BPD Le, Badan Permusyawaratan Desa.” Kata Pak Darmo dengan senyum palsu khas politisi sembari sedikit membusungkan dada.

“Jangan kamu anggap remeh ya, di kampung sebelah itu anggota BPD dipilih melalui pemilihan langsung. Jadi aku ini benar-benar mewakili rakyat. Bukan sekedar politisi karbitan yang ditunjuk dari atas lalu berpura-pura seakan semua yang dia lakukan adalah wujud keinginan rakyat.” Lanjutnya, masih dengan senyum mengembang. Baca lebih lanjut

Di Kantor Itu Ada Soleh

during_the_day_i_dont_believe_in_ghosts_at_night_im_a_little_more_open_minded__2013-07-07

Sebenarnya saya termasuk orang yang menganut prinsip “kerja kuwi sakmadya wae“, alias kerja itu ndak usah ngoyo, dikerjakan sebisanya saja. Kalo disuruh masuk jam 07.30 ya masuk jam 07.30, pulang jam 17.00 ya pulang jam 17.00, juga ndak ada acara mengorbankan waktu makan siang, kerja yang biasa-biasa saja. Dengan prinsip “jangan sampai pekerjaan mengganggu waktu ngopimu”, saya memang bukan tipikal pegawai yang berbakat untuk jadi favoritnya boss.

Tapi status buruh, apalagi buruh kroco paling junior, mau ndak mau kadang mempersempit pilihan. Seperti sekarang ini, dua hari menjelang evaluasi dari kantor wiayah. Karena boss gede saya termasuk orang yang konservatif tingkat dewa, alias pengen semua disiapkan selengkap-lengkapnya dan seaman-amannya, sementara yang menyiapkan adalah orang-orang yang kerjanya sakmadya, terpaksa saya harus melanggar prinsip. Malam ini saya lembur!

“Mas, daerah Kejayan sampai Purwosari kalo malem rawan lho, apalagi sampeyan naik motor, mending nginep saja sekalian.” Kata seorang pegawai senior.

Lengkap sudah, lembur, dan nginep. Kurang hebat apa saya ini?

Kantor saya sebenarnya termasuk bangunan baru, bukan gedung lama warisan jaman Belanda bercat putih dengan nuansa wingit yang sering jadi tempat shooting acara dunia lain, letaknya juga di tepi jalan utama, di tengah Kota Pasuruan, tapi konon…

“Kalo malem saya ndak pernah berani tidur di dalem Mas, mending di pos.” Tutur seorang satpam.

Baca lebih lanjut

Kapasitas dan Urgensi di Level Warung Kopi

Peringatan: judul di atas menipu!

Sebenarnya saya males ngomong soal pilpres dan anak turunnya. Bukan apa-apa, yang pertama karena masalah itu berada di luar kapabilitas saya sebagai buruh pabrik yang lingkungan pergaulan paling jauhnya cuma warung Mbok Darmi, yang kedua males ribut. Bahkan pernah sebuah guyonan yang saya lempar tanpa mikir tentang pilpres pun ditanggapi serius, yang membuat saya akhirnya jadi ikut mikir, padahal ndak mampu!

Ciloko tenan…

Kalo sampeyan nanya apakah saya kemarin ikut nyoblos? Iya, saya nyoblos. Tapi saya nyoblos bukan karena alasan nasionalis yang mengharu biru, demi menegakkan syariat, atau karena berharap perubahan yang dahsyat, atau hal-hal lain yang butuh kontemplasi tingkat tinggi, ndak. Secangkir kopi di warung Mbok Darmi ndak cukup untuk membuat saya mampu berpikir sedahsyat itu. Saya nyoblos karena memang waktunya nyoblos. Seperti halnya misal di pabrik ada sebuah acara yang sudah disiapkan dengan susah payah oleh kawan-kawan, trus saya ndak dateng, ndak sopan itu namanya. Tinggal datang saja lho, susah bener. Dan ini pun sama, tinggal nyoblos saja kok, ruwet tenan.

Bahwa Indonesia butuh perubahan, iya, Indonesia harus menjadi lebih baik, saya setuju. Tapi saya ndak terlalu berharap keajaiban itu akan datang hanya karena seorang presiden. Saya lebih percaya bahwa Indonesia akan berubah saat sampeyan saya mulai menyimpan sampah di kantong baju sampai nemu tempat sampah, saat sampeyan saya ndak melempar puntung rokok ke jalanan, saat sampeyan saya naik motor pilih muter jalan agak jauh dibanding mlipir di kanan jalan, saat sampeyan saya walaupun dengan setengah gak ikhlas tapi jujur mbayar pajak…

Sesudah pilpres nanti kita akan tetap ngopi tiap pagi, setelah itu yang sekarang macul juga akan tetap macul, yang sekarang nguli akan balik nguli. jadi semoga yang sekarang ini sedang sibuk membela dan mencaci hanya semata karena mencari selingan di antara rutinitas ngopi, macul, dan nguli…

Baca lebih lanjut

Jangan Sekedar Salam, Menariklah

if you can read thisSyahdan, di sebuah rapat yang dihadiri banyak punggawa salah satu organisasi birokrat, para peserta rapat sudah mulai usak-usek dengan gadgetnya, menunggu waktu coffebreak yang ndak kunjung tiba. Seorang petinggi memulai sesinya, “Assalamualaikum warohmatullaaahi wabarokaaaatuh…”

“Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh…” Sebagian peserta menjawab dengan nada dasar E, rendah bener. Sebagian lagi menjawab dalam hati, sebagian lainnya malah ndak denger ada yang mengucap salam.

“Sepertinya kurang kompak ya…” Kata si petinggi. “Assalamualaikum warohmatullaaahi wabarokaaaatuh…!!!”

“Waalaikum salaaaam warohmatullaaahi wabarokaaaatuuuuhh…!” Barulah ¾ peserta menjawab dengan semangat ’66, bukan semangat ’45 karena minus bambu runcing.

Sampeyan tentu ndak asing dengan situasi yang saya gambarkan di atas. Kadang malah ndak cuma diulang dua kali, bisa tiga kali, konon mengikuti sunnah nabi biar jumlahnya ganjil. Masih untung kalo ndak diulang lima kali biar seperti Pancasila, atau tujuh kali biar mirip Sapta Marga, atau sepuluh kali biar sekalian saingan sama Dasa Dharma.

“Kamu kok sinis tenan sih Le?” Tanya Kang Noyo, sambil dengan muka tanpa dosa ngembat rokok pertamanya.

Sinis?

Iya, saya memang sinis.

Mbuh, saya paling ndak suka kalo ada pembicara mengulang-ulang salamnya sampai seluruh audiens menjawab dengan kompak ala peserta MOS hari pertama. Memang benar bahwa dijawab salamnya adalah hak seseorang yang mengucap salam, tapi saya kok ndak pernah dengar ada perintah untuk menjawab salam dengan lantang seperti orang ngajak perang.

Suka-suka saya dong kalo misal saya menjawab dengan lirih, wong ngantuk. Menjawab dalam hati pun rasanya ndak masalah, wong salam itu doa.

“Yo lain tho Le. Yang kamu ceritakan itu kan dalam sebuah forum, wajar tho misalnya si pembicara pengen mendapat perhatian penuh dari audiens, jadi bukan sekedar salam. Sekaligus membangunkan peserta yang kerjaannya begitu selesai pembukaan langsung merem kayak kamu.” Bantah Kang Noyo.

Lha ini, saya lebih ndak suka lagi. Menurut saya salah besar kalo seorang pembicara berharap mendapat perhatian penuh, apalagi perhatian saya, hanya karena sebuah salam. Itu big no no…! Baca lebih lanjut

Pokoknya[tm] Chemistry

Syahdan, sekitar sebulan yang lalu, di tanggal-tanggal yang ndak kalah tuanya dibanding hari ini, atm saya expired. Tobat tenan, saldo sudah mendekati saldo minimal kok ya ndak ada toleransi dari pihak bank. Mbok ya diundur sedikit, saldo yang minimal itu kan berarti tiap rupiahnya sangat berarti bagi saya. Toh bank juga tau siklus hidup rekening saya, masuk di awal bulan, habis dua pertiga di minggu pertama, setelah itu menetes-netes sampai akhir bulan. Atau mungkin malah karena isinya yang cuma netes-netes itu makanya bank ndak mau ngasih toleransi?

Apapun itu yang jelas saya akhirnya terpaksa ke bank, ngurus ATM baru, sekalian ndaftar SMS Banking. Bagi sampeyan yang belum pernah ngalami atm expired, saya kasih tau, layanan SMS Banking itu nempel ke kartu ATM, begitu kartu ATM sampeyan ganti maka SMS Banking sampeyan juga berhenti.

Ndilalah saya agak beruntung, customer service meminta seorang mbak-mbak dengan rambut sedikit berombak yang wajahnya manis untuk melayani saya, jadi ndak perlu ngantri. Kalo melihat mukanya yang cukup cantik masih muda sepertinya si mbak ini masih baru, entah masih magang atau apa.

Bukan wajah atau bodi semlohainya yang menarik perhatian saya, tapi obrolan awal yang dia katakan.

“Mas kantornya di mana?”

Lhadalah, cukup tersanjung tho saya, wong cuma buruh pabrik ditanya kantor, rasanya agak gimana gitu.
Baca lebih lanjut