Di Kantor Itu Ada Soleh

during_the_day_i_dont_believe_in_ghosts_at_night_im_a_little_more_open_minded__2013-07-07

Sebenarnya saya termasuk orang yang menganut prinsip “kerja kuwi sakmadya wae“, alias kerja itu ndak usah ngoyo, dikerjakan sebisanya saja. Kalo disuruh masuk jam 07.30 ya masuk jam 07.30, pulang jam 17.00 ya pulang jam 17.00, juga ndak ada acara mengorbankan waktu makan siang, kerja yang biasa-biasa saja. Dengan prinsip “jangan sampai pekerjaan mengganggu waktu ngopimu”, saya memang bukan tipikal pegawai yang berbakat untuk jadi favoritnya boss.

Tapi status buruh, apalagi buruh kroco paling junior, mau ndak mau kadang mempersempit pilihan. Seperti sekarang ini, dua hari menjelang evaluasi dari kantor wiayah. Karena boss gede saya termasuk orang yang konservatif tingkat dewa, alias pengen semua disiapkan selengkap-lengkapnya dan seaman-amannya, sementara yang menyiapkan adalah orang-orang yang kerjanya sakmadya, terpaksa saya harus melanggar prinsip. Malam ini saya lembur!

“Mas, daerah Kejayan sampai Purwosari kalo malem rawan lho, apalagi sampeyan naik motor, mending nginep saja sekalian.” Kata seorang pegawai senior.

Lengkap sudah, lembur, dan nginep. Kurang hebat apa saya ini?

Kantor saya sebenarnya termasuk bangunan baru, bukan gedung lama warisan jaman Belanda bercat putih dengan nuansa wingit yang sering jadi tempat shooting acara dunia lain, letaknya juga di tepi jalan utama, di tengah Kota Pasuruan, tapi konon…

“Kalo malem saya ndak pernah berani tidur di dalem Mas, mending di pos.” Tutur seorang satpam.

Baca lebih lanjut

Kapasitas dan Urgensi di Level Warung Kopi

Peringatan: judul di atas menipu!

Sebenarnya saya males ngomong soal pilpres dan anak turunnya. Bukan apa-apa, yang pertama karena masalah itu berada di luar kapabilitas saya sebagai buruh pabrik yang lingkungan pergaulan paling jauhnya cuma warung Mbok Darmi, yang kedua males ribut. Bahkan pernah sebuah guyonan yang saya lempar tanpa mikir tentang pilpres pun ditanggapi serius, yang membuat saya akhirnya jadi ikut mikir, padahal ndak mampu!

Ciloko tenan…

Kalo sampeyan nanya apakah saya kemarin ikut nyoblos? Iya, saya nyoblos. Tapi saya nyoblos bukan karena alasan nasionalis yang mengharu biru, demi menegakkan syariat, atau karena berharap perubahan yang dahsyat, atau hal-hal lain yang butuh kontemplasi tingkat tinggi, ndak. Secangkir kopi di warung Mbok Darmi ndak cukup untuk membuat saya mampu berpikir sedahsyat itu. Saya nyoblos karena memang waktunya nyoblos. Seperti halnya misal di pabrik ada sebuah acara yang sudah disiapkan dengan susah payah oleh kawan-kawan, trus saya ndak dateng, ndak sopan itu namanya. Tinggal datang saja lho, susah bener. Dan ini pun sama, tinggal nyoblos saja kok, ruwet tenan.

Bahwa Indonesia butuh perubahan, iya, Indonesia harus menjadi lebih baik, saya setuju. Tapi saya ndak terlalu berharap keajaiban itu akan datang hanya karena seorang presiden. Saya lebih percaya bahwa Indonesia akan berubah saat sampeyan saya mulai menyimpan sampah di kantong baju sampai nemu tempat sampah, saat sampeyan saya ndak melempar puntung rokok ke jalanan, saat sampeyan saya naik motor pilih muter jalan agak jauh dibanding mlipir di kanan jalan, saat sampeyan saya walaupun dengan setengah gak ikhlas tapi jujur mbayar pajak…

Sesudah pilpres nanti kita akan tetap ngopi tiap pagi, setelah itu yang sekarang macul juga akan tetap macul, yang sekarang nguli akan balik nguli. jadi semoga yang sekarang ini sedang sibuk membela dan mencaci hanya semata karena mencari selingan di antara rutinitas ngopi, macul, dan nguli…

Baca lebih lanjut

Jangan Sekedar Salam, Menariklah

if you can read thisSyahdan, di sebuah rapat yang dihadiri banyak punggawa salah satu organisasi birokrat, para peserta rapat sudah mulai usak-usek dengan gadgetnya, menunggu waktu coffebreak yang ndak kunjung tiba. Seorang petinggi memulai sesinya, “Assalamualaikum warohmatullaaahi wabarokaaaatuh…”

“Waalaikum salam warohmatullahi wabarokatuh…” Sebagian peserta menjawab dengan nada dasar E, rendah bener. Sebagian lagi menjawab dalam hati, sebagian lainnya malah ndak denger ada yang mengucap salam.

“Sepertinya kurang kompak ya…” Kata si petinggi. “Assalamualaikum warohmatullaaahi wabarokaaaatuh…!!!”

“Waalaikum salaaaam warohmatullaaahi wabarokaaaatuuuuhh…!” Barulah ¾ peserta menjawab dengan semangat ’66, bukan semangat ’45 karena minus bambu runcing.

Sampeyan tentu ndak asing dengan situasi yang saya gambarkan di atas. Kadang malah ndak cuma diulang dua kali, bisa tiga kali, konon mengikuti sunnah nabi biar jumlahnya ganjil. Masih untung kalo ndak diulang lima kali biar seperti Pancasila, atau tujuh kali biar mirip Sapta Marga, atau sepuluh kali biar sekalian saingan sama Dasa Dharma.

“Kamu kok sinis tenan sih Le?” Tanya Kang Noyo, sambil dengan muka tanpa dosa ngembat rokok pertamanya.

Sinis?

Iya, saya memang sinis.

Mbuh, saya paling ndak suka kalo ada pembicara mengulang-ulang salamnya sampai seluruh audiens menjawab dengan kompak ala peserta MOS hari pertama. Memang benar bahwa dijawab salamnya adalah hak seseorang yang mengucap salam, tapi saya kok ndak pernah dengar ada perintah untuk menjawab salam dengan lantang seperti orang ngajak perang.

Suka-suka saya dong kalo misal saya menjawab dengan lirih, wong ngantuk. Menjawab dalam hati pun rasanya ndak masalah, wong salam itu doa.

“Yo lain tho Le. Yang kamu ceritakan itu kan dalam sebuah forum, wajar tho misalnya si pembicara pengen mendapat perhatian penuh dari audiens, jadi bukan sekedar salam. Sekaligus membangunkan peserta yang kerjaannya begitu selesai pembukaan langsung merem kayak kamu.” Bantah Kang Noyo.

Lha ini, saya lebih ndak suka lagi. Menurut saya salah besar kalo seorang pembicara berharap mendapat perhatian penuh, apalagi perhatian saya, hanya karena sebuah salam. Itu big no no…! Baca lebih lanjut

Pokoknya[tm] Chemistry

Syahdan, sekitar sebulan yang lalu, di tanggal-tanggal yang ndak kalah tuanya dibanding hari ini, atm saya expired. Tobat tenan, saldo sudah mendekati saldo minimal kok ya ndak ada toleransi dari pihak bank. Mbok ya diundur sedikit, saldo yang minimal itu kan berarti tiap rupiahnya sangat berarti bagi saya. Toh bank juga tau siklus hidup rekening saya, masuk di awal bulan, habis dua pertiga di minggu pertama, setelah itu menetes-netes sampai akhir bulan. Atau mungkin malah karena isinya yang cuma netes-netes itu makanya bank ndak mau ngasih toleransi?

Apapun itu yang jelas saya akhirnya terpaksa ke bank, ngurus ATM baru, sekalian ndaftar SMS Banking. Bagi sampeyan yang belum pernah ngalami atm expired, saya kasih tau, layanan SMS Banking itu nempel ke kartu ATM, begitu kartu ATM sampeyan ganti maka SMS Banking sampeyan juga berhenti.

Ndilalah saya agak beruntung, customer service meminta seorang mbak-mbak dengan rambut sedikit berombak yang wajahnya manis untuk melayani saya, jadi ndak perlu ngantri. Kalo melihat mukanya yang cukup cantik masih muda sepertinya si mbak ini masih baru, entah masih magang atau apa.

Bukan wajah atau bodi semlohainya yang menarik perhatian saya, tapi obrolan awal yang dia katakan.

“Mas kantornya di mana?”

Lhadalah, cukup tersanjung tho saya, wong cuma buruh pabrik ditanya kantor, rasanya agak gimana gitu.
Baca lebih lanjut

Mencoba Menulis (Lagi)

Mencoba untuk menulis lagi setelah sekian lama berhenti itu ternyata susah. Lucu rasanya, membaca tulisan-tulisan lama dan berusaha agar tulisan yang baru masih mirip dengan tulisan-tulisan tersebut. Rasanya kok rada ironis, berusaha meniru gaya sendiri. Kalo dulu saya berusaha meng-copy paste gaya tulisan Mbah Umar Kayam, Cak Nun, atau Mbelgedez, rasanya masih wajar karena tiap orang butuh semacam patron, tapi meniru diri sendiri?

Sudah lama sekali saya ndak nengok blog ini, sudah ndak peduli berapa jumlah kunjungan, berapa spam yang masuk, berapa komen yang butuh moderasi, siapa yang nanya-nanya, wis ndak peduli blas. Ditambah lagi dengan google reader yang menghentikan layanannya sehingga saya ndak bisa memantau siapa saja temen-temen blogger yang masih aktif, klop sudah, tumbu oleh tutup kalo kata orang Jawa, pas banget.

Sampai kadang saya suka cengengesan sendiri, agak sedih campur anyel saat googling sesuatu. Lha piye ndak anyel, si paklik google ini menampilkan tulisan saya, tapi yang ditampilkan bukan blog ini, melainkan link tulisan saya yang nempel di situs lain.

Jiyan! Bahkan google pun sudah mulai melupakan blog ini. Baca lebih lanjut

Membingkai Sensasi dalam Secangkir Kopi

Rasanya sudah lama sekali saya ndak mengunjungi warung ini, tempat saya biasa menikmati kopi seribuan yang pekat aroma jagungnya, sambil pelan-pelan mengunyah pisang yang baru diangkat dari wajan berisi minyak jelantah mendidih dengan level kekeruhan tingkat dewa. *saya lebay, memang…

Kangen, saya rindu menyesap nuansa, kangen dengan kemakinya Kang Noyo, kangen dengan bualan Pak Darmo, kangen dengan cerita-cerita Mbah Suto, kangen juga dengan keluguan Mbok Darmi.

“Mas, kopinya sekarang naik lho, jadi dua ribu!” Sambut Mbok Darmi dengan kejam, eh maksudnya bukan kejam, tapi mbok yao, saya kan sudah lama ndak ke sini, ada basa-basinya sedikit gitu lho…

“Lah Mbok, kalo jadi dua kali lipat itu namanya bukan naik, tapi ganti harga…”

Ngomong-ngomong ada alasan kenapa saya lama ndak ke warung Mbok Darmi. Salahkan temen saya dari Jakarta, yang dengan semena-mena sudah mengirimkan kopi luwak kemasan satu kilogram, dua kali. Dan kalo sampeyan mau tahu harga satu kilonya, Rp 3.400.000! Baca lebih lanjut

Belum Jadi Kok Sudah Nyampah

Setiap menjelang pemilu seperti sekarang ini saya selalu bimbang, dilema. Galau kalo kata anak-anak sekarang. Teringat jaman masih sekolah dulu, tahun 1999, waktu pertama kali saya mempunyai hak pilih, saya diwanti-wanti Bapak untuk pulang kampung, “Lumayan Le, nambah-nambah satu suara untuk PKB.”

Saya pulang?

Tentu ndak, wong cuma urusan coblos mencoblos gitu aja, ndak penting pikir saya. Pun dalam dua pemilu sesudahnya, saya tetep ndak nyoblos.

Masih tetep berpikir urusan coblos mencoblos itu ndak penting?

Ndak juga, lebih tepatnya saya ndak mikir blas…

Bukan berarti saya belum pernah nyoblos pemilu. Saya ikut nyoblos, maksud saya nyontreng, waktu SBY terpilih sebagai presiden. Saya juga ikut milih waktu Abah Anton menang pilwali Kota Malang. Tapi kalo sudah ngomong soal pemilu legislatif ya balik lagi ke situ, bimbang, dilema, dan galau…

Kok? Baca lebih lanjut