Membingkai Sensasi dalam Secangkir Kopi

Rasanya sudah lama sekali saya ndak mengunjungi warung ini, tempat saya biasa menikmati kopi seribuan yang pekat aroma jagungnya, sambil pelan-pelan mengunyah pisang yang baru diangkat dari wajan berisi minyak jelantah mendidih dengan level kekeruhan tingkat dewa. *saya lebay, memang…

Kangen, saya rindu menyesap nuansa, kangen dengan kemakinya Kang Noyo, kangen dengan bualan Pak Darmo, kangen dengan cerita-cerita Mbah Suto, kangen juga dengan keluguan Mbok Darmi.

“Mas, kopinya sekarang naik lho, jadi dua ribu!” Sambut Mbok Darmi dengan kejam, eh maksudnya bukan kejam, tapi mbok yao, saya kan sudah lama ndak ke sini, ada basa-basinya sedikit gitu lho…

“Lah Mbok, kalo jadi dua kali lipat itu namanya bukan naik, tapi ganti harga…”

Ngomong-ngomong ada alasan kenapa saya lama ndak ke warung Mbok Darmi. Salahkan temen saya dari Jakarta, yang dengan semena-mena sudah mengirimkan kopi luwak kemasan satu kilogram, dua kali. Dan kalo sampeyan mau tahu harga satu kilonya, Rp 3.400.000! Baca lebih lanjut

Belum Jadi Kok Sudah Nyampah

Setiap menjelang pemilu seperti sekarang ini saya selalu bimbang, dilema. Galau kalo kata anak-anak sekarang. Teringat jaman masih sekolah dulu, tahun 1999, waktu pertama kali saya mempunyai hak pilih, saya diwanti-wanti Bapak untuk pulang kampung, “Lumayan Le, nambah-nambah satu suara untuk PKB.”

Saya pulang?

Tentu ndak, wong cuma urusan coblos mencoblos gitu aja, ndak penting pikir saya. Pun dalam dua pemilu sesudahnya, saya tetep ndak nyoblos.

Masih tetep berpikir urusan coblos mencoblos itu ndak penting?

Ndak juga, lebih tepatnya saya ndak mikir blas…

Bukan berarti saya belum pernah nyoblos pemilu. Saya ikut nyoblos, maksud saya nyontreng, waktu SBY terpilih sebagai presiden. Saya juga ikut milih waktu Abah Anton menang pilwali Kota Malang. Tapi kalo sudah ngomong soal pemilu legislatif ya balik lagi ke situ, bimbang, dilema, dan galau…

Kok? Baca lebih lanjut

BBM Untuk Android ARMV6 (Samsung Galaxy Gio, Ace, Mini)

Jika sampeyan termasuk para pengguna android lawas yang penasaran dengan blackberry messenger alias BBM, dan senang ngoprek-ngoprek hp dengan kemampuan seadanya seperti saya, pasti sampeyan sudah beberapa kali tertipu dengan artikel di beberapa blog tentang bbm armv6, atau bbm for galaxy young, galaxy gio, galaxy ace dan semacamnya.

Atau jangan-jangan yang ketipu cuma saya?

Yang saya tahu versi resmi dari bbm memang membutuhkan android device dengan spesifikasi minimal armv7 dan versi android ICS.

Tapi setelah beberapa waktu menunggu akhirnya ada juga yang berhasil mengoprek bbm supaya bisa diinstall di android device armv6, kayaknya sih orang Bontang, Kalimantan Timur (ini hasil terawangan super kemeruh saya).

Biar rada etis saya ndak ngasih link downloadnya di sini, monggo sampeyan berkunjung ke forum xda-developer. Sampai tulisan ini dibuat BBM hasil oprekan yang sudah dirilis adalah versi 1.0.3.87. Baca lebih lanjut

Wahai Para Caleg, Beranikah Menerapkan Konsep Akuntabilitas Kepada Konstituen?

Dulu saya ndak pernah berpikir kalo suatu saat nongkrong di Warung Mbok Darmi akan menjadi sebuah kemewahan. Diliat dari sudut manapun memang susah untuk melihat nongkrong di Warung Mbok Darmi sebagai sebuah kemewahan, tempatnya ndak elit, harganya murah, yang dateng juga bukan golongan wah, trus apanya yang mau dibilang mewah?

Lha itu, saya juga bingung…

Warung Mbok Darmi bagi saya adalah tempat menyesap nuansa, sebuah istilah yang secara semena-mena saya buat sendiri dengan ilmu kemeruh dan kemaki tingkat tinggi. Dan karena saya yang mengistilahkan sendiri, sah-sah saja saat saya bilang kegiatan itu paling ndak membutuhkan dua hal : waktu dan suasana. Kok ya kebetulan dua hal tersebut akhir-akhir ini susah saya dapatkan. Dan saat dua hal tersebut datang rasanya saya nyaris bisa merasakan aroma kepongahan, ngopi di Warung Mbok Darmi belum pernah semewah ini.

“Halah, wong tinggal nyeruput kopi saja lho. Buruh pabrik yo buruh pabrik saja, ndak usah sok-sokan bergaya macem Plato atau Socrates.” Cetus Kang Noyo, yang seperti biasa dengan tiga unsur pertempuran jarak dekat ala militernya sudah sukses merampok rokok saya. Mengejutkan, cepat, dan kejam…

Kurang mengejutkan apa bungkus rokok masih di kantong baju langsung diambil, juga cepat wong dua batang langsung diambil sebelum bungkusnya saya rebut kembali, dan jelas kejam karena di bungkus itu isinya tinggal tiga batang.

Untungnya rebutan rokok itu ndak berlangsung lama, karena mendadak dua bungkus rokok diletakkan di depan kami, disertai senyum nyaris tulus di seberang meja, mantan RW di komplek saya, Pak Darmo. Baca lebih lanjut

Delizioso Breakfast Cafe

Santai, kesan yang pertama kali saya dapet waktu datang ke tempat ini, segala sesuatunya berjalan lambat. Saya nyaris merasa diharuskan duduk santai berlama-lama menikmati suasana, bahkan kalo ndak ada suara kendaraan bermotor yang lalu-lalang di depan, mungkin sampeyan merasa sedang nongkrong di warung antah berantah nun jauh di lereng gunung sana. Dan ini sudah sesuai dengan namanya, beginilah seharusnya cafe, walaupun cafe ini lain daripada yang lain, cafe spesialis sarapan, Delizioso Breakfast Cafe.

Ini kali kedua saya datang di cafe yang terletak di Jl Pulosari, Malang, berjarak satu rumah dari Masjid Miftahul Huda. Setelah minggu kemaren saya makan Chicken Cashew alias Ayam Mente, sekarang saya pesen Kung Pao Chicken, maklumlah perut saya ini perut jawa sejati, makan bukanlah makan kalo tanpa nasi.

Rasanya? Baca lebih lanjut

Lima Tahun, Lima Bulan, dan Tujuh Hari

Ada sebuah ungkapan di pabrik tempat saya mburuh

Mutasi adalah sebuah keniscayaan. Semua pasti akan pindah, hanya yang kuat yang bertahan, dan yang paling kuat akan bertahan paling lama.

Saya percaya bahwa sebuah ungkapan ndak akan muncul tiba-tiba, kalopun ndak ada teori-teori canggih di belakangnya minimal ungkapan itu sudah didasarkan pada ilmu titen, ndak sukur njeplak serta waton muni seperti pemilik blog ini. Tapi kalo sampeyan ndak percaya juga ndak papa, ndak haram, ndak bakal seharam cara beristrinya Eyang Subur atau hubungan Fathonah dengan Vitalia Sesha yang cantik nan semlohay serta mengilerkan itu.

Vitalia Sesha, mengilerkan tho...

Vitalia Sesha, mengilerkan tho…

Konon di jaman dahulu kala, bukan jaman Majapahit, sampeyan jangan membayangkan sekuno itu, apalagi jamannya pitecantropus erectus, ndak sejadul itu. Baca lebih lanjut