Pengemplang Pajak Dikalahkan

Saya bersyukur masih ada harapan untuk membuat jera para pengemplang pajak di negeri ini. Kekuatiran bahwa Pengadilan Negeri Jakarta Selatan akan mengabulkan gugatan praperadilan PT Kaltim Prima Coal yang mempersoalkan keabsahan proses penyidikan oleh Ditjen Pajak dengan mengabaikan pasal 77 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana ternyata tidak terbukti. Hakim memutuskan untuk tidak menerima gugatan PT KPC karena berdasarkan pasal 77 UU KUHAP, penghentian proses penyidikan bukan menjadi kewenangan gugatan praperadilan.

“Tapi katanya kuasa hukum KPC misuh-misuh yo Le? Katanya keputusan ini menjadi legitimasi kesewenang-wenangan penguasa.” Ujar Kang Noyo waktu ngopi bareng saya di warung Mbok Darmi tadi sore.

“Memang sudah tugasnya Kang, dia kan dibayar untuk memenangkan perkara. Kalo sudah kalah trus ketawa-tawa ya ndak dipake lagi.” Kata saya sambil cengengesan.

“Sebenernya yang dipersoalkan sama pabriknya Bakrie ini opo tho Le? Opo karena ndak merasa salah trus nggugat ato gimana?” Tanya Kang Noyo.

Saya hampir miris denger pertanyaan ini, karena alasan PT KPC mengajukan gugatan praperadilan atas penyidikan yang dilakukan oleh Ditjen Pajak ternyata adalah keputusan saudara tua Ditjen Pajak sendiri, Pengadilan Pajak. (lagi…)

Diterbitkan di:  on Februari 10, 2010 at 00:38 Komentar (2)
Tags: ,

Jadi Buruh Jangan Kecil Hati

Ketika masih mburuh di Probolinggo dulu saya pernah ketemu seorang pengusaha yang cukup terpandang di sana. Beliau ini dulunya seorang pegawai di Pemda setempat yang kemudian memilih pensiun dini, setelah sempat luntang-lantung akhirnya beliau berhasil membangun bisnisnya sendiri. Sukses dan kaya.

Beliau ngomong sama saya, “Sampeyan jangan mau terus-terusan jadi buruh, harus punya target, umur sekian berhenti dan jadi pengusaha. Kalo ndak ya sampeyan ndak akan bisa sukses.”

Saya liat memang kata-kata beliau masuk akal. Kalo jadi buruh ya begini-begini saja, hidup nunut sama orang. Tokoh-tokoh yang sukses macem Ciputra atau Bob Sadino pun saya dengar sering menekankan pentingnya semangat enterpreneurship, jangan mau sekedar jadi pegawai. Kalo mau kaya jadilah pengusaha. Jiyan! Melas tenan rasanya jadi buruh pabrik macem saya, rasanya jadi ndak berharga. (lagi…)

Diterbitkan di:  on Februari 9, 2010 at 15:28 Komentar (7)
Tags: , , ,

Memasang Widget Alexa Traffic Rank

Sampeyan termasuk orang yang suka iseng liat berapa traffic rank di Alexa? Daripada bolak-balik pergi ke situsnya Alexa sekedar untuk ngecek ranking yang ndak naik-naik (seperti yang biasanya saya lakukan) mungkin lebih baik sampeyan pasang saja tombolnya Alexa di blog sampeyan.

Kalo sampeyan berminat, ini adalah langkah-langkah yang bisa sampeyan tempuh :

Buka situsnya Alexa, masukkan nama blog sampeyan untuk membuat Alexa Traffic Rank Button, atau Alexa Site Stats Button, terserah sampeyan mau yang mana.

(lagi…)

Diterbitkan di:  on at 00:55 Komentar (2)
Tags: , ,

Susahnya Menghukum Pengemplang Pajak

“Hebat yo Kang si Dirjen Pajak, berani merilis daftar 100 penunggak pajak paling gede di Indonesia.” Kata saya sama Kang Noyo waktu ngopi semalem.

“Hebat apanya?” Tanya Kang Noyo.

“Lho hebat tho Kang, itu kan yang ada di daftarnya perusahaan-perusahaan guede, padahal di negara kita ini kalo sampeyan punya duit gede biasanya deket sama penguasa. Seperti mbangunin macan tidur, tindakan berani itu.” Kata saya.

Kang Noyo mesem, “Sebagai pejabat sudah seharusnya beliau berani ngomong, biar rakyat juga tau mana pengusaha yang taat aturan dan mana yang suka ngemplang pajek. Tapi aku agak kuatir je Le, lha wong menterinya saja berani nantang langsung dikuyo-kuyo, apalagi ini cuma level eselon satu.”

Sepertinya kekuatiran Kang Noyo beralasan, (lagi…)

Diterbitkan di:  on Februari 8, 2010 at 07:45 Komentar (8)
Tags: ,

Jujur Adalah Kunci Perbaikan

Suatu saat saya sowan ke rumah Mbah Suto, juragan beras yang kadang memberi pencerahan pada saya di sela-sela kesibukan mengurus bisnisnya. Soalnya kadang bosen juga dengan menu kopi seribuan yang selalu menemani saya ndobos bareng Kang Noyo di warungnya Mbok Darmi. Di rumah Mbah Suto saya kadang disuguhi kopi dari berbagai daerah, maklumlah beliau sering keliling Indonesia.

“Mbah, misalnya saya ini orang yang rusak, ndak pernah sembahyang, maling, mabuk, judi, main perempuan, pasti berat banget untuk tobat yo Mbah?” Tanya saya.

“Berat gimana maksudmu?” Kata beliau sambil menyalakan AC. Jiyan! Enak banget jadi wong sugih, di rumah pun ada AC, ndak perlu kipas-kipas kayak di rumah saya.

“Yo berat Mbah, berusaha memperbaiki diri, mengubah kelakuan 180 derajat, seperti pindah dunia tho Mbah.” Ujar saya.

Mbah Suto mesem, “Ndak seberat itu kok Le, dan ndak perlu mikir harus santun, pinter ngaji, rajin sedekah, dan macem-macem perbuatan baik yang mbikin niat tobat jadi makin jauh.” (lagi…)

Diterbitkan di:  on Februari 7, 2010 at 21:23 Komentar (6)
Tags: , ,

Keseimbangan Dunia Esek-esek

Hari ini sebenernya saya niat ngajak si precil berenang, soale selama ini walaupun ada pelajaran berenang di sekolahnya ternyata dia ndak pernah mau nyemplung air. Setelah minggu kemaren saya paksa berenang gurunya bilang dia mau nyemplung walaupun pake acara nangis dulu. Saya lagi berusaha meyakinkan dia bahwa berenang adalah kegiatan yang menyenangkan, baik bagi anak (bermain air) maupun bapaknya (menikmati pemandangan). :mrgreen: *dirajam masa*

Tapi berhubung si ibu lagi ndak enak badan, dicampur sama saya yang bangun kesiangan, dipertegas dengan ujan yang turun dari siang, akhirnya saya milih ngopi di warung Mbok Darmi bareng Kang Noyo. Saya yakin beliau juga seneng dengan kedatangan saya, maklumlah temen saya ini selalu merindukan rokok gratis dari saya.

“Sekarang pemberitaan lagi lumayan yo Le, agak bervariasi, ndak cuma soal Bambang Soesatyo beserta gerombolannya. Berita tertangkapnya pelaku pembobolan ATM lumayan jadi penyegar, yang lebih seger lagi soal prostitusi online, cerita lama tapi tiap kali diangkat masih saja menggoda (lagi…)

Diterbitkan di:  on Februari 6, 2010 at 23:25 Komentar (16)
Tags: ,

Memanfaatkan Jabatan

Beberapa waktu yang lalu saya ketemu sama Pak Darmo, mantan ketua RW yang konon pernah tersangkut masalah penyunatan Bantuan Langsung Tunai. Pas saya lewat kebetulan beliau lagi di depan rumah, demi kesopanan saya mampir sejenak untuk menyapa. Lha kok ya beliau itu begitu ngomong langsung mbikin semacam klarifikasi, “Warga sini kan berpendidikan, pasti bisa memilah mana berita yang bisa dipercaya.”

“Heh? Ada apa ini?” Batin saya bertanya-tanya.

“Ini gara-gara para provokator, RW yang baru sama ketua-ketua RT yang pada keminter itu!” Ujar Pak Darmo lagi.

“Ada apa tho Pak?” Tanya saya, walaupun sudah bisa menduga-duga kemana arah pembicaraan ini.

“Soal potongan BLT itu lho mas, orang-orang menuduh saya dulu motong BLT buat warga kampung sini. BLT itu kan dikasih langsung ke orangnya lewat kantor pos, mana bisa saya motong?” Kata Pak Darmo.

Saya cuma manggut-manggut.

“Saya cerita dulu masalahnya dulu mas, biar sampeyan nanti ndak keliru menanggapi berita yang beredar. (lagi…)

Diterbitkan di:  on Februari 5, 2010 at 08:19 Komentar (13)
Tags: ,

Menampilkan Feed dari Google Reader

Dulu salah satu yang suka bikin ndak enak dalam saya ngeblog adalah ngatur blogroll. Awalnya sih ndak kerasa karena cuma satu dua blog yang saya tau sehingga ndak perlu susah-susah milih mana yang harus dimasukkan blogroll, pokoknya waktu lagi blogwalking nemu yang bagus ya saya masukkan blogroll. Sebagai blogger anyaran waktu itu ndak ada yang mau mampir ke blog jelek ini, jadi begitu ada yang komen juga langsung saya masukkan blogroll

Lama-lama blog bagus yang saya tau makin banyak, dan beberapa pengunjung juga ngajak tukeran link. Sampeyan tau sendiri kalo blog ini huruf-hurufnya segede gaban, kalo saya taruh semua blog yang bagus dan yang ngajak tukeran link akan penuhlah sisi kanan itu dengan semua link. Bisa-bisa tulisan cuma sepanjang 10cm sedangkan blogrollnya 50cm, wagu dan ndak enak diliat. Sementara kalo saya nolak tukeran link juga sungkan, wong pendatang baru saja kok nggaya nolak diajak numpang beken.

Selain itu saya perhatikan ternyata blogroll yang saya pasang ndak tentu apdetnya, ada yang sehari sekali apdet, ada yang sehari dua kali apdet, tapi ada juga yang berbulan-bulan ndak apdet. Kalo yang kayak gini percuma tho, linknya saya pasang tapi pengunjung yang kecewa dengan isi blog saya dan pengen nyari pencerahan di blog lain ternyata ngeklik link blog yang ndak pernah diapdet.

Akhirnya masalah ini terpecahkan, dapet idenya waktu lagi jalan-jalan ke blog itik kecil. Saya liat di situ ditampilkan semacam feedreader dengan alamat di rumahnya paklik gugel. Ini yang cocok saya bilang, yang dipajang di blog adalah tulisan-tulisan yang masih anget, ndak sekedar nama blog.

Kalo sampeyan juga berminat, inilah langkah-langkahnya : (lagi…)

Diterbitkan di:  on Februari 4, 2010 at 20:50 Komentar (8)
Tags: ,

Kopi Rasa Incest

Awalnya saya nggak ngeh sama iklan yang satu ini, sampe tadi malem istri saya ngomong, “Kok iklannya make cerita Sangkuriang? Bukannya dia yang suka sama ibunya sendiri ya?”

“Iklan yang mana tho?” Tanya Kang Noyo waktu saya cerita tadi pagi sambil ngopi di sebelah pabrik.

“Itu lho Kang, iklan kopi yang ada Luna Maya make kemben.” Jawab saya.

“Oalah! aku tau, memang masalahnya apa?” Tanya Kang Noyo lagi.

Jiyan! Pasti temen saya ini cuma terpaku liat kemolekan Luna Maya, bahkan saya menduga dia sampe ndak merhatiin produk apa yang dia iklankan. Soale saya juga begitu. :mrgreen:   *dirajam masa*

Setahu saya paling ndak ada tiga legenda di Pulau Jawa dengan jalan cerita yang hampir mirip, (lagi…)

Diterbitkan di:  on at 00:45 Komentar (13)
Tags:

Uncensored = 100 Miliar?

Agak kaget juga waktu saya mbaca berita di salah satu situs berita bahwa pembuat pilem Hantu Puncak Datang Bulan, K2K Production terancam denda 100 miliar rupiah gara-gara mereka memasang cuplikan pilem yang belum disensor ke youtube. Ediyan! Mahal banget dendanya!

“Padahal angka 12,7 miliar yang dibutuhkan untuk pembuatan pilem Sepuluh sudah terhitung mahal untuk ukuran pilem kita. Berarti dendanya bisa dipake bikin 10 pilem lagi.” Kata kang Noyo sambil mengepulkan asap rokoknya.

Karena penasaran saya mencoba nyari-nyari Undang-undang yang mengatur perpileman, Undang-undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman yang sempat menuai protes banyak pihak itu. Di pasal 57 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap pilem dan iklan pilem yang akan diedarkan dan/atau dipertunjukkan harus memperoleh tanda lulus sensor.

“Berarti yang dulu mengunggah video klip Mari Bercinta-nya Aura Kasih di youtube yang konon tanpa sensor itu bisa kena pasal juga yo Le.” Ujar Kang Noyo sambil terkekeh. (lagi…)

Diterbitkan di:  on Februari 3, 2010 at 13:06 Komentar (14)
Tags: