KOIN = Kepedulian Orang Indonesia

“Sebenernya apa yang kita dapet dari semua kehebohan tentang Prita?” Tanya Kang Noyo tadi pagi waktu ngopi di warung pojokan pabrik.

Heh? Saya yang baru saja masuk setelah cuti seminggu nunggui kelahiran anak kedua mendadak dikasih pertanyaan ndak mutu kayak gini. Tapi saya patut waspada, biasanya Kang Noyo ndak asal njeplak, selalu ada hal-hal nyinyir yang ada di otaknya sebelum keluar dalam bentuk omongan. “Maksud sampeyan apa tho Kang?”

“Ealah! Kamu ditanya malah mbalik nanya.” Kang Noyo merengut. “Aku ndak ngerti sama orang-orang itu, hikmah apa yang mereka dapet dari kasus Prita?”

(lagi…)

Diterbitkan di:  on Desember 21, 2009 at 22:24 Komentar (7)
Tags: , ,

Wakil Rakyat Butuh Laptop

Sudah agak lama saya ndak nongkrong di warungnya Mbok Darmi, sebagian karena hujan yang kadang mbikin saya males keluar. Ditambah lagi dengan lahirnya anak kedua, harus memberi waktu ekstra, selain ngurusi yang kecil juga menjaga perasaan si sulung agar ndak merasa tersingkirkan.

Sore kemaren waktu lewat depan warung saya lihat ada Kang Noyo lagi nongkrong sendirian. Saya masuk dan mesen kopi seribuan yang legendaris itu, ngambil kursi di depan Kang Noyo. Beliau ndak pake basa-basi langsung ngambil sebatang rokok saya, “Tumben kamu nongol?”

“Saya kan baru ketambahan anggota keluarga baru Kang, mosok ditinggal-tinggal,” kata saya. “Malem-malem begadang, siangnya tidur. Jadi biar cuti pun saya susah keluar.”

Kang Noyo mesem, “Kamu jadi banyak ketinggalan berita. Sudah tau belum di deket toko tempat jualan dvd bajakan yang sudah tutup, yang katanya dulu dibekingi tentara itu sekarang ada panti pijet baru.” (lagi…)

Diterbitkan di:  on Desember 19, 2009 at 13:58 Komentar (10)
Tags: , ,

The God Must Be Crazy

Sampeyan pernah nonton pilem komedi jadul The God Must Be Crazy? Waktu saya nulis ini lagi diputer di Global TV, cerita tentang keluguan suku terasing di Afrika. Saking lugunya jadi kelihatan lucu, agak tragis memang, kepolosan jadi objek tertawaan.

Di awal cerita ada sebuah narasi tentang manusia modern. Dikatakan kalo manusia modern tidak berusaha untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan, tapi memaksa lingkungan untuk menyesuaikan dengan mereka.

Maka terciptalah berbagai macam alat dan berkembang berbagai ilmu pengetahuan. Celakanya (atau untungnya?) seperti orang minum air laut yang makin banyak minum makin haus, semakin orang berusaha mengatasi kerepotan mereka dengan ilmu dan berbagai macam peralatan, semakin repot juga mereka dibuatnya. (lagi…)

Diterbitkan di:  on Desember 17, 2009 at 23:00 Komentar (5)
Tags:

Maria Ozawa Pensiun?

Melihat gambar di atas mungkin ini yang sampeyan pikirkan :

  1. Maria Ozawa aka Miyabi memutuskan untuk punya anak dan menjadi ibu yang baik

    Tapi karena ndak pernah kedengeran gosip bahwa sosok yang konon termasuk paling dicari di Indonesia ini punya anak, sepertinya kemungkinan ini bisa dieliminasi.

  2. Maria Ozawa aka Miyabi memutuskan banting setir dari industri pilem dewasa menjadi model produk bayi (lagi…)
Diterbitkan di:  on Desember 15, 2009 at 23:26 Komentar (12)
Tags: , ,

Lelaki Ketiga

Sabtu kemaren saya bangun jam 4 pagi, lebih pagi dari biasanya, bahkan saat hari kerja pun saya ndak biasa bangun sepagi itu. Tanggal 12 Desember 2009 memang bukan hari biasa, saya siap-siap nganter istri ke kamar yang sudah dipesen 3 hari sebelumnya, bukan kamar hotel tapi sebuah kamar di rumah sakit bersalin Melati Husada. Yup, saya bersiap menunggu kelahiran anak kedua. (lagi…)

Diterbitkan di:  on Desember 14, 2009 at 07:30 Komentar (16)

Pajak Pensiunan?

Kemaren malem baru saja saya dapet seseruputan kopi abis pulang dari pabrik pintu rumah saya diketuk orang, saya buka ternyata Mbah Dirjo, pensiunan guru yang sering ndobos sama saya di pos kamling. “Monggo masuk Mbah, sampeyan ini tau saja di mana bisa dapet kopi gratis.” Seloroh saya sambil mempersilakan beliau masuk.

“Gundhulmu atos, aku ndak nyari kopi gratis!” Mbah Dirjo duduk, nyomot pisang goreng di meja, trus manggil istri saya, “Nduk, bikinkan teh anget saja ya.”

Jiyah!

“Ada apa tho Mbah, sampe ngganggu waktu kesendirian saya?” Tanya saya sok serius.

“Halah gayamu! Ini lho, denger-denger sekarang ada pajak pensiunan, bener gak sih?” (lagi…)

Diterbitkan di:  on Desember 10, 2009 at 16:28 Komentar (14)
Tags:

Mbayar PPN yuk!

Suatu saat saya ketemu sama seorang kawan, pengusaha yang bergerak di bidang perdagangan komputer. Ngobrol ngalor ngidul, ndobos ndak jelas, sampe akhirnya percakapan menyinggung satu hal yang konon ndak bisa dihindari manusia selain kematian, pajak, lebih tepatnya Pajak Pertambahan Nilai.

Berbeda dengan pajak penghasilan yang melihat subjeknya, hanya orang yang berpenghasilan di atas nilai tertentu dan dengan kondisi-kondisi tertentu yang dikenakan pajak, Pajak Pertambahan Nilai alias PPN tidak mempertimbangkan hal itu.

Saya nanya, “Sampeyan kalo jualan ditambahi PPN ndak?”

“Sebagian saya kenakan mas, untuk konsumen-konsumen gede yang biasanya memang minta faktur pajak. Tapi untuk konsumen biasa ya ndak, misalnya harga komputer 5 juta, saya tambahi PPN 10% jadi 5,5 juta, konsumen saya bisa kabur semua. Jangankan selisih 500 ribu, selisih beberapa puluh ribu saja orang nyari toko lain kok.” (lagi…)

Diterbitkan di:  on Desember 8, 2009 at 21:58 Komentar (8)

Bukan Sekedar Semangka

Pulang kampung kemaren saya sempatkan untuk main ke rumah Kang Ndaru, teman sepermainan waktu kecil. Ndak seperti saya yang kurang mbakat bertani dan pilih kabur dari kampung jadi buruh di kota, Kang Ndaru milih untuk tetep di kampung, ngurusi sawahnya yang cuma sepetak.

“Stein, kamu inget jaman kita kecil dulu waktu malem-malem nyari jangkrik di ladangnya Paklik Noyo? Yang dia keluar sambil bawa parang karena dia pikir kita lagi ngambil semangkanya?” Tanya Kang Ndaru.

“Inget tho Kang. Saya kabur ngibrit sampe terpisah dari rombongan, ndepipis sendirian di pinggir kali.” Saya ngakak, teringat jaman masih suka adu jangkrik. Malem-malem nyari jlitheng (jangkrik warna hitam), atau jrabangan (jangkrik warna merah). Suatu saat kami serombongan nyari di ladang semangkanya Paklik Noyo, ndak dinyana beliau keluar teriak-teriak sambil ngacungin parang. Kami lari semburat ke segala arah. (lagi…)

Diterbitkan di:  on Desember 7, 2009 at 09:11 Komentar (8)

EliaBintang – Give Me a Chance

Mendengar lagu ini yang terbayang di kepala saya adalah sore-sore duduk di teras menikmati sepi di sela rintik hujan. Tanpa bermaksud mbikin besar kepala yang punya lagu, saya bilang lagunya memang enak didengar, nadanya syahdu tanpa harus mendayu.

Eh, saya belum bilang lagunya siapa ya?

Tadi pagi waktu mbuka twitter, saya liat mas eliabintang ngasih link ke blognya. Berhubung kayaknya beliau ini senior, saya manut saja waktu disuruh ndonlot dan mereview lagunya. (lagi…)

Diterbitkan di:  on Desember 4, 2009 at 10:40 Komentar (6)
Tags: ,

Mau Milih Bupati

Tadi waktu berangkat ke pabrik sekilas saya liat ada baliho yang dipasang salah seorang calon bupati Malang, gede dengan latar belakang warna merah dilengkapi poto sang calon dan ketua umum partainya. Slogannya cukup klise, APBD untuk rakyat.

Saya jadi teringat waktu pulang kampung kemaren, kebetulan di sana juga mau ada pemilihan bupati. Suatu sore ada beberapa orang ngumpul di rumah bapak saya, ngobrol sekaligus melepas kangen sama saya. Maklumlah, saya ini di kampung dianggap sebagai pemuda harapan bangsa. *dirajam masa* :mrgreen:

Bapak saya memulai dobosan dengan semangat, “Pokoknya pilihan bupati nanti sudah jelas, integritas dan kapabilitas orangnya ndak diragukan lagi, programnya pun sudah jelas untuk rakyat kecil, prioritas pertama adalah air untuk pertanian!”

Ndak usah heran, salah satu ciri guru di kampung (termasuk bapak saya) adalah pemilihan kata-kata yang intelek biar tambah keliatan pinter, ndak peduli yang dihadapi kadang cuma buruh tani yang langsung ngangguk-ngangguk tanpa tau maksudnya. (lagi…)

Diterbitkan di:  on at 09:40 Komentar (3)
Tags: ,